Pernikahan atas dasar cinta adalah pilihan setiap umat manusia, tetapi bagaimana jadinya jika di dalam kata cinta dan pernikahan itu ada orang ketiga?
Begitulah kisah Bima dan Nadia, kehidupan rumah tangga yang sangat harmonis telah mereka rasakan hingga pada akhirnya Bima memutuskan untuk mendua lalu membuat pernikahan mereka berujung perceraian.
Disaat sedang patah hati, Nadia di pertemukan oleh seorang pria dewasa dan karena kebersamaan mereka akhirnya benih-benih cinta pun mulai tumbuh. Namun, sebuah kejutan mengangetkan Nadia yang mana ternyata pria itu adalah Ayah dari selingkuhan Bima.
Bagaimana kisah Nadia selanjutnya?
So Stay Tune 🥰
Follow Ig: ningsihartono ❣️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom AL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 Pembalasan Untuk Suamiku
ENAM BULAN KEMUDIAN.
Nadia berada di dalam ruangan milik Heru karena ingin mengambil sesuatu dan hal itu atas perintah dari Heru. Setelah mengambil sesuatu yang dibutuhkan, tak sengaja mata Nadia menangkap sebuah bingkai terletak tepat di meja Heru dan berhadapan dengan kursi milik Heru. Nadia penasaran, dia mengambil bingkai itu dan menatap seorang wanita muda tengah tersenyum manis di dalam sana.
Sesaat kemudian, jantung Nadia berdetak sangat kencang karena dia mengingat siapa yang berada di dalam bingkai itu.
"Apa hubungannya dengan Pak Heru?" gumam Nadia seraya meletakkan bingkai ditempat semula.
Berbagai macam pertanyaan begitu banyak terngiang di dalam benaknya, Nadia bertekad untuk menanyakan kepada Heru karena hubungannya dengan Heru juga cukup membaik akhir-akhir ini. Nadia segera keluar dari ruangan Heru, dia menuju parkiran karena hari ini ada meeting diluar dengan klien.
Sesampainya di mobil.
Nadia langsung masuk dan memberikan pesanan Heru.
"Terima kasih." ucap Heru seraya mengembangkan senyum.
Nadia mengangguk. "Pak, apa saya boleh bertanya sesuatu?"
Heru menghidupkan mesin mobil dan perlahan mobil itu melaju dengan pasti.
"Ada apa?" Heru bertanya sambil melirik Nadia sekilas.
"Maaf jika saya lancang, tadi tidak sengaja saya melihat bingkai foto diatas meja Bapak dan di dalam sana ada foto seorang wanita muda. Apa saya boleh tau dia itu siapa?"
"Oh, itu. Dia anak saya, anak sematawayang." jawab Heru dengan santai diiringi senyum tipis.
'Dia anak Pak Heru? Berarti—' Nadia menatap wajah Heru yang sangat terlihat tenang.
"Apa dia sudah menikah?"
Heru mengangguk dan hal itu membuat Nadia terkejut, dia yang awalnya ingin membuka hati untuk Heru ternyata niatnya itu harus diurungkan ketika mengetahui jika perempuan yang sudah merebut suaminya adalah anak dari Heru.
"Memangnya kenapa, Nadia?"
Nadia tersadar dari lamunannya dan dia menggeleng dengan cepat.
"T—tidak, Pak. Saya hanya penasaran saja."
"Dia menikah dengan seorang duda, saya tidak mempermasalahkan itu yang penting anak saya bahagia." ujar Heru kemudian.
'Duda? Apa Pak Heru tidak tau jika sebenarnya anak dia adalah seorang pelakor?'
"Duda?"
Heru mengangguk. "Ya, suami anak saya mengatakan jika dia duda karena bercerai. Dia dan istrinya dulu tidak sepemikiran dan hal itu menjadikan rumah tangga mereka tidak harmonis lalu berujung perceraian."
Nadia hanya diam. 'Berarti Pak Heru tidak tahu jika Mas Bima bercerai denganku karena anaknya. Sepertinya ini adalah jalan agar aku bisa membalaskan semua perbuatan Mas Bima dan Aira yang telah dilakukan kepadaku.'
Di dalam mobil, Nadia hanya diam saja merenungi bagaimana cara selanjutnya dia bisa masuk ke dalam kehidupan Heru. Sebenarnya Heru sudah mengatakan jika dia menyukai Nadia, tetapi Nadia yang belum siap untuk membina rumah tangga hanya menggantung jawaban.
'Apa aku harus menerima Pak Heru dan meminta dia agar segera menikahi aku? Tapi, apa itu tidak terlalu keterlaluan? Aku tidak ingin menyakiti hati Pak Heru yang sudah sangat baik dan tulus padaku. Apa yang harus aku lakukan?' batin Nadia menjadi bimbang.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Aira sedang berada di dalam kamar bersama dengan Bima, mereka baru saja selesai memadu kasih dan bertukar keringat. Entah mengapa belakangan ini hasrat Bima sangat tinggi hingga Aira lelah melayaninya tetapi hal itu tidak membuat Aira mengeluh karena dia juga menikmati semuanya.
Nafas keduanya terdengar tidak beraturan karena baru saja mengeluarkan lahar panas.
"Sayang, kapan malaikat kecil akan tumbuh disini?" Bima mengelus perut Aira yang masih rata.
"Mas, sudah aku katakan aku belum mau hamil dan mempunyai anak. Kamu tahu jika usiaku masih muda bukan? Aku tidak ingin pergaulanku dibatasi oleh kedatangan seorang anak." ujar Aira serius.
"Tapi tanpa seorang anak rumah tangga kita sepertinya kurang lengkap, Ara." Bima mengelus rambut Aira, dia benar-benar sangat ingin mempunyai seorang buah hati dari rahim Aira.
"Ck, tunggu saja waktu yang tepat." Aira menepis tangan Bima dan dia segera beranjak dari ranjang untuk segera mandi.
Bima hanya menatap punggung belakang milik Aira yang hanya berbalut dalaman saja, sejenak kemudian dia memejamkan mata dan menghela nafas pelan.
•
•
**TBC
HAPPY READING
YUK BANTU BERIKAN DUKUNGAN AGAR OTHOR SEMANGAT UNTUK UP ❣️
🏵️🏵️🏵️🏵️
.JANGAN LUPA MAMPIR KE NOVEL TEMAN OTHOR 🤗**