NovelToon NovelToon
Hati Sang Pewaris

Hati Sang Pewaris

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Action / Tamat
Popularitas:1.9M
Nilai: 5
Nama Author: La Lu Na

Ayah adalah cinta pertama seorang anak perempuan. Bagaimana jika seorang anak perempuan memiliki dua orang ayah? Haruskan cinta pertamanya terbagi? Atau harus memilih, kepada siapa dia harus berbakti?

Anak yang dilahirkan karena suatu kesalahan, dan harus ikut menanggung akibatnya seumur hidup. Pada kenyataannya memiliki dua orang ayah yang sangat menyayanginya tidak bisa merubah julukan sebagai anak haram yang telah melekat pada dirinya.

Sebaik apapun anak itu, bagaimanapun usahanya menjadi orang baik, tetap saja cap sebagai anak haram telah melekat padanya seumur hidup. Kisah yang dimulai dari sebuah kesalahan, akankah berakhir dengan kebahagiaan?

Bagaimana seorang anak tetap harus berbakti kepada orang yang telah membuatnya terlahir tanpa mempunyai nasab seorang Ayah.

‘Tidak bisakah aku hanya menjadi seorang anak seperti yang lain?’

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Lu Na, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

❤ Jangan salahkan hujan, datangnya membawa berkah. Tetesan airnya mampu menyejukkan hawa panas. Derasnya mampu mengaliri sungai-sungai yang kering, menyuburkan tanaman yang hampir mati. Hadirnya dirindukan, sekaligus dicela. Walau demikian, hujan tidak pernah malu menjatuhkan dirinya ke bumi.❤

“Jangan naik motor, Sha! Hujannya deres banget.” Ucap Riani setelah anak-anaknya menyelesaikan sarapan dan siap berangkat melaksanakan aktivitas masing-masing.

“Nggak pa-pa, Nda. Ada jas hujan koq.” jawab Aneesha seraya mengambil tas ranselnya.

“Aku nggak bisa bareng dong, Kak?” Tanya Jenar.

“Kalian berdua sama Pak Salim aja, dari pada seragamnya basah.” Ucap Aneesha.

“Gini aja, Kamu sama Jenar diantar Pak Salim, Lingga sama Bunda ayah yang antar. Sekalian Bunda mau pertemuan wali murid di sekolah Lingga. Kan beres semuanya nggak ada yang kehujanan.” Fares memberi saran.

“Okelah kalau gitu, biar nggak telat. Ayo!” Aneesha menyetujui usul ayahnya. Besama Jenar Ia segera mencium punggung tangan Fares dan Riani.

“Jangan lupa bawa payung!” Riani mengingatkan kedua anaknya yang sudah hendak melangkah pergi menuju mobil yang terparkir di depan pintu garasi.

Pagi itu seperti biasa, Aneesha menyiapkan diri berangkat kerja seperti biasa. Walaupun sudah ditemani hujan deras sejak pagi. Sampai di sekolah, Ia juga mengajar seperti biasa. Sampai menjelang siang masih tidak terjadi apa-apa.

Hari ini Ia tidak melihat Varen disekitar sekolah. Mungkin anak itu tidak berangkat sekolah karena malu wajahnya masih memar. Entahlah, Aneesha tidak terlalu memikirkannya. Ia menjalankan aktivitasnya seperti biasa, ngobrol dengan kawan gurunya, menikmati istirahat di kantin seperti biasa. Hujan telah reda, tapi suasana menjelang siang masih cukup syahdu.

Aneesha telah menyelesaikan jam mengajarnya hari ini, kebetulan hari ini tidak ada jadwal mengajar di sekolah lain, jadi Aneesha bisa sedikit bersantai. Sambil ngobrol bersama teman-temannya di ruang guru.

“Bu Aneesha, dipanggil Pak kepsek. Ditunggu diruangannya.” Ucap seorang guru yang baru saja masuk ke dalam ruangan.

“Oh, ya, Bu. Terima kasih. Saya kesana sekarang!” Aneesha berdiri dari duduknya.

“Ada apa, Sha? Kamu nggak nglakuin kesalahan, kan?” tanya Thalia, teman guru yang paling akrab dengannya.

“Kayaknya sih, enggak,” Jawab Aneesha sambil berjalan cepat keluar dari ruang guru.

Ruangan itu terletak di bagian depan bangunan sekolah berdekatan dengan ruang Tata Usaha dan administrasi. Disanalah sekarang Aneesha. Duduk berhadapan dengan orang nomer satu di sekolah tempatnya bekerja.

“Begini, Bu Aneesha. Sebelumnya saya minta maaf jika yang akan Saya sampaikan nanti tidak berkenan untuk Bu Aneesha.” Aneesha mendengarkan kata demi kata yang diucapkan oleh kepala sekolah.

“Setahu Saya masalah antara Anda dengan Varen sudah selesai waktu Kalian berdamai di ruangan ini. Saya juga sudah tidak mempermasalahkannya kembali, karena itu sudah dua bulan berlalu. Tapi Saya tidak mengerti kenapa orang tua Varen baru mempermasalahkannya sekarang.” Aneesha mulai mengerti kemana arah pembicaraan kepala sekolah.

“Baru saja pemilik yayasan dimana sekolah ini bernaung, yang tidak lain adalah orang tua Varen datang kemari menemui Saya. Dan-” kepala sekolah menjeda kalimat, menarik nafas panjang.

“Dan apa Pak?” Tanya Aneesha sudah tidak sabar dengan penuturan kepala sekolah.

“Dan mereka meminta Saya memberhentikan Anda sebagai guru disini. Hari ini, hari terakhir Anda mengajar disini.” Ucap kepala sekolah dengan hati-hati.

“Sebenarnya Saya tidak terkejut, Pak. Saya sudah menduga hal ini akan terjadi.” Aneesha mengakhiri kalimatnya dengan hembusan nafas.

“Sebenarnya berat bagi Saya melepas Anda, Bu. Anda salah satu guru termuda dan berbakat. Tapi keadaan memaksa Saya menyetujui permintaan pemilik sekolah.” Aneesha mengangguk mengerti.

“Tapi tenang saja, Bu. Saya akan membantu merekomendasikan Anda ke sekolah lain. Dan dalam surat keterangan ini, tertulis Anda mengajukan berhenti, bukan diberhentikan. Jangan menyerah sampai disini, ya, Bu.” ucap kepala sekolah menyemangati sambil memberikan amplop putih kepada Aneesha.

“Terima kasih, Pak.” Aneesha menyalami kepala sekolah sebelum akhirnya undur diri dan keluar dari ruangan.

Gadis yang mengenakan setelan baju kerja warna khaky dengan jilbab segiempat motif warna senada itu berjalan kembali ke ruang guru untuk membereskan barang-barangnya. Suasana ruang guru lengang. Penghuninya sebagian besar sedang berada di kelas. Hanya ada beberapa guru yang sedang bersiap akan mengajar.

Aneesha mengemasi barang-barangnya lalu berpamitan dengan beberapa guru yang ada diruangan itu. Walau sudah diperkirakan sebelumnya, Ia tak mengira akan secepat ini orang tua Varen bertindak. Ia sadar telah mempermalukan Varen didepan umum, wajar kalau orang tuanya tidak terima.

Setelah semua barangnya terkemas, Aneesha segera meninggalkan gedung sekolah yang sudah selama lima bulan ini menjadi tempatnya menyalurkan ilmu. Ia berjalan pelan melintasi halaman sekolah, tak lupa Ia juga berpamitan dengan satpam yang berjaga di pintu gerbang.

Sejenak Ia menghentikan langkah saat akan melewati pintu gerbang. Lalu menghela nafas panjang.

“Aneesha!” panggil seseorang membuat Aneesha mengurungkan langkahnya.

“Bu, Thalia ada apa?” Aneesha berbalik menyambut langkah Thalia yang makin mendekatinya.

“Ya ampun, Sha…. Nggak nyangka Aku. Kenapa Kamu mau resign mendadak gini, sih?” Thalia memeluk Aneesha, membuat gadis itu terkesiap. Hampir saja barang-barang yang Ia bawa dalam kardus kecil terjatuh.

“Maafkan Saya, Bu. Dah lama koq rencana resign, Saya merasa kerepotan membagi waktu antara dua sekolah, Bu.” ucap Aneesha beralasan.

Saat itu sebuah mobil sedan berwarna merah berhenti di samping pintu gerbang sekolah. Seorang pria bertubuh tinggi, dengan rambut disisir rapi kebelakang, keluar dari mobil tanpa melepas kaca mata hitamnya. Membuat Thalia melongo memandangnya.

“Bu Thalia? Bu?” Aneesha mengibaskan tangan didepan wajah Thalia. Temannya itu sedang menikmati pancaran kegantengan dari pria yang sedang berbincang dengan satpam.

“Demi Yesus! Cakep banget ciptaanmu, ya, Tuhan…” Gumam Thalia tanpa mengedipkan matanya.

Aneesha mengerutkan kening, kemudian mengikuti pandangan Thalia. Laki-laki yang dipandang Thalia kini sedang berjalan pelan dibelakangnya. Aneesha makin mengernyit melihat pria yang sangat Ia kenal sedang melewatinya. Pria itu menghentikan langkah setelah beberapa langkah melewati Aneesha dan Thalia.

“Aneesha?”

“Ngapain Kakak kemari?” tanya Aneesha menatap pria yang berdiri tak jauh dari dirinya. Reyfan, melepas kaca mata hitam yang bertengger di hidungnya.

“Ada urusan dengan-” Reyfan melangkah mendekati Aneesha. Pria itu mengernyit, memperhatikan Aneesha yang sedang membawa kardus kecil berisi barang-barang.

“Kamu mau pulang?” tanya Reyfan saat telah berada di depan Aneesha. Aneesha hanya mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Reyfan.

“Kamu kenal, Sha?” Thalia yang sejak tadi tidak bisa melepas pandangan pada Reyfan, menarik-narik tangan Aneesha meminta penjelasan.

“Hai, Saya Reyfan. Saya bisa jadi Kakaknya, jika Dia mau menganggap Saya seperti itu.” Reyfan mengulurkan tangan kepada Thalia, sambil melirik Aneesha yang sedang tersenyum-senyum melihat Thalia. Teman gurunya itu sepertinya sedang tidak berada dalam kesadarannya.

“Ehm… maaf tangan Saya.” Reyfan kesulitan menarik tangannya yang masih di cengkeram kencang oleh Thalia.

“Bu Thalia?” panggil Aneesha sambil menepuk bahu Thalia.

“Eh, maaf maaf. Hehe….” Thalia melepaskan jabatan tangannya dengan Reyfan, seketika wajahnya memerah karena malu.

“Ya, sudah Bu. Saya pulang dulu, ya.” Pamit Aneesha sambil menjabat tangan dan berpelukan dengan Thalia.

“Sukses selalu, ya, Sha. Jangan lupakan Aku, kita harus tetap berteman ya?” Thalia menepuk punggung Aneesha dengan sayang.

Reyfan terlihat bingung menyaksikan dua manusia didepannya yang seperti akan berpisah saja, “Ini ada apa, sih? Koq kayak mau pisahan?”

“Iya, hari ini hari terakhir Aneesha mengajar disini.” Reyfan mengernyit mendengar perkataan thalia.

“Iya, Kak. Aku resign.” Ucap Aneesha sambil menatap Reyfan dengan tersenyum.

“Duluan, ya, Kak. Bu Thalia.”

“Hati-hati, Sha.” Ucap Thalia.

Aneesha kemudian berjalan meninggalkan Reyfan dan Thalia. Sejenak Reyfan hanya memandang kepergian Aneesha yang kini sedang berjalan keluar dari pintu gerbang sekolah.

“Aneesha, tunggu!” Reyfan berlari menyusul Aneesha. Mengabaikan Thalia yang terpaku melihat kepergiannya.

“Ada apa Kak?” Aneesha urung melanjutkan langkahnya, Ia menunggu Reyfan menghampirinya.’

“Kamu pulang naik apa?” tanya Reyfan, Ia celingukan mencari sesuatu.

“Belum tahu, mau naik apa. Taksi online mungkin, Kak.” jawab Aneesha sambil mengeluarkan ponsel dari saku blousenya.

“Aku antar saja.” Reyfan merebut kardus kecil penuh buku dan barang-barang lainnya yang dibawa Aneesha. Kemudian berjalan mendahului Aneesha menuju ke mobil yang terparkir di samping pintu gerbang sekolah.

“Katanya Kakak ada urusan disini?” tanya Aneesha menyusul Reyfan yang sekarang sedang membuka pintu mobil bagian belakang, dan menaruh barang-barang Aneesha disana.

“Itu bisa ditunda koq. Ayo!” Reyfan menutup pintu belakang mobil kemudian mendorong pelan bahu Aneesha. Memintanya masuk kedalam mobil setelah membukakan pintu untuk adik angkatnya itu.

Aneesha terdiam pasrah, saat Reyfan mulai melajukan mobilnya pelan menyusuri jalan depan sekolah yang tak terlalu lebar. Ia memandangi gedung sekolah dari pantulan kaca spion, yang makin menjauh. Lalu tersenyum simpul sambil menarik nafas panjang.

“Ehm, mau makan dulu nggak Sha? Kamu pasti belum makan siang, kan?” Tanya Reyfan, seolah ingin memberi perhatian kepada Aneesha.

“Nggak usah sok perhatian, deh. Itu bukan Kakak banget.” jawab Aneesha ketus.

“Paham banget Kamu, kalau Aku lagi pura-pura, ha ha ha.” Bukannya mengelak, Reyfan malah membenarkan perkataan Aneesha. Membuat gadis itu memutar bola matanya, kesal.

Aneesha hanya diam, saat mobil yang dikendarai Reyfan mulai berbelok kearah jalan Raya. Ramai kendaraan bermotor yang saling susul menyusul membuat Reyfan beberapa kali mengumpat. Namun hal itu tidak diperdulikan oleh Aneesha, Ia hanya sesekali menarik nafas panjang dan menghembuskannya pelan.

“Kamu nggak harus buru-buru sampai rumah, kan?” tanya Reyfan mulai memelankan laju kendaraannya.

“kenapa emangnya?” Aneesha malah balik bertanya.

“Aku mau mampir mini market sebentar beli rokok, nggak apa, kan?”

“Heem,” Aneesha menjawab singkat.

Reyfan makin memelankan laju kendaraannya, kemudian berbelok dan berhenti di depan mini market paling populer di negri ini. Sebuah mini market yang bisa ditemukan dimana saja, karena hampir tiap kecamatan ada.

Reyfan keluar dari mobil, diikuti Aneesha juga ikut keluar dari mobil. Dua pria dan wanita itu berjalan beriringan memasuki mini market.

“Ngapain ikut turun?” tanya Reyfan saat menyadari Aneesha berjalan di belakangnya.

“Mau beli kopi,” Jawab Aneesha singkat.

Mereka melanjutkan langkah. Aneesha menuju mini bar yang ada di dalam mini market. Sedangkan Reyfan menuju ke tempat kasir untuk membeli rokok. Reyfan menyelesaikan transaksinya duluan, kemudian Ia menunggu Aneesha dengan duduk di kursi yang tersedia di depan mini market sambil menyalakan rokoknya.

Tak lama kemudian Aneesha datang dengan membawa dua cup minuman berbeda jenis. Ia meletakkan minuman itu di meja, “Kakak mau minum yang mana?”

“Ini aja.” Reyfan mengambil cup berisi minuman kopi dengan topping cream diatasnya. Dengan begitu Aneesha mengambil cup berisi smooties rasa mangga.

Mereka duduk berdua, namun tidak ada pembicaraan diantara mereka. Hanya saling sibuk dengan urusannya masing-masing. Reyfan menikmati rokok sambil sibuk berbicara dengan seseorang melalui panggilan ponsel, sedangkan Aneesha juga sedang sibuk memainkan ibu jarinya diatas layar ponsel.

“Ck,” Aneesha mencebik, tiba-tiba Ia meletakkan ponselnya diatas meja dengan kasar.

Reyfan melirik ponsel yang tak bersalah itu, layarnya menampilkan sebuah nama kontak yang terdial tapi tidak segera terjawab. Reyfan mengambil ponsel milik Aneesha, mere-dial nomor kontak itu. Masih tak terjawab, lalu Ia melihat daftar riwayat panggilan. Ternyata Aneesha sudah lebih dari 12 kali mendial nomer tersebut.

“Lagi sibuk, kali Dia.” Reyfan meletakkan hp milik Aneesha diatas meja, mencoba meredakan kekesalan gadis di depannya itu.

“Sesibuk apapun, Kak Tara nggak pernah mengabaikan panggilanku.” Aneesha menyeruput smooties yang dari tadi hanya didiamkannya.

“Lagi sholat kali, orang kalau lagi sholat kan, nggak bisa angkat telepon.” Reyfan kembali mengambil hp Aneesha dan mencoba menghubungi Tara. Nada tersambung sudah terdengar, tapi pemiliknya tidak juga mengangkatnya.

Aneesha terlihat makin kesal dengan perkataan Reyfan, “Sholat apa jam segini? Jam sebelas juga masih kurang lima menit.”

Reyfan tidak menanggapi lagi perkataan Aneesha, tiba-tiba Ia ingin menggaruk alisnya yang tidak gatal. Keduanya kembali diam, menghabiskan minuman mereka masing-masing.

“Ehm, kenapa Kamu resign? Bukannya Kamu seneng ngajar disana?” tanya Reyfan setelah lama mereka berdua hanya diam.

“Aku nggak resign, tapi dipaksa resign.” jawab Aneesha dengan santai.

“Oh … “

Keduanya kembali terdiam, Reyfan sedang menikmati rokok sambil sesekali menyeruput minuman yang dibelikan Aneesha tadi.

“Sebenarnya Aku dah tau, sih.” Ucap Reyfan tiba-tiba. Membuat gadis didepannya mengalihkan fokus dari layar ponsel dan memicingkan matanya.

“Iya, Aku dah tau kalau Kamu dipaksa berhenti dari mengajar di sekolah itu.” Jelas Reyfan, disela menghisap rokoknya.

“Maksudnya?”

“Tadi pagi Danish menelponku, membicarakan soal itu. Dia tahu orang tuanya nggak akan tinggal diam atas tindakan yang Kamu lakukan. Tadinya Aku ingin membicarakan ini dengan kepala sekolah, tapi sepertinya Aku terlambat.” Reyfan menceritakan maksud dari kata-kata sebelumnya. Rokok masih terselip diantara dari tengah dan telunjuknya, mengeluarkan asap mengepul dengan bau tembakau yang khas.

“Ya, gitu, deh.” Ucap Aneesha malas.

“Dah, kuantar pulang aja. Nggak usah minta dijemput Tara!” ucap Reyfan, seraya berdiri dari duduknya.

Aneesha menarik tangan Reyfan saat pria itu hendak melangkah, “Tapi Aku belum ingin pulang, Kak.”

Reyfan mengurungkan langkahnya, menunduk, menatap Aneesha yang sudah melepaskan tangannya.

“Lalu mau tetap disini?”

“Nggak.”

“Terus?”

“Nggak tau. Pokoknya Aku belum pengin pulang.”

Reyfan menarik nafas panjang, kembali duduk di depan Aneesha. Aneesha masih memainkan jemari diatas layar ponselnya. Sambil sesekali menyeruput minuman yang masih tersisa banyak.

“Aha! Aku tahu. Kita ke pantai aja.” Ucap Aneesha dengan raut wajah berbinar, tidak murung seperti tadi.

“Gila Kamu! Siang-siang gini mau ke pantai?” Reyfan terkejut dengan permintaan Aneesha.

“Emang kenapa?” tanya Aneesha santai.

“Tempatnya jauh dari sini, Sha.” Reyfan memberi alasan.

“Ya, cari yang terdekat, dong, Kak.” Aneesha menghabiskan minumannya dengan cepat kemudian berdiri.

“Ayo, Kak! Berangkat sekarang!” Aneesha menarik tangan Reyfan, agar pria itu mau menuruti keinginannya.

“Aku nggak mau, Sha. Minta antar Tara sana!”

“Ck, dah tahu Kak Tara nggak jawab panggilanku tadi, kan?”

“Aku mau ke pantai sekarang pokoknya anterin! Kak Tara lagi sibuk, jadi Kak Reyfan yang harus anter Aku, sekarang!”

“Kamu pikir, Aku nggak sibuk? Siang ini Aku ada rapat tau!”

“Batalin! Pokoknya Kakak harus anter Aku!”

“Ya ampun, Sha. Maksa banget, sih. Kamu pikir itu perusahaan milik Kakekku?”

“Milik Papaku, kan? Papanya Kakak juga. Udah batalin rapatnya, Kita berangkat sekarang!” Aneesha menarik tangan Reyfan, membuat pria itu terpaksa menuruti keinginannya.

mereka berdua telah berada di dalam mobil, dan Reyfan segera memundurkan mobil dan melajukannya di jalan raya yang ramai kendaraan. Reyfan terlihat sibuk menerima panggilan, setelah sebelumnya Ia mengetikkan pesan kepada asistennya untuk membatalkan rapat siang ini. Sedangkan Aneesha tersenyum penuh kemenangan.

Perjalanan cukup jauh mereka lalui untuk sampai di pantai sesuai keinginan Aneesha. Walau Reyfan terlihat kesal, tetap saja pria itu tidak bisa menolak keinginan Aneesha. Kini Aneesha sedang tersenyum puas memandang hamparan pasir dan ombak menggulung di hadapannya.

“Puas banget Kamu mengacaukan kerjaanku,” Ucap Reyfan yang baru saja keluar dari mobil dan berdiri disamping Aneesha.

Aneesha terkekeh, “Katanya Kakak Direktur? Kan bisa berbuat seenaknya.”

“Tidak semudah itu, Sha. Aku tidak bisa meninggalkan pekerjaanku sembarangan. Jika bukan karena Pak Reza, Aku nggak mau nurutin kemauan konyol Kamu itu.” Reyfan terus menggerutu kesal, dasi dan kemejanya sudah tidak beraturan karena tadi Ia menariknya paksa.

“Dah sampai sini, nggak usah marah-marah. Nikmatin aja pemandangannya, oke?” Aneesha menepuk-nepuk punggung Reyfan, sambil menahan tawa.

“Aku ke toilet dulu!”

Reyfan dan Aneesha sama-sama melangkah tapi dengan arah yang berbeda. Baru beberapa langkah Reyfan berhenti dan berbalik badan, “Aneesha! Tunggu!”

“Apa?” Aneesha menoleh mendengar teriakan Reyfan.

“Jangan berbuat yang aneh-aneh dan membuatku repot! Jangan bunuh diri, Aku nggak mau berurusan sama polisi disini.” ucap Reyfan kemudian berlari menuju toilet. Aneesha hanya menggelengkan kepalanya.

“Dasar nggak ada akhlak, Dia pikir Aku senekat itu apa?”

.

.

.

Bersambung......

Terima  Kasih sudah merelakan waktu berhalu bersama Saya, tetap tunggu Aneesha ya! 

Terima kasih untuk yang sudah memberikan KOMENTAR, LIKE dan RATE.

selamat siang

1
Yekti Utami
novel yg bagus, alurnya santai seperti kehidupan nyata....
Risty_Antiq
mas Tama... si duren sawit 😍😍😍
Risty_Antiq
recommend
Y.S Meliana
baru ketemu novel'y kak desi desma alias kak la lu na 😊😊😊
syuuukaaaa bgt sm novel yg pertama kali sy baca, ttg aneesha. nyandu bgt...
cerita'y ga pasaran, trs kalimat² nya ngena dan enak d baca'y.
terimakasih bnyk kak, udh bikin karya yg good abisss poko'y 😊
Desi Desma: terima kasih🤩
total 1 replies
Chalimah Kuchiki
siapa suamiiii jenarrr wweeeh
Chalimah Kuchiki
kami? kami siapa suami jenar.... mungkinkah pak hara
Chalimah Kuchiki
diganti sama pak hara kesayangankuuuu
Maria Kibtiyah
sesuatu yang di paksakan pada akhirnya pasti tidak bahagia ... menyesal pada akhirnya
Maria Kibtiyah
ica anaknya si tara
Maria Kibtiyah
kayaknya yg tunangan indira itu hamzah deh
Maria Kibtiyah
semua orang tau apa yang bakal terjadi sama tara dan aness kecuali aness
Maria Kibtiyah
tuh cewek apakah si maria .. hehe namaku juga maria😁
Maria Kibtiyah
pasti berhubungan sama ortu angkat si tara
Maria Kibtiyah
apa yg nelp si reyfan itu indira secara indira kan di prancis
Maria Kibtiyah
kayaknya bpk angkat si tara gak setuju deh
Chalimah Kuchiki
🤣 ya ampun adik kecil udh ga polos wkkw perasan aku dulu pas MP ga gini weh wkwk tetep malu2 akunya ga kaya aneesha
Chalimah Kuchiki
cie pak hara udh ngobrol aama jenar
Chalimah Kuchiki
sabar ya pak hara ada jenar dimasa depan
Chalimah Kuchiki
hadir enyong dari kebumen 🤭
Chalimah Kuchiki
2012-2018 aku di jkt sering bolak balik ke tangerang. karena punya temen cina benteng terus mainnya ke pasar lama tangerang. sekarang aku dibalikppn dari akhir 2018. ah jadi kangen pasar lama tangerang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!