Naomi Liem punya satu rahasia yang tidak pernah dia ceritakan kepada siapa pun:
Dia sudah menyukai Kelvin Hartono sejak SMA.
Tapi Kelvin adalah pewaris konglomerat Hartono Group, dan Naomi? Cuma mahasiswi yang kerja sambilan di minimarket kampus, masih terjerat utang pinjol, dan punya masa lalu yang ingin dia kubur dalam-dalam.
Jadi ketika Kelvin butuh pacar palsu untuk menghindari perjodohan keluarga, Naomi melihat kesempatan — dua bulan berpura-pura pacaran, lalu dapat bayaran. Sederhana.
Yang tidak sederhana adalah:
Cara dia menatapnya terlalu lama.
Cara dia mengingat hal-hal kecil yang bahkan Naomi sendiri sudah lupa.
Cara dia bilang "Baby" — yang awalnya terdengar main-main, tapi lama-lama terasa terlalu nyata.
Dan yang paling tidak sederhana — dua bulan sudah habis. Tapi tidak ada yang bilang "selesai."
"Dulu, kamu bilang dua bulan. Sekarang, tidak ada batas waktu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2
Bab 2: Tanpa Hati
Naomi baru menurunkan tangannya ketika pintu kaca minimarket sudah benar-benar berhenti bergetar. Di luar, punggung Kelvin Hartono dan Danny Setiawan menghilang di balik tirai hujan, tertelan lampu parkiran kampus yang buram.
Lingkaran air bekas kaleng es kola masih tertinggal di meja kasir.
Naomi mengambil tisu, hendak menghapusnya, tapi gerakannya berhenti setengah jalan. Konyol sekali. Itu hanya air dari kaleng minuman. Besok pagi meja yang sama akan ditempati kopi sachet, roti tawar, atau struk belanja mahasiswa lain.
Tetap saja, ia butuh dua detik lebih lama sebelum akhirnya mengelapnya bersih.
"Mbak kasir."
Naomi hampir menjatuhkan tisu.
Danny ternyata kembali masuk. Rambutnya basah di bagian depan, dan ia membawa ekspresi orang yang merasa hidupnya tidak seharusnya direpotkan hujan.
"Payung gue ketinggalan?" tanyanya sambil melirik ke sekitar.
Naomi cepat-cepat melihat area dekat pintu. "Tidak ada, Kak."
"Jangan panggil Kak. Berasa tua banget." Danny mencondongkan tubuh ke meja kasir, tersenyum ramah dengan cara yang terlalu mudah. "Nama lo siapa?"
Naomi menatap name tag di dadanya sendiri, lalu kembali menatap Danny.
Danny ikut melihat. "Oh. Naomi."
Ia menyebut nama itu seolah sedang mencoba apakah bunyinya enak di lidah.
Naomi menjaga suaranya tetap sopan. "Kalau tidak ada yang tertinggal, saya lanjut kerja dulu."
Danny terkekeh. "Galak juga."
"Saya sedang shift."
"Oke, oke. Santai." Danny mengangkat dua tangan. "Gue cuma mau bilang, kalau ada barang jatuh atau apa dari teman gue tadi, kabarin ya. Anak itu kalau hilang barang suka nggak sadar."
Naomi tidak tahu harus menjawab apa. Kelvin Hartono terlihat seperti orang yang bahkan kalau kehilangan sesuatu, dunia yang akan repot mencarinya.
"Baik," ucapnya akhirnya.
Danny menatapnya sebentar, lalu tersenyum lagi. Kali ini lebih usil. "Tapi kalau mau kabarin, harus tahu nomor gue dulu, kan?"
Naomi diam.
Pintu kaca di belakang Danny terbuka sedikit, cukup untuk memasukkan suara Kelvin dari luar.
"Danny."
Satu kata saja.
Danny langsung menoleh. "Iya, iya. Galak amat." Ia mundur dari kasir, lalu sempat menunjuk Naomi dengan dua jari. "Sampai ketemu, Naomi."
Naomi menunduk sedikit, tidak membalas.
Setelah Danny pergi, minimarket terasa terlalu sunyi. Hujan terus turun. Jam mendekati pukul sebelas, dan Naomi memaksa dirinya menyelesaikan pekerjaan penutupan toko. Ia mengepel jejak basah di lantai, menghitung uang kas, lalu membantu staf gudang memeriksa stok susu kotak.
Saat dua mahasiswi yang tadi bergosip kembali untuk mengambil payung, salah satunya tiba-tiba membungkuk di dekat rak cokelat.
"Eh, ini punya siapa?"
Naomi menoleh.
Di tangan gadis itu tergantung sebuah gantungan kecil dari kayu. Bentuknya burung, ukirannya sederhana tapi halus. Sayapnya tidak simetris sempurna, seperti dibuat dengan tangan, bukan mesin.
Jantung Naomi kembali berdebar, kali ini dengan rasa yang berbeda.
Ia pernah melihat benda itu.
Bukan dari dekat. Hanya saat Celine Tanuwijaya berjalan melewati koridor fakultas ekonomi beberapa hari lalu, tas mahalnya bergoyang pelan, dan gantungan burung kecil itu ikut bergerak di samping logo kulit yang bahkan tidak berani Naomi cari harganya di internet.
"Mungkin punya pelanggan," kata Naomi.
Mahasiswi itu memutar-mutar gantungan itu. "Lucu juga. Burung apa ini?"
"Tinggalkan saja di kasir. Nanti kalau ada yang mencari, saya kembalikan."
"Kalau nggak ada yang cari?"
Naomi menahan dorongan untuk merebut benda itu terlalu cepat. "Masuk kotak barang tertinggal."
Gadis itu mengangkat bahu, lalu meletakkan gantungan burung ukir kayu itu di atas meja.
Sepanjang sisa shift, mata Naomi terlalu sering jatuh ke benda kecil tersebut.
Kayunya berwarna cokelat tua, permukaannya licin di beberapa bagian, kasar di bagian lain. Di salah satu sayapnya ada goresan tipis, hampir tidak terlihat. Benda itu tidak tampak seperti aksesori mahal. Tidak seperti sesuatu yang seharusnya digantung di tas Celine Tanuwijaya.
Tapi justru karena itu, Naomi tidak bisa berhenti memikirkannya.
***
Tiga hari berlalu.
Tidak ada yang mencari gantungan burung itu.
Naomi membawanya pulang setelah mendapat izin dari staf senior untuk menyimpan sementara, karena kotak barang tertinggal minimarket sering dibongkar orang iseng. Di kamar kosnya yang sempit di Tebet, benda kecil itu ia letakkan di atas meja lipat, di sebelah kamus Jerman bekas dan botol air minum isi ulang.
Setiap kali melihatnya, Naomi teringat Kelvin.
Lalu teringat Celine.
Lalu teringat dirinya sendiri, yang tidak seharusnya ada di antara dua nama itu.
Malam keempat, setelah menyelesaikan terjemahan artikel pendek tentang mesin industri Jerman dan mengirimkannya ke klien yang selalu membayar terlambat, Naomi membuka akun menfess kampus. Jarang sekali ia mengirim apa pun. Ia lebih sering membaca diam-diam, memastikan tidak ada nama atau fotonya muncul di sana.
Jarinya lama berhenti di kolom pesan.
Akhirnya ia mengetik:
"Min, tolong post anon. Ada barang kecil tertinggal di minimarket kampus waktu hujan beberapa hari lalu. Sepertinya milik teman Daniel Setiawan. Kalau Daniel baca ini, bisa DM untuk ambil barangnya."
Ia membaca ulang tiga kali sebelum mengirim.
Sepuluh menit kemudian, ponselnya bergetar.
Akun bernama Danny S. mengirim pesan.
"Lo Naomi minimarket itu, kan?"
Naomi duduk lebih tegak.
"Iya. Barangnya masih ada."
Balasan Danny datang cepat.
"Gantungan burung gendut?"
Naomi menatap benda di mejanya.
Burung itu memang agak bulat.
"Gantungan burung ukir kayu."
"Nah itu. Kirim alamat atau gue kirim kurir?"
Naomi mengetik bahwa ia bisa mengantarnya ke kampus saja, tapi sebelum terkirim, Danny sudah mengirim lokasi.
Supercar Club Jakarta.
Naomi memandangi alamat di SCBD itu cukup lama sampai layar ponselnya meredup.
Tempat seperti itu bukan tempat yang bisa ia datangi dengan sandal jepit dan tote bag kain.
"Saya antar besok sore setelah kelas."
Danny membalas dengan stiker jempol.
Lalu, beberapa detik kemudian, notifikasi transfer masuk muncul.
Rp2.000.000.
Naomi membeku.
Nama pengirim: Daniel Setiawan.
Pesan singkat menyusul.
"Ongkos repot. Jangan ditolak. Gue males transfer dua kali."
Naomi membaca angka itu berkali-kali.
Dua juta rupiah.
Lebih dari setengah gaji minimarket bulanannya. Hampir cukup untuk menutup cicilan pinjol yang besok sudah jatuh tempo. Bagi Danny, itu mungkin hanya uang parkir, uang rokok, uang yang keluar tanpa perlu dihitung.
Bagi Naomi, angka itu bisa membuatnya tidur tanpa takut ponsel berdering tengah malam.
Ia ingin mengembalikan. Ia benar-benar ingin.
Tapi notifikasi pinjol muncul di layar yang sama, tepat di bawah pesan Danny.
"Pembayaran Anda jatuh tempo besok. Hindari penagihan ke kontak darurat."
Naomi menekan ponselnya ke dada.
Rasanya seperti menerima payung dari orang yang berdiri di bawah atap marmer, sementara ia basah kuyup di jalan.
***
Di lantai atas Supercar Club Jakarta, Danny melempar ponselnya ke sofa kulit dan tertawa sendiri.
"Kel, gantungan burung gendut lo ketemu."
Kelvin duduk di dekat jendela besar, memandangi lampu SCBD yang pecah di kaca karena sisa hujan. Di tangannya ada kaleng es kola yang belum dibuka.
"Hm."
"Cuma hm?" Danny menatapnya tidak percaya. "Itu katanya barang dari Celine. Kalau hilang, keluarga Tanuwijaya bisa drama."
Kelvin membuka kaleng minumannya. Bunyi desisnya pendek.
"Kalau hilang, beli lagi."
Danny memicingkan mata. "Lo memang nggak punya hati, ya?"
Kelvin meneguk es kola, lalu meletakkan kaleng di meja tanpa suara.
"Baru tahu?"
Danny menggeleng sambil tertawa. Tapi Kelvin tidak ikut tertawa.
Di kamar kos Tebet, Naomi masih menatap angka dua juta di layar ponselnya.
Untuk pertama kalinya sejak malam hujan itu, ia benar-benar mengerti jarak antara dirinya dan Kelvin Hartono.
Bukan jarak kampus ke SCBD.
Melainkan jarak antara seseorang yang bisa berkata "beli lagi", dan seseorang yang harus menghitung napas sebelum memakai uang yang jatuh ke rekeningnya.