Merlisa harus menerima kenyataan pahit, bahwa mantan kekasih yang masih begitu ia cintai harus bersanding dengan kakak tersayangnya.
Dan lebih parahnya lagi, Merlisa harus terjebak dalam pernikahan sandiwara dengan seorang Arga Sebastian, CEO tampan namun angkuh dan sudah memiliki kekasih. Demi memajukan perusahaan sang papa Merlisa menerima pernikahan yang tidak di dasari oleh cinta.
Bagaimana kisah Merlisa selanjutnya? apakah ia akan menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ropiah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Arga semakin mendekat menghampiri Merlisa, Merlisa semakin gugup di buatnya.
"Sa saya akan siapkan makanan ini untuk bapak." Ucap Merlisa gugup.
Arga memegang bahu Merlisa untuk berhadapan dengannya.
"Bapak mau apa?" tanya Merlisa semakin salah tingkah.
Duhh dia mau apa sebenarnya, apa si pria bunglon ini mengenaliku. Batin Merlisa.
Arga membuka masker Merlisa, Merlisa segera memiringkan bibirnya agar terlihat berbeda wajahnya.
Gadis ini bertingkah konyol sekali, dengan seperti itu dia pikir aku tidak mengenalinya. Batin Arga dengan senyum yang ia tahan.
Dengan tiba - tiba Arga men***m bibir merlisa, Merlisa membelalakkan matanya dengan serangan Arga yang mendadak. Semula hanya sebuah kecupan seketika menjadi sebuah lum***an di bibir Merlisa yang sangat lembut. Merlisa tidak bisa melepaskan ciuman yang di berikan Arga, karena tengkuknya di tahan dengan sebelah tangan Arga, dan sebelah tangan yang satunya, memegang erat pinggang Merlisa.
Cukup lama mereka melakukan c****an panas mereka, yang semula Merlisa hanya diam tidak membalas, namun lama ke lamaan membalas lum***n Arga.
" Kenapa kau menciumku?" kesal Merlisa, saat ciuman mereka terlepas.
" Aku hanya membetulkan bibirmu yang miring itu." Ucap Arga santai sambil mendudukan tubuhnya di sofa. Dengan tidak sadar Merlisa memegang bibirnya, ia lupa dengan penyamarannya.
" Cih, berarti kamu sudah tau siapa aku?" tanya Merlisa.
" Tentu saja, kau pikir aku tidak mengenalimu." Ucap Arga.
" Sejak kapan?" tanya Merlisa.
" Sejak kau ke ruanganku, aku sudah curiga dengan suara dan tatapan matamu." Jawab Arga.
" Hahaha sepertinya kau begitu memperhatikanku ya, jangan - jangan kau sudah jatuh cinta denganku ya." Goda Merlisa dengan penuh percaya diri.
"Percaya diri sekali kau, tidak ada yang bisa menggantikan posisi wanitaku di hatiku." Sangkal Arga.
Apa benar aku sudah jatuh cinta dengannya, aku hanya merasa ingin selalu dekat dengannya saja. Aahh tapi tidak - tidak mana mungkin aku bisa jatuh cinta dengan wanita bar - bar itu. Batin Arga.
"Hai tuan tugasku sudah selesai di sini, aku ingin kembali ke ruanganku sekarang." Ucap Merlisa saat sudah menyiapkan makanan yang tadi ia beli.
" Kau pikir aku kerbau bisa menghabiskan makanan sebanyak ini." Ucap Arga.
" Kalau tidak bisa menghabiskan makanannya, kenapa kau menyuruhku membeli makanan sebanyak ini, huh!" kesal Merlisa.
" Makanlah bersamku, aku tau kau belum makan jugakan." Ajak Arga.
"Iya aku belum makan, ini semua gara - gara kamu, aku harus melewatkan jam makan siangku." Ketus Merlisa.
Arga menarik lengan Merlisa untuk duduk di sampingnya.
" Makanlah, ambil makanan yang kau mau." Ucap Arga.
" Baiklah, aku juga sangat lapar." Sahut Merlisa sambil mengambil sepiring spaghetti.
Merlisa memakan spaghetti dengan lahap, Arga melihat terus cara makan Merlisa yang tidak malu - malu dengannya, karena kebanyakan wanita selalu menjaga cara makannya dengan anggun dan berhati - hati.
"Sepertinya makananmu enak." Ucap Arga merebut spaghetti milik Merlisa dan memakannya.
" Itukan punya aku, itukan masih banyak makanan yang lain di depanmu." Kesal Merlisa.
Merlisa menyuap Spaghetti yang masih di pegang Arga. Tatapan Mereka bertemu dan memakan spaghetti yang sama, Arga dengan cepat memakan spaghetti yang sama dengan Merlisa, hingga menyentuh bibir Merlisa.
" Kau jorok sekali si, sudah kau habiskan saja makananku." Kesal Merlisa, memalingkan wajahnya yang merona karena malu.
" Memangnya kenapa, aku juga udah sering merasakan bibirmu itu." Ucap Arga santai.
" Kau sungguh tidak tau malu tuan Sebastian." Dengus Merlisa.
" Kenapa harus malu."
"Aaaaa, kau ini." Kesal Merlisa bercampur malu. Bisa - bisanya ia berkata seperti itu dengan santainya.
" Ambil ini, kau bisa menggunakannya sesuka hatimu." Ucap Arga meletakan beberapa kartu debit untuk Merlisa.
" Ini untuk apa? aku punya uang sendiri untuk ke butuhanku." Tolak Merlisa.
" Simpan uangmu, dan pakai kartu yang ku berikan untuk mu. Kau sekarang tanggung jawabku." Ucap Arga.
" Tapi ...." Ucap Merlisa menggantung yang sudah di potong oleh Arga.
" Aku tidak menerima penolakan dari mu, ini sebagai tanggung jawabku untuk menafkahi mu, aku tidak mau di bilang suami zalim."
" Baiklah, aku ambil ini saja." Ucap Merlisa mengambil satu kartu debit untuknya.
" Yakin hanya itu saja, bukankah wanita akan sangat suka kalau hidupnya berkecukupan?" tanya Arga lagi.
"Ya memang, ke banyakan wanita seperti itu, akupun sama tapi aku ingin memenuhi ke butuhanku sandiri dengan hasil kerja kerasku, tidak dengan bergantung dengan orang lain." Sahut Merlisa.
" Aku sudah selesai makan, apakah sekarang aku boleh kembali bekerja, aku tidak mau orang lain curiga dengan hubungan kita." Ucap Merlisa lagi.
" Memangnya kenapa, bukannya kau harus bangga menjadi istri dari Arga Sebastian? banyak wanita di luar sana yang ingin dekat denganku." Ucap Arga.
" Tapi tidak denganku, aku tidak mau orang lain melihatku sebagai wanita yang memanfaatkan statusku sebagai istri CEO untuk magang di sini, karena aku bisa ada di sini dengan usahaku sendiri." Ucap Merlisa.
"Aku permisi pak CEO." Ucap Merlisa lagi sambil melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan CEO.
Kau memang gadis yang berbeda, kau sangat mandiri sampai - sampai kau tidak membutuhkan laki - laki untuk tempat bersandarmu. Batin Arga menatap punggung Merlisa yang menghilang di balik pintu.
Merlisa tersenyum saat melewati meja seketaris Arga, Angga hanya tersenyum balik.
Ada hubungan apa pak Arga dengan anak magang itu ya, sepertinya ada sesuatu di antara mereka. Aahh sudah lah itu bukan urusanku. Batin Angga.
****
Sore hari waktu jam pulang kantor, semua kariawan berhambur keluar dari gedung Sebastian group untuk segera sampai ke rumah mereka masing - masing agar dapat mengistirahatkan tubuh mereka yang lelah.
" Ca ayo pulang, Natan udah tunggu kita di loby." Ajak Anggi.
" Kalian duluan aja gue ada urusan, lagian kerjaan gue belum selesai." Tolak Merlisa, karena sebelumnya Arga sudah mengirim chat agar pulang bersama dengannya, karena berencana untuk ke rumah utama Sebastian.
" Yakin Ca elo gue tinggal, mau gue temenin Ca." Ucap Anggi.
" Tidak usah Gi, bentar lagi juga selesai. Ya sudah sana, Natan udah tunggu dari tadi, nanti bisa - bisa dia ngoceh - ngoceh." Sahut Merlisa.
" Ya udah deh, gue pulang dulu ya Ca, elo hati - hati." Ucap Anggi yang di angguki Merlisa.
Setelah semua kariawan pulang, Merlisa masuk ke dalam lift untuk menuju ruangan Arga berada.
Merlisa masuk ke ruangan Arga, yang sebelumnya sudah mengetuk pintu terlebih dahulu.
" Tunggu sebentar, aku menyelesaikan pekerjaanku dulu." Ucap Arga pada Merlisa.
" okk." Jawab Merlisa singkat sambil mendudukan tubuhnya di atas sofa.
Cukup lama Arga masih sibuk dengan pekerjaannya, tanpa terasa Merlisa tertidur di atas sofa dengan posisi terduduk.
Arga menghampiri Merlisa dan mendudukan tubuhnya di samping Merlisa yang masih terlelap tidur.
" Sepertinya kau sangat lelah." Ucap Arga mengelus pipi Merlisa dan menggendong tubuh Merlisa ke dalam ruangan untuk ia beristirahat yang masih menjadi satu dengan ruang kerjanya.
Arga meletakan tubuh Merlisa perlahan di atas tempat tidur dan mengecup bibir merah Merlisa sekilas, Merlisa hanya menggeliat masih terlelap dalam tidurnya.
Bersambung....
Jangan lupa tinggalkan jejaknya 😘🙏👍💪