Niat hati menolong seorang wanita yang nyaris diperkosa, Rain justru diperlakukan layaknya sampah. Sebab setelah difitnah oleh para pelaku, Echa selaku wanita yang nyaris diperkosa juga membenarkan, bahwa justru Rain pelakunya.
Karena kenyataan tersebut juga, warga yang telanjur datang ke lokasi, langsung mengeroyok Rain. Rain yang nyaris meregang nyawa sengaja dibuang ke sungai berarus deras. Mereka yakin, dengan begitu Rain akan benar-benar mati. Hingga mereka tak perlu bertanggung jawab, apalagi berurusan dengan polisi.
Padahal, harusnya satu minggu lagi Rain menikah dengan Hasna. Malahan saat Rain mengalami kejadian tragis saja, keduanya baru saja meninjau lokasi resepsi pernikahan. Hanya saja, menghilangnya Rain tak membuat Hasna curiga. Terlebih selain tipikal periang, Rain yang berasal dari keluarga kaya raya juga terbiasa jail. Meski di hari pernikahan mereka, Hasna berakhir pingsan karena Rain tetap tak kunjung datang. Namun di tempat berbeda, Rain yang terluka parah akhirnya sadar. Rain dirawat di rumah seorang dukun dan ternyata merupakan orang tua angkat Echa. Masalahnya, Echa yang hamil di luar pernikahan mengaku dihamili Rain.
Satu-satunya yang ingin Rain lakukan hanyalah balas dendam. Rain sungguh langsung memulainya, dan menjadikan Echa sebagai target pertama sekaligus utama. Meski karena keputusan itu juga, sederet fakta mencengangkan membuat hidup Rain layaknya menaiki roller coaster.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rositi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32 : Guna-Guna yang Luntur
Kenyataan pak Dartam yang tak kunjung bangun, membuat ibu Jumairah membangunkan orang-orang di rumahnya. Alasan yang membuat Hasna, pak Syam, termasuk umi Ojin mengetahui, jumlah istri pak Dartam.
Di rumah semi permanen yang sudah renta tersebut, ada lima orang istri pak Dartam. Semuanya masih berusia muda, kecuali ibu Jumairah. Echa juga jadi salah satunya. Yang mana boleh dibilang, Echa merupakan istri termuda.
“Punya lima istri, tinggal di rumah sama, sudah sereyot ini,” ucap Hasna berbisik-bisik.
“Kan Mbak saja merasakan juga, kan? Pas awal ketemu, di mata Mbak, pak Dartam ganteng banget!” komentar pak Syam berbisik-bisik juga.
Umi Ojin yang menyimak, serius berkata, “Habis ini kayaknya enggak. Mendadak jadi paduan suara kayaknya. Pada senam jantung pokoknya!”
Ketiganya memilih kembali duduk di ruang keluarga layaknya tamu yang belum ditangani. Ransel mereka juga sudah mereka bawa.
“Benar, Dad. Kira-kira, mereka khususnya Echa, langsung pindah alam atau stroke, ya? Setelah mereka tahu wajah sekaligus tampang terbaru pak Dartam?” bisik Hasna.
Umi Ojin yang menyimak serius pertanyaan menantunya berkata, “Truk aja, tapi truknya yang kejang-kejang terus kayak ayan!”
“Stroke, bukan truk. Beda jauh!” ucap pak Syam sengaja membenarkan.
“Ah, San-San Syam, plopesol saja enggak protes. Kamu yang bos masia, protes. Enggak ada hubungannya!” omel umi Ojin dengan suara pak Ojan.
Hasna tidak bisa untuk tidak cekikikan. “Masyaallah Sayang ... alhamdullilah. Moga hari ini, juga laporan ke kamu dicabut, ya!” batin Hasna.
Tanpa terasa, kini memang sudah nyaris subuh.
“Hah ...!”
“Allahuaaaaaaakkkkkbaaaarrr!”
“Arrrrggghhhhhh!!”
Beberapa teriakan dari kamar pasren barusan, langsung membuat umi Ojin cekikikan. Umi Ojin tampak sangat bahagia. Saking bahagianya, umi Ojin refleks memu.kuli asal tubuh sang Besan menggunakan kedua tangan. Pak Syam benar-benar menjadi kor.ban umi Ojin. Namun, pak Syam sama sekali tidak membalas dan hanya sesekali menghela napas.
“Kalian, ... pada kenapa?” tanya pak Dartam.
Suara pak Dartam barusan, sampai terdengar oleh Hasna berikut pak Syam termasuk umi Ojin. Ketiganya kompak diam sambil menyimak obrolan di dalam kamar pasren, dengan saksama.
“Jumairah, Elis, Nia, Wati, Echa, kenapa kalian ketakutan begitu? Sini ke Abah, Sayang. Sini, jangan takut lagi, ya!” yakin pak Dartam benar-benar lembut.
Pak Dartam berangsur duduk. Namun, kelima wanita di sana, termasuk ibu Jumairah, malah makin ketakutan. Kenyataan tersebut membuat pak Dartam menatap heran setiap istrinya.
Kini, di mata semuanya termasuk ibu Jumairah, pak Dartam memang sangat tua. Pipi peot, setiap daging dan kulit kendur khas orang sepuh. Rambut putih keriting tipis, dan bagian ubun-ubunnya botak.
“Benar, ini Abah Dartam?” tanya Echa memberanikan diri.
Keempat istri pak Dartam yang tak kalah penasaran, berangsur mengangguk-angguk. Mereka juga ingin kepastian, masa iya suami mereka yang sebelumnya sangat gagah sebaya dengan Rain, kini jadi aki-aki sangat renta.
“Yaiya ... ini Abah Dartam, suami kalian, Sayang. Sini, ... sini. Biasanya juga peluk Abah bareng-bareng,” yakin pak Dartam masih sangat sabar sekaligus lembut.
“Uuweeeekkk! Amit-amit ...! Jijik banget! Jangan-jangan, alasan selama ini Abah kelihatan ganteng, efek guna-guna?” balas Echa.
Selain muntah-muntah, Echa juga jadi sempoyongan. Echa terlalu jiji.k.
“Si Echa kenapa bicara begitu? Ini sebenarnya ada apa?” pikir pak Dartam. Puncaknya ketika ibu Jumairah justru jatuh pingsan.
Ketika yang lain memlih membantu ibu Jumairah, tidak dengan Echa. Echa memilih kabur. Echa merasa sangat jij.ik pada suaminya dan baginya jauh lebih pantas menjadi buyutnya. Kenyataan tersebut juga yang membuat Echa masih kerap mual sekaligus muntah.
Tak lama kemudian, terdengar langkah mendekat. Langkah lari yang sangat buru-buru. Ternyata, pemilik langkah itu justru Echa. Hasna, pak Syam, dan juga umi Ojin, kompak berdiri. Ketiganya yang awalnya menyimak dengan saksama, menatap penasaran punggung Echa.
“Kita lihat, azab seperti apa yang Allah berikan, kepada orang hobi fitnah seperti kamu, Cha!” batin Hasna benar-benar geregetan kepada Echa. “Jangan pergi, Cha. Karena memiliki suami tua seperti pak Dartam, merupakan karma nyata yang harus kamu bayar kontan!” batin Hasna.
“Braaaakkkk!”
Echa yang awalanya sibuk lari, berakhir nyungseb di depan pintu. Karena kebetulan, di sana memang licin.
“Truk beneran kan. Sambil kejang-kejang terus, biar rasa dugem terus!” ucap pak Ojan sangat gemas.
“Biarkan saja. Kita doakan, semoga penyakitnya baru diangkat kalau dia sudah meminta maaf ke kita. Semoga, dia beneran baru akan sembuh setelah memberikan keterangan di depan sidang pengadi.lan. Bahwa, dirinya bersalah. Dan karena dirinya juga, Rain jadi susah!” tegas pak Syam. Kedua orang yang bersamanya, langsung mengangguk setuju.
Tak lama kemudian, pak Dartam keluar menyusul Echa. Di depan perut, Echa masih meringkuk kejang-kejang. Persis seperti harapan pak Ojan.
“Ya ampun, Cha ... kamu kenapa, Cha?” ucap pak Dartam.
“Ya ampun ya, San. Aku pikir aku sudah tua,” lirih pak Ojan sambil melirik pak Dartam.
“Tumben mengakui bahwa diri kamu sudah tua,” heran pak Syam.
Pak Ojan langsung cekikikan. “Ya maksudnya, San. Ini kan mau dibanding-bandingke. Ternyata ada yang lebih tua dari aku. Sepuh banget tuh wujud pak Dartam, San!”
“Alhamdullilah, pengaruh guna-guna sudah lenyap. Ayo kita pulang, dan bersiap nunggu kabar baik!” ucap Hasna.
Karena keadaan tak mendukung, Hasna, pak Syam, dan pak Ojan, memutuskan untuk pulang.Tak lama setelah kepergian ketiganya, beberapa tetangga berdatangan. Sebab para istri pak Dartam yang tak pingsan maupun kejang, kompak menangisi nasib mereka.
“Kirain pak Dartam meninggal. Tangisnya mirip tangis kematian!”
Keadaan terbaru pak Dartam, tak luput dari perbincangan tetangga. Semuanya menyadari perubahan mencolok dari pak Dartam. Bukan hanya tua, tapi memang sangat renta.
“Mirip pas lima tahun lalu. Pas sempat sakit parah itu!”
🤗
smoga mereka menemukan Rain yg sdh lelahan berlari