Satu lembar uang sepuluh ribu rupiah terakhir di dompet Satria sudah berubah bentuk menjadi gumpalan lecek.
Di depannya, layar mesin ATM berkedip-kedip, menampilkan menu penarikan tunai yang terasa mengejek.
Satria menghela napas berat. Ia menekan tombol "Informasi Saldo". Dia sudah tahu angkanya akan mengenaskan, tapi dia tetap perlu melihatnya untuk memastikan seberapa jauh dia harus menahan lapar minggu ini.
Layar berganti. Angka yang muncul membuat jantungnya seolah berhenti berdetak.
SALDO REKENING ANDA:
Rp 270
Bukan 270 ribu. Bukan pula 270 juta. Hanya dua ratus tujuh puluh rupiah.
[SISTEM TOTAL KEKAYAAN]
Sisa Waktu: 00:58:42
Target Pengeluaran: Rp 50.000.000,00
Status Saat Ini: Rp 0 / Rp 50.000.000,00
Peringatan: Kegagalan akan mengakibatkan sanksi 'Kemiskinan Absolut' (Saldo dipotong menjadi Rp 27).
“Lima puluh juta. Satu jam."
"Kepala bapak kau ambyar!” umpat Satria,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode: 26
Mobil sedan tua itu akhirnya berhenti dengan suara decitan rem yang memilukan di depan lobi sebuah restoran eksklusif di bilangan Jakarta Selatan.
Tempat ini adalah restoran bergaya kolonial yang biasanya menjadi titik temu para pengusaha kelas atas untuk mengunci kesepakatan bernilai miliaran rupiah.
Baskoro turun dari kursi belakang dengan sisa-sisa keberanian yang ia miliki.
Di sampingnya, Freya melangkah dengan anggun, meskipun tatapan matanya tidak bisa menyembunyikan rasa cemas yang mendalam.
Satria, yang kini berbalut setelan jas hitam tujuh ratus ribu rupiahnya, turun dari kursi kemudi.
Ia berjalan di belakang mereka dengan langkah tegap, memberikan kesan sebagai seorang pengawal profesional yang waspada meskipun di dalam hati ia sedang sibuk menyumpahi jahitan celana bahannya yang terasa terlalu ketat di bagian paha.
Di dalam restoran, di sebuah meja bundar yang terletak di sudut privat, seorang pria paruh baya bertubuh tambun dengan jam tangan emas berkilau sudah menunggu.
Dialah Panji, rekan bisnis lama Baskoro yang sempat berjanji akan mempertimbangkan pemberian dana talangan darurat.
Namun, suasana hangat yang diharapkan Baskoro langsung menguap ketika mereka mendekati meja.
Di samping Panji, duduk seorang pria lain yang sangat tidak asing bagi mereka.
Budi Hendarso.
Sang paman yang culas itu sedang duduk santai sambil menyilangkan kakinya, menyesap cerutu mahal dengan senyuman kemenangan yang mengembang sempurna di wajahnya.
"Kak... Budi? Kenapa kamu ada di sini?" tanya Baskoro dengan suara yang mendadak tercekat di tenggorokan.
Budi terkekeh, mengembuskan asap cerutunya ke udara dengan gestur yang sangat merendahkan.
"Oh, Baskoro. Jakarta ini sempit, terutama untuk orang-orang yang sedang berada di ambang kebangkrutan seperti kamu."
"Panji ini adalah mitra strategis dari perusahaan baruku sekarang. Jadi, tentu saja aku harus hadir jika ada 'pengemis' yang mencoba meminjam uang darinya."
Haryo tampak tidak enak hati, namun ia berdeham keras dan menatap Baskoro dengan pandangan dingin.
"Maaf, Baskoro. Setelah mendengar penjelasan dari Budi mengenai kondisi keuangan tokomu yang sudah tidak memiliki aset jaminan, saya rasa terlalu berisiko untuk meminjamkan dana lima puluh miliar rupiah kepadamu. Saya tidak ingin uang saya hilang begitu saja."
Mendengar penolakan mentah-mentah itu, tubuh Baskoro lemas. Ia hampir saja terjatuh jika Satria tidak dengan sigap menahan sikutnya dari belakang.
"Papa..." bisik Freya, matanya mulai berkaca-kaca menahan amarah dan rasa malu.
Ia menatap tajam ke arah pamannya.
"Om Budi, kamu bener-bener keterlaluan! Kamu udah merebut perusahaan Papa dengan cara memfitnah, dan sekarang kamu mau menutup semua jalan keluar kami?!"
Budi Hendarso berdiri dari kursinya, merapikan jas Italianya yang mewah, lalu berjalan mendekati Freya dengan tatapan yang sangat licik.
"Ini namanya bisnis, keponakanku yang cantik. Oh ya, kudengar utang Papamu ke Bos Rentenir itu akan jatuh tempo tiga hari lagi, kan?"
"Jika kalian tidak bisa membayar lima puluh miliar itu, bersiap-siaplah memakai gaun pengantin. Bos Rentenir itu sudah menyiapkan pesta besar untukmu. Hahaha!"
Tawa Budi menggema di sudut restoran, menarik perhatian beberapa pelayan. Baskoro hanya bisa menunduk dalam, mengepalkan tangannya hingga memutih, hancur melihat masa depan putrinya dipertaruhkan.
Di tengah situasi yang dipenuhi keputusasaan itu, Satria melangkah maju satu langkah.
Ia berdiri tepat di depan Freya, memotong jarak pandang Budi yang memuakkan dari gadis itu.
Satria menampilkan wajah polosnya, lalu membetulkan letak kerah jas lokalnya yang kaku.
"Permisi, Pak Budi yang terhormat dan paling wangi se-restoran," ujar Satria dengan nada suara yang sangat lugu, seperti seorang pengawal bodoh yang tidak tahu situasi.
"Gua cuma mau nanya nih. Kalau misalnya... ini cuma misal ya, Pak... tiba-tiba seluruh kontrak pasokan bahan baku utama perusahaan baru Anda dibatalkan secara massal siang ini oleh pihak vendor karena masalah 'etika bisnis', apakah jas mewah Anda itu masih bisa dipakai buat jaminan utang di pegadaian?"
Budi Hendarso tertegun sejenak, lalu meledak dalam tawa yang lebih keras.
"Hahaha! Apa kamu bilang? Pelayan bersarung yang sekarang berganti baju jadi supir ini bicara apa?"
"Kontrak saya dibatalkan? Semua vendor besar di kota ini berada di bawah kendali modal saya! Tidak ada satu pun kekuatan di Jakarta yang bisa membatalkan kontrak saya dalam satu hari, dasar bodyguard miskin!"
Satria tidak membalas makian itu dengan kemarahan. Ia justru menyengir lebar, lalu meraba saku celana jasnya yang ketat, berpura-pura seperti orang yang sedang mengalami gatal-gatal di paha.
Namun, di balik lipatan kain celananya, jempol Satria dengan kecepatan luar biasa menekan tombol Enter pada sebuah aplikasi khusus di ponselnya yang terhubung langsung dengan sistem kuantum Satria Corporation.
Ting!
Sebuah notifikasi mikro dari Sistem Total Reversal berkedip pelan di layar tersembunyi:
[SISTEM TOTAL KEKAYAAN - EKSEKUSI TRILIUN PERTAMA]
Dana Rp 1.000.000.000.000,00 (Satu Triliun Rupiah) dari akun Satria Corporation resmi dialokasikan.
Tindakan: Akuisisi 85% saham utama PT Logistik Mega Utama dan PT Bahan Baku Nusantara (dua penyuplai tunggal bisnis Budi Hendarso) TELAH SELESAI.
Surat perintah pembatalan kerja sama sepihak karena pelanggaran integritas korporat telah dikirimkan ke email resmi Budi Hendarso sekarang.
Tepat dua puluh detik setelah Satria selesai menekan ponselnya di dalam saku, ponsel pintar milik Budi Hendarso yang tergeletak di atas meja bundar tiba-tiba berdering dengan suara yang sangat bising.
Notifikasi email darurat beruntun masuk bagai rentetan tembakan senapan mesin.
Budi mengernyitkan dahi, meremehkan panggilan tersebut saat mengambil ponselnya.
Namun, begitu matanya membaca baris demi baris surat elektronik resmi yang masuk, wajahnya yang tadinya kemerahan penuh kesombongan mendadak berubah menjadi putih pucat laksana kain kafan.
"I-Ini... ini gak mungkin! Ini pasti kesalahan sistem!" pekik Budi Hendarso, suaranya tiba-tiba melengking tinggi karena syok yang teramat sangat.
Cerutu mahal di jarinya jatuh begitu saja ke atas lantai marmer.
Panji yang duduk di sampingnya ikut bingung.
"Ada apa, Budi? Kenapa kamu pucat begitu?"
"P-Panji... dua vendor terbesar kita... yang menyuplai 90% bahan baku pabrik kita... baru saja mengirimkan surat pemutusan hubungan kerja sama sepihak!"
"Mereka bilang, seluruh saham mereka telah dibeli oleh sebuah Perusahaan raksasa bernama Satria Corporation! Dan pemilik baru Satria Corporation memerintahkan untuk menghentikan seluruh pasokan ke perusahaan kita per menit ini juga!" raung Budi, tubuhnya mulai gemetar hebat.
Pemutusan pasokan sepihak ini berarti perusahaannya akan terkena penalti ratusan miliar dari pembeli luar negeri dan dipastikan bangkrut dalam waktu empat puluh delapan jam.
Baskoro dan Freya terbelalak mendengar nama Satria Corporation disebut.
Mereka tahu dari berita bursa kemarin bahwa Satria Corporation adalah raksasa baru yang baru saja menghancurkan bandar saham Artha Kencana.
Namun, mereka sama sekali tidak menyadari bahwa pemilik dari raksasa finansial yang menakutkan itu saat ini sedang berdiri di samping mereka, sedang sibuk menggaruk punggungnya yang gatal karena kain jas murah yang panas.
"Wah... gawat ya, Pak Budi," ujar Satria dengan wajah penuh simpati yang dibuat-buat, menggeleng-gelengkan kepalanya polos.
"Ternyata ramalan gua tadi beneran kejadian. Memang bener kata pepatah kuno di kosan gua dulu: kalau suka makan hak orang lain, ntar rezekinya bisa disapu bersih sama angin topan dari langit. Ikut berduka cita ya, Pak."
"Kamu... kamu diam kamu!"
bentak Budi frustrasi, tangannya gemetar hebat saat mencoba menghubungi nomor telepon kantornya yang kini sudah sibuk karena kepanikan massal para direksinya.
Satria berbalik, menatap Baskoro dan Freya dengan senyuman hangat yang menenangkan.
"Pak Baskoro, Mbak Freya... berhubung acara pinjam-meminjam di sini sudah batal dan bau cerutu di meja ini makin bikin pusing, mending kita pulang aja yuk."
"Saya tahu warung soto mie yang enak di dekat sini, harganya murah dan gak ada drama kebangkrutan."
Freya menatap Satria dengan pandangan yang campur aduk antara bingung dengan ketepatan ucapan pengawalnya barusan, sekaligus merasakan kelegaan yang luar biasa melihat pamannya yang sombong itu kini sedang menangis histeris di pojokan restoran sambil memegangi ponselnya.
"I-Iya, ayo kita pergi dari sini, Pa," ucap Freya, menuntun ayahnya yang masih linglung keluar dari restoran mewah tersebut.
Saat mereka melangkah keluar menuju lobi, Freya diam-diam melirik ke arah profil samping Satria yang berbalut jas hitam murahnya.
Di balik tingkah konyol dan ucapan polos supirnya itu, Freya mulai merasakan sebuah misteri yang sangat besar.
Namun, satu hal yang pasti: setiap kali pria bersarung yang kini berjas ini mengeluarkan kata-kata konyolnya, keajaiban finansial selalu terjadi untuk melindungi keluarganya.
Panggung pembalasan senyap dari balik layar oleh sang pemilik Satria Corporation baru saja mencetak kemenangan pertamanya dengan sangat rapi.