Karena balas budi, Kailani bersedia mengandung calon bayi dari pria yang sama sekali belum ditemuinya. Namun, apa jadinya jika pria tersebut ternyata adalah sang mantan terindah yang ditinggalkannya karena tuntutan sebuah keadaan?
Apakah yang akan dilakukan sang pria yang ternyata masih mencintai Kailani dalam diam dan dendam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Devi21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masalah di pagi hari
"Sama sekali bukan urusan Abang." Kailani menjawab pertanyaan Kailandra dengan ketus. Lalu perempuan tersebut berjalan perlahan mendekati Keiko dan meminta putrinya tersebut untuk segera menentukan pilihan.
"Yang ini saja," sorak Keiko sembari mengangkat pot kecil berisi tanaman kucai yang sudah berbunga.
"Kita masuk! Cuci tangan, terus habiskan serealnya. Nanti keburu dingin. Biar Bunda yang membersihkan potnya." Kailani merangkul pundak Keiko dengan tangan kirinya.
"Bund, kok om-nya nggak disuruh masuk?" Keiko menoleh dan melemparkan senyuman tulus pada Kailandra yang terus memperhatikannya tanpa berkedip.
"Bukan tamu bunda sayang. Hanya orang yang tanya alamat." Kailani menjawab dengan asal.
Tidak ada hal lain yang bisa dilakukan Kailandra setelah pintu rumah Kailani kembali tertutup rapat---selain pergi meninggalkan tempat tersebut. Sadar diri, sungguh dirinya tidak pantas menuntut keramahan dari Kailani. Setelah tuduhan dan perlakuan kasar yang selama ini kerap kali dilakukan, sudah sepantasnya Kailani bersikap seperti sekarang.
Kailandra terus berjalan menyusuri jalan perumahan yang tentunya jarang sekali dilewati taksi offline. Entah apa yang sedang dipikirkan pria tersebut. Satu hal yang pasti, dia hanya ingin merasakan lelah fisik yang teramat sangat. Hingga nanti saat langkah kakinya berhenti, lelah bisa mengantar matanya terpejam lebih cepat ke alam mimpi. Sejenak ingin melupakan kenyataan yang membuat Kailandra merasa takdir baik tidak pernah berpihak kepadanya.
****
Keesokan harinya, ketika sinar mentari pagi masih menyapa malu-malu melewati celah tirai yang sedikit tersingkap, Kailandra tampak sudah berpakaian rapi dan bersiap-siap untuk memulai aktivitasnya lebih awal. Kepergian Karina dari rumahnya, seakan tidak memberikan dampak apa pun pada pria tersebut.
"Tumben pagi sekali, Kai? Apa ada kabar dari cucu-cucu mama?" tanya Kasih saat berpapasan dengan Kailandra yang sedang melangkahkan kaki menuju garasi mobil.
"Ada urusan penting, Ma." Kailandra menjawab tanpa menyelipkan informasi yang berarti pada mamanya yang baru saja selesai mengikuti kajian subuh di masjid komplek perumahan Kailandra.
Kasih menggelengkan kepalanya, tanda keheranan. Sejak kepulangan Kailandra sore kemarin, anaknya itu jelas sekali menyimpan begitu banyak beban pikiran. Bahkan, Kailandra tidak keluar kamar untuk makan malam.
Sementara itu, di waktu yang sama, tepatnya di salah satu room sebuah apartemen, sosok perempuan dengan rambut acak-acakan dan mata sembab, tampak bersandar pada kaki sofa dengan posisi meringkuk---memeluk kedua lututnya sendiri di atas karpet tebal. Sudah semalaman, sosok yang tidak lain tidak bukan adalah Karina itu bertahan pada posisi tersebut.
"Sudahlah, Kar. Waktu terus berjalan. Waktu tidak menunggumu sampai menyadari semua ini memang yang terbaik. Lanjutkan hidupmu. Berpisah dengan Kailandra bukanlah akhir. Justru ini adalah awal. Cukup sudah kamu membuang waktumu selama ini." Kalvin membelai rambut kusut Karina dengan lembut. Pria tersebut tidak bosan dan tidak lelah berusaha membangkitkan kembali semangat hidup saudari tirinya itu.
Karina bergeming, tatapannya begitu sayu dan kosong. "Aku tidak mau diperlakukan seperti ini, Vin. Aku tidak mau. Enam tahun aku sudah berusaha. Apa iya aku harus melepaskan tanpa usaha apa pun? Kenapa Kai begitu egois? Kebohonganku---aku lakukan karena aku sangat mencintainya. Adakah yang mencintai Kai sebesar aku?"
Kalvin mengangguk-anggukkan kepala sembari tersenyum tipis. Meski apa yang diucapkan Karina tidak sepenuhnya benar, pria tersebut tidak berniat untuk menyanggah. Karina yang sedang hancur dan kalut, kadang hanya butuh seseorang untuk mendengar kesahnya.
"Aku harus bicara dengan Kailani." Karina beranjak berdiri.
"Buat apa lagi, Kar?" Kalvin mencoba mencegah niat Karina dengan mencekal lengan perempuan tersebut.
"Kita lihat saja nanti." Tanpa menyisir rambut, tanpa membasuh wajah, dan tentu saja tanpa mengganti bajunya terlebih dahulu, Karina langsung menyambar kunci mobil yang tergeletak di atas meja.
"Kar, biar aku antar." Kalvin menyambar paksa kunci di genggaman Karina. Meski sebenarnya, dia sama sekali tidak setuju dengan niat Karina, tetapi lebih baik Kalvin ikut menemani. Karina yang sering kali berbuat nekat di luar nalar jika sudah dalam kondisi terpojok, jelas membuat Kalvin tidak melepaskannya sendirian.
Pada waktu yang sama, namun berbeda tempat, Kailani sibuk memasukkan bekal Keiko ke dalam tas bekal putri pertamanya tersebut. Di samping tas itu, juga sudah ada cooler bag berisi empat botol kaca berisi ASI yang sudah siap diantarkan ke rumah sakit untuk baby twins.
"Cepat habiskan rotinya, Kei. Sebentar lagi Pak Kadir pasti datang." Belum sampai mulut Kailani mengatup, suara mesin mobil berhenti di halaman depan terdengar. Keiko pun dengan semangat langsung menjinjing tas sekolahnya di pundak.
"Yuk!" Kailani membawa tas bekal Keiko sekaligus cooler bag ASI-nya.
"Bukan Pak Kadir," ucap Keiko yang hapal betul dengan mobil jemputan dan driver yang khusus dipekerjakan Kenzo untuk Keiko.
Kailani memicingkan matanya untuk bisa melihat dengan jelas siapa yang datang sepagi ini ke rumahnya. Mobil yang ditumpangi jelas mobil premium kelas atas. Bukan mobil rakitan tanah air---built up langsung dari negara asalnya.
"Om yang kemarin, Bund." Suara melengking Keiko bersamaan dengan getaran ponsel di saku daster Kailani membuyarkan konsentrasi perempuan yang masih menduga-duga siapa tamunya itu.
"Pagi, Keiko," sapa Kailandra pada Keiko seakan tanpa beban.
Gadis berperawakan bongsor itu tidak langsung menjawab. Seakan meminta persetujuan dari Kailani, mata Keiko membulat menatap sang Bunda yang sedang menerima panggilan telepon dari seseorang.
"Kei, Bunda pesan kan taxi online saja, ya. Bunda anter. Pak Kadir izin anaknya sakit." Kailani mengatakannya dengan lembut sambil membuka aplikasi tranportasi online di ponsel pintarnya.
"Sama Om saja, Yuk. Om kenal sama Bundanya Keiko, kok," sambar Kailandra.
"Keiko bisa ke dalam sebentar?"
Tanpa menjawab pertanyaan Kailani, Keiko kembali masuk ke dalam rumah dengan bibir yang bertambah maju. Dalam hati, gadis menggemaskan itu tengah mengumpat tanpa suara. Menyesalkan keputusan sang bunda yang tidak menerima saja tawaran dari si om yang menurut Keiko tampannya setara dengan artis K-Pop idolanya.
Setelah memastikan Keiko benar-benar sudah di dalam, Kailani langsung meletakkan dua tas yang ditentengnya tadi di atas meja. Lalu dengan tegas perempuan itu berkata, "Apa maumu, Bang? Bukankah sudah aku bilang urusan kita sudah selesai?"
"Urusan kita tidak akan pernah selesai, Kai. Ada anak-anak di antara kita. Jangan kamu hapus takdir itu," tekan Kailandra sembari menatap Kailani yang begitu sinis membalas tatapannya.
Kailani menarik napas dalam, lalu mengembuskan perlahan sedikit berat. Sekuat tenaga dia mengajarkan hati untuk tidak pernah goyah, tetapi dunia tidak pernah bosan membujuknya dengan kerapuhan.
Belum juga satu masalah di depan matanya selesai, rupanya satu masalah sudah datang menghampiri Kailani.
"Ya Allah, apa lagi ini," batin Kailani begitu melihat Karina turun dari mobil dengan sangat emosional.
Kadang pembaca ini membaca untuk menenangkan fikiran tapi karyamu yg hanya STUCK pada 1 huruf boleh bikin pikiran pembaca jadi stress 😔😔😔 & aku salah 1 pembaca yg sekarang sudah stress 😒😒😒
jika hampir disetiap novel kalian kalian pasti hadirkan sosok lelaki lain yang begitu baik dan peduli pada pemeran utama wanita seperti sosok KELVIN, kalian bungkus intaksi mereka dengan embel peduli pada sahabat, menganggap saudara, melindungi orang yang disayang,dll
apakah novelis wanita berani juga hadirkan sosok wanita lain yang baik dan begitu peduli pada sosok pemeran utama pria (suami), dengan embel peduli pada sahabat, dan anggap saudara atau melindungi orang yang disayangi
saat kalian hadirkan sosok kelvin yang begitu tulus dan selalu ada untuk melindungi kailani, berani tidak kalian berlaku adil hadirkan juga wanita lain yang tulus, dan selalu ada untuk melindungi kailandra
karena wanita itu mahluk egois
tidak ada wanita yang boleh menyukai suaminya kalau ada wanita itu wanita pelakor
tapi mereka akan kebaperan bila ada pria lain yang menyukainya dan akan menganggap pria itu pria baik2 dan tulus