Sejak kecil Husnan hanya memiliki satu impian: membahagiakan ibunya. Demi adiknya, ia rela kehilangan segalanya, bahkan harus berpisah dengan keluarga yang dicintainya. Bertahun-tahun kemudian ia kembali sebagai pria sukses. Namun yang menunggunya bukanlah pelukan hangat, melainkan seorang adik yang telah menjadi anak durhaka dan seorang ibu yang telah terlalu lama menangis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cuek Tapi Manis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan di Balik Kaca Mata Hitam
Layar ponsel Om Hendra perlahan meredup hingga benar-benar gelap, meninggalkan Husnan dalam keheningan ruang tamu yang terasa begitu mencekam. Kalimat singkat dari Pak Arman terus berputar dan menggemas bagai kaset rusak di dalam kepalanya: “Siap-siap, seminggu lagi Husnan akan tahu siapa yang dilihatnya kemarin pagi.”
Husnan berdiri terpaku dengan napas yang tertahan. Tangannya gemetar hebat. Pertanyaan demi pertanyaan mulai berbenturan di dalam benaknya. Jika pesan itu dikirim kepada Om Hendra, artinya Om Hendra selama ini menyembunyikan sesuatu? Atau Om Hendra juga sedang dikendalikan oleh Pak Arman? Dengan sangat hati-hati, Husnan meletakkan kembali ponsel tersebut ke posisi semula. Ia memastikan sudut dan letaknya persis sama agar tidak menimbulkan kecurigaan. Dengan langkah kaki yang terasa seberat timah, ia berjalan kembali ke kamarnya, menutup pintu pelan, dan merebahkan diri. Malam itu, mata Husnan sama sekali tidak bisa terpejam hingga fajar menyingsing.
Hari Pertama: Mencari Kepastian
Keesokan harinya di sekolah, Husnan berjalan dengan langkah gontai. Kantung matanya menghitam akibat kurang tidur, namun pikirannya justru bekerja dua kali lebih keras. Logikanya mulai menyusun potongan teka-teki secara runtut. Pria berjas hitam di dalam mobil itu mengaku sebagai ayahnya di depan Pak Bambang, namun ia menolak menemui Husnan saat itu juga. Kenapa harus menunggu satu minggu?
Saat jam istirahat pertama, Husnan sengaja memisahkan diri dari Fajar dan Ferdi untuk menemui Pak Bambang di pos satpam depan gerbang sekolah.
"Pak Bambang," panggil Husnan dengan suara senormal mungkin.
Pak Bambang yang sedang meneguk kopi seketika tersedak. Wajahnya menegang sedetik, sebelum akhirnya berusaha tersenyum ramah. "Eh, Den Husnan. Ada apa? Belum ke kantin?"
"Pak, kemarin siang... waktu jemput aku, Bapak ngobrol sama siapa di dekat mobil? Pria yang pakai jas hitam itu," tanya Husnan langsung tanpa basa-basi, menatap lurus ke dalam manik mata Pak Bambang.
Pak Bambang tampak salah tingkah. Jemarinya meremas pinggiran topi seragamnya dengan gugup. Keringat dingin kembali tampak di pelipisnya. "Oh, itu... cuma orang tersesat, Den. Nanya alamat kantor dinas. Bapak enggak kenal."
Husnan tahu Pak Bambang sedang berbohong demi melindunginya atau karena takut. Ketakutan yang terpancar dari mata pria tua itu terlalu nyata untuk sebuah urusan bertanya alamat. Namun, Husnan memilih mengalah agar Pak Bambang tidak semakin tertekan. "Oh, begitu ya, Pak. Ya sudah, makasih ya, Pak."
Hari Kedua dan Ketiga: Teori di Meja Kelas
Melihat gelagat Husnan yang aneh, Fajar dan Ferdi akhirnya mendesak Husnan untuk bercerita saat mereka berkumpul di sudut perpustakaan pada hari ketiga. Husnan pun menceritakan tentang pesan singkat yang ia baca di ponsel Om Hendra tanpa melewatkan satu detail pun.
"Seminggu lagi?" Ferdi mengerutkan kening, mengetuk-ngetuk meja kayu dengan penanya. "Berarti hari Senin depan? Ada apa memangnya di hari Senin?"
Fajar, yang ibunya merupakan salah satu pengurus komite sekolah, tiba-tiba membelalakkan mata. "Tunggu! Senin depan itu kan ada acara peresmian gedung laboratorium digital baru dan aula serbaguna kita! Ibu ku bilang, acara itu bakal dihadiri oleh jajaran direksi yayasan pusat dan para investor besar dari ibu kota."
Husnan tertegun. Papan nama yayasan sekolah mereka memang dikelola oleh sebuah korporasi raksasa bernama Artha Group. Jika pria misterius berjas hitam itu adalah bos dari Pak Arman—dan Pak Arman adalah orang yang memiliki pengaruh besar—maka sangat logis jika pria itu adalah salah satu petinggi atau bahkan pemilik yayasan yang akan datang pada hari Senin tersebut.
"Kalau dia memang ayahku... kenapa dia harus menggunakan momentum formalitas sekolah untuk menemuiku?" gumam Husnan dengan tangan mengepal.
"Mungkin dia ingin menunjukkan kekuasaannya? Atau mungkin, selama ini dia mengawasimu dari jauh karena ada bahaya yang mengancam jika dia menemuimu secara terang-terangan sebagai seorang ayah," analisis Fajar, mencoba berpikir logis.
Hari Keempat hingga Keenam: Sandiwara di Rumah
Hari-hari berikutnya menjelma menjadi siksaan batin bagi Husnan. Di rumah, ia terpaksa mengenakan "topeng" sebagai anak yang tenang dan penurut di depan Om Hendra. Ia memperhatikan setiap gerak-gerik pamannya itu dengan saksama.
Namun, Om Hendra adalah pria yang sangat rapi. Tidak ada bisik-bisik telepon di tengah malam, tidak ada dokumen mencurigakan yang ditinggalkan di meja. Om Hendra memperlakukan Husnan dengan kasih sayang yang sama seperti biasanya. Hal ini membuat Husnan menarik dua kesimpulan logis: antara Om Hendra adalah aktor yang sangat hebat yang sedang bersandiwara, atau Om Hendra sebenarnya juga dijadikan "alat" oleh Pak Arman tanpa tahu rencana besar yang sesungguhnya. Husnan berharap kemungkinan kedualah yang benar, karena ia tidak ingin kehilangan kepercayaan pada satu-satunya sosok paman yang merawatnya.
Malam minggu tiba, dan suasana di rumah terasa semakin sunyi. Husnan menatap kalender di dinding kamarnya. Sisa dua hari lagi. Jantungnya berdegup konstan dengan ritme yang cepat setiap kali memikirkan hari Senin.
Hari Ketujuh: Senin Pagi yang Menentukan
Hari yang dinantikan akhirnya tiba. Halaman sekolah telah bersolek indah dengan umbul-umbul merah-putih dan bendera yayasan. Karpet merah dibentangkan dari gerbang utama menuju aula baru. Beberapa mobil sedan hitam mewah kelas atas—jauh lebih mewah dari mobil dinas kepala sekolah—mulai memasuki halaman dan parkir berjejer rapi.
Seluruh murid, dari kelas satu hingga kelas tiga, diwajibkan berdiri berbaris rapi di sepanjang koridor luar untuk menyambut kedatangan para tamu kehormatan. Udara pagi itu terasa sejuk, namun bagi Husnan, setiap embusan angin terasa menyesakkan dada.
"Hus, tenang. Atur napasmu," bisik Fajar yang berdiri tepat di sebelahnya. Husnan hanya mengangguk pelan, matanya tidak lepas dari ujung koridor.
Dari kejauhan, serombongan pria dan wanita berpakaian formal berjalan dengan langkah berwibawa, didampingi langsung oleh Kepala Sekolah dan para guru yang membungkuk hormat. Di tengah-tengah rombongan itu, berjalan seorang pria paruh baya dengan postur tubuh tegap dan gagah. Ia mengenakan setelan jas hitam custom-made yang sangat rapi, rambutnya disisir klimis ke belakang, dan sebuah kacamata hitam bertengger di hidungnya.
Begitu rombongan memasuki area koridor yang teduh, pria itu mengangkat tangannya perlahan, lalu melepas kacamata hitamnya.
Napas Husnan tercekat seketika. Seluruh pasokan udara di sekitarnya seolah menguap.
Meskipun waktu dan usia telah mengaburkan banyak memori masa kecilnya, struktur rahang yang tegas itu, guratan di dahi, serta sepasang mata elang yang dingin namun memancarkan aura kepemimpinan yang mutlak—tidak salah lagi. Sosok itu adalah pria yang berada di dalam mobil hitam seminggu yang lalu. Dan yang lebih membuat dadanya bergemuruh, sosok itulah yang selalu muncul dalam kilasan ingatan samarnya sebagai wajah sang ayah yang mencium keningnya sebelum ia ditinggalkan bertahun-tahun lalu.
Tepat saat rombongan berjalan melewati barisan kelas Husnan, pria itu mendadak menghentikan langkah kakinya. Kepala Sekolah dan para pengawal di belakangnya ikut berhenti dengan patuh, tampak bingung namun tidak berani menyela.
Pria berjas hitam itu memutar tubuhnya perlahan. Ia mengarahkan pandangan matanya yang tajam lurus ke satu titik: tepat ke arah mata Husnan yang sedang mematung.
Suasana di koridor seolah mendadak hening, mengabaikan kasak-kusuk murid-murid lain. Untuk beberapa detik yang terasa seperti keabadian, ayah dan anak itu saling berpandangan dalam diam. Tidak ada air mata, tidak ada pelukan hangat. Namun, sebuah senyuman tipis—hampir tak kentara—muncul di sudut bibir pria itu. Sebuah senyuman penuh kemenangan dan isyarat yang sarat akan arti, seolah-olah ia sedang berkata: Seminggu telah usai, dan sekarang waktunya kamu mengetahui siapa aku sebenarnya.
Pria itu kemudian kembali memakai kacamata hitamnya, berbalik dengan gerakan tegas, dan melanjutkan langkahnya menuju aula utama sekolah.
Husnan tetap berdiri mematung di tempatnya. Tangannya meremas kuat-kuat rok seragam atau ujung bajunya, mencoba menahan tubuhnya agar tidak limbung karena lemas. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga telinganya berdenging. Seminggu penuh siksaan batin telah berlalu, rahasia besar itu kini telah menampakkan wujudnya secara nyata di depan mata, dan Husnan sangat tahu bahwa setelah hari ini,lembaran hidupnya yang tenang tidak akanpernah sama lagi.