Kaina Chandrina terpaksa harus menikah dengan seorang CEO perusahaan besar. Ia harus menjadi tumbal akibat perbuatan orang tua, yang tega menukar dirinya dengan saham perusahaan.
Kini ia harus terjebak dalam sebuah pernikahan kontrak dengan Haikal Kusumanegara, CEO yang begitu berkuasa dan juga kejam.
Keluar dari kandang singa, masuk ke kandang harimau. Bagitulah ungkapan kata yang cocok untuk gadis malang itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bucin fi sabilillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dia Kembali!
Haikal tersenyum sambil bernyanyi ketika menyelesaikan masakan tadi. Wajahnya merona dengan rasa lega yang perlahan menghampiri.
Hanya mengenakan celana pendek, Haikal begitu bersemangat siang ini, karena sudah dua kali ia membobol Kaina.
Sementara gadis itu sudah terlelap dengan badan yang begitu letih dan wajah pucat karena belum memakan apapun sedari tadi.
Tak selang berapa lama, Haikal menyelesaikan kegiatannya. Dengan hati yang senang ia menghias makanan itu agar terlihat cantik.
"Ah, sepertinya aku bisa mendapatkan predikat suami terbaik dan berkualitas. Pandai memasak, kaya, pintar, hebat dan juga kuat!" ucapnya terkekeh.
Ia menyimpan makanan itu dan pergi menyusul Kaina yang berada di ruang tamu. Gadis itu sudah terlelap dengan keadaan yang masih berantakan.
Astaga Haikal, kau begitu ganas sampai membuatnya kelelahan seperti itu. Apa istriku baik-baik saja?. Batinnya sembari menatap wajah Kaina.
Namun ia terkekeh mengingat kelakuannya semenjak memutuskan untuk menerima Kaina dalam hidupnya.
"Sayang?" panggil Haikal sembari mengelus pipi Kaina.
"Hmm, sudah! Jangan lagi! Aku sungguh lelah!" ucap Kaina lirih ketika membuka matanya dan melihat Haikal yang tidak mengenakan baju.
"Iya, ayo bangun! Kita bersih-bersih lagi!" ucap Haikal.
"Gantian saja, ya. Aku gak mau mandi bersama lagi!" ucap Kaina.
"Kenapa?" tanya Haikal mengernyit.
"Sayang, aku lemas banget," ucap Kaina merengek.
"Hanya mandi, Sayang. Aku gak nambah lagi kok!" ucap Haikal terkekeh.
"Sana, kamu saja yang mandi duluan!" ucap Kaina kembali memejamkan mata.
"Baiklah."
Haikal mengalah dan membersihkan diri terlebih dahulu. Sesekali matanya menatap ke segala arah untuk memastikan tidak ada sesuatu yang akan membuat Kaina bersedih lagi.
Sementara di luar, gadis cantik itu berusaha untuk bangun dan pergi ke kamarnya agar bisa membersihkan diri sehabis bermain dengan sang suami.
Jika seperti ini terus, aku akan hamil dalam waktu cepat. Semoga saja, tidak. Aku masih kecil dan belum siap untuk menjadi seorang ibu. Itu, tanggung jawab yang sangat berat, mengingat statusku yang masih belum pasti. Batin Kaina.
Ia terdiam ketika mengingat sesuatu. "Dimana ponselku? Apa ayah baik-baik saja?" Ucap Kaina mulai khawatir.
Ia kembali mengingat dimana terakhir kali meletakkan ponselnya. Ia mencari tas selempang kecil yang sering ia gunakan, namun tidak menemukan apapun di dalam kamar itu.
Ia memilih untuk segera mandi dan sembari memikirkan letak ponsel yang sudah tidak tersentuh semenjak Haikal sering mengajaknya bermain.
"Sayang?" panggil Kaina setelah selesai membersihkan diri.
Ia masuk ke dalam kamar Haikal tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Ia menghela nafas ketika melihat sang suami sudah mengenakan bajunya.
"Kenapa?" tanya Haikal mengernyit.
"Kamu lihat dompet sama ponsel aku?" tanya Kaina sambil membaringkan tubuhnya di atas ranjang.
"Ponsel?" Tanya Haikal mengernyit. "Ah, ada di dalam lemari," sambungnya.
Ia berjalan dan mengambil barang Kaina yang sudah lebih satu minggu tidak di sentuh. Kaina mengulurkan tangan agar dapat menggapai ponselnya.
"Apa ayah baik-baik saja? Aku takut jika ibu melakukan sesuatu," ucap Kaina langsung memeriksa pesan yang masuk.
Ia mengernyit ketika melihat video yang dikirim oleh Sisca, dimana Leo pingsan dan dilarikaan ke rumah sakit.
Deg!
"Sayang, ayah sakit!" ucap Kaina terkejut. "Tapi, sepertinya ini sudah satu minggu yang lalu, berbarengan dengan aku masuk rumah sakit kemarin," sambungnya.
"Iya, tapi ayahmu hanya kelelahan. Bukan karena racun atau zat semacamnya. Rasya sudah memberikan laporan kesehatannya kepadaku," ucap Haikal sambil menggendong Kaina keluar dari kamar.
"Kenapa kamu tidak mengatakannya? Apa boleh aku pulang sebentar? Aku hanya ingin memastikan jika ayah baik-baik saja," ucap Kaina lirih.
"Tidak! Kalau bukan hari besar, aku tidak mengizinkanmu pergi ke sana!" ucap Haikal tegas.
Kaina hanya terdiam dengan raut wajah khawatir, tanpa mengucapkan sepatah katapun. Bahkan ketika Haikal mendudukkannya di atas sofa, ia tetap bungkap dan menunduk sambil memperhatikan ponsel.
Haikal pergi ke belakang dan mengambil makanan yang ia masak tadi.
"Bukan tanpa alasan aku melarang kamu untuk pergi ke sana. Tapi belum saatnya, jika memang hal mendesak atau acara penting, baru boleh ke sana. Tapi jika hal yang tidak penting, aku tidak mengizinkanmu!" ucap Haikal tegas.
Kaina hanya terdiam sembari menyuapi Haikal. Walaupun tidak pernah dianggap, tapi bagaimanapun juga hanya sang ayah yang dia miliki saat ini.
"Paham, Sayang? Aku takut tidak bisa mengendalikan diri jika mereka kembali menyakitimu!" ucap Haikal mengangkat dagu Kaina.
"Aku paham. Hanya saja, aku khawatir dengan keadaan ayah," ucap Kaina lirih.
"Jangan terlalu dipikirkan! Ayahmu tidak akan kenapa-napa," ucap Haikal mengusap kepala Kaina.
Dengan rasa enggan, Kaina menganggukkan kepalanya. Kini mereka makan sembari menonton televisi.
"Pemirsa, Seorang model papan atas asal Indonesia baru saja kembali ke tanah air setelah hampir satu tahun merambah dunia modeling Internasional. Kabarnya, kekasih dari tuan muda Haikal Kusumanegara ini, akan mendarat sebentar lagi. Simak berikut fakta-fakta tentang model cantik ini," ucap Pembawa acara gosip.
Haikal menggertakkan giginya merasa kesal mendengar apa yang diberitakan oleh televisi. Berbeda dengan Kaina, nafsu makannya hilang seketika mendengar berita itu.
Rasa sakit yang begitu perih terasa menghujam jantungnya. Apalagi ketika Haikal segera mengganti channel televisi.
Tak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir mereka. Hanya keterdiaman dan dentingan sendok yang menemani mereka siang menjelang sore itu.
"Sayang mau tambah?" ucap Kaina.
"Tidak, aku mau ke ruang kerja dulu!" ucap Haikal beranjak dari sana tanpa menoleh sedikitpun kepada Kaina.
Gadis itu hanya bisa menghela nafas sambil meredakan sesak yang sudah ia tahan sedari tadi.
Apa hanya sampai di sini usia pernikahanku? Dia sudah kembali, dan pasti mereka akan menjalin kembali hubungan yang sudah renggang. Aku tidak bisa membayangkan bagai kecewanya gadis itu ketika tau, jika tuan muda sudah menikah secara diam-diam. Batin Kaina.
Ia meletakkan piring itu ke belakang dan berjalan menuju balkon ruang tamu. Menghirup udara sebanyak-banyaknya agar bisa menenangkan diri dan pikiran.
Ia menatap jauh ke bawah, dimana mobil berlalu lalang dan juga keramaian di kota itu.
Apa dia tau apartemen ini? Atau dia akan langsung datang ke sini untuk bertemu dengan tuan muda? Huft, lebih baik aku keluar sebentar agar tidak mengganggu mereka. Batin Kaina.
Ia berjalan ke dalam ruang kerja Haikal dan mengetuknya dengan rasa takut.
Ceklek!
Pintu terbuka, wajah kesal Haikal terpampang jelas. "Jangan berkata aneh-aneh atau aku akan marah!" ucapnya.
"Aku hanya ingin pergi ke makam, Bunda. Apa boleh?" tanya Kaina lirih sambil memainkan ujung bajunya.
"Tidak! Sekarang masuk ke kamar dan beristirahat!" ucap Haikal tegas dan membanting pintu.
Suasana hatinya tidak menentu saat ini. Namun ia memilih untuk berada di sana agar bisa menguasai diri terlebih dahulu agar tidak membentak atau berkata kasar kepada Kaina.
Gadis itu hanya terdiam dan kembali ke kamarnya. Mengikuti perkataan Haikal adalah hal yang wajib di ikuti, walaupun ia merasa ingin menangis saat ini.
Apa yang harus aku lakukan, Bunda? Apa aku harus bertahan atau menyerah dengan keadaan?. Batinnya sembari menatap langit-langit kamar yang terlihat polos tanpa hiasan.
Ada sesuatu yang mulai bergejolak ditubuhnya. Rasa aneh yang belum pernah ia rasakan selama ia hidup. Rasa tidak enak yang mengganggu, dan membuatnya merasa tidak nyaman.
Aku merasa mual dan pusing. Batinnya
Sayang bgt lho gak dilanjutin mana ceritanya bagus bgt..
Ayo kk semangat buat lanjutin lg ceritanya