NovelToon NovelToon
Pondok Mertua Tak Indah

Pondok Mertua Tak Indah

Status: tamat
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Angst / Ibu Mertua Kejam / Tamat
Popularitas:368k
Nilai: 4.7
Nama Author: Kirana Pramudya

Giselle mengira menikah dengan Gibran adalah pilihan terbaik dalam hidupnya. Sosok pria yang mau menerima kekurangannya dan melengkapinya. Akan tetapi, semua angan dan impian Giselle berubah menjadi pahit, ketika dia tinggal satu atap dengan mertuanya.

"Jadi wanita bisanya cuma bekerja, gak tahu dapur, gak tahu kerjaan rumah tangga. Sudah begitu, kamu menikah lama dan tidak memiliki anak. Jangan-jangan kamu mandul, Sell?"

Perkataan pedas, tudingan miring, ditambah dengan ketidakberdayaan Gibran kian menambah runyam suasana. Dapatkah Giselle bertahan dengan konflik batin yang dia alami setiap harinya? Akankah pondok mertua yang tak indah ini perlahan-lahan menjadi rumah yang bisa menerimanya dan memanusiakannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kirana Pramudya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pergi dari Rumah

Gibran sungguh terkejut ketika masuk ke dalam kamar dan melihat istrinya sedang berkemas. Pria itu segera menghentikan Giselle, dan menahan Giselle untuk tidak pergi dari rumah. Sangat ironis, semalam dan pagi ini keduanya sangat bahagia, terlepas ketika menikmati pusara cinta berdua. Akan tetapi, sekarang kembali ada huru-hara yang terjadi.

"Sayang, kamu?" tanya Gibran dengan bingung.

"Lebih baik aku pergi, Mas. Sudah tidak ada lagi tempat untukku di sini. Toh, bagaimana pun benci akan menjadi benci. Sejak awal memang Ibu tidak menyukaiku. Aku mohon maaf, dan aku akan pergi dari rumah mertuaku sendiri," ucap Giselle dengan berderai air mata.

"Ku mohon jangan pergi, Yang. Semalam kamu berjanji untuk selalu berada di sisiku kan?"

Sekarang bertanya kepada Giselle. Kemarin Giselle sudah berjanji untuk mendampinginya dan Gibran sendiri sudah berjanji akan selalu melindungi dan memberi rasa aman untuk Giselle. Namun, sekarang justru Giselle mengemas pakaiannya.

"Sudah tidak ada tempat bagiku di rumah mertuaku sendiri, Mas. Aku hanya seorang menantu justru dihina, dia yang bukan menantu justru dipuja-puja," balas Giselle dengan terisak.

Sesekali wanita itu memegangi dadanya yang kerasa begitu sesak. Sangat sesak malahan. Semula Giselle berpikir bahwa kemarin usai mendapatkan uang cukup banyak dari Mama dan Papanya, hari ini Giselle akan mendapatkan kasih sayang. Namun, justru yang terjadi sebaliknya. Giselle justru dianggap sebagai pembawa musibah di rumah mertuanya sendiri.

Gibran mendekat dan kemudian dia memeluk Giselle. Mungkin jika Gibran tidak bisa meluluhkan Giselle dengan ucapannya, pelukannya bisa meluluhkan Giselle. Pria itu memeluk Giselle dengan begitu erat.

"Jangan pergi, Sayang," ucap Gibran.

Giselle menangis dengan sesegukan. Hatinya terasa berat. Di satu sisi mertuanya mengusirnya, tapi di sisi lain suaminya menahannya. Namun, Giselle hanya wanita biasa, ada kalanya dia benar-benar rapuh.

"Aku membaca di dalam Hadits Nabi Muhammad SAW, siapa yang berhak atas seorang suami? jawabannya adalah Ibunya. Jadi, tetaplah di sini. Rawat dan kasihilah Ibu, Mas. Biarkan saja aku yang pergi," balas Giselle.

Hal ini sesuai dengan hadis Rasulullah Saw., “Siapakah yang berhak terhadap seorang wanita? Rasulullah menjawab: “Suaminya” (apabila sudah menikah). Kemudian Aisyah Radhiyallahu ‘anha bertanya lagi: “Siapakah yang berhak terhadap seorang laki-laki? Rasulullah menjawab: “Ibunya,” (HR. Muslim).

Ya, Giselle teringat dengan Hadits yang pernah dia baca. Bahwa yang berhak atas seorang laki-laki adalah Ibunya. Untuk itu, Giselle memilih pergi.

Akan tetapi, Gibran dengan segera menggelengkan kepalanya. "Tidak, baik Ibu dan Istri sama mulianya untukku. Tetaplah di sini, Sayang. Tempatmu di sisiku," balas Gibran.

Ya, Tuhan ... dada Giselle kian sesak. Namun, dirinya sudah tidak bisa lagi berada di sini. Bagaimanapun itu tidak akan mengubah keadaan. Semua justru semakin runyam saja jadinya.

"Maaf Mas Gibran ...."

Giselle sudah membulatkan tekadnya. Memilih pergi. Mungkin dengan pergi dari rumah mertuanya akan membuat keadaan lebih baik. Siapa tahu nanti Ibu mertuanya mungkin saja mendapatkan hidayah untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Giselle keluar dari kamarnya dengan mendorong koper besar miliknya. Dia sudah membulatkan tekad. Sejak awal, Giselle tak ingin suaminya menjadi anak yang durhaka. Untuk itu, biarlah suaminya tetap menjadi anak yang taat dan sholeh. Giselle siap untuk mengorbankan dirinya sendiri.

Di luar, Bu Rosa justru tersenyum penuh kemenangan ketika melihat Giselle turun dan membawa kopernya. Begitu juga Annisa. Keduanya merasa menang karena bisa menyingkirkan Giselle dari rumah itu. Terlebih Bu Rosa yang benar-benar merasa senang dan berada di atas angin sekarang.

"Pergi sana! Wanita pembawa musibah, pembawa bencana. Gak bisa memberi keturunan, gak ada gunanya!"

Bu Rosa bersuara. Namun, Giselle sekarang memilih menutup telinganya. Dia sudah tersakiti dengan ucapan Ibu mertuanya sepanjang hari. Disayang kala usai gajian, dan dinyinyirin setiap hari.

Gibran turun dari kamarnya dengan wajahnya yang memerah, dan juga berlari mengejar Giselle. Sayangnya, Giselle sudah terlanjur pergi dan membawa mobilnya. Wanita itu memilih untuk tak lagi menoleh ke belakang. Dia pergi dengan membawa sakit hati dan luka di hatinya.

"Giselle ...."

Suara Gibran menggema dan kemudian pria itu terlihat sangat kacau dengan mengusap wajahnya dengan kasar berkali-kali. Kondisi yang kacau juga dialami Giselle. Wanita itu mengemudikan mobilnya dengan air mata yang terus-menerus berlinang.

"Dua tahun yang lalu, kamu membawaku ke rumahmu dengan senyuman. Aku mau tinggal bersama orang tuamu, karena aku berharap orang tuamu akan menyayangi aku dan menganggapku seperti anaknya sendiri. Sayangnya, tidak. Jadi, lebih baik aku pergi, Mas. Semoga dengan kepergianku tidak ada musibah di rumahmu."

Wanita itu bergumam dalam hati dengan sesegukan. Sakit sekali rasanya tertolak oleh mertuanya sendiri, dianggap sebagai pembawa musibah, dan juga dibandingkan dengan mantan pacar suaminya.

"Suatu hari nanti, jika kamu menikahi Annisa. Talak aku dulu, Mas ... pulangkan aku ke rumah Mama dan Papaku," gumam Giselle lagi.

Bagaimana pun juga yang disayangi Bu Rosa adalah Annisa. Jadi, mungkin saja usai kepergiannya, Gibran akan dipaksa dan ditekan untuk menikahi Annisa. Giselle juga harus menguatkan hatinya, mengikhlaskan suaminya andai saja suaminya itu memilih untuk menikah lagi.

Sementara itu di rumah, Bu Rosa dan Annisa tampak keluar dari rumah dan mendatangi Gibran. "Sudah, Bran ... tidak usah menangis istri kayak dia," ucap Bu Rosa.

"Benar, A ... Aa tidak perlu menangis wanita yang tega mengangkat kaki dari rumah suaminya," imbuh Annisa.

Gibran memilih menutup telinganya dan berlalu pergi. Situasinya kacau. Gibran juga tengah emosi. Lebih baik dia menjauh dari pada nanti bisa membentak atau berbicara kasar kepada Ibunya. Sebab, Gibran teringat bahwa seorang anak tidak boleh membentak ibunya. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, Gibran memilih untuk pergi.

"Gibran, diajak bicara itu merespons. Bukan pergi begitu saja. Tidak sopan!" Teriak Bu Rosa sekarang.

Bu Rosa juga geram melihat anaknya yang berlalu pergi. Sama sekali tidak merespons ucapannya. Sementara, Annisa berdiri di belakang Bu Rosa dan tersenyum kecil. Dia berhasil memantik api, membuat Bu Rosa lepas kendali dan akhirnya mengusir Giselle dari rumahnya. Setelah, kepergian Giselle, Annisa akan berusaha mengambil hati Bu Rosa dan Gibran.

"Ternyata tidak susah untuk membuat wanita gendut itu keluar dari rumah ini!"

Annisa tersenyum licik dalam hati. Dia merasa menang sudah bisa memengaruhi Bu Rosa dan membuat Bu Rosa untuk mengusir menantunya sendiri. Kini, jalannya untuk mendekati Gibran akan terbuka lebar. Annisa harus merangkai strategi dan sebisa mungkin membuat Gibran untuk bisa memperistrinya. Lagipula, Bu Rosa sudah pasti memberikan restu. Jadi, tidak ada yang ditunda lagi bukan?

1
Safa Almira
yey
Dewi Nurani
bayinya perempuan tp yg diangkat bayi laki laki , gimanaaaa 🤦
Dewi Nurani
harusnya bu rani ikut bu rosa dulu biar tau rasa s amel
Alana
mertua lucknut ga tau diri udah di tolongin bukannya bersyukur dan berterima kasih malah nyalahin dan nyaci kaki ... ga tau ini otak dan mata hatinya di taruh dimana sih ?? KL di dunia nyata ada mertua kek gini gimana jadinya ya para mantu keknya banyak yg cerai 😩😩
Les Tary
Tanti Rani mendingan ikut kasihan mertua udh kyk pembantu biar tahu rasa itu menantunya kerjaan rmh dikerjain sndiri
Nenti
Gedeg banget sumpah 😡😡😡
Nenti
😭😭😭😭😭😭
sedih kalo berada di posisi Gisel semuanya serba salah
Alana
nenek gilakk dasar mertua lucknut
Alana
nenek gilakkk ga otak .. KL aku jd Gibran sakit hati bukan main mau punya anak bininya di ejek di hina abis²an... intinya dia ga suka dan benci SM Giselle Sampe kabar bahagia aja ga suka KL udah benci dr awal yaa bakal benci sebagus dan sebaik apapun Giselle ga akan baik di mata mertua gilaknya .. hahaa jujur Thor aku udah lelah bacanya SM nenek tua gilakk itu
Alana
ribet banget ni emak2
Alana
ehh aku aja kl LG ruwet masak makanan rasanya suka ga karuan.. apalg kek Giselle yaa punya mertua yg toxicnya ke iblis.. ehh nauzubillah KL aku jd Giselle sih udah give up angkat tangan
Les Tary
bknnya dicerita yg lain anaknya Kanaya udh ketemu Thor trus Kanaya sm dokter Bisma udh pnya anak cewek.
Alana
karyamu bagus Thor.. memang PD dasarnya berumah tangga itu berjuang bersama tp jika trs di sakiti mertua yaa jangan juga Krn istri berhak bahagia bagaiman mau hamil mental dan batinnya tertekan oleh mertuany yg toxic dan penuh kebencian PD mantunya wajar jika Giselle pergi dr rumah itu secara lakinya jg ga tegas SM ibunya .. hrsnya Gibran jg tegas dan sll menasehati baik2 ibunya sekali² yaa marah jg biar ibunya jera
Alana
mertua toxic banget yaa tuhan .. KL aku jd Giselle udah aku tempeleng itu muka si rosa
Alana
mertua lucknut ... emosi bcanya Thor aku
Alana
mertua ga tau diri udah di kasih nyela, ngehina dan ga menghargai mantu duuhh udahmah kaya benalu di ksh hati minta jantung nih emak²
Surabaya Honda
stop by Thor .. interesting story 👍
Densi dama Yanti
Karyo thor baguss banggat
Kirana Pramudya: Terima kasih banyak, Kak.. 😇
Dukung juga di karya lainnya yah. 🥰
total 1 replies
Ning Gedeona
cabein aja tu mulut mertua😀😀😀😀
eni mince
Kecewa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!