Maaf🙏 Novel ini belum selesai.
Mengulas kisah, ketika Pria dingin sedang jatuh cinta.
Sejak kematian Isabella, sang istri tercinta. Niko mengabadikan dirinya dalam kesetiaan dan berjanji tidak akan pernah jatuh cinta lagi bahkan sampai menikah kembali untuk menggantikan posisi Almarhum istrinya.
Lantas apakah yang terjadi? Ketika Niko bertemu bahkan terjebak dalam kehidupan istri dari rekan bisnisnya sendiri bernama Vania Keisya, wanita cantik yang malang, kehidupan rumah tangganya berbanding terbalik dengan Isabella, tidak hanya mendapat kekerasan fisik, ia juga kerap di selingkuhi oleh sang Suami.
Akankah Niko yang disebut si Mr. Cool ini, benar-benar jatuh cinta lagi dan kembali menikah?
--Cinta segitiga--
"Ada apa denganku! Mengapa aku jadi salah tingkah begini!" Gumam Niko yang sempat mengusap keringat kecil di dahinya lalu akhirnya ia berangkat menuju kantornya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarah Mai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Di sebuah ruang yang gelap penuh rahasia, telah terjadi pertengkaran hebat antara Romi Salman dengan sosok wujud yang menakutkan, membuat bulu kuduk merinding bagi siapa saja yang melihatnya.
Tubuh Romi dibuat mematung tidak dapat bergerak, penuh penyiksaan hingga mengeluarkan darah dari hidung dan mulutnya.
"AKU INGIN MENGAMBIL APA YANG MENJADI MILIKKU, INI SUDAH WAKTUNYA!" Suara besar menggelar dari Iblis di ruangan itu.
"Tidak, jangan kau siksa lagi dia dengan tanganku!" bantah Romi.
Sang Iblis tidak terima dengan ucapan penolakan Romi, lalu kembali menyiksa Lelaki itu.
"Aaarggg!" teriak Romi menahan rasa sakit.
"MANUSIA MEMANG SELALU INGKAR JANJI
HANYA KARENA PEREMPUAN ITU KAU SIAP MENGAMBIL SEMUA RESIKONYA!" Bentak sang Iblis.
"Siap! Tolong jangan ambil istri dan anakku!"
"WUAAAAHRG!" sang Iblis marah besar, karena kali ini Romi tidak bisa memenuhi sesembahan istri ketiganya.
"KAU YANG AKAN MENJADI PENGGANTINYA!"
"Baiklah, keluar kau sekarang juga dari tubuhku!" hentak Romi mengakhiri perjanjian mereka.
"TUNGGU KEHANCURAN KAMU, AKU AKAN TETAP MENGAMBILNYA DISAAT KAU LENGAH!"
"Tidak akan ku biarkan!" Tantang Romi tidak gentar sedikitpun.
Romi yang sebenarnya sudah merasakan cinta kepada Vania dan demi menyelamatkan anak dan istrinya, akhirnya Romi mengakhiri kesepakatannya bersama Iblis yang selama ini sudah memberikan ia kekayaan dan kejayaan secara instan dan rela menggantikan Vania sebagai sesembahan (tumbal) yang sudah dijanjikan.
Secara otomatis, sang Iblis keji itu keluar dari tubuh Romi.
Sontak Pria itu meraung kesakitan.
"Aaaaaaaaaaaarrrrg!" dan kembali menjadi pria biasa, pria yang sangat dingin dan tidak memiliki kepercayaan kuat. Kejiwaan psikopat Romi dari pengaruh Iblis pun menghilang.
Kemudian ia terjatuh lemas, terkapar tidak berdaya dalam pandangan kosongnya mengingat tulisan terakhir dari Ayahnya;
"Romi, jika kelak kamu menjadi seorang Ayah, Tetaplah melindungi anakmu, tidak perduli kau harus mati ataupun menderita seumur hidup, karena anak adalah hubungan yang tidak akan pernah putus meskipun dunia telah berakhir dan sosok yang tidak akan pernah bisa kau ganti dengan apapun!"
***
Dalam waktu yang bersamaan.
Vania terdiam lesu tidak bisa berkata-kata lagi, masih duduk dalam pandangan penuh kebingungan.
"Mengapa jadi seperti ini, kenapa aku terlambat mengenal Niko," ucap galau Vania.
"Kenapa harus aku yang menanggung semua beban!"
"Kenapa?
"Kenapa?"
"Kenapa Tuhanku begitu kejam!"
"Kenapa aku harus menikah dengan pria yang tidak aku cintai bahkan tidak aku kenal?"
"Karena kamu adalah manusia, hebat, terpilih juga kuat, Tuhan tidak pernah salah memberikan cobaan kepada hambanya!" jawab Ratih.
Vania kembali terdiam.
"Van, aku janji tetap akan mendukung kamu selagi kamu mempertahankan rumah yang seharusnya tetap kamu huni, kau boleh maki aku, marah, hina, itu tidak masalah, aku hanya ingin membalas sebuah kebaikan dengan kebaikan juga, apa yang bisa aku berikan untuk Romi maka itulah bayaran dari setiap butir nasi atau makanan yang sudah aku telan dari Pria baik bernama Agung Ardiyanto!"
Vania bangkit.
"Aku mau istirahat!"
"Apa kau tidak ingin mencobanya?" Ratih juga buru-buru bangkit kembali menyodorkan tespack, berwarna putih itu kepada Vania.
"Jika hasilnya positif, aku akan mengantarkan kamu ke tempat Romi!"
Dengan berat hati Vania menerimanya.
Vania pun pergi meninggalkan Ratih dan mengabaikan ucapannya, sementara pengacara itu masih berdiri memandangi kasihan dari sosok Vania dari belakang.
***
Saat Vania mulai memasuki ruangan Apartemen.
Tidak...aku tidak mungkin hamil!" Vania mulai gelisah dengan mencari-cari tau tentang kehamilan. Usianya yang masih muda, belum berpengalaman, tidak begitu paham seperti apa gejala kehamilan.
Rasa penasaran yang begitu besar membuat Vania terburu-buru menuju kamar mandi hingga ia hampir terjatuh. Mengeluarkan alat uji test itu lalu melakukan tahap sesuai dengan petunjuk.
Rasa takut, cemas dan sangat tegang, terlihat dalam raut wajah Vania sehingga keringat mulai membasahi tubuhnya.
Sambil menunggu proses alat test itu berjalan, Vania memejamkan matanya karena tidak kuat jika hasilnya adalah positif.
Masih dalam rasa penasaran, ia tampak Menelan ludah dalam tarikan nafas yang panjang. Perlahan Vania membuka matanya lalu melihat hasil testpack;
Melihat dua garis terang berwarna merah spontan testpack itu terjatuh dan Vania histeris menjerit.
"Tidaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaak!"
"Ini Tidak mungkiiiiiiiiiiin!"
"Hiks...hiks...hiks...!"
"Tidaaaaaak!"
"Aku tidak mau ini!"
"Aku benciiiii!"
Ucap tangis Vania pecah di kamar mandi terduduk kesal tidak tau apa yang harus ia katakan lagi. Takdir masih berkata bahwa ia masih terjerat dalam genggaman Romi.
***
PT Oscar 99
Niko terlihat masih santai duduk di kursi kerjanya, Ternyata diam-diam pria itu sudah kepo mencari-cari tema pernikahan romantis di setiap event organizer di aplikasi online. Niko sudah sangat yakin dan optimis dengan para pengacara handal yang akan segera memenangkan Vania dalam kasus gugatan cerai terhadap Romi di sidang perceraian ketiga.
"Aku masih penasaran, mengapa Romi masih tidak respon, apa dia memang benar-benar, tidak menginginkan istrinya itu lagi atau ia memang seorang pecundang!" tawa ejek Niko yang sudah menyimpan berbagai tema pernikahan di ponselnya.
"Tok..tok!"
Bagas masuk membawa beberapa dokumen penting.
"Pak! Para tamu pengacara sudah menunggu!"
"Ouh, suruh mereka masuk!"
"Baik, oh Iyah Pak! Bukankah membantu perceraian rumah tangga orang lain itu salah dan berdosa!" Bagas mencoba mengingatkan atasannya itu.
"Kamu lagi ceramah?"
"Hehehe, hanya curhat sedikit Pak!"
"Sorry saya lagi sibuk!" jawab ketus Niko yang tidak perduli apapun larangan dari orang yang terdekat. Tekadnya sudah kuat untuk menikahi Vania.
Bagas hanya garuk-garuk kecil melihat tingkah atasannya itu.
"Ouh Iyah Pak! Makanan apa yang akan kita hidangkan nantinya?" tanya Bagas.
"Telur dadar juga boleh!" jawab santai Niko.
Bagas terhentak mendengar hal itu.
"Telur dadar itu kan bukan makanan spesial?" protes Bagas.
"Nah! itu dia, saya ingin menyuguhkan sesuatu yang menurut kamu tidak spesial justru telur dadar adalah makanan yang sangat spesial.
mungkin bisa di variasikan dengan roti, saos, keju, daging, sosis, salad atau apa lah!"
"Bukannya itu Burger yah?" gumam Bagas tidak berani protes.
"Ouh Baik Pak!"
(Orang cerdas emang susah di bantah!") gumam Bagas putar otak mencari telur dadar yang berganti status menjadi cemilan baru.
***
Vania keluar dari kamar mandi dengan kondisi sempoyongan. Dia terlihat bingung tidak tau harus berkata apa. Dunia terasa begitu gelap seakan-akan sudah kiamat, keinginan menikah bahagia bersama Niko pun telah kandas.
"Aku tidak ingin kembali kepada Romi! Aku tidak mau!"
Tubuh Vania terasa lemas tergeletak di atas kasur.
"Niko...!"
"Bagaimana ini!"
"Apa sebaiknya aku gugurkan saja!" gumam nekat Vania yang benar-benar tidak menginginkan bayi itu.
***
Perusahaan One & One mulai mengalami kemunduran yang cukup drastis, satu persatu karyawan di berhentikan secara paksa.