Aini adalah seorang istri setia yang harus menerima kenyataan pahit: suaminya, Varo, berselingkuh dengan adik kandungnya sendiri, Cilla. Puncaknya, Aini memergoki Varo dan Cilla sedang menjalin hubungan terlarang di dalam rumahnya.
Rasa sakit Aini semakin dalam ketika ia menyadari bahwa perselingkuhan ini ternyata diketahui dan direstui oleh ibunya, Ibu Dewi.
Dikhianati oleh tiga orang terdekatnya sekaligus, Aini menolak hancur. Ia bertekad bangkit dan menyusun rencana balas dendam untuk menghancurkan mereka yang telah menghancurkan hidupnya.
Saksikan bagaimana Aini membalaskan dendamnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bollyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Skandal Kantor dan Gugatan yang Menghancurkan
Udara di lobi kantor Artha Kencana Group terasa jauh lebih berat dan menyesakkan bagi Varo pagi itu. Ini adalah hari pertamanya kembali menginjakkan kaki di gedung ini setelah drama pernikahan sirinya dengan Cilla menjadi buah bibir satu desa. Ia sengaja mengenakan setelan jas termahalnya, berharap penampilan perlente dan jabatan manajernya masih mampu membungkam mulut-mulut tajam bawahannya.
Namun, baru saja ia melewati meja resepsionis, suasana langsung berubah. Bisik-bisik yang tadinya pelan berubah menjadi tatapan mata yang menghakimi, penuh dengan hinaan yang tak terucap.
"Kenapa mereka menatapku seolah-olah aku ini sampah masyarakat?" gumam Varo sambil terus melangkah, meskipun keringat dingin mulai membasahi punggungnya.
"Pakaianku rapi, parfumku berkelas. Tidak ada yang salah dengan diriku. Mereka hanya iri!"
Ketegangan mencapai puncaknya saat ia memasuki lift. Di dalamnya sudah ada tiga orang karyawan yang langsung terdiam seribu bahasa begitu Varo masuk. Keheningan itu terasa mencekam, hanya terdengar suara dengung mesin lift yang naik perlahan. Varo merasa risi karena salah satu dari mereka terus meliriknya melalui pantulan cermin lift dengan ekspresi jijik.
"Ada masalah dengan saya?! Kenapa mata kalian tidak bisa diam?! Apa saya terlihat seperti tontonan sirkus?!" bentak Varo, mencoba meledakkan otoritasnya untuk menutupi rasa malu yang membakar dada.
"Maaf, Pak... kami tidak bermaksud apa-apa," jawab salah seorang karyawan dengan nada yang tidak lagi mengandung rasa hormat, melainkan rasa malas yang kentara.
"Jaga sikap kalian! Ingat, saya ini manajer di sini! Sekali lagi saya lihat kalian tidak sopan, saya tidak akan segan-segan memproses surat pemecatan kalian detik ini juga! Kalian pikir mencari pekerjaan itu mudah?!" ancam Varo dengan wajah kaku dan rahang yang mengeras.
Begitu pintu lift terbuka, ketiga karyawan itu langsung melesat keluar secepat mungkin, seolah-olah mereka baru saja terjebak di dalam ruang sempit bersama predator yang haus darah. Varo mendengus kasar, ia terbiasa ditakuti, namun kali ini ia merasakan sesuatu yang lebih menyakitkan: ia dianggap hina.
Di area kerja kubikel yang terbuka, Maya dan Sari sedang asyik merapat di depan satu layar komputer. Mereka sedang menonton sebuah video yang telah diputar ribuan kali sejak semalam.
"Gila ya, Sari! Gue masih merinding tiap kali lihat video penggerebekan itu. Pak Varo yang di kantor gayanya sok alim, hobi ceramah soal integritas dan moralitas, ternyata busuknya minta ampun! Main gila sama adik iparnya sendiri!" bisik Maya dengan nada menghina yang tidak ditutup-tutupi.
"Bener banget, May. Itu namanya pengkhianatan paling jahat! Bayangin, Mbak Aini sesabar itu, sebaik itu, eh suaminya malah selingkuh sama adik kandung Mbak Aini sendiri. Itu mah bukan cuma selingkuh, itu namanya menghancurkan satu keluarga sekaligus. Dunia beneran sudah gila!" timpal Sari sambil menggeleng-gelengkan kepala dengan rasa muak.
"Kalau gue jadi Mbak Aini, nggak perlu pakai drama, langsung gue bakar saja itu baju-bajunya di depan rumah! Manusia nggak punya hati nurani kayak Pak Varo dan pelakornya itu nggak pantas dapat maaf. Harusnya mereka diusir dari muka bumi!" ucap Maya ketus, bibirnya mencibir sinis.
Bino muncul dari arah pantry sambil membawa dua gelas kopi.
"Waduh, Maya... Sari... omongan kalian pedas banget pagi-pagi begini. Tapi jujur, gue setuju sih. Karakter orang memang kelihatan kalau sudah dikasih kekuasaan dan sedikit godaan."
"Bodo amat, Bino! Gue paling nggak tahan sama laki-laki model Pak Varo. Sok suci, sok berkuasa, padahal aslinya pecundang. Lo lihat saja, nggak akan lama lagi dia bakal jatuh sejatuh-jatuhnya," sahut Maya penuh keyakinan.
Bino terkekeh kecil, namun matanya melirik ke arah pintu lobi.
"Ya sudah, bubar-bubar. 'Singa' ompongnya sudah datang dengan wajah yang ditekuk sampai ke lantai."
Varo melangkah dengan gaya yang dibuat-buat gagah, meskipun hatinya bergetar.
"Kenapa kalian malah bergosip di jam kerja?! Maya! Sari! Kembali ke meja kalian! Apa kalian mau saya potong bonus akhir tahunnya karena kerjanya cuma ngerumpi?!"
Setelah kedua wanita itu pergi dengan wajah jengah dan langkah malas, Varo menatap Bino dengan tajam.
"Bino! Ikut saya ke ruangan sekarang! Saya ada tugas mendesak untuk kamu!"
Di dalam ruangan manajer yang ber-AC dingin, Varo tidak membuang waktu untuk berbasa-basi. Ia langsung melemparkan sebuah map tebal berisi tumpukan dokumen laporan anggaran bulanan ke depan Bino hingga berkas-berkasnya berserakan di atas meja.
"Kerjakan ini semua. Saya mau semua data ini diverifikasi, dihitung ulang, dan laporannya sudah masuk ke email saya sebelum jam satu siang ini! Jangan ada alasan telat!" perintah Varo tanpa perasaan, seolah-olah Bino adalah mesin.
Bino tidak langsung mengambil map itu. Ia menatap tumpukan kertas itu, lalu beralih menatap wajah Varo dengan tatapan yang sangat datar, bahkan cenderung menantang.
"Maaf, Pak Varo. Bukannya saya mau membantah, tapi ini bukan bagian dari tugas saya. Ini adalah tugas administratif tingkat manajerial yang menjadi tanggung jawab Bapak sepenuhnya. Bapak yang harus memverifikasi dan menandatangani ini, bukan saya," ucap Bino dengan intonasi yang tenang namun sangat tegas.
Varo terbelalak, ia tidak menyangka Bino yang biasanya penurut akan melawannya di saat situasinya sedang sulit.
"Jangan banyak tanya dan jangan banyak protes, Bino! Saya sedang banyak urusan penting yang harus diselesaikan. Kamu itu bawahan saya, tugas kamu adalah patuh dan meringankan beban pekerjaan saya! Kerjakan sekarang!"
"Pekerjaan mendesak apa, Pak? Menghapus jejak video viral Bapak yang sudah ditonton satu kantor ini?" balas Bino dengan sindiran yang sangat tajam.
BRAKKK!
Varo memukul meja dengan kedua kepalan tangannya hingga vas bunga kecil di pojok meja bergetar.
"SOMBONG KAMU YA! Kamu pikir kamu siapa berani bicara seperti itu kepada saya?! Kamu mau saya pecat hari ini juga?! Saya bisa buat kamu jadi pengangguran dalam sekejap!"
Bino tidak gentar sedikit pun. Ia justru maju selangkah, menatap langsung ke dalam mata Varo yang memerah karena amarah.
"Silakan saja kalau Bapak mau coba. Tapi ingat, Pak Varo... ini Artha Kencana Group, perusahaan profesional. Bapak bukan pemilik tunggal di sini. Bapak tidak bisa sewenang-wenang memecat orang hanya karena dendam pribadi atau karena saya menolak melakukan tugas yang bukan kewajiban saya."
"Kurang ajar! Kamu benar-benar sudah bosan hidup atau sudah bosan kerja di sini?!" teriak Varo, suaranya mulai terdengar sampai ke luar ruangan.
"Saya hanya ingin bekerja secara profesional, Pak. Dan tolong Bapak ingat satu hal penting. Pak Davin, direktur utama kita, sudah mengeluarkan surat peringatan keras (SP3) untuk Bapak bulan lalu soal penyalahgunaan wewenang dan sikap arogan Bapak kepada karyawan. Kalau Bapak nekat memecat saya tanpa alasan yang sah secara hukum perusahaan, saya tidak akan segan-segan membawa masalah ini ke HRD dan langsung menghadap Pak Davin," tantang Bino balik tanpa ada rasa takut.
Varo terdiam, napasnya memburu, rahangnya mengeras hingga otot-otot di lehernya menonjol. Ia sadar posisinya sedang sangat lemah. Skandal perselingkuhannya sudah merusak citranya, dan sekarang ia kehilangan kendali atas bawahannya sendiri.
"Satu hal lagi yang perlu Bapak tahu... lebih baik Bapak mulai merapikan barang-barang Bapak. Pak Davin sedang memantau perkembangan skandal ini dari luar negeri. Video Bapak itu sudah mencoreng nama baik perusahaan. Semua orang sudah tahu kualitas moral Bapak yang sebenarnya," ucap Bino dengan nada dingin sebelum ia berbalik, membuka pintu, dan keluar dari ruangan tanpa menunggu izin sedikit pun.
Varo meraung frustrasi di dalam ruangannya. Ia menyapu semua barang di atas mejanya—telepon, berkas, hingga laptop—sampai semuanya jatuh berhamburan ke lantai. "SIALAN! Semuanya hancur! Semuanya gara-gara Aini dan video sampah itu!"
Beberapa hari kemudian, di kediaman Varo...
Badan Varo terasa sangat panas, menggigil hebat, dan kepalanya terasa seperti dihantam godam raksasa. Tekanan mental di kantor dan rasa malu yang terus menghantuinya membuatnya tumbang. Ia terpaksa pulang lebih awal untuk beristirahat.
"Mas Varo? Kok jam segini sudah sampai rumah? Masih jam dua siang, Mas," tanya Cilla yang sedang asyik bersantai di ruang tamu sambil memakan camilan mahal.
"Mas sakit, Cilla. Kepalaku rasanya mau pecah, badanku lemas semua," sahut Varo sambil memijat pelipisnya dengan wajah pucat pasi.
Cilla bangkit dan menyentuh dahi Varo sejenak. "Duh, panas banget memang. Ya sudah, Mas masuk kamar dulu gih, nanti aku buatin teh hangat sama ambilkan obat."
Baru saja Varo hendak melangkah menuju kamar, terdengar ketukan pintu yang sangat keras dan beruntun dari luar.
Tok! Tok! Tok! Tok!
"Permisi! Paket dokumen sangat penting untuk Pak Varo! Harus diterima langsung!" teriak seorang kurir dari luar dengan suara lantang.
Cilla segera membuka pintu. Seorang kurir berseragam dinas menyerahkan sebuah amplop cokelat tebal yang tersegel rapi.
"Benar ini dengan alamat Pak Varo? Saya tadi ke kantor katanya Bapak sudah pulang lebih awal karena sakit."
Varo mendekat dengan langkah gontai, mencoba menahan rasa pusingnya.
"Iya, saya sendiri. Surat dari instansi mana ini, Pak?"
"Silakan tanda tangan di sini dulu, Pak. Saya hanya kurir resmi yang menjalankan tugas pengantaran dokumen hukum," ucap kurir tersebut dengan wajah formal.
Setelah kurir itu pergi, Varo membuka amplop tersebut dengan tangan yang bergetar hebat. Begitu ia melihat kop surat dengan stempel resmi berwarna merah dan tulisan yang sangat jelas, matanya membelalak kaget. Rasa sakit kepalanya seolah hilang berganti dengan rasa sesak di dada.
"PENGADILAN AGAMA?!" Varo memekik dengan suara serak.
Cilla langsung merampas surat itu dari tangan Varo. Matanya menyisir barisan kalimat di dalamnya dengan cepat.
"APA?! Mbak Aini... dia beneran menggugat cerai kamu, Mas?! Lihat ini, tanggal pendaftarannya sudah dari tiga hari yang lalu! Dia serius mau pisah!"
Varo jatuh terduduk di lantai teras rumahnya, badannya bergetar hebat, air mata mulai menggenang di matanya yang sayu.
"Aini... tega kamu, Ai... Kenapa harus sampai ke pengadilan? Aku tidak mau cerai! Aku masih butuh kamu untuk mengurus rumah dan Ibu!"
Cilla malah mendengus sinis, ada kilat kepuasan dan kemenangan di matanya.
"Bagus dong, Mas! Harusnya kamu itu bersyukur. Kita jadi nggak usah pusing-pusing mikirin cara buat ceraikan dia. Kalau dia yang duluan minta, itu artinya dia yang menyerah. Mas bisa fokus sama aku sepenuhnya, tanpa ada gangguan dari perempuan itu lagi!"
"Ada apa ini? Kenapa ada suara tangisan dan ribut-ribut di depan?" Ibu Sarah keluar dari arah dapur dengan wajah bingung.
"Ini lho, Bu! Menantu kebanggaan Ibu dulu, si Aini, sudah resmi mengirimkan surat gugatan cerai untuk Varo! Dia beneran mau meninggalkan anak Ibu!" lapor Cilla dengan senyum kemenangan yang lebar.
"Apa?! Akhirnya si mandul itu sadar diri juga!" Ibu Sarah tertawa meremehkan tanpa ada rasa kasihan sedikit pun.
"Bagus kalau dia tahu diri. Ngapain kamu pertahankan perempuan yang sudah berani melawan mertua, pelit sama uang, dan nggak bisa kasih cucu buat Ibu. Ini adalah hari kemenangan kita, Varo!"
"Tapi Bu... Varo tidak sanggup kalau harus pisah dari Aini. Selama ini dia yang urus semua keperluan Varo! Varo sayang sama dia!" rengek Varo, air matanya kini tumpah membasahi pipinya.
Ibu Sarah langsung melotot tajam, ia berkacak pinggang di depan anaknya yang sedang terduduk lemah.
"VARO! Dengar baik-baik ucapan Ibu! Kamu mau pilih perempuan mandul yang sudah mempermalukan keluarga kita di depan orang banyak itu, atau kamu mau pilih Ibu?! Kalau kamu berani membatalkan perceraian ini atau mencoba mengejar-ngejar dia lagi, detik ini juga Ibu dan Bapak akan angkat kaki dari rumah ini dan anggap kami sudah mati! Ibu tidak mau punya anak yang lebih sayang sama istri pembangkang daripada ibunya sendiri!"
Varo terpojok. Ketakutannya pada amarah sang ibu jauh lebih besar daripada rasa cintanya yang tersisa untuk Aini. Ia terjepit di antara harga diri yang hancur, rasa bersalah, dan bakti yang salah jalan.
"Jawab Ibu sekarang! Pilih Ibu atau pilih Aini?!" bentak Ibu Sarah sekali lagi dengan suara menggelegar.
Varo menunduk dalam-dalam, bahunya terguncang hebat karena tangisan yang tertahan.
"Ba-baik, Bu... Varo akan proses perceraian ini. Varo tidak akan mengejar Aini lagi. Varo pilih Ibu..."
Ibu Sarah dan Cilla saling beradu pandang dengan senyum kemenangan yang sangat lebar. Mereka tidak menyadari, bahwa di luar sana, Aini bersama pengacaranya sedang mempersiapkan serangan lanjutan yang jauh lebih mematikan, yang akan membuat mereka semua berakhir menjadi gelandangan tak punya apa-apa.
BERSAMBUNG...