Pangeran Mahkota Arjuna terbangun dari mimpi buruk tergelap dalam hidupnya — hanya untuk menyadari bahwa ia telah kembali ke tiga tahun yang lalu.
Di kehidupan sebelumnya, ia terlalu dingin, terlalu bodoh, dan terlalu terlambat. Ia kehilangan wanita yang seharusnya ia lindungi, dikhianati oleh saudara yang ia percayai, dan mati di tangan mereka yang seharusnya ia waspadai.
Kali ini, segalanya akan berbeda.
Kali ini, ia akan menikahi Anindya — gadis yang dulu ia abaikan — dan menjadikannya permata yang paling ia jaga di seluruh kerajaan. Ia akan membongkar setiap kebohongan, menjatuhkan setiap pengkhianat, dan memastikan semua yang pernah menyakiti mereka... menyaksikan dunia mereka runtuh tepat di saat mereka merasa paling tak terkalahkan.
Tapi takdir tidak mudah diubah. Musuh-musuhnya lebih licik dari yang ia ingat, rahasia kerajaan lebih gelap dari yang ia bayangkan, dan cinta yang tumbuh antara dirinya dan Anindya... mungkin menjadi senjata paling berbahaya yang pernah ia miliki.
"Aku sudah pernah mati sekali. Kali ini, aku bersumpah — tidak akan ada yang menyentuhmu selama jantungku masih berdetak."
Genre: Kerajaan · Romansa · Reinkarnasi · Balas Dendam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Pramana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4
Bab 4 Senyum Palsu
Pagi setelah Anindya masuk Puri Timur, Arjuna datang ke ruang makan lebih lambat dari biasanya.
Di atas meja, semangkuk bubur masih utuh. Wedang jahe tinggal separuh. Wulan berdiri di samping pintu dengan wajah tegang, seolah takut harus melaporkan kesalahan besar.
"Gusti Putri sudah makan?" tanya Arjuna.
Wulan menunduk. "Sudah, Yang Mulia. Hanya sedikit. Setelah itu Gusti Putri meminta izin memeriksa buku-buku yang dibawanya dari Kadipaten Jayawardana."
Sudut bibir Arjuna bergerak tipis. Itu sangat Anindya. Baru sehari masuk Puri Timur, ia sudah mencari sesuatu yang bisa membuat pikirannya tetap tegak.
"Jangan paksa ia menerima terlalu banyak tamu hari ini," katanya. "Jika ada dayang dari Puri Candra atau kediaman Permaisuri Ratih datang membawa alasan memberi salam, minta mereka menunggu sampai aku kembali."
Wulan mengangkat wajah, kaget oleh perintah yang terlalu jelas.
"Katakan itu perintahku."
"Baik, Yang Mulia."
Arjuna berbalik. Di ambang pintu, ia berhenti sebentar. Dari koridor samping, ia bisa melihat pintu kamar Anindya tertutup rapat. Tidak ada suara. Hanya aroma kenanga sisa semalam yang masih tertinggal di udara.
Ia ingin masuk dan memastikan sendiri apakah perempuan itu sungguh baik-baik saja. Namun ada tempat lain yang harus ia datangi lebih dulu.
Majelis Kerajaan menunggu.
***
Balai kecil di sisi utara Balai Agung sudah dipenuhi pejabat ketika Arjuna tiba.
Prabu Naradewa duduk di kursi tinggi, mengenakan kain merah gelap dan cincin besar di ibu jarinya. Di sisi kanan berdiri Emban Agung Darma. Para patih, tumenggung, dan adipati menunduk dalam barisan. Pangeran Baskara sudah berada di tempatnya, sedikit di belakang kursi raja, dengan senyum yang hangat dan tidak pernah mencapai mata.
"Kakanda datang," kata Baskara, seolah benar-benar senang. "Adinda sempat khawatir Puri Timur terlalu sibuk setelah menerima Gusti Putri."
Beberapa pejabat tersenyum tipis.
Arjuna memberi hormat kepada raja terlebih dahulu. "Ananda memberi hormat kepada Baginda."
Naradewa mengamati wajahnya. "Kau tampak segar. Rupanya pernikahan tidak membuatmu lupa pada urusan kerajaan."
"Justru karena sudah menikah, Ananda harus lebih berhati-hati menjaga nama Puri Timur."
Jawaban itu membuat ruangan hening sekejap. Tidak ada yang salah, tetapi semua orang menangkap arah kalimatnya.
Baskara tertawa kecil. "Kakanda selalu serius. Adinda hanya bercanda. Seluruh keraton tahu Kakanda memilih sendiri Putri Mahkota. Tentu semua orang berharap Puri Timur segera penuh kabar baik."
Kabar baik.
Dalam mulut Baskara, kalimat itu bisa berarti doa, bisa juga berarti mata-mata. Pada kehidupan lalu, tidak lama setelah pernikahan, desas-desus tentang hubungan dingin mereka menyebar dari dapur Puri Timur ke telinga Permaisuri Ratih. Dari situlah Anggraini masuk, membawa kelembutan palsu dan air mata yang disiapkan.
Arjuna menatap adiknya. "Kabar baik tidak perlu dikejar dengan telinga orang luar."
Senyum Baskara tidak berubah, tetapi matanya menyipit.
Prabu Naradewa mengetuk sandaran kursi. "Cukup. Hari ini kita membahas laporan dari Bendahara Kerajaan."
Seorang pejabat maju membawa gulungan. Ia melaporkan kenaikan pendapatan dari Pelabuhan Timur, penyusutan pajak kayu cendana di Wilayah Pesisir, dan permintaan tambahan prajurit untuk menjaga jalur dagang. Semua terdengar biasa. Terlalu biasa.
Arjuna mendengarkan sambil menatap peta kecil yang dibentangkan di meja tengah.
Wilayah Pesisir.
Di kehidupan lalu, nama itu baru ia perhatikan setelah Keluarga Kertanegara jatuh terlalu lambat. Jalur kayu cendana, rempah langka, dan mineral dari utara mengalir lewat tangan-tangan yang terlihat resmi, lalu masuk ke kantong Baskara untuk membayar prajurit gelap.
Sekarang laporan itu muncul di hari kedua setelah pernikahannya. Bukan kebetulan.
"Pangeran Mahkota?" panggil Naradewa.
Arjuna mengangkat mata. "Baginda."
"Kau diam saja sejak tadi. Apa pendapatmu?"
Semua orang menoleh.
Baskara menunduk sambil tersenyum. Ia menunggu Arjuna menjawab seperti dulu, datar dan tidak peduli pada urusan dagang. Dalam kehidupan lalu, ia memang membiarkan laporan ini lewat begitu saja karena pikirannya hanya terpaku pada kestabilan politik setelah pernikahan.
Kali ini, Arjuna menunjuk satu titik di peta.
"Tambahan prajurit untuk Wilayah Pesisir perlu ditunda."
Pejabat Bendahara terkejut. "Yang Mulia?"
"Pendapatan Pelabuhan Timur naik, tetapi pajak kayu cendana turun. Jika jalur dagang benar-benar terganggu, pendapatan pelabuhan tidak akan naik setinggi ini. Berarti ada barang yang masuk dan keluar tanpa tercatat di pos tertentu."
Hening kembali jatuh.
Naradewa menatapnya lebih tajam. "Kau menuduh ada kebocoran?"
"Ananda meminta pemeriksaan, Baginda. Bukan menuduh."
Baskara segera masuk dengan suara lembut. "Kakanda sangat teliti hari ini. Namun menunda prajurit bisa membuat daerah pesisir merasa tidak diperhatikan."
"Atau membuat orang yang memanfaatkan nama prajurit kehilangan jalan."
Senyum Baskara berhenti.
Beberapa pejabat saling pandang. Tumenggung Suralegawa yang sejak tadi diam menggerakkan rahang, seperti menahan komentar.
Naradewa mengetuk meja sekali. "Bendahara Kerajaan akan memeriksa ulang catatan itu. Tidak ada tambahan prajurit sampai laporan baru selesai."
"Baginda bijaksana," kata Arjuna.
Baskara ikut menunduk. "Tentu, Baginda."
Namun saat ia mengangkat wajah, Arjuna melihat kilatan marah di matanya. Cepat, halus, lalu hilang lagi di balik senyum adik yang patuh.
Senyum palsu itu sama seperti dulu.
Bedanya, kali ini Arjuna sudah tahu ke mana senyum itu akan bergerak setelah keluar dari balai.
***
Sidang selesai menjelang tengah hari. Para pejabat bubar dalam kelompok kecil, membawa bisik-bisik yang lebih tajam daripada saat mereka datang.
Baskara berjalan mendekati Arjuna di koridor batu yang menghadap taman.
"Kakanda berubah banyak setelah menikah," katanya ringan.
"Benarkah?"
"Dulu Kakanda tidak terlalu suka mencampuri urusan kecil Bendahara."
Arjuna menatap kolam di bawah tangga. Seekor ikan merah bergerak di antara bayangan daun. "Mungkin aku baru sadar urusan kecil sering dipakai untuk menyembunyikan dosa besar."
Baskara tertawa pelan. "Kakanda bicara seperti orang yang telah melihat masa depan."
Jari Arjuna berhenti di lengan jubahnya.
Kalimat itu hanya gurauan. Baskara tidak tahu apa pun. Namun selama satu napas, udara di koridor terasa dingin.
Arjuna menoleh. "Jika aku bisa melihat masa depan, Adinda sebaiknya berhati-hati. Mungkin hal pertama yang kulihat adalah siapa yang akan jatuh."
Senyum Baskara menegang.
Lalu ia menunduk, masih dengan sopan. "Adinda akan mengingat nasihat Kakanda."
Ia pergi dengan langkah tenang. Di ujung koridor, Parman menunggu seperti bayangan biasa, lalu mengikuti dari jarak aman.
Arjuna tidak bergerak sampai Baskara menghilang.
Adi yang sejak tadi berdiri beberapa langkah di belakang akhirnya mendekat. "Yang Mulia?"
"Kirim pesan pada Garuda."
"Sesuai perintah."
"Awasi Parman. Cari tahu siapa yang ia temui setelah keluar dari balai."
Adi mengangguk.
"Dan satu lagi." Arjuna menatap arah Puri Timur, tempat Anindya sedang duduk di kamar baru yang belum sepenuhnya ia percayai. "Selidiki Raden Ayu Anggraini. Asal keluarganya, dayang yang melayaninya, surat-surat yang keluar dari kediaman Tumenggung Prabowo."
Adi tampak terkejut. "Raden Ayu Anggraini, Yang Mulia?"
"Ya."
"Apakah ia berbahaya?"
Arjuna teringat wajah polos yang dulu menangis di depan Anindya, lalu menancapkan pisau paling dalam dengan kata-kata lembut.
"Dia bukan perempuan yang ia katakan."