Seren hanyalah gadis biasa yang terlahir dari rahim seorang pelacur. Hidup dan tumbuh dari hasil keringat seorang pelacur tak membuat Seren termotivasi untuk menjadi salah satu di antaranya.
Dalam 18 tahun kehidupannya, Seren selalu bertekad tidak ingin menjadi seperti sang ibu. Karena ia sangat tahu di balik kehidupan mewah seorang Pelacur tersimpan sebuah hal berbahaya yang bahkan satu orang pelacur- pun belum dapat keluar darinya.
"Hmm- Kamu percaya kalau aku ini bajingan, bukan?"
peringatan: mengandung percakapan orang dewasa, disarankan untuk bijak memilih jenis bacaan anda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kang-jun!!!, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Tidak sengaja
Pagi menyingsing, dapat dirasakan oleh Seren suasana hangat dan penuh kedamaian. Beberapa hari belakangan ia tidak terlalu banyak melakukan aktifitas karna perasaannya yang masih sedih.
Namun hari ini Seren akan memulai hari, mencoba untuk menulis lembaran baru. Setidaknya disini ia tidak perlu membayar uang sewa, cukup membantu para pelayan dengan beberapa pekerjaan ringan Seren sudah dapat menikmati semua fasilitas rumah ini.
Pernah di suatu ketika, Seorang pelayan membentak Seren yang hanya bekerja membersihkan halaman belakang, namun beberapa saat kemudian kepala pelayan datang dan malah menghukum pelayan itu. keesokan harinya pelayan itu tidak mau menegur Seren, apalagi membentak, ia hanya dapat menunduk dan berlalu pergi.
"Tapi kenapa ya?" Tanya Seren memandang langit cerah, sementara tangannya memegang sapu untuk menyapu halaman belakang.
.......
.......
.......
.......
...SADNESS...
...32...
...Tidak sengaja...
.......
.......
.......
"Sudah pagi saja." William tak berani membuka mata terlalu lebar, setelah menyuntikkan obat itu sarafnya terasa terbakar dan pandangan seperti menggelap.
Meski ia tau itu adalah efek samping yang harus selalu ia tanggung, namun William tak punya pilihan lain. Ia belum menemukan obat lainnya sebagai antisipasi dari penyakit yang ia derita.
William melangkah dengan gemetar, ia hampir limbung namun masih dapat di tahannya dengan bertopang pada meja kerja.
"Ok William, you can do it."
Dengan sisa kemampuan William kembali menyeimbangkan dirinya. Berjalan pelan menuju Sliding door yang tertutup oleh tirai putih. Dengan gerakan pelan William menggeser tirai itu untuk mempersilahkan cahaya matahari dengan leluasa menyinari tubuh pucatnya.
Merasa tak cukup, William membuka sliding door ruang kerja yang terhubung langsung dengan taman belakang, menyaksikan pemandangan indah yang membuat perasaannya menjadi tenang.
Ia menapak secara pelan berjalan ke arah balkon, mencoba untuk menatap lebih luas pemandangan yang terpapar.
Ia kemudian memandang pohon besar yang semakin tinggi tepat di samping balkon.
"Terakhir kali di perhatikan kau masih setinggi lantai dua, sekarang sudah hampir mencapai atap. Sepertinya aku harus menyuruh tukang kebun untuk memotong beberapa dahan." Ucap William menganalisa.
"Auch... Sshhh... kenapa aku lupa kalau batu sebesar kepala disana sih!"
William sedikit tersentak, namun langsung tersenyum miring. Ia merotasikan mata ke taman tepatnya ke arah seorang gadis yang tengah memaki benda mati bernama batu.
"Ada saja hiburan picisan di pagi hari." Gumam William tersenyum simpul dan berbalik hendak pergi dari balkon.
Drrttt. ...
Drrttt....
William merogoh saku celana, memperhatikan dengan seksama siapa orang yang menganggu pagi indahnya.
"Rasyid? Ada apa lagi dengan makhluk satu ini." Gumam William mengangkat telfon.
"Hmm... Ada apa?"
^^^"Ini mengenai pembicaraan kita yang belum sempat kita bicarakan kemarin tuan, cocaine dan sekarang di tambah dengan project baru. Project sample."^^^
"Sample ? Baiklah kau bisa berikan sample itu besok saja."
^^^"Maaf sekali tuan, tapi Samplenya sedang dalam perjalanan."^^^
"Kenapa kamu baru bilang sekarang?"
^^^"Aku? Oh-Hohoho, tentu saja tidak tuan. Anda seharusnya masih ingat kemarin, saya ingin bicara namun anda malah menyuruh saya pulang. Sample inilah maksud saya. Klien meminta untuk segera dilakukan tindakan pembuatan obat secepat mungkin. Dan juga, dia berpesan untuk hati-hati karna barang ini memiliki efek samping yang cukup besar."^^^
"Oh ya, seperti apa?"
Ting.. Tong...
^^^"Sepertinya paket sudah sampai, saya izin untuk menutup telfonnya. Saya akan berkunjung siang ini untuk membantu tuan, terimakasih dan selamat pagi."^^^
"Dasar, asisten yang seenaknya saja!"
William menutup telfon dengan perasaan kesal. Ia melirik kebelakang, menatap Seren yang sudah tidak ada di tempat sebelumnya.
"Mau sampai kapan aku mengulur waktu untuk memakannya?" Gumam William menggertakkan gigi.
.
.
.
Skip time, Sekolah.
.
"Seren."
Seren menoleh "Iya? Ada apa Bim?" Tanya Seren penasaran pada Bima yang tiba-tiba mendatangi mejanya.
Bima mengulurkan tangan dan Seren menatap penuh tanya maksud dari ketua kelasnya itu.
"Aku dan teman-teman turut berbela sungkawa atas meninggalnya ibu kamu, maaf kami gak bisa melayat kemarin."
"Oh iya, gapapa Bim." Balas Seren menyambut uluran tangan Bima.
"Din." Ucap Bima meminta Dina untuk mengambil bagiannya.
"Ini Ren, diterima ya. Ini dari kita semua." Dina memberikan amplop yang cukup tebal pada Seren yang menerimanya dengan ekspresi canggung.
"Jika ngak ada halangan kita semua mau kerumah kamu Ren, bolehkan?" Tanya Bima.
Seren langsung terkejut, matanya seketika melebar.
"A-apa?" Tanya Seren lagi, mencoba memastikan.
"Kita semua mau kerumah kamu Ren, hitung-hitung silaturahmi. Gak apa-apa kan?" Kini Dina yang bertanya.
"A--aaa? Gimana ya?" Bukan apa-apa, tapi Seren sadar dia menumpang di rumah William. Mana mungkin dia dengan lancang membawa teman-temannya tanpa izin pemilik rumah.
'Gimana ya? Apa aku coba tanya ama tuan Will? Apa boleh? Atau?'
"Ya udah, bsok ya Bima, Dina. Dan kawan-kawan kerumah."
'Mampus! Gua kepleset ngomong.'
Seru hati Seren frustasi.
"Ok Ren, besok siang kita semua ke rumah Seren ya teman-teman!" Ucap Bima memberi pengumuman pada semua teman sekelas.
Semua kompak meng-iyakan, dan Seren kompak menyerukan kebodohannya.
.
.
.
.
"Oi! Kamu ngapain ngelamun kayak janda 10 anak gitu?"
Seren langsung mendelik ke sumber suara.
"Serah-serah aku dong, gak usah ngatur kamu Geo." Seru Seren kesal.
Geo yang di katakan seperti itu langsung mengedikkan bahu acuh. Ia yang masih di atas motor langsung memarkirkan motornya tepat di samping Seren.
"Kamu lagi apa?" Tanya Geo mengambil duduk di samping Seren yang kini menunduk.
"Kamu buta atau tolol! Aku lagi duduk sambil mikir sejelas ini masih di tanya, kalau cari bahan cerita tu yang smart dikit dong." Kata Seren makin kesal.
"Pms ni orang, ya udah deh. Daripada nongkrong di halte bus mending kamu ikut aku pulang. Udah jam 19.00, gak baik anak gadis masih disini. Ayo baliknya bareng aku aja."
Geo menarik Seren untuk berdiri, tidak lupa Geo memberikan gerakan senyum dengan tangan kiri yang biasa mereka berdua lakukan di kala salah satu dari mereka bersedih.
"Keep Smile dong Ren, kamu tuh gak boleh sedih, cukup hidup kamu aja yang menyedihkan kamunya jangan ya..." Petuah Geo menarik Seren untuk naik ke atas motornya.
"Kamu memang bisa buat aku bahagia, Btw gimana kelas kamu hari ini?" Tanya Seren menyamankan duduknya.
"Asyik, kayak biasa. Tadi aku ada kelas Photografi, terus photo-photo doang edit di Adobe, serahin dan dapat nilai kayak biasa." Jawab Geo memakai Helm.
"Emang dapat berapa?"
"98, ckhh! Kurang dua poin karna aku lupa kasih pencahayaan di satu titik."
Geo menyalakan motor dan langsung melaju untuk pulang, Seren di belakang hanya bisa mangut-mangut. Pemuda satu ini memang sangat menggilai jurusannya.
"Sesekali nikmati hiduplah Geo, kamu terlalu keras belajar hingga jarang temenan sama aku."
Geo yang tengah fokus berkendara langsung melirik Seren sedikit.
"Maaf ya Ren, aku ngelakuin ini semua kan karna cita-cita aku yang pengen jadi guru Multimedia suatu saat nanti. Aku pengen bisa jadi guru yang smart buat anak murid aku kelak. Aku gak pengen mereka kekurangan ilmu."
Seren hanya memanyunkan Bibir, dia kemudian berfikir sesuatu hal yang sedikit rumit.
"Menurut kamu, suatu saat aku gimana? Aku jadi apa? Gimana kehidupanku? Apa aku masih...."
Tiba-tiba suasana menjadi dingin, Geo merasa tidak nyaman.
"Kita gak tau masa depan, siapa tau kamu jadi presiden, atau orang kaya. Atau jadi istri billioner Ren. Kita gak ada yang tau, namun yang pasti kita harus terus semangat dan berfikiran positif buat masa depan kita."
"Gimana dengan jodoh?" Tanya Seren spontan, hingga membuat Geo sedikit tegang.
"A- entahlah, menurut kamu?" Tanya Geo balik.
"Aku gak tau, aku belum pernah suka seseorang sejauh aku suka sama kamu. Tapi kamu nolak aku terus." Ucap Seren jujur, ia bahkan sudah menyilangkan tangan di dada.
"Hahahaha... Aku udah bilang kita cocoknya jadi sahabat aja, kalau di bawa ke asmara alu gak bisa bayangin Ren." Balas Geo tertawa canggung.
.
.
.
"Waw... rumah siapa ni?" Tanya Geo menatap rumah 2 lantai dengan arsitektur modern.
"Rumah orang. Udah makasih ya." Kata Seren melangkah masuk.
"Tunggu Ren," Geo langsung turun dari motor dan berjalan ke arah Seren yang berbalik menatapnya.
"Apa-"
Cup.
"Hari ini, esok, dan seterusnya aku pengen kamu ngak bersedih lagi. Besok aku bakal rajin ke kelas kamu lagi kayak biasanya." Sambung Geo setelah mencium kening Seren.
"A-apa yang kamu lakuin?" Tanya Seren dengan wajah bersemu.
Geo hanya membalas dengan senyum ceria, ia menyalakan motor dan berlalu pergi meninggalkan Seren yang masih merasa malu dengan kejadian barusan.
Dilain sisi..
"Ups... Ada yang panas dada."
"Diam aja kamu Rasyid!" Balas William pergi.
Rasyid hanya tertawa tanpa suara melihat William yang kesal setelah melihat Seren dan seorang pemuda bermesraan di depan rumah.
.......
.......
.......
.......
.......
...TBC...