Ruby, gadis cantik berusia 27 tahun terpaksa harus menikah dengan seorang pria dingin dan kejam bernama Arkana Rafassya, pria yang memiliki paras yang sangat tampan dan idaman para kaum hawa. Arka, begitulah dia biasa dipanggil, sebenarnya sudah memiliki seorang kekasih yang juga sangat cantik jelita seperti namanya, yaitu Jelita. Arka sangat mencintai Jelita, tapi karena sebuah insiden di mana dia ditemukan sedang berduaan di sebuah kamar dengan Ruby, terpaksa dia harus menikah dengan gadis itu dan berpisah dengan Jelita. Arka menuduh insiden itu adalah rencana licik Ruby agar bisa menikah dengannya, karena dia yakin kalau Ruby itu wanita yang haus akan kekayaan dan ingin hidup mewah. Karena alasan itu, membuat Arka sangat membenci Ruby dan sama sekali tidak pernah menghargai wanita yang sudah menjadi istrinya itu. Pria itu bahkan masih berharap ingin kembali pada Jelita. Bagaimana kelanjutannya? apa benar Ruby seperti yang dipikirkan oleh Arka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosma Sri Dewi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rajasa bunuh diri?
Sementara itu, jauh di kota Bali tampak kesibukan di sebuah restoran, yang merupakan milik Ruby.
Restorannya kini sudah tampak cantik dan asri, berbeda dengan restoran sebelum dia beli, dan sesuai dengan pembicaraan di awal, Ruby menambahkan beberapa menu Nusantara di restorannya, bukan hanya menyediakan makanan Western seperti sebelumnya.
Restoran itu juga terlihat banyak sekali dikunjungi oleh wisatawan, baik dari lokal maupun mancanegara.
"Wah, sepertinya restoran kamu, akan menjadi salah satu restoran favorit, By!" seru Tiara dengan penuh semangat.
"Amin! doakan saja, Ra!" balas Ruby dengan melemparkan senyum manis di bibirnya.
"Itu sudah pasti!" Tiara membalas senyum Ruby.
"Ra, handphone kamu bunyi!" Ruby menunjuk ke arah handphone Tiara yang berkedip-kedip.
Tiara meraih ponselnya dan mengrenyitkan keningnya begitu melihat siapa yang sedang menghubunginya.
"Ini Kak Risa, By. Kenapa kakakmu menghubungiku ya? apa ada masalah di restoran?" tanya Tiara dengan alis bertaut.
"Ya, kalau mau tahu, jawablah!" titah Ruby dan menganggukkan kepalanya.
"Halo, Kak?" sapa Tiara dengan sopan.
"Ra, apa Ruby ada bersamamu?"terdengar suara Risa yang disertai dengan isak tangis.
"Ada apa, Kak? kenapa Kakak menangis?" tanya Tiara dengan kening berkerut.
Mendengar pertanyaan Tiara, tentu saja membuat Ruby jadi penasaran. Wanita itu datang mendekat dan mendekatkan telinganya ke arah handphone Tiara. Melihat hal itu, Tiara langsung mengerti dan langsung berinisiatif menyalakan tombol loud speaker.
"Ada apa, Kak? tanya Ruby dengan sangat hati-hati.
"Ruby, papa sudah meninggal?"
Ruby terhenyak kaget mendengar kabar yang baru saja terlontar dari mulut kakaknya itu.
"Meninggal? kakak tidak bercanda kan?" tanya Ruby memastikan.
"Tidak, By. Tidak mungkin aku akan bercanda. Kematian bukan untuk dijadikan bahan candaan. Papa memang benar-benar sudah meninggal,"Risa kembali berusaha meyakinkan Ruby.
Ruby tercenung, diam tidak tahu mau berkata apa lagi. " Ruby, kamu masih di sana? kamu dengar aku kan?" kembali terdengar suara Risa, menyadarkan Ruby dari alam bawah sadarnya.
"Kenapa Papa bisa meninggal Kak? apa dia sakit atau karena hal lain?" tanya Ruby, tanpa mengeluarkan setetes pun air mata. Mungkin karena ketidakdekatannya dengan sang papa sejak kecil ditambah dengan perlakuan papanya, membuat hati wanita itu membeku, sehingga tidak merasakan sedih sama sekali.
"Papa meninggal karena bunuh diri,By!"
mata Ruby membesar mendengar apa yang diucapkan sang kakak. "Bunuh diri? ke-kenapa bisa?" Ruby kini terlihat gugup.
Terdengar ******* napas dari Risa, seakan wanita di sebrang sana, berat untuk mengungkapkan alasan Ayah mereka bunuh diri.
"Kak? kenapa tidak dijawab?" perasaan Ruby sekarang berubah tidak karuan.
"Papa, hanya meninggalkan sebuah surat. Papa bilang, dia sudah tidak sanggup untuk hidup sendiri lagi, dan memilih untuk menyusul belahan jiwanya, mama," jelas Risa dengan sangat hati-hati, karena dia tahu kalau hal itu akan membuat Ruby kembali terpukul dan merasa bersalah.
Kali ini Ruby akhirnya tidak bisa menahan air matanya lagi. Benar dugaan Risa, perasaan bersalah tiba-tiba menghampiri Ruby.
"Ruby,kamu jangan menangis. Ingat, ini bukan salah kamu, ini hanya karena takdir. Bukan kamu yang menyebabkan mama kita meninggal," terdengar suara Risa, menenangkan Ruby.
"I-iya, Kak. Jadi, kapan Papa akan dimakamkan? maaf,aku tidak bisa datang ke pemakaman Papa,." tanya Ruby di sela-sela isak tangisnya.
"Sebentar lagi papa akan di makamkan. Tidak apa-apa kamu tidak datang. Yang penting kamu sehat di sana, dan jangan terlalu dipikirkan," ucap Risa, mengakhiri percakapan.
"Om Rajasa bunuh diri karena mau menyusul Tante, emangnya mereka akan ketemu nanti?" celetuk Tiara,ambigu.
"Maksudnya?" Ruby mengrenyitkan keningnya. Masih terlihat jelas sisa air mata di pipinya.
"Tante kan di surga, kalau Om Rajasa emangnya masuk surga? kan dia selalu jahat selama ini? ditambah matinya bunuh diri lagi," sahut Tiara tanpa sadar, kalau yang dia bicarakan itu, papa sahabatnya.
Ruby terdiam, tidak menjawab sama sekali.
"Eh, maaf!" ucap Tiara merasa tidak enak hati.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jelita dan Rosa sedang asik bercengkrama di ruang tamu. Tampak jelas, di gesture tubuh Jelita, kalau sebenarnya dia malas untuk berlama-lama mengobrol dengan wanita yang melahirkan pria yang dicintainya itu.
"Ma, ayo kita ke kediaman Rajasa sekarang!" tiba-tiba Adijaya datang dan sudah memakai pakaian berwarna hitam.
"Kenapa kita harus ke sana?" Rosa mengrenyitkan keningnya, bingung.
"Aku mendengar kabar, kalau Rajasa meninggal karena bunuh diri, dan sebentar lagi akan dimakamkan,"
Rosa tersentak kaget mendengar kabar dari suaminya itu, sementara itu, Jelita menundukkan wajahnya agar senyum liciknya tidak terlihat.
"Apa, bunuh diri? kenapa bisa?" tanya Rosa sembari berdiri dari tempat duduknya.
"Aku juga kurang tahu. Tapi, yang jelas apapun penyebabnya, itu bukan urusan kita. Sekarang kita ke sana saja. Arka juga sedang dalam perjalanan ke sana," jawab Adijaya. Pria itu dari tadi enggan melihat ke arah Jelita. Bahkan untuk menyapa wanita itu, juga dia tidak ada niat.
"Harus ya,kita ke sana, Pa?" Rosa terlihat sangat enggan untuk pergi.
"Harus, Ma. Bagaimana pun dia itu pernah jadi besan kita. Sekarang kamu, ganti pakaian kamu, aku akan tunggu di luar!" Adijaya berlalu pergi meninggalkan Rosa dan Jelita.
"Jel, apa kamu mau ikut dengan Om dan Tante?" tanya Rosa ketika tubuh suami, tidak terlihat lagi.
"Kayanya tidak usah Tante. Nanti jadinya tidak enak karena aku juga kebetulan tidak kenal dengan papanya Ruby. Nanti, kalau aku ke sana, pasti akan banyak bisik-bisik yang tidak mengenakkan. Maaf ya, Tante, aku benar-benar nggak bisa ikut," sahut Jelita dengan nada suara yang sangat lembut.
"Oh, begitu ya? baiklah! kalau begitu Tante tinggal dulu ya! Tante mau ganti pakaian dulu!" Rosa berlalu pergi, setelah melihat Jelita menganggukkan kepalanya.
Selepas perginya Rosa, Jelita baru memperlihatkan senyum lebarnya.
"Akhirnya, mampus juga si tua bangka itu! mama memang cerdas," batin Jelita dengan sudut bibir yang membentuk seringaian sinis.
Jelita, mengayunkan kakinya melangkah ke arah taman belakang, kemudian dia melirik ke kanan dan ke kiri, untuk memastikan ada tidak nya orang.
Setelah memastikan tidak ada orang sama sekali, Jelita merogoh tas dan meraih handphone dari dalam. Ia pun menghubungi sang mama.
"Ma, mama hebat!" sorak Jelita, ketika sudah tersebar suara mamanya dari ujung telepon.
"Iya, dong. Mama gitu lho!" sahut Mona dari ujung sana.
"Apa mama sudah yakin kalau tidak akan ada yang curiga, kalau kita yang memberikan racun itu pada pak Rajasa?"
"Kamu tenang aja. Mama sangat yakin seyakin-yakinnya. Semua orang, pasti menduga kalau kematian Rajasa, murni karena bunuh diri. Mama sudah merancangnya sesempurna mungkin. Sekarang tinggal kamu saja, apa kamu sudah menemukan surat cerainya?"
"Belum, Ma! aku sudah mencarinya di kamar Adel, tapi tidak ada sama sekali. Sebenarnya aku belum sempat memeriksa semuanya, karena Adelia keburu datang,"sahut Jelita dengan bibir yang mengerucut kesal.
"Sudahlah! kamu jangan pedulikan surat itu lagi. Mama akan cari cara agar kamu dan Arka secepatnya menikah. Kalian menikah saja dulu, nanti kalau surat itu sudah ketemu, baru Arka menandatanganinya." ucap Mona.
"Mama tidak mau perjuangan kita sia-sia. Lagian, tidak ada gunanya ilmu yang kamu dapat kalau kamu tidak bisa membuka butik sendiri kan? kamu tahu sendiri buka butik itu butuh biaya yang sangat besar, dan hanya menikah dengan Arka lah kamu bisa mendirikan usaha butik," lanjut Mona lagi.
"Ya,mama benar. Hanya Arka yang bisa mewujudkan mimpiku untuk mendirikan butik dan mendapat nama sebagai seorang designer terkenal. Bagaimanapun dengan status Arka yang berpengaruh, aku pasti akan lebih mudah terkenal," ucap Jelita dengan senyum kemenangan.
Tbc
Wah, makin kesal nggak sama Jelita dan mamanya? 😁