Satu Malam bersama istri tetangga mampu meluluhkan lantahkan seorang Bastian Emanuel. Ia terjerat pada sosok istri orang
Akankah cintanya mampu di gapai? Ataukah hanya sebatas mimpi? Mimpi yang hanya akan menjadi sebuah bunga tidur tanpa menjadi kenyataan.
"Perawan memang menawan, janda sungguh menggoda, tapi istri orang jauh sangat menantang. Pesonanya terasa berbeda. Menarik," Bastian Emanuel
Lalu apa yang akan terjadi selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arion Alfattah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32
Pak Joko dan Bu Fitri tidak percaya putranya nekat melamar anak kepala desa. Padahal mereka berdua sudah memperingati Jayden untuk tidak mendekati Ningsih karena mereka tahu jika hal ini pasti akan terjadi. Keluarga Ningsih selalu melihat kasta dan tidak mudah menyetujui anak-anaknya berhubungan dengan para tetangga yang tidak punya.
"Pak, Jayden, Pak. Ayo kita kesana sekarang juga! Ibu tidak mau Jayden kenapa-kenapa!" Bu Fitri yang sedang menjahit baju menggunakan jarum jahit manual pun sampai menyimpan pekerjaannya demi melihat putranya.
"Baik, Bu. Ayo kita kesana sekarang juga." Pun dengan Pak Joko yang tergesa menyimpan pekerjaan dia yang sedang membuat gagang cangkul.
Mereka bertiga pun dan tentunya berlari ke rumah Pak kades secara berbondong-bondong.
*****
"Nak Jayden, kamu lebih baik pulang saja jangan bandel," kata tetangganya.
"Benar, Nak. Kamu harus sayang pada diri kamu sendiri dan Jangan memaksakan kehendak yang tidak direstui. Wanita masih banyak bukan hanya Ningsih saja," ujar tetangga lain karena mereka sudah tahu watak keras dari Pak Cahyo.
"Aku penasaran apa yang akan mereka lakukan," batin Jayden ngeyel.
"Aku akan berusaha membujuknya," kata Jayden kekeh.
"Jayden, saya tidak ingin ada hal lain terjadi sama kamu kalau kamu tidak mau pergi dari sini jangan salahkan saja jika nanti saya memberimu pelajaran!"
"Tapi aku akan tetap disini sampai kalian mau menyetujui aku dan Ningsih."
"Baiklah, jika itu mau kamu jangan salahkan saya melakukan kekerasan." Pak Cahyo tidak main-main dengan ucapannya dia pun memanggil dua orang pria yang sedari tadi menjaga di depan rumahnya.
"Ono, lintang, kasih Jayden pelajaran agar dia mengerti untuk tidak bermain-main dengan keluargaku!" ujar Pak Cahyo memerintah kedua anak buahnya untuk memberikan pelajaran kepada Jayden.
Jayden cukup terkejut pada perintah Pak Cahyo yang ternyata menggunakan dua ajudan untuk memberikan dia pelajaran. Itu artinya dia sedang dalam masalah besar karena sepertinya ucapan Pak Cahyo tidak lama yang lain.
Kedua pria bertubuh besar itu terlihat menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan, dan membunyikan jari-jari tangannya seraya menatap Jayden.
"Tunggu! Kalian mau apakan anakku?" pekik Pak Joko datang tepat waktu ke sana.
"Kau jangan berani menyentuh anakku." Pun dengan Bu Fitri yang langsung menghadang kedua pria itu agar tidak menyentuh putranya sedikitpun.
"Bapak, ibu!" kata Jayden begitu terkejut.
"Nah, keluarga miskin ini datang juga ke sini," kata Cahyo menatap tidak suka. "Kalian bawa dia pergi dari rumah saya sebelum kedua anak puasa yang memukulinya!"
"Baik pak kades, kami akan membawa anak kami pergi," kata pak Joko.
"Maafkan Jayden dan Maaf telah membuat keributan di rumah Anda," balas Bu Fitri.
"Bu, pak."
"Kita pulang Jayden! Jangan bikin malu bapak sama ibu dan jangan juga bikin keributan di rumah orang. Tidak baik, Nak." Bu Fitri membujuk Jayden untuk pulang.
"Nak, bapak mohon pulanglah!" pinta Pak Joko memelas berharap anaknya mau menuruti mereka.
"Tidak Bu, Pak, Jayden Ningsih," kata Jayden kekeh.
"Kau itu bodoh, ya. Saya tidak akan pernah memberikan anak saya kepada pria miskin sang Casanova seperti kau!" bentak Pak Cahyo.
"Pak, kalau Anda mengizinkan saya menikah saya janji akan bekerja lebih giat lagi."
"Jayden, jangan begini Nak," pinta Ibu Fitri.
"Rupanya kau ingin di beri pelajaran, baiklah, Ono, Lintang, hajar dia!" pekik Pak Cahyo membuat para warga terkejut.
"Jangan! Jangan pukuli anak saya!" ucap pak Joko memohon. Namun, kedua anak buah Pak Cahyo sudah memukul Jayden.
Bug.
"Berhenti!" pekik Bastian segera turun dari mobilnya dan menerjang pria yang sedang memukul wajah Jayden. Pak Cahyo mengerutkan keningnya kala melihat temannya Jayden turun dari mobil baru.
Bastian menarik Jayden ke belakangnya. "Jangan ada kekerasan karena semua ini tidak akan menyelesaikan masalah!" pinta Bastian.
"Ck, kau dan dia sama saja, sama-sama pengangguran, miskin dan tukang mabuk serta sering bermain perempuan!" bentak Cahyo.
"Cukup! Anda boleh bilang apapun mengenai saya ada rekan saya, tapi jangan pernah sekalipun Anda merendahkan harga diri saya dan Jayden!" balas Bastian tajam.
"Kalian itu memang berandalan, kotor, miskin, dan tidak pantas bersanding dengan anak saya."
"Justru anak Anda yang tidak pantas bersanding sanding dengan saya maupun Jayden!" balas Bastian membela temannya dan ia paling tidak suka pada orang yang suka merendahkan orang lain hanya karena harta.
"Ingat ini baik-baik Pak Cahyo yang terhormat! Saya berjanji akan membuat Jayden sukses dengan segala keberhasilannya, di saat itu juga jangan harap Anda meminta dia untuk menjadi menantu Anda. Sekalipun dia Casanova dan miskin, dia masih punya hati!" pekik Bastian menggema.
Jayden tertegun menatap temannya, "Bastian kau ...!"
.
kesel kaya cerita ikan terbang....
UU=ujung-ujungnya ku menangis..... membayangkan. ga usah lu bayangin dasar.....