NovelToon NovelToon
Unexpected Scenario

Unexpected Scenario

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:584
Nilai: 5
Nama Author: Lunes_

❣️ Update : 19.00 WIB ❣️

Bagaimana jika skenario hidup yang selama ini kamu anggap menyedihkan ternyata adalah skenario terindah yang Tuhan siapkan untukmu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunes_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

6 - Awake

Pagi itu aku bangun dengan perasaan yang sama seperti pagi-pagi biasanya. Yang ada di kepalaku hanya satu—aku harus kembali bekerja.

Sampai akhirnya, saat sarapan, Ibu mengingatkanku pada kejadian kemarin.

Kejadian itu… benar-benar terjadi.

Aku dijodohkan.

“Nay… kamu sudah hubungi Javier?” tanya Ibu.

Aku diam, berusaha mengingat kembali kejadian kemarin.

“Nay…” suara Ibu sedikit meninggi.

“Hah?” aku tersadar.

“Kamu udah hubungi Javier?” ulang Ibu.

“Udah. Udah,” jawabku singkat.

“Kalian ngobrol apa aja?” tanya Ibu lagi.

“Nggak penting,” jawabku datar.

“Kok nggak penting sih? Kalian mau menikah, lho,” ucap Ibu.

“Sudah, Bu. Biarkan saja. Namanya juga baru kenal, wajar kalau ngobrolnya masih yang ringan. Malah bagus, itu bisa jadi awal untuk saling mengenal,” potong Ayah. “Dulu kita juga begitu.”

“Tapi kita kan nggak dijodohin, Yah,” ucap Ibu.

“Ayah dan Ibu aja nggak dijodohin, kenapa aku harus dijodohin?” sahutku.

“Kamu beda, Nay…” ucap Ibu pelan.

“Apa bedanya?” tanyaku, menatapnya.

“Kamu terlalu fokus dengan dunia Koreamu itu. Ibu sempat berpikir… kamu nggak normal. Nggak suka sama laki-laki.”

Aku langsung menatap Ibu tak percaya.

“Ya ampun, Ibu… tega banget Ibu mikir kayak gitu ke anak sendiri,” ucapku. “Aktor yang aku suka itu laki-laki, lho. Kalau aku nggak suka laki-laki, nggak mungkin aku sampai jadiin dia wallpaper di HPku.”

“Ya soalnya kamu nggak pernah dekat sama laki-laki mana pun,” balas Ibu.

“Itu karena nggak ada yang aku suka… dan nggak ada yang suka sama aku,” kataku.

“Standarmu ketinggian. Nggak ada yang kayak aktor favoritmu itu,” ucap Ibu lagi.

“Siapa juga yang cari yang kayak gitu? Aku juga tahu diri, Bu. Lagi pula, mana ada cowok ganteng yang suka sama cewek kayak aku?” ucapku.

“Memangnya kamu kenapa?” tanya Ayah.

“Aku kan nggak cantik,” jawabku pelan.

“Ngawur! Jangan ngomong kayak gitu. Kamu kayak nggak bersyukur,” tegur Ibu.

“Ibu benar, Nay,” sambung Ayah lembut. “Kamu kayak gini adalah bentuk terbaik yang Allah berikan. Dan… kamu cantik, kok. Kamu itu anak tercantik Ayah.”

“Anak Ayah kan cuma aku,” sahutku.

“Nah, itu dia. Makanya kamu anak tercantik Ayah,” jawab Ayah santai.

Aku mendengus pelan.

“Sudah, jangan bahas fisik lagi,” lanjut Ibu. “Yang penting itu bukan fisik, tapi hati dan sikap. Lagi pula, siapa tahu Javier suka kamu yang kayak gini.”

Aku langsung menatap tajam ke arah Ibu.

“Ibu jangan ngaco. Jangan kasih harapan palsu.”

“Ibu nggak kasih harapan palsu,” ucap Ibu tenang. “Ibu cuma nebak. Lagian, yang membolak-balikkan hati itu Allah. Mungkin sekarang kalian belum saling suka, tapi siapa tahu nanti… seiring waktu, bisa saling suka.”

Saling suka?

Aku dan Javier?

Tidak mungkin.

Mana mungkin Javier menyukai wanita sepertiku?

Dan aku…

Entahlah.

Aku sendiri masih bertanya-tanya… apakah aku bisa menyukai pria selain Lee Jun-ha?

Setelah sarapan, Ayah berangkat kerja seperti biasa. Ayah adalah guru SD di sebuah sekolah yang jaraknya lumayan jauh dari rumah. Sementara itu, aku mencuci piring, dan Ibu kembali duduk di depan mesin jahitnya. Ada beberapa pesanan yang harus segera diselesaikan.

Setelah mencuci piring, aku kembali ke kamar dan bersiap untuk berangkat kerja.

Usai berpamitan dengan Ibu, aku berangkat menggunakan motor—motor yang Ayah belikan setelah aku lulus SMA.

Pagi itu, jalanan ibu kota ramai lancar. Banyak orang, sama sepertiku, berangkat kerja dengan sepeda motor.

Setelah perjalanan yang cukup panjang, aku akhirnya tiba di tempat kerjaku, Sina Bank—tempatku bekerja sebagai teller.

Di area parkir, aku melihat Yuni, salah satu customer service. Sepertinya dia juga baru saja tiba. Motor milik dua pegawai lain sudah terparkir, tapi motor kepala cabang belum terlihat.

“Pagi, Mbak Yuni,” sapaku sambil memarkirkan motor di samping miliknya.

“Pagi, Nay… yuk masuk,” ajaknya.

Setelah melepas helm, kami berdua masuk ke dalam gedung bank.

“Pagi, Pak Budi,” sapa kami bersamaan kepada satpam.

“Pagi, Mbak Yuni, Mbak Naya,” balas Pak Budi ramah.

Kami berjalan masuk lebih dalam, menuju area belakang—ruangan di antara meja teller dan customer service.

Seperti biasa, kami langsung absen dengan menempelkan jari pada mesin fingerprint.

“Mbak…” panggilku pelan setelah selesai absen.

“Ya?” Yuni menoleh.

Aku sempat ingin bertanya, tapi kata-kata itu tertahan di tenggorokan.

“Ehm… aku… nggak jadi deh,” ucapku canggung.

“Lho kok nggak jadi? Ada apa, Nay?” tanya Yuni heran.

“Di dalem aja, Mbak. Yuk,” ucapku, lalu berjalan masuk ke ruang staf.

Di sana sudah ada Salsa, sesama teller, dan Fahri, customer service.

“Pagi, Nay…” sapa mereka.

“Pagi…” balasku sambil duduk dan meletakkan tas.

Yuni menyusul masuk dan langsung mendekat ke arahku.

“Pagi, Mbak Yuni,” sapa Salsa.

“Pagi, Yun,” ucap Fahri.

“Pagi…” jawab Yuni

Lalu ia menoleh ke arahku.

“Nay… tadi kamu mau ngomong apa sih? Kamu ada masalah?”

Aku menatap mereka satu per satu.

“Ya… bisa dibilang begitu sih, Mbak.”

“Masalah apa?” tanya Salsa ikut mendekat.

“Ehm… itu…” aku ragu.

“Itu apa sih? Kayaknya berat banget,” desak Salsa.

“Emang berat, Mbak. Ini tentang masa depanku,” ucapku.

“Masa depan?” Salsa menatap Yuni dan Fahri.

“Ada apa sih, Nay?” Yuni makin penasaran.

Aku menarik napas pelan.

“Ehm… dokumen… untuk daftar nikah… apa aja ya?” ucapku terbata.

“Apa?” Fahri langsung bereaksi. “Ini aku nggak salah dengar, kan?”

“Nggak, Mas.”

“Siapa yang mau nikah?” tanya Salsa.

“Aku…” jawabku lirih sambil menunduk.

“Apa?!” mereka bertiga serempak kaget.

“Kamu mau nikah, Nay? Serius?” tanya Salsa.

Aku mengangguk.

“Wah… aku bener-bener nggak nyangka,” ucap Fahri.

“Iya, aku juga. Seorang Naya yang suka oppa-oppa Korea mau nikah?” timpal Salsa.

“Nay… kamu nggak itu kan?” ucap Yuni ragu.

“Itu apa?”

“Hamil…”

“Astagfirullah, Mbak Yuni!” aku langsung menatapnya kaget. “Mbak pikir aku cewek apaan?”

“Ya soalnya kamu tiba-tiba bilang mau nikah,” bela Yuni.

“Deket sama cowok aja aku nggak pernah,” balasku.

“Terus kamu mau nikah sama siapa?” tanya Salsa.

“Sama anak temannya omku. Owner rumah makan Ruang Rindu.”

“Apa? Owner Ruang Rindu?” Salsa langsung bereaksi.

“Kenapa, Sal?” tanya Yuni.

“Dia orangnya ganteng, Mbak,” jawab Salsa.

Aku menghela napas pelan. Lagi-lagi soal wajah.

“Ya ampun, Salsa… inget suami sama anak,” sahut Fahri.

“Aku cuma ngomong apa adanya kok. Nggak ada maksud apa-apa.” balas Salsa santai.

“Kok Mbak tahu?” tanyaku.

“Aku pernah ke sana. Kamu serius mau nikah sama dia? Kok bisa?” tanya Salsa.

“Ehm… itu…” aku ragu.

“Jangan bilang kamu dijodohin?” tebak Yuni.

Aku terdiam sebentar, lalu mengangguk pelan.

“Ya ampun… kayak Siti Nurbaya aja,” gumam Fahri.

“Kalau dijodohin sama cowok ganteng sih nggak apa-apa,” ucap Salsa santai.

“Gantengan aktor favoritku, Mbak,” balasku.

“Astaga… iya deh iya…” Salsa menyerah.

“Jadi dokumennya apa aja?” tanyaku mengalihkan.

“Surat pengantar RT/RW, N1 sampai N4 dari kelurahan, fotokopi KK, KTP, akta, sama pas foto latar biru,” jawab Yuni.

“N1 sampai N4 itu apa?” tanyaku lagi.

“Surat-surat data calon pengantin. Ngurusnya di kelurahan,” jelas Yuni.

“Iya, dan ada juga surat persetujuan. Dipaksa atau nggak,” tambah Fahri. “Kalau kamu gimana, Nay?”

“Kalau dipaksa… ya dipaksa banget lah. Apalagi tanteku. Duh… berisik banget nyuruh aku nikah terus,” keluhku.

“Ya soalnya kamu nggak nikah-nikah,” sahut Salsa.

“Gimana mau nikah, Mbak? Pacarku aja di Korea,” jawabku.

“Astaga Naya…” Yuni menggeleng.

Tiba-tiba pintu terbuka.

Pak Ilham masuk.

“Lho kok kalian masih di sini? Bank sebentar lagi buka,” ucapnya.

“Soalnya Naya mau nikah, Pak,” celetuk Fahri.

“Mas Fahri…” desisku.

“Naya, kamu mau nikah?” tanya Pak Ilham.

“Belum pasti, Pak,” jawabku.

“Belum pasti gimana? Tadi kamu nanya dokumen,” sambung Fahri.

“Kan baru nanya, Mas,” balasku.

“Naya, kalau mau ambil cuti menikah, pastikan izinnya jangan mendadak,” ucap Pak Ilham.

“Baik, Pak.”

“Sudah, sekarang cepat ke depan.”

“Baik, Pak.” jawab kami bersamaan.

Kami pun segera keluar dari ruang staf menuju posisi masing-masing.

Aku duduk di kursiku, merapikan seragam, lalu menatap layar di depanku, menunggu nasabah datang.

Tapi pikiranku… tidak.

Semua terasa berjalan normal.

Seolah tidak ada yang berubah.

Padahal—

dua bulan lagi,

aku akan menikah.

Dengan pria yang baru kukenal kemarin.

Dan entah kenapa…

hari ini,

untuk pertama kalinya,

semuanya terasa benar-benar nyata.

1
Mamah Dini11
sebenarny kmu itu nay oon atau loding sih bkn nya mulai menerima yg du otakmu cerai dan cerai aja gk punya frinsip banget. ,kan kmu itu pegawi bang ko sebodoh itu pemikiranmu. liat javer gk. kayak kmu Dia santai tenang gk mikirin hal2 aneh ,mungkin di pikirannya jalani aja dulu, nah kmu nay blm apa2 udh ribet pikiranmu .lanjut
Mamah Dini11
kok takut bknnya bagus., dan teganya javer biarkan kmu hujan2an,kalau dia. punya mobil kan bisa anterin kmu. jadi gk kehujanan , atau blm punya kali.
Mamah Dini11
kmu terlalu jauuuh mikirnya nay , coba mikirny yg positif2 aja biar ringan kedepan nya, ok. permisi thor ikutan ni..
Mamah Dini11
thor maaf setiap episodnya. bisa tambah bhs, indo. kuring ngerti aku mh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!