Miracle. menceritakan Ayyasy dan teman-temannya yang hanya siswa biasa melihat bintang jatuh yang jatuh ke arah gunung belakang komplek mereka. mereka menyentuh batu itu dan mendapatkan kekuatan. setelah mereka mendapatkan kekuatan, ancaman ancaman dari monster monster mulai berdatangan. mereka pun harus menjadi penjaga dunia.
bersamaan dengan itu, mereka juga mulai bertemu dengan pahlawan pahlawan dari kota lain yang memiliki nama tim yang sama yaitu, Miracle
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayyasy Asy-Syaif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertarungan Melawan 4 Makhluk Raksasa Dan Ayyasy Yang Membara
Aula utama istana Darking berguncang hebat saat pertempuran besar berskala tinggi resmi pecah! Ke-32 Miracle langsung membagi diri menjadi empat kelompok utama untuk mengisolasi pergerakan empat jenderal raksasa buatan Darking.
Pertempuran Melawan Uranus: Benteng Regenerasi
Di sisi barat aula, Davi memimpin pertarungan melawan Uranus. Raksasa pelindung itu secara konstan memancarkan gelombang energi hijau kehitaman yang memulihkan setiap retakan pada armor batu tebalnya.
"Gak bakal mempan kalau kita cuma serang luarannya!" seru Davi sambil menahan hantaman tangan Uranus dengan perisai buminya.
Cheryl yang melayang melintasi bahu Uranus langsung menembakkan semburan air bertekanan tinggi yang membuat armor batunya pecah. "Davi, kunci pergerakan intinya!"
Darking tertawa terbahak-bahak melihat kekacauan di aula istana. Ia kembali mengangkat tangannya, lalu memanggil ribuan monster kegelapan dari balik tanah. Tanpa ampun, gelombang monster tersebut meluncur dan menyerang membabi buta ke arah para Miracle.
Pertarungan dahsyat pun kembali pecah!
Berkat gabungan sihir heal cepat dari lima orang penyembuh—Serafe, Tsalwa, Alya, Nailu, dan Jessica—kondisi Ayyasy yang tadinya kritis perlahan mulai mendingan. Meski dadanya masih terasa nyeri bekas sabetan tombak, Ayyasy bangkit berdiri dan langsung terjun bertarung lagi. Tanpa memikirkan rasa sakit fisiknya, ia kembali pasang badan melindungi Arunnaqa yang hampir ditusuk oleh monster dari arah belakang.
Di tengah pertempuran yang makin sengit, Arunnaqa dikepung dan melawan banyak sekali monster sendirian. Tiba-tiba, serombongan monster melompat bersamaan ke arah Arunnaqa dan siap menghabisinya dari udara!
Namun sebelum hal buruk itu terjadi, Night dengan cepat melompat tinggi membelah kegelapan. Dengan teknik Shadow Kill miliknya yang kilat dan mematikan, Night melesat di antara serbuan monster.
SWOOSH! CRASH!
Dalam hitungan detik, Night berhasil memotong habis semua monster yang ada di sekitar Arunnaqa hingga menjadi debu.
Arunnaqa yang menyaksikan kejadian itu mendadak kaget sekaligus sangat terharu. Tanpa berpikir panjang, Arunnaqa langsung memeluk Night dengan erat sambil mengucap terima kasih bertubi-tubi. "Makasih banyak, Night! Makasih udah nyelamatin aku!"
Ayyasy yang kebetulan berdiri tidak jauh di sisi lain medan perang menyaksikan pemandangan itu secara langsung. Seketika, dadanya terasa sangat sesak. Wajah sakit hati dan kepedihan jelas terlihat di matanya, meski Ayyasy berusaha keras menunjukkan keadaan baik-baik saja dan membuang muka.
Sementara itu, Night yang tiba-tiba dipeluk erat oleh Arunnaqa kaget setengah mati. Tubuhnya mendadak kaku dan dalam hatinya ia membatin panik, "Woy, lu gak mikirin perasaan Ayyasy apa?!" Namun karena rasa gugup yang luar biasa, Night hanya bisa berdiri membeku tak sanggup bergerak sedikit pun, sampai akhirnya Arunnaqa melepaskan pelukannya sendiri.
Ayyasy kini berdiri tertunduk di sisi lain aula istana. Rambutnya menutupi pandangannya, dan aura api berwarna merah-keemasan yang sangat kuat mendadak meluap dan menyebar liar di sekeliling tubuhnya. Suhu udara di dalam istana meningkat drastis secara mendadak.
"Y-yas, lu gapapa?" tanya Iyan yang berjalan mendekatinya dengan cemas.
"Gak papa," jawab Ayyasy singkat dengan nada suara yang sangat berat dan dingin.
Ayyasy kemudian mendongakkan kepalanya. Aura api super panas meledak hebat mengelilingi dirinya. Tanpa banyak bicara, Ayyasy melesat maju dengan kecepatan luar biasa. Dengan pedang apinya yang membara terang, ia mengayunkan tebasan-tebasan dahsyat dan menghabisi ribuan monster kegelapan di sekitarnya hanya dalam sekejap mata!
BOOOOOOMMMMM!
Lautan api memusnahkan seluruh monster, meninggalkan aula istana yang mendadak bersih dari musuh kroco. All Miracle yang melihat aksi mengamuk Ayyasy itu melongo dan terkejut setengah mati.
"Gini nih... efek orang patah hati. Langsung ngeluarin mode in another life~" bisik Abzari pelan ke Arkan sambil terkekeh dan menyanyikan lirik lagu tersebut.
"Hihi parah, parah lu. Gua bilangin lu ke orangnya!" balas Arkan sambil tertawa kecil berusaha menahan tawa.
"Heh, lu berdua! Malah bercanda di situasi kayak gini!" omel Sintia tegas sambil melotot ke arah mereka berdua.
Mendengar omelan Sintia, Abzari dan Arkan pun langsung bungkam dan diam seketika, kembali memasang wajah serius menatap ke arah Darking yang berdiri sendirian di ujung singgasana.
Kali ini. Draking berdiri dai singgasana nya dan berjalan ke arah mereka.
Alya memutar selendang pelanginya dengan sangat anggun. "Sihir Pelangi: Ikatan Spektrum!" Kain warna-warni itu melilit tubuh Uranus rapat-rapat, sementara Fadhil dan Rahman melepaskan tinju emas dan api jiwa membara tepat di dada Uranus, menekan laju regenerasinya hingga raksasa itu meraung tertahan.
Pertempuran Melawan Kaja: Petir Cambuk Kegelapan
Di sisi timur, Iyan, Night, Sintia, Rava, dan Ghofar bertarung melawan Kaja. Cambuk petir Kaja menyambar-nyambar dengan suara pekak, mencoba menarik dan menyengat siapa saja yang mendekat.
Sintia membekukan lantai di bawah kaki Kaja untuk mengacaukan pijakannya. "Sekarang, Iyan!"
Iyan melompat tinggi, pedang mataharinya membara terang menyapu udara. Tebasan api murni milik Iyan memotong cambuk petir Kaja tepat di udara. Night dengan gerakan cepat bak bayangan dan menggunakan teknik shadow kill dengan samurai bayangan nya lalu langsung mengesekusi bagian sayap Kaja, mematahkan dominasi udara milik raksasa elang tersebut.
Pertempuran Melawan Moskov & Edith: Medan Tempur Tengah
Di area tengah, pertempuran berlangsung paling sengit. Edith dalam mode Mecha raksasanya melepaskan meriam listrik berkekuatan tinggi secara beruntun, sementara Moskov melayang lincah berpindah tempat, mengintai setiap celah dari kegelapan dengan tombak beracunnya.
Abzari mengendalikan angin topan untuk membiaskan tembakan listrik Edith, memberi ruang bagi tim Cyber untuk melancarkan peretasan jarak dekat.
Arunnaqa melayang menggunakan dorongan pendorong sepatunya. Fokusnya tercurah penuh pada Edith. Jemarinya bergerak kilat di keyboard holografik untuk meretas inti kontrol mekanis Mecha raksasa tersebut agar armor pelindungnya terbuka.
"Sikit lagi... sistem pelindung Edith berhasil diisolasi!" seru Arunnaqa gembira di udara, bersiap menembakkan meriam sihir teknologinya untuk melumpuhkan Edith.
Namun, di sudut gelap aula, Moskov melihat Arunnaqa yang sedang fokus dan melayang tanpa perlindungan di udara. Mata merah Moskov berkilat dingin. Dengan gerakan yang sangat cepat dan tak terduga, Moskov menarik tangannya ke belakang, menghimpun seluruh energi pekat kegelapan, lalu melemparkan tombak beracunnya dengan kecepatan penuh tepat ke arah Arunnaqa!
SWOOOOOOOOOOOSH!
Tombak itu membelah udara menciptakan gelombang kejut yang mengerikan, meluncur kilat lurus menargetkan dada Arunnaqa yang masih belum menyadari bahaya.
"Arunnaqa, awas!" teriak Azkailah dari jauh.
Di detik yang sangat kritis itu, insting bertarung Ayyasy membuncah hebat. Ia menoleh cepat ke belakang. Melihat tombak maut itu tinggal berjarak beberapa meter dari Arunnaqa, Ayyasy tidak berpikir dua kali. Tanpa memedulikan keselamatan dirinya sendiri, Ayyasy melesat menggunakan sisa sisa Dragon Flame Aura untuk pasang badan di udara!
JLEEEB!
"Aaaargh!"
Tombak hitam beracun milik Moskov menancap telak tepat di dada Ayyasy!
Dampak pendorongan tombak raksasa itu membuat Ayyasy terhempas kencang dan menghantam lantai batu istana hingga retak. Pendar api naga di tubuhnya seketika padam, digantikan oleh cairan hitam beracun yang mulai menyebar di sekitar lukanya.
Darah segar menetes di lantai istana. Ayyasy terbaring tak bergerak.
"AYYASY!"
Teriakan histeris memecah seluruh medan pertempuran. Arunnaqa yang mendarat panik langsung berhamburan lari mendekati Ayyasy dengan tangan gemetar. Seluruh 32 Miracle seketika panik luar biasa, pertempuran mendadak terhenti saat mereka menyaksikan ketua mereka tumbang menerima serangan mematikan!
Lanjutan cerita:
Di tengah suasana hening dan mencekam di aula istana yang runtuh, Arunnaqa berlutut di samping Ayyasy dengan tangan gemetar. Air matanya menetes mengenai luka menancap di dada Ayyasy.
"Ayyasy! Buka mata lu! Kenapa kamu nekat banget sih?!" teriak Arunnaqa dengan suara serak menahan tangis.
Ayyasy terbatuk kecil, darah menetes dari sudut bibirnya. Pendar api di matanya meredup, namun ia berusaha mengukir senyuman tipis menatap wajah Arunnaqa yang panik di atasnya. Dengan sisa kekuatan yang ada, Ayyasy mengangkat tangannya yang terasa kian berat, mengusap pelan air mata di pipi Arunnaqa.
"Naq..." bisik Ayyasy lirih, suaranya hampir tenggelam oleh gema pertarungan di sekitar mereka. "Gue gak bisa ngebiatin lu terluka... Karena... sebenarnya dari awal kita ketemu di markas, gue udah punya perasaan lebih ke lu."
Arunnaqa terpaku seketika. Lidahnya mendadak kufur, matanya membelalak tak percaya mendengar pengakuan yang keluar dari mulut Ayyasy di situasi kritis seperti ini.
"Lu... ngomong apa sih, Yas?" Arunnaqa menggelengkan kepalanya cepat, mencoba membuang prasangka itu. "Jangan ngomong yang aneh-aneh! lu cuma bercanda kan?! Jangan akting bercanda di situasi kayak gini, Ayyasy!"
"Gue gak bercanda, Naqa..." helaan napas Ayyasy makin berat dan terengah-engah. "Gue beneran suka sama lu... sejak awal..."
Arunnaqa menggigit bibirnya erat-erat, rasa bersalah dan bingung berkecamuk hebat di dadanya. Ia memegang tangan Ayyasy yang kian dingin, namun menggeleng pelan dengan raut wajah penuh penyesalan.
"Ayyasy, tapi gue gak bisa bales perasaan lu," tutur Arunnaqa dengan jujur dan keteguhan hati, meski matanya terus bercucuran air mata. "Selama ini... gue cuma nganggep lu sebagai teman yang sangat berharga. Gak lebih dari itu, Yas. Jadi tolong... bertahanlah! Jangan ngomongin hal ini sekarang, kita harus nyelametin lu!"
Mendengar jawaban jujur dari Arunnaqa, Ayyasy hanya memejamkan matanya perlahan. Senyum tipisnya tetap bertahan di bibirnya. "Makasih... udah jujur, Naq. Yang penting... luu gapapa..."
Serafe langsung menghampiri Ayyasy dan memberikan sihir cahaya penyembuhan. Dengan bantuan healing Cinta, Nailu, dan Alya. Ayyasy kembali sadar tapi masih belum bisa bertarung. Ia hanya bisa duduk bersandar di tembok istana melihat teman-temannya menghabisi 4 makhluk raksasa itu.
Darking tertawa terbahak-bahak melihat kekacauan di aula istana. Ia kembali mengangkat tangannya, lalu memanggil ribuan monster kegelapan dari balik tanah. Tanpa ampun, gelombang monster tersebut meluncur dan menyerang membabi buta ke arah para Miracle.
Pertarungan dahsyat pun kembali pecah!
Berkat gabungan sihir heal cepat dari lima orang penyembuh—Serafe, Tsalwa, Alya, Nailu, dan Jessica—kondisi Ayyasy yang tadinya kritis perlahan mulai mendingan. Meski dadanya masih terasa nyeri bekas sabetan tombak, Ayyasy bangkit berdiri dan langsung terjun bertarung lagi. Tanpa memikirkan rasa sakit fisiknya, ia kembali pasang badan melindungi Arunnaqa yang hampir ditusuk oleh monster dari arah belakang.
Di tengah pertempuran yang makin sengit, Arunnaqa dikepung dan melawan banyak sekali monster sendirian. Tiba-tiba, serombongan monster melompat bersamaan ke arah Arunnaqa dan siap menghabisinya dari udara!
Namun sebelum hal buruk itu terjadi, Night dengan cepat melompat tinggi membelah kegelapan. Dengan teknik Shadow Kill miliknya yang kilat dan mematikan, Night melesat di antara serbuan monster.
SWOOSH! CRASH!
Dalam hitungan detik, Night berhasil memotong habis semua monster yang ada di sekitar Arunnaqa hingga menjadi debu.
Arunnaqa yang menyaksikan kejadian itu mendadak kaget sekaligus sangat terharu. Tanpa berpikir panjang, Arunnaqa langsung memeluk Night dengan erat sambil mengucap terima kasih bertubi-tubi. "Makasih banyak, Night! Makasih udah nyelamatin aku!"
Ayyasy yang kebetulan berdiri tidak jauh di sisi lain medan perang menyaksikan pemandangan itu secara langsung. Seketika, dadanya terasa sangat sesak. Wajah sakit hati dan kepedihan jelas terlihat di matanya, meski Ayyasy berusaha keras menunjukkan keadaan baik-baik saja dan membuang muka.
Sementara itu, Night yang tiba-tiba dipeluk erat oleh Arunnaqa kaget setengah mati. Tubuhnya mendadak kaku dan dalam hatinya ia membatin panik, "Woy, lu gak mikirin perasaan Ayyasy apa?!" Namun karena rasa gugup yang luar biasa, Night hanya bisa berdiri membeku tak sanggup bergerak sedikit pun, sampai akhirnya Arunnaqa melepaskan pelukannya sendiri.
Ayyasy kini berdiri tertunduk di sisi lain aula istana. Rambutnya menutupi pandangannya, dan aura api berwarna merah-keemasan yang sangat kuat mendadak meluap dan menyebar liar di sekeliling tubuhnya. Suhu udara di dalam istana meningkat drastis secara mendadak.
"Y-yas, lu gapapa?" tanya Iyan yang berjalan mendekatinya dengan cemas.
"Gak papa," jawab Ayyasy singkat dengan nada suara yang sangat berat dan dingin.
Ayyasy kemudian mendongakkan kepalanya. Aura api super panas meledak hebat mengelilingi dirinya. Tanpa banyak bicara, Ayyasy melesat maju dengan kecepatan luar biasa. Dengan pedang apinya yang membara terang, ia mengayunkan tebasan-tebasan dahsyat dan menghabisi ribuan monster kegelapan di sekitarnya hanya dalam sekejap mata!
BOOOOOOMMMMM!
Lautan api memusnahkan seluruh monster, meninggalkan aula istana yang mendadak bersih dari musuh kroco. All Miracle yang melihat aksi mengamuk Ayyasy itu melongo dan terkejut setengah mati.
"Gini nih... efek orang patah hati. Langsung ngeluarin mode in another life~" bisik Abzari pelan ke Arkan sambil terkekeh dan menyanyikan lirik lagu tersebut.
"Hihi parah, parah lu. Gua bilangin lu ke orangnya!" balas Arkan sambil tertawa kecil berusaha menahan tawa.
"Heh, lu berdua! Malah bercanda di situasi kayak gini!" omel Sintia tegas sambil melotot ke arah mereka berdua.
Mendengar omelan Sintia, Abzari dan Arkan pun langsung bungkam dan diam seketika, kembali memasang wajah serius menatap ke arah Darking yang berdiri sendirian di ujung singgasana.