NovelToon NovelToon
DENDAM MAWAR

DENDAM MAWAR

Status: tamat
Genre:Thriller / Roh Supernatural / Balas Dendam / Horor / Tamat
Popularitas:283.4k
Nilai: 4.5
Nama Author: Muzu

Sebut saja Mawar, sebuah nama yang diambil dari tumbuhan perdu, berduri, berbau wangi, dan berwarna indah. Mawar juga melambangkan romantisme, cinta, keindahan, dan keberanian. Namun, gadis yang bernama Mawar ini tidaklah seperti gambaran dari definisinya. Tragedi mengerikan membuat sang mawar menjadi layu, kering, dan dipenuhi oleh dendam yang membara.


Dari tragedi itu, Mawar tidak hanya menjadi korban kebiadaban para penjahat, ia pun harus menanggung fitnah yang mengarah padanya.


Dalam kondisi batin yang terguncang hebat, Mawar meneguhkan hatinya untuk membalas dendam tragedi nahas yang menimpa diri dan keluarganya.


Bagaimana cara Mawar dalam membalaskan dendam dan siapakah yang dapat menghentikannya? Simak terus ceritanya dalam novel yang kalian baca ini!


Kisah ini murni dari karangan dan imajinasi author. Selamat Membaca.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muzu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ungkapan Cinta

Lebih dari dua minggu telah berlalu sejak malam mencekam itu, dan Mawar masih setia mendampingi Ucrit yang terbaring tak berdaya di ranjang rumah sakit. Namun, meskipun waktu terus berjalan, Ucrit belum juga menunjukkan tanda-tanda kesadaran dari koma yang mendalam.

Selama periode yang sulit itu, Mawar sering kali terdampar dalam meditasi pikirannya sendiri, menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang melilit hatinya. Di malam yang sunyi, ketika lampu rumah sakit memancarkan cahaya yang pucat, Mawar merenung, bertanya-tanya apakah ia akan membuka hatinya untuk pria yang telah lama ditunggunya, ataukah ia akan membenamkan perasaan yang mungkin ada di dalamnya dalam lautan dendam yang bergelombang.

Dalam keheningan ruang perawatan, Mawar terus merenungkan pertanyaan-pertanyaan yang mengganggu itu, menyusun alur pikirannya dalam upaya mencari jawaban yang sulit. Akan tetapi, setiap kali, ketika matanya terpaku pada wajah pucat Ucrit yang tak berdaya di depannya, perasaan bingung dan dilema itu kembali merasuki hatinya, menyelimuti segala yang ada.

Larik-larik cahaya pagi menembus kisi-kisi jendela, membentuk pola-pola geometris yang bermain-main di wajah pucat Mawar. Dalam semburat cahaya, kelopak mata gadis itu terbuka perlahan, dan matanya bertemu dengan wajah tirus Ucrit yang masih terpasang berbagai alat medis.

"Pagi, Ucrit," sapanya dengan suara lembut, mengulangi ritualnya yang sama setiap hari sejak kedatangan Ucrit ke rumah sakit. "Semoga hari ini lu siuman dan kembali gombalin gue," tambahnya, mengharapkan keajaiban kecil yang mungkin bisa terjadi.

Senyum kecil muncul di bibir Mawar saat tatapan hangatnya jatuh pada Ucrit yang tak berdaya di atas ranjang. Meskipun sepi dalam kamar perawatan, harapan tetap hadir, menjadi pelita kecil yang terus menyala di tengah ketidakpastian.

Tak lama berselang, seorang dokter paruh baya memasuki kamar rawat inap, diikuti oleh kedua perawatnya yang siap membantu. Cahaya yang masuk melalui jendela menyoroti kehadiran mereka, menciptakan pagi yang harmonis di dalam ruangan.

Mawar, yang duduk dengan tatapan penuh harap, menyambut kedatangan mereka dengan senyum hangat. Namun, di balik senyumnya, terdapat kegelisahan yang tertutup rapat.

“Selamat pagi, Nona Mawar,” sapa sang dokter dengan suara tegas namun penuh kebaikan, “saya tertarik untuk mengetahui kondisi Nona yang pucat namun tidak pernah sakit. Apabila Nona butuh penangan medis, jangan ragu untuk memeriksakannya.”

Mawar mengangguk perlahan, mencoba menenangkan dirinya sendiri. “Kondisiku selalu baik-baik saja. Dokter tidak perlu mengkhawatirkannya,” jawabnya dengan percaya diri.

Dokter mengangguk mengerti, namun tidak melupakan tugasnya. Ia segera memulai pemeriksaan rutin pada pasiennya, sementara kedua perawatnya dengan cermat mencatat setiap detail yang diperlukan.

Setelah selesai, Mawar menghampiri dokter dengan hati yang berdebar. “Bagaimana kondisi pasien hari ini, Dokter? Apakah ada kemajuan?”

Dokter tersenyum lembut, menenangkan hati Mawar yang gelisah. “Puji syukur kepada Tuhan, pasien dalam kondisi yang terus menunjukkan reaksi positif. Dalam perhitungan saya, Saudara Solihin akan secepatnya siuman.”

Dengan lega, Mawar mengucapkan terima kasih kepada dokter yang telah memberikan kabar baik tersebut. Matanya berbinar penuh harapan, sembari mengucapkan doa-doa terbaik untuk kesembuhan Ucrit.

Pukul 12 siang, ketika matahari tepat di puncak langit, Bu Ijah memasuki kamar rawat dengan membawa rantang makanan yang menggoda. Aroma harum menguar dari dalamnya, menciptakan sensasi lapar yang tak terbendung.

“Neng, ayo makan dulu! Sudah dua minggu ini kamu menolak makanan yang Enyak bawa. Kamu harus makan!” ajak Bu Ijah sambil membuka rantang dengan harapan Mawar mau memakannya.

Mawar mengangguk patuh dan mulai menyantap makanannya dengan lahap.

“Bagaimana keadaan Ucrit? Sudahkah Dokter memeriksanya?” tanya Bu Ijah, matanya penuh kekhawatiran.

“Sudah, Nyak. Dokter mengatakan kondisinya semakin membaik dan kemungkinan besar dia akan sadar dalam waktu dekat,” jawab Mawar sambil terus mengunyah makanannya.

Sementara itu, Mawar sesekali melirik ke arah tempat tidur Ucrit. Terlihat bahwa dia sudah tidak lagi dipenuhi dengan banyak alat medis. Hanya selang infus yang masih terpasang di pergelangan tangannya. Melihat kondisinya yang semakin membaik, Mawar merasa lega, meskipun keinginan untuk melihatnya membuka mata masih belum terwujud.

Tiba-tiba, suara rantang jatuh memecah keheningan di kamar. Mawar segera berlari ke sisi tempat tidur Ucrit ketika melihat jemari tangannya bergerak-gerak. Tanpa ragu, dia menekan tombol bel panggilan perawat untuk meminta bantuan.

“Ucrit, lu udah bangun? Ini gue, Mawar,” bisik Mawar dengan suara gemetar sambil memegang wajah Ucrit, berharap dia akan membuka matanya.

Dua perawat memasuki ruangan dengan sigap, lalu segera memeriksa kondisi Ucrit.

“Nona Mawar dan Ibu, tolong tunggu di luar sebentar!” pinta salah seorang perawat dengan tegas.

Suasana kamar rawat inap terasa begitu sunyi dan tegang, seolah-olah beban kekhawatiran mencekik udara. Mawar dan Bu Ijah, dua sosok yang sama-sama dipenuhi kecemasan, duduk menunggu di luar ruangan. Wajah mereka memancarkan kegelisahan yang mendalam, dihiasi oleh bayangan-bayangan kekhawatiran yang tak terucapkan.

Saat pintu kamar terbuka, mata mereka berdua segera mengarah ke arah dokter yang masuk. Harapan yang rapuh tersimpan di dalam hati mereka, menunggu dengan napas yang terhenti-henti. Waktu berjalan begitu lambat, menciptakan ruang untuk pikiran-pikiran gelap yang tak terhindarkan.

“Nona Mawar dan Ibu, Saudara Solihin sudah siuman, tapi kondisinya masih belum stabil,” ucap perawat dengan suara yang lembut, mencoba menyampaikan kabar yang menggembirakan.

Bu Ijah menahan isak tangisnya, merasakan beban yang terangkat sedikit. Namun, di antara kerinduan dan kelegaan, ada kepahitan yang merayapi hatinya.

Mawar, tanpa sepatah kata pun, masuk ke dalam kamar dengan hati yang berat. Dia mendekap tubuh Ucrit yang terbaring lemah dengan erat, membiarkan air mata mengalir di pipinya.

“Maafin gue, Crit. Karena gue, lu jadi begini,” bisik Mawar dengan suara gemetar, rasa sesal yang mendalam terasa di setiap katanya.

Keheningan yang menyayat hati mengisi ruangan, diiringi oleh isak tangis yang pecah dari bibir Mawar. Ucrit, meski lemah, mengedipkan matanya pelan, menunjukkan bahwa ia mendengar dan merasakan setiap detik di sisi Mawar, meskipun dalam keadaan terbaring.

Ucrit masih tetap dalam keheningan, namun senyum tipis terukir di bibirnya, mengisyaratkan ketenangan yang dalam. Namun, keheningan itu terputus tiba-tiba saat jemari tangannya bergerak dengan lemah, mengepal dan memukul pelan punggung Mawar.

Mawar terkejut oleh tindakan tersebut, namun segera bangkit sambil mengusap air mata yang mengalir di pipinya. Tatapan heran melintas di matanya saat dia menatap Ucrit, yang tampak begitu kesal.

“Kenapa lu mukul gue?” protes Mawar, keheranan tergambar jelas di wajahnya.

Ucrit masih kesulitan untuk berbicara, jadi dia menunjukkan ke arah celananya yang tampak menggembung. Sesuatu yang tertidur kini terbangun. Mawar merengut kesal melihatnya, lalu menyentilnya dengan gemas. Ucrit meringis kesakitan, sementara Bu Ijah yang memperhatikan tak bisa menahan tawa. Suasana yang sebelumnya sendu berubah menjadi ceria seketika, diiringi tawa kecil yang mengalun hangat di ruangan itu.

Beberapa hari berlalu, dan akhirnya Ucrit diizinkan pulang. Mawar, dengan perasaan lega setelah menyelesaikan semua administrasi, kembali memasuki kamar rawat untuk memberitahunya. Namun, begitu Mawar membuka pintu, dia disambut oleh pemandangan yang begitu berbeda dari yang dia duga. Ornamen bunga mawar menghiasi setiap sudut ruangan, menciptakan aroma yang memikat.

Mawar merasakan campuran emosi yang meluap-luap di dadanya, dari kebingungan hingga haru. Dia menoleh ke arah Ucrit, yang berdiri di tengah ruangan dengan kedua tangan tersembunyi di belakang punggungnya. Pandangannya bertemu dengan Ucrit, yang berhenti sejenak dan menekuk kaki, sambil kemudian menyodorkan seikat bunga mawar.

“Mawar, maukah kamu menjadi kekasihku?” Ucrit berkata, suaranya penuh dengan harapan dan cinta yang tulus, menantikan jawaban dari wanita yang dicintainya.

1
𝓐𝔂⃝❥Ŝŵȅȩtŷ⍲᱅Đĕℝëe_👻ᴸᴷ
Org menerka² belum tentu benar padahal ya 🚶
𝙸𝚗𝚍𝚊𝚑 𝙵𝚊𝚝𝚒𝚖𝚊𝚑
ambil paket sekolah bisa juga mawar
〈⎳ 小祖ᴹᵘᶻᵘ🍒⃞⃟🦅: Paket C ya 😁
total 1 replies
Hartini Donk
namanya lucu banget thor violeta van tjoeran sama dengan kran dong pancuran...🤣🤣🤣
Hartini Donk
mengerikan
Hartini Donk
bahasamu kayak puisi ....halus menggetarkan jiwa
〈⎳ 小祖ᴹᵘᶻᵘ🍒⃞⃟🦅: Terima kasih sudah berkenan membacanya
total 1 replies
Hartini Donk
gambaran terlalu nyata utk dibayangkan sadis thor perih perutku...
falea sezi
othor nya cwek apa cwok
falea sezi
anjirr mual bacanya
falea sezi
tolol harusnya lu sembunyi bukan malah menjerit tolol
falea sezi
kaya tp g punya satpam atau bodyguard hadeh bodohnya lu harusnya sewa bodyguard bayangan
neng ade
ayah nya Gavin target selanjut nya..
ga nyangka aja bisa berbuat busuk sm Mawar ..
neng ade
ngeri .. sereemm bikin merinding
neng ade
ayah dan anak sama2 bejad nya
neng ade
karya yang luar biasa.. cerita nya bagus tapi horor juga
neng ade
disini nama2 tokoh nya bikin ngakak padahal cerita nya tegang 😂
neng ade
Brama blm tau siapa Mawar sebenar nya dia bisa membaca rencana licik mu itu
neng ade
Mawar masih bisa sekolah meski pun dipindahkan.. apakah Mawar akan melanjutkan sekolahnya
neng ade
Paijo.. Paijo .. 😂
neng ade
dalam suasana tegang dan mencekam gitu jadi ketawa juga pas dengar nama nya Paijo Icikiwir..
neng ade
dendam Mawar semoga dapat terbalaskan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!