NovelToon NovelToon
Suami Kilatku Ternyata Bosku

Suami Kilatku Ternyata Bosku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Anjay22

Demi menyelamatkan keluarganya, Alina terpaksa menerima pernikahan kilat dengan pria asing yang bahkan belum sempat ia kenal. Ia mengira pernikahan itu hanya formalitas, hingga hari pertama bekerja di perusahaan impiannya mengubah segalanya.

Pria dingin yang duduk di kursi CEO itu ternyata adalah suaminya sendiri.

Di depan semua orang, pria itu bersikap seolah mereka orang asing. Namun diam-diam, ia selalu melindungi Alina dari setiap fitnah dan bahaya yang mengintainya. Saat identitas mereka akhirnya terbongkar, rahasia besar, perebutan kekuasaan, dan pengkhianatan mulai mengancam rumah tangga mereka.

Mampukah cinta tumbuh di balik pernikahan yang dipenuhi rahasia? Atau justru semuanya akan berakhir sebelum benar-benar dimulai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Badai dalam kubikel

Pukul tiga belas lewat empat puluh lima menit. Udara di lantai 12 terasa mendadak membeku, dihimpit oleh kepanikan yang mencekik. Mbak Maya membongkar tumpukan lemari arsip dengan tangan gemetar, sementara Siska ikut berlutut di lantai membantu Alina memeriksa setiap celah kubikel. Namun, folder dokumen bernilai triliunan rupiah itu seolah sirnah ditelan bumi.

"Tidak mungkin hilang begitu saja, Alina!" Mbak Maya memegangi kepalanya yang pening. "Laci mejamu terkunci, kan? Kuncinya cuma ada di kamu!"

"Saya bersumpah, Mbak! Tadi sebelum ke kamar mandi, saya kunci laci ini dan kuncinya selalu saya kantongi!" tangis Alina pecah. Air mata kecemasan menetes deras membasahi pipinya. Tangannya dingin bagaikan es.

Ia membayangkan wajah Devan di lantai 20. Jika dokumen ini hilang, proyek Dirgantara City bisa gagal total, dan reputasi divisi Pemasaran akan hancur di mata dewan komisaris. Lebih mengerikan lagi, Alina takut Devan akan kecewa padanya, menganggapnya tidak bertanggung jawab atas tugas kritis yang diamanatkan.

Di sudut lorong, Clara berjalan mendekat dengan langkah perlahan, memegang cangkir keramiknya. Wajahnya memasang ekspresi terkejut yang teramat manis, namun tersirat kelicikan yang kentara di matanya.

"Ada apa ini? Kenapa heboh sekali?" tanya Clara pura-pura bingung.

"Berkas penawaran harga dan garansi bank proyek Dirgantara City hilang dari laci Alina, Clara!" jawab Mbak Maya dengan suara panik.

Clara membelalakkan mata dengan gestur dramatis. Ia menutup mulutnya, menatap Alina dengan pandangan menyalahkan yang mematikan. "Astaga, Alina!

Bagaimana bisa berkas vital seperti itu hilang lima belas menit sebelum penyerahan ke Pak Devan? Itu kan tugas utamamu hari ini!"

"Saya sudah menyimpannya dengan benar, Mbak Clara ..." cicit Alina parau.

"Menyimpan dengan benar tapi hilang? Kamu tahu tidak akibatnya kalau berkas itu tidak ada saat rapat nanti?" cecar Clara dengan nada meninggi, sengaja memancing perhatian seluruh staf di ruangan. "Pak Devan dan dewan komisaris bisa membatalkan seluruh proses tender! Perusahaan bisa rugi miliaran rupiah cuma karena kecerobohan staf baru sepertimu! Mbak Maya, ini tidak bisa dibiarkan!"

"Cukup, Clara! Jangan malah memperkeruh suasana!" bentak Mbak Maya.

Tepat pukul tiga belas lewat lima puluh lima menit, telepon di meja Mbak Maya berdering nyaring. Bunyi nyaring itu bagaikan ketukan vonis mati bagi Alina. Dengan tangan gemetar, Mbak Maya mengangkat gagang telepon.

"Selamat sore, area Direksi ... Iya, Pak Bagas ... Berkasnya?" Mbak Maya menelan ludah dengan susah payah, matanya menatap Alina yang berdiri lemas. "P-Pak Bagas, kami ... kami sedang ada kendala teknis pada berkas fisiknya—"

Sebelum Mbak Maya selesai bicara, suara bass yang berat, tegas, dan tak bergelombang memotong dari seberang sambungan telepon, Devan sendiri yang mengambil alih gagang telepon dari Pak Bagas.

("MAYA,")suara Devan terdengar dingin di speaker telepon. ("Rapat dewan direksi ditunda sepuluh menit. Bawa Alina dan seluruh staf divisi Pemasaran ke ruang kerjaku di lantai 20 sekarang. Bawa seluruh catatan audit lokasimu.")

Klik.

Sambungan terputus secara sepihak.

Mbak Maya menurunkan gagang telepon dengan wajah sepucat kapas. "Pak Devan minta kita semua naik ke lantai 20 sekarang juga."

Lantai 20 diselimuti atmosfer yang teramat berat. Ruang kerja Direktur Utama yang luas itu terasa seperti ruang pengadilan. Devan berdiri di dekat meja kerjanya, mengenakan jas hitam kustom yang terkancing rapi. Berdiri di sampingnya adalah Pak Bagas dan Kepala Tim Keamanan Gedung, Pak Gunawan.

Ketika Mbak Maya, Alina, Clara, dan Siska melangkah masuk, Devan membalikkan badan. Matanya yang tajam bagai elang menyapu wajah mereka satu persatuan, hingga akhirnya terhenti pada Alina. Pria itu menyadari wajah Alina yang memerah dengan bekas air mata yang masih basah di pipinya.

"Pak Devan ..." Mbak Maya membungkuk meminta maaf dengan suara bergetar. "Saya memohon maaf sebesar-besarnya atas kelalaian divisi kami. Berkas penawaran harga asli Dirgantara City ... hilang dari laci meja Alina lima belas menit yang lalu."

"Saya tahu," jawab Devan singkat dan datar. Tidak ada bentakan, tidak ada emosi meledak-ledak. Namun justru ketenangan yang dingin itu yang membuat udara di dalam ruangan terasa menekan dada.

Clara segera melangkah maju satu langkah, memasang raut wajah penuh penyesalan korporat. "Pak Devan, sebagai senior di divisi Pemasaran, saya sangat menyayangkan kejadian ini. Saya sudah berulang kali mengingatkan Alina untuk ekstra hati-hati menjaga berkas berharga tersebut. Ini sepenuhnya adalah bentuk kelalaian berat dari staf baru yang belum berpengalaman. Saya sarankan kita segera memberi sanksi tegas agar tidak menjadi preseden buruk bagi perusahaan!"

Alina menundukkan kepalanya dalam-dalam, meremas jemari tangannya hingga memutih. Hatinya hancur. Ia tidak tahu bagaimana harus membela diri di depan pria yang dicintainya dalam diam ini.

Devan menatap Clara selama tiga detik tanpa mengedipkan mata. Tatapan yang begitu dingin hingga membuat senyum tersembunyi Clara perlahan-lahan luntur oleh rasa gelisah yang mendadak menyeruak.

"Kamu sangat bersemangat menuntut sanksi, Clara," ujar Devan dengan nada suara yang teramat tenang.

Devan kemudian memalingkan pandangannya ke arah Pak Gunawan. "Pak Gunawan, tampilkan rekaman kamera pengawas tersembunyi koridor belakang lantai 12 pada pukul 11.10 hingga 11.30 siang tadi di layar."

Clara seketika membelalakkan mata. ("Kamera pengawas tersembunyi?!")

Pak Gunawan menekan tombol di remote kendali. Layar televisi pintar berukuran 85 inci di dinding ruangan menyala, menampilkan rekaman sudut atas koridor belakang divisi Pemasaran yang biasanya dianggap sebagai blind spot atau area tanpa kamera oleh para pegawai.

Di layar digital yang sangat jernih itu, terlihat situasi koridor saat jam istirahat. Alina tampak keluar dari kubikelnya menuju kamar kecil pada pukul 11.12.

Tepat dua menit kemudian, sesosok wanita bertubuh jenjang dengan gaun merah marun melangkah cepat menuju meja Alina.

Seluruh isi ruangan menahan napas.

Di layar monitor, wanita itu mengeluarkan sebatang kawat kecil, membobol laci meja Alina hanya dalam hitungan detik, lalu menyambar folder cokelat berisi dokumen proyek Dirgantara City.

Wanita itu menyelipkan folder di balik blazernya, berjalan cepat menuju koridor belakang, dan menyembunyikannya di antara tumpukan kardus bekas di dekat pintu keluar barang tempat pembuangan sampah!

Wanita di dalam rekaman video jernih itu adalah Clara

Suara desah napas terkejut keluar dari mulut Mbak Maya dan Siska. Alina mendongak dengan mata membelalak tak percaya, menatap layar televisi lalu beralih menatap Clara.

Wajah Clara seketika berubah menjadi sepucat mayat. Tubuhnya gemetar hebat, cangkir di tangannya hampir terlepas jika ia tidak segera mencengkeramnya. Keringat dingin mengucur deras di pelipis dan lehernya.

"I-ini ... ini tidak benar!" jerit Clara terbata-bata dengan suara melengking panik. "Pak Devan! Video ini pasti rekayasa! Saya ... saya tidak pernah melakukan hal konyol seperti itu! Seseorang pasti sengaja menjebak saya!"

"Rekayasa?" Devan melangkah pelan memutari mejanya, mendekati Clara dengan aura penguasa yang sangat mengintimidasi. Setiap langkah sepatunya bergaung di atas lantai kayu tebal. "Sistem kamera pengawas PT Dirgantara menggunakan enkripsi tingkat militer yang langsung terhubung ke server utama saya. Tidak ada satu orang pun yang bisa memanipulasi rekaman ini.

1
Hosniyah Niyah
mantap Thor lanjut ❤❤❤😘😘😘💞💞💞👍👍👍👌👌👌
Dwi Nur Jayanti
🫰💕💞💕
Mitha Ali
❤️❤️❤️❤️❤️
Indriani Kartini
ah mas Devan benar2 laki2 sejati, salut dengan pengakuan di dpn publik😍
MayAyunda: iya kak🙏
total 1 replies
Mitha Ali
❤️❤️❤️❤️🩵🩵🩵🩵🩵💪💪💪
MayAyunda: terimkasih 😍
total 1 replies
Mitha Ali
❤️❤️❤️❤️❤️
MayAyunda: terimkasih 😍
total 1 replies
Mitha Ali
❤️❤️❤️❤️❤️❤️
MayAyunda: terimkasih
total 1 replies
Mitha Ali
lanjuuuuuutttt😍😍 kk
MayAyunda: siap kak 🙏
total 1 replies
Mitha Ali
😍😍😍😍😍
Mitha Ali
lanjuuutttttt😍 kk
MayAyunda: siap kak
total 1 replies
Mitha Ali
uppp banyak2 kk cerita baguss😍😍😍
MayAyunda: terimkasih kak .baca ceritaku yg baru kak ke grep dengan preman tengil / suami Dadakanku ternyata bos baruku
total 1 replies
Elga Rista Septina
bagus ceritanyaaa😍
MayAyunda: terimkasih
total 1 replies
helena
sensi banget Clara.. pengen jambak sumpah/Angry/
MayAyunda: he he
total 1 replies
helena
kasian alina🥲
MayAyunda: iya kak 😄🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!