NovelToon NovelToon
Ameera

Ameera

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Tamat
Popularitas:3.9M
Nilai: 4.9
Nama Author: Qinan

Bacaan khusus dewasa (***)

Ameera, gadis polos yang pura-pura tegar. Sedangkan Awan pria mesum yang sangat terobsesi dengan Ameera.

Bagaimana cara Awan menghadapi Ameera yang teramat polos, segala cara ia gunakan agar berhasil memiliki gadis itu.

Apa setelah menjadi kekasih mereka akan berakhir bahagia? tentu saja belum, karena mereka harus berjuang mendapatkan restu dari kedua orangtua Awan.

Kisah cinta mereka begitu mengharukan, ada perjuangan dan penghianatan di dalamnya.

Yuk baca AMEERA sebuah cerita cinta yang di adaptasi dari kisah nyata yang tentunya di sisipi kehaluan ala Author.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Qinan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Berbohong demi kebaikan

💥Ada yang lebih indah dari dunia dan isinya, yaitu melihat tawa orang tua yang bahagia💥

"Jadi kamu satu divisi dengan Ameera ?" tanya pak Andre sembari minum teh bersama Awan di teras rumahnya.

Mereka yang tadinya berada di dalam rumah, kini nampak lebih akrab saat berbincang santai di luar rumah. Taman yang luas diserta kicauan beberapa burung milik sang pemilik rumah menambah suasana santai sore itu.

"Benar Om." sahut Awan setelah menyesap secangkir tehnya.

"Soal Ameera Om jangan khawatir, saya janji akan selalu menjaganya dan memastikan dia akan baik-baik saja." imbuhnya lagi dengan bersungguh-sungguh yang langsung membuat pak Andre menatapnya.

Pria setengah baya itu nampak mengulas tipis senyumnya saat melihat kesungguhan pemuda yang duduk di kursi sebelahnya tersebut.

"Terima kasih Nak Awan, dari kecil Ameera anak yang manja tapi dia keukeh ingin hidup mandiri. Karena itu saya terpaksa mengikuti keinginannya untuk bekerja diluar kota, semoga saja Ameera di sana bisa menjaga kepercayaan kami." ucap pak Andre dengan penuh harapan, kemudian pandangannya nampak jauh melihat ke depan berharap putri kesayangannya tersebut baik-baik saja.

"Saya tahu itu Om, tapi tolong percaya sama saya. Saya pasti akan menjaga Ameera untuk Om." sahut Awan meyakinkan.

Pak Andre menatapnya lagi, kemudian ia mengangguk-anggukkan kepalanya. Mencoba mempercayai pemuda asing dengan pembawaannya yang sangat sopan itu.

Hingga malam menjelang, Awan baru meninggalkan rumah calon mertuanya tersebut setelah makan malam bersama.

Sepertinya untuk sementara waktu Awan memilih menahan dirinya untuk tidak mengatakan yang sejujurnya, ia tidak ingin hubungan baik yang baru ia jalin dengan pak Andre akan rusak karena perbuatannya pada Ameera.

Bukan berarti ia laki-laki pengecut, ia hanya tidak ingin kedua orang tua Ameera maupun keluarganya sendiri kecewa dikarenakan perbuatan bejatnya.

Ia ingin mereka tahu jika ia menikahi Ameera semata-mata karena mencintainya bukan karena sudah merusaknya.

Malam itu Awan nampak menghela napas panjangnya saat menatap bangunan rumah di mana ia telah di besarkan.

Beberapa bulan tak menginjakkan kakinya di rumahnya tersebut, membuatnya sangat rindu. Ia merindukan keluarganya, terutama sang ibu.

"Astaga Awan, kenapa tidak bilang dulu kalau mau pulang." nyonya Amanda nampak histeris saat melihat putra satu-satunya itu.

Kemudian ia langsung memberikan banyak kecupan gemas di pipinya lalu memeluknya.

"Mama sangat merindukanmu, gara-gara kamu memilih kerja di daerah pelosok kita jadi jarang ketemu." keluh nyonya Amanda dengan sedikit kesal.

"Lihatlah kamu sangat kurus sekarang, kamu pasti tidak teratur makan kan." imbuhnya lagi setelah memandang putranya tersebut.

"Jangan lebay deh Ma, berat badanku justru naik dua kilo." kilah Awan seraya mengajak sang ibu untuk duduk kembali ke sofa yang ada di ruang keluarganya.

Kemudian ia mencium tangan sang Ayah yang juga duduk di sofa tersebut dengan takdzim.

"Oh, jadi kamu lebih bahagia jika berada jauh dari Mama." sewot wanita paruh baya keturunan Belanda tersebut.

Meski usianya sudah kepala empat tapi penampilannya sangat modis bak anak remaja hingga ia terlihat seperti adik kakak dengan Awan.

"Bukan begitu, Ma." Awan nampak menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

"Lihatlah Pa, anakmu sudah nggak sayang mama lagi." aduhnya pada sang suami.

Sementara pak djoyo Kesuma nampak terkekeh melihat istrinya yang merajuk seperti anak kecil.

"Jadi bagaimana, kamu betah di sana ?" tanya pak Djoyo membuka pembicaraan.

"Betah pa, sangat betah malahan." sahut Awan mengulas senyumnya bahkan senyumnya sangat lebar mengingat sosok Ameera yang telah berhasil mencuri hatinya.

Mendengar jawaban sang putra, nyonya Amanda langsung sewot. "Pokoknya Mama nggak mau tahu, kamu harus segera pindah ke kantor pusat. Mama nggak suka kamu banyak bergaul dengan orang-orang nggak jelas dan tidak sederajat dengan kita." ucapnya kemudian.

"Awan sudah besar Ma, bukan anak kecil yang bisa mama atur-atur lagi." protes Awan tak suka.

"Benar kata Awan, Ma. Biar dia belajar dari bawah dulu agar tahu keadaan di lapangan seperti apa." timpal pak Djoyo membela sang putra.

"Tapi mama khawatir Pa, Awan akan kecantol sama perempuan yang nggak benar dan nggak sederajat dengan kita." keluh nyonya Amanda yang langsung membuat Awan mendesah pelan.

Ia harus membuat sang ibu menerima Ameera, gadis dari kalangan biasa yang sangat ia cintai.

"Memang kalau orang biasa kenapa sih Ma? yang penting kan baik." pancing Awan ia ingin melihat reaksi sang ibu.

Dan sesuai dugaannya, wanita berambut panjang bergelombang dan bercat cokelat itu langsung mencak-mencak mendengar ucapan putra kesayangannya tersebut.

"Jadi benar kamu berhubungan dengan gadis biasa, siapa gadis itu? mama ingin bertemu dan menyuruhnya untuk meninggalkanmu. Dasar perempuan nggak tahu diri." sungut nyonya Amanda berapi-api.

"Nggak ada Ma, orang cuma bercanda." tukas Awan kemudian.

Sepertinya ia harus mencari waktu untuk jujur pada kedua orang tuanya, melihat perangai sang ibu yang bisa melakukan segala cara ia jadi khawatir dengan Ameera.

Apalagi hubungannya dengan Ameera sedang tidak baik-baik saja, kalau gadis itu sampai tahu jika ibunya tidak menyetujui hubungannya maka bisa di pastikan Ameera akan menyerah dan meninggalkannya.

Awan nampak mengusap wajahnya dengan kasar dan itu tak luput dari perhatian sang ibu.

"Kamu kenapa ?" tanyanya dengan nada curiga.

"Capek, Ma." sahut Awan, kemudian ia beranjak dari duduknya.

"Kamu mau kemana ?" tanya nyonya Amanda saat Awan hendak pergi.

"Istirahat Ma." sahut Awan.

"Kamu di sini lamakan? mama mau ngenalin seseorang." tukas nyonya Amanda yang sudah bisa Awan tebak, ibunya itu selalu saja ingin menjodohkannya dengan anak dari teman-teman sosialitanya.

"Besok siang aku balik." sahut Awan yang langsung membuat sang ibu protes.

"Kenapa cepat sekali ?" ucapnya tak terima.

"Karena aku harus kerja, Ma. Lagipula ini belum waktunya aku cuti, karena tadi kebetulan lagi ada meeting di kantor pusat makanya aku mampir." sahut Awan beralasan yang langsung membuat sang ibu tak bersemangat.

"Padahal mama mau ngenalin kamu sama saudara jauh mama, dia sangat cantik, modis, pintar dan tentunya bibit, bebet dan bobotnya jelas." ucapnya kemudian.

Awan nampak menghela napasnya pelan. "Lain kali saja, Ma. Aku sangat capek." ucapnya lalu mencium pipi sang ibu kemudian ia berlalu menaiki anak tangga menuju kamarnya.

"Astaga nih bocah, bisa nggak sih nurut dikit." gerutu nyonya Amanda sedikit kesal.

Sedangkan pak Djoyo nampak sibuk membaca surat kabar di tangannya. Pria paruh baya itu sepertinya sangat hafal dengan perangai sang istri.

Sementara itu Ameera yang baru selesai membersihkan dirinya malam itu nampak bergegas menjawab panggilan teleponnya setelah melihat nama sang ayah tertera di layar.

"Assalamu'alaikum Ayah." ucapnya memberikan salam.

"Wa'alaikumsalam Nak, gimana kabar putri Ayah ?" sahut pak Andre dari ujung telepon.

"Baik yah, bagaimana kabar Ayah sama bunda ?" tanya balik Ameera.

"Kami semua baik, Nak. Tadi ada pemuda datang ke rumah, katanya teman kantor kamu." tukas pak Andre yang langsung membuat Ameera terkejut.

"Si-siapa yah ?" tanya Ameera penasaran.

"Namanya Awan."

Deg!!

"Mas Awan ?" gumam Ameera dalam hati, ia langsung panik saat mengetahui jika Awan yang datang ke rumahnya.

"Nak, kamu baik-baik saja ?" tanya pak Andre saat putrinya tersebut terdiam.

"Iya Ayah Meera baik-baik saja, mas Awan datang ke rumah mau ngapain yah ?" selidik Ameera, ia takut jika Awan menceritakan perbuatannya pada sang Ayah.

"Dia bilang teman dekatmu, katanya kebetulan sedang mengunjungi orang tuanya jadi sekalian mampir ke rumah." tukas pak Andre yang langsung membuat Ameera merasa tenang, ia bersyukur Awan tidak menceritakan segalanya yang pasti akan membuat kedua orangtuanya kecewa.

"Oh gitu." sahut Ameera bernada lega.

"Dia teman dekatmu atau pacarmu, Nak ?" tanya pak Andre kemudian.

"Cu-cuma teman kok yah." sahut Ameera berbohong, karena ia sendiri tidak tahu bagaimana hubungannya dengan Awan saat ini.

Lagipula ia juga tidak mau membuat ayahnya tersebut khawatir jika mengetahui anak gadisnya sudah mempunyai pacar dan berpikiran akan melakukan hal-hal yang tidak pantas padahal dirinya memang sudah melakukan hal itu.

Hingga 30 menit kemudian Ameera baru mematikan ponselnya, berbicara dengan kedua orang tuanya selalu saja membuatnya lupa waktu.

Dan yang membuatnya lega, ternyata kedatangan Awan menemui kedua orangnya agar di izinkan untuk menjaganya.

"Maafkan aku yah." gumamnya karena telah membohongi sang Ayah.

Keesokan harinya....

Siang itu Awan kembali ke kantornya meski sang ibu berusaha membujuknya untuk tetap tinggal, namun ia bersikeras tetap pergi karena sudah sangat rindu dengan Ameera.

Setelah sampai di messnya sore itu, ia melihat Ameera sedang melewati kamarnya. Tanpa berpikir panjang ia langsung membuka pintu kamarnya kemudian menarik tangan gadis itu hingga masuk ke dalam kamarnya.

1
Ruwi Yah
kamu salah menilai fajar meera dia tidak sebaik yg kamu kira
Rafly Rafly
balasan yg setimpal... berbakti sana sama emak mu awan.../Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Rafly Rafly
kamu ngempeng sana sama simbok mu WAN...pria lemah syahwat saja sok belagu..
tinggal saja laki laki sampah itu merra
Rafly Rafly
nggak anak.. nggak bapak...bangke semua...di tindas perempuan diam ...
Rafly Rafly
Bimo.. Bimo..laki laki kok mulut lemess
ganti nama saja Bimoli..bibir monyong lima centi /Facepalm/
Rafly Rafly
nilai dgn senyuman...lalu..makan
nobita
rupanya papa mertuanya Ameera balas dendam
nobita
dasar mertua laknat... mulut nya pedas sekali.. bagaikan bon cabe level 50
nobita
dasar calon mertua jahat...
nobita
lucu sihh dengan sikapnya Awan ke Ameera..... bikin para readers gemes
nobita
aku mampir kak
kang seblak
itu kesalahan orang tua dlm mendidik anak,sayang anak bukan berarti harus di manja sehingga anak gk bisa apa"
Nurhasanah
yahh gini amat y ending y, 😭😭😭
Esin naufal
sad ending..
Irlindawati
Luar biasa
Ibelmizzel
lajut baca
AyuNia
keren cerita nya...
Hani Ekawati
Wkwkwkwk ..🤣
Hani Ekawati
😆😆😆😆😆😆😆😆😆😆😆😆😆
Murniyati
menghibur n byk crita yg bisa di ambil mamfaatnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!