Reno Sebastian seorang Mafia yang kejam di dunia bawah tanah, sifat kejamnya tidak luput dari kejadian masa lalu yang menyakiti dirinya, hingga dia memulai membalas dendam dengan seorang wanita yang diduga anak dari dalang penyebab kematian orang tuanya yaitu Dara Pratiwi.
"Mas, sakit mas tolong jangan siksa aku lagi, sudah cukup mas aku mohon ada anak kita di dalam tubuh ku ini" ucap Dara dengan pasrah.
"Aku tidak peduli dengan anak sialan itu, yang penting orang tuamu harus mengalami kesakitan yang sama denganku!"
Bagaimana jadinya, jika ternyata selama ini Reno salah paham sehingga dengan tega dia menghabisi nyawa anak kandungnya sendiri yang bahkan belum lahir, apakah Dara akan memaafkan kesalahan Reno atau Dara kembali berbalik membalas dendam dengan Reno.
Semua itu dapat terungkap di dalam cerita "Penyesalan Balas Dendam"
Note, baca terlebih dahulu season 1 yang berjudul "Istri Kejam Milik Devan" agar teman-teman paham dengan alurnya nanti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mimicoco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bebas
Seminggu kemudian, terlihat Dara sudah mulai tegar menghadapi keterpurukannya akibat ditinggalkan oleh orang yang tersayang. Bahkan saat ini, Dara telah seperti biasa memulai aktivitas paginya, seperti membersihkan rumah ataupun kegiatan-kegiatan kecil lainnya yang dibantu oleh Putri.
"Kakak Ipar, hari ini kita jemput Kak Reno ya, soalnya Kak Reno sudah terbebas dari penjara," ucap Putri yang mendapatkan anggukan dari Dara.
Seperti yang terlihat, ternyata Dara salah menyangkalnya kalau Reno adalah dalang dibalik pembunuhan kedua orang tuanya. Sehingga saat sang adik ipar memberikan beberapa bukti kalau bukan kakaknya lah sang pelaku, membuat Dara terdiam sesaat dan mencoba menerima kenyataannya. Sehingga mau tidak mau, Dara lah yang harus meminta maaf ke Reno, sebab bukan dirinya yang bersalah.
Namun, walau Dara telah mengetahui bahwa pembunuhan kedua orang tuanya bukan Reno, tetap saja masih tersimpan rasa bencinya untuk Reno, sebab gara-gara pria itu, dirinya harus mengalami keguguran.
Setelah membereskan rumah peninggalan orang tuanya, sekarang Dara berangkat bersama Putri untuk menjemput Reno di kantor polisi.
Tidak membutuhkan waktu yang lama, akhirnya Dara dan Putri sampai juga di kantor polisi, dimana tepat di depan kantor polisi, Reno telah menunggu mereka berdua.
"Maaf ya Kak, Putri sedikit terlambat untuk menjemput kakak," ucap Putri.
"Iya enggak apa-apa Dek, sekarang ayo kita pulang saja, kakak tidak betah lama-lama berada di sini."
"Hmm ayo Kak," balas Putri dan setelahnya mereka masuk ke dalam mobil.
Saat ini, posisi di dalam mobil adalah Putri sendiri yang menyetir mobilnya dan di bangku tengah ada Reno serta Dara yang duduk bersebelahan.
Reno sedari tadi menatap Dara yang hanya diam saja, saat menjemputnya sampai saat mereka duduk bersebelahan di dalam mobil.
"Hei, apa kamu bisu sedari tadi hanya diam saja, oh atau kamu tidak senang karena aku sudah bebas?" tanya Reno dengan sinis, sebab sedari tadi terlihat raut wajah Dara hanya datar saja, tidak ada raut sedih atau kesenangan saat Reno telah bebas dari penjara.
"Bisa iya bisa tidak, jadi kenapa aku harus bicara jika kamu sendiri telah mengetahui jawabannya, jadi berhentilah bertanya Reno," jawab Dara yang membuat Reno memelototkan matanya, sebab Dara hanya menyebutkan nama saja tanpa embel-embel mas di depannya.
"Ck, sekarang sudah berani ya memanggil namaku saja, tanpa ada mas di depannya, apa kamu sudah mulai menjadi istri durhaka hah!" seru Reno dengan nada membentak.
"Jika aku istri durhaka, lalu sebutan apa yang pantas untukmu Mas yang seorang penjahat karena tega membunuh anaknya sendiri, serta seorang suami yang terang-terangan bertunangan dengan wanita lain, walau masih memiliki istri," balas Dara yang berbalik sinis menjawab ucapan Reno tanpa melihat ke arahnya.
"Kamu, berani nya!"
Mendengar jawaban Dara, seketika Reno melayangkan tangannya ke arah pipi Dara, namun baru hendak dilayangkan tangannya, Putri sang adik lebih dulu menangkap tangan kakaknya.
"Hentikan kak!" ucap Putri yang langsung menangkap tangan Reno dan segera menghentikan laju mobilnya.
"Apa Kakak gila, baru saja Kakak keluar dari penjara, tapi sudah membuat ulah, tahu begitu biar saja Kakak dipenjara," bentak Putri dengan keras seraya menatap Kakak nya dengan tajam.
"Kakak Ipar, lebih baik Kakak duduk di depan saja, biar tidak diganggu sama Kak Reno," sambungnya dan segera Dara langsung bergegas untuk duduk di depan bersama Putri.
Setelah semuanya kembali tenang, barulah Putri melajukan mobilnya kembali menuju rumah Dara.
Reno yang terlihat hapal dengan jalannya, langsung mencoba memanggil adiknya untuk berhenti sejenak.
"Berhenti dulu Dek!" ujar Reno.
"Kenapa Kak, apa ada yang ketinggalan?" tanya Putri.
"Tidak ada, hanya saja kenapa kita harus ke gubuknya Dek, kenapa kita tidak langsung pulang saja," jawab Reno dengan menunjuk Dara yang membuat Putri menatap heran ke arahnya.
"Ha, Kakak tidak becanda bukan, kan Kakak tahu sendiri kalau kita harus menginap di rumah Kakak Ipar untuk tujuh harian kematian orang tua Kakak Ipar, jadi ya kita harus berada di sana," jelas Putri yang masih tidak paham dengan jalan pikiran kakaknya.
"Kalau kamu tidak mau ke rumah ku ya sudah tidak apa-apa, siapa juga yang mengharapkan kamu datang," sela Dara dengan jutek, apa lagi keinginan dirinya yang untuk meminta maaf ke Reno sudah sirna seketika, akibat tingkat lakunya yang sangat menjengkelkan.
"Ck, ya sudah aku ikut," sungut Reno dengan memalingkan wajahnya ke arah samping.
"Huh, dasar Kak Reno seperti seorang wanita saja yang sukanya ngambek," batin Putri dan kemudian melajukan kembali mobilnya.
Sementara itu, di sisi lain tampak Roy sudah berada di desa Alaska untuk mencari keberadaan Reno.
Setelah satu Minggu lamanya Roy berkutat mencari keberadaan Reno, akhirnya dia tahu kalau bos nya saat ini berada di desa Alaska dan sekarang Roy sudah berada di depan rumah Dara.
"Aduh, pada kemana ya ini orang-orang, padahal sedari tadi sudah aku panggil, apa aku salah rumah ya, eh mana mungkin kan tadi warga sini menyebutkan kalau ini adalah rumah Dara," imbuh Roy.
Saat Roy menunggu beberapa saat, akhirnya ada sebuah mobil yang terparkir di depan rumah Dara dan dapat Roy lihat kalau mobil itu adalah milik Putri, adik bos nya.
Saat ini, Putri, Dara dan Reno bergegas keluar dari dalam mobilnya. Namun, baru beberapa saat melangkah masuk, mereka dikejutkan dengan kedatangan Roy yang tampak begitu kumal, apa lagi dapat dilihat saat ini kondisi Roy tampak begitu menyedihkan.
"Roy, ada apa kamu datang ke sini dan ini kenapa kamu tampak begitu menyedihkan," ucap Reno yang bergegas menghampiri Roy.
"Anu Bos, sebenarnya markas kita diserang oleh musuh dan banyak anak buah kita yang berguguran," jawab Roy dengan kepala menunduk.
Mendengar jawaban dari Roy, seketika amarah Reno langsung keluar begitu saja, bahkan tampak saat ini Reno mencengkeram erat kedua tangannya dengan disertai tatapan seram yang mengarah ke Roy.
"Arghhh sial, siapa yang telah bermain-main denganku, pokoknya hari ini juga kita harus menghabisi mereka semua Roy yang telah berbuat semena-mena di markas milikku," imbuh Reno yang tengah bersiap-siap kembali masuk ke dalam mobil Putri. Namun, tiba-tiba tangannya langsung dicekal.
"Kakak, dengar tidak apa kata Roy, Kakak jangan sok mau pergi begitu saja menyerang musuh yang berada di markas Kakak, takutnya bukannya menang malah mati konyol nantinya," jelas Putri yang membuat langkah Reno tiba-tiba saja langsung terhenti.
"Itu benar apa kata Putri Bos, kita tidak bisa langsung menghabisi mereka yang ada di markas kita, sebab kita sudah kalah jumlah dan harus berpikir untuk mencari strategi," timpal Roy yang mendukung ucapan Putri.
hajat Reno untuk bersatu kembali dengan Dara tak kesampaian....