Jangan lupa follow akun dedek, kalian bakal nemuin visual di sana🤗🤗
- Instagram @Tantye005
Dia adalah Avegas. Geng motor yang terdiri 200 anggota dipimpin 6 pria tampan penuh tanggung jawab. Menjadi raja jalanan membuatnya mempunyai banyak musuh.
Persahabatan indah mereka harus di uji karena kehadiran satu perempuan yang tidak sengaja masuk ke kehidupan mereka.
Konflik antara ketua dan wakil, mulai terjadi sebab mencintai orang yang sama, membuat musuh mempunyai peluang untuk menyerang dan mengalahkan mereka.
Apakah Avegas akan hancur karena cinta? Ataukah salah satu dari mereka akan mengalah demi keutuhan persahabatan?
Simak kisahnya hanya di sini👇
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Susanti 31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 31
Hari jum'at hari yang sangat menyenangkan bagi siswa kelas XI Ipa 1, karena Full olahraga membuat 2R bisa tebar pesona di tengah lapangan, apa lagi sebentar lagi mereka harus mencari mangsa untuk di ajak malam minggu nanti. Eh lupa, mereka tak jadi malam minggu karena ada misi yang harus di selesaikan.
Suara gebrakan meja membuat semua laki-laki penghuni Ipa 1 berhenti dengan aktifitas menganti baju, menatap gadis yang kini berkacak pinggang. Dia adalah Giani bendahara galak pujaan hati Rayha.
"Santai sayang," sahut Rayhan menghampiri Giani yang kini menatapnya sangat tajam.
"Hari ini giliran kita para perempuan yang ganti baju di dalam kelas, kenapa kalian masih tinggal? Mau liat sesuatu?"
"Kenapa nggak kalian aja yang keluar? nggak liat kami sedang ganti baju?" jawab Rayhan, juga berkacak pinggang menghadap Giani, kali ini ia akan berusaha mengalahkan Giani dalam perdebatan.
"Lo nantangin gue Ray?"
"Iya, lo mau apa?"
"Baiklah, kalau begitu kita barengan aja ganti bajunya." Giani menyeringai, melepas dasinnya dengan kasar tepat di hadapan Rayhan, lalu melempar dasi itu asal. Menyibak rambutnya kebelakang, membuka satu persatu kancing kemeja sekolahnya membuat Rayhan bisa melihat taktop putih yang di kenakan Giani.
Rayhan menelan salivanya dengan kasar, darahnya mendidih melihat gadis yang sangat ia cintai mempertotongkan lekuk tubuhnya pada teman sekolahnya. Tangan yang semula di pinggang mencegah tangan gadis itu saat akan melepas keluruhan kemejanya.
"Baiklah, kita akan keluar." Pasrah Rayhan mengajak seluruh teman-temanya keluar dari kelas.
"Yah padahal dikit lagi gue liat sesuatu," gerutu Ricky tak terima berjalan beriringan dengan Rayhan menuju lapangan tanpa mengganti baju, hanya kancing kemeja sekolah yang terlepas sepenuhnya, hingga mereka berdua terlihat seperti preman sekolah, tetapi sangat memukau bagi pengemarnya masing-masing.
"Mau mati lo?"
"Santai kayak di pantai Bray."
Giani dan teman-temannya yang lain tertawa penuh kemenangan.
"Daebak, hanya lo yang bisa ngendaliin Rayhan, Gi."
"Benarkah?"
"Hooh, kapan ya gue bisa ngendaliin babang El kulkas berjalan gue," heboh teman sekelas Giani mengigit jarinya, membayangkan bagaimana gemesnya Samuel saat bucin nanti.
"Lemes Bestie belum di suruh makan sama Ayang Ken."
"Mimmpi!"
Jika kelas Ipa 1 sedang heboh, makan di kelas Ipa 3 senyap seperti tak ada kehidupan, penghuninya berada di perpustakaan atas perintah ibu Rita, hanya tersisa Azka di dalam sana seorang diri, tidur beralaskan lengan di atas meja.
Salsa yang sudah selesai dengan tugasnya, kembali ke kelas dan mendapati Azka sedang tidur dengan kepala bertumpu pada meja. Melihat laki-laki yang selalu beraktivitas di luar ruangan tinggal di dalam kelas, menimbulkan rasa khawatir di hatinya, dengan perlahan ia mendekati bangku lalu duduk di samping Azka.
"Ka, lo baik-baik aja kan?" lirih Salsa.
Tak ada sahutan dari laki-laki berhodie hitam itu, membuat Salsa ikut menumpu kepalanya di meja menghadap Azka.
Grep
Sebuah lengan besar menarik tubuhnya semakin dekat, hingga hidungnya hampir menyentuh ceruk leher laki-laki itu. Aroma khas Azka menguar di indra penciuman Salsa, lagi dan lagi jantung gadis itu berdetak tak karuan. Ia berusaha melepaskan diri tetapi suara serak Azka berhasil menghentikannya.
"Biarkan begini sebentar aja, kepala gue sakit Sal," gumam Azka.
"Gimana kalau ada yang liat," jawab Salsa, posisi mereka seperti orang yang sedang berciuman, siapa saja yang melihatnya akan salah paham.
"Ka, kita ke UKS ya," bujuk Salsa.
"Diam, atau gue cium."
Salsa tak lagi bersuara, ia menikmati aroma tubuh Azka. Tanpa mereka sadari ada seseorang di ambang pintu menatap mereka dengan tatapan yang sulit di artikan. Dia adalah Leo, ketua kelas Salsa, tak ingin melihat yang lebih dari itu, Leo berjalan ke kantin, padahal niat hati ia ingin mengajak Salsa makan siang bareng.
Sepeninggalan Leo, perusuh datang, perusuh yang tak tenang jika melihat seseorang uwu-wuan apa lagi itu ketuanya sendiri.
"Dunia ... serasa milik berdua ...." Nyanyi Rayhan penuh penghayatan.
"Apalah daya diriku yang cuma ngontrak," ujar Ricky mendramatis, memegangi dadanya merasa paling tersakiti. "Nasib zomblo gini amat."
"Keberangkatan ke Mars lima menit lagi, yang zomblo harap berpegang tangan, kita berangkat bersama-sama," sahut Dito ala pengumuman keberangkatan di bandara.
Sontak Salsa melepaskan pelukan Azka di tubuhnya, membuat laki-laki yang hampir terlelap, bangun dan menatap satu persatu anggotanya dengan tatapan mematikan bak burung Elang mengintai mangsanya.
Wajah Salsa terasa sangat panas, mungkin saat ini sudah memerah karena malu. "Gue ... gue ke kantin dulu," gugupnya, menundukkan kepala lalu berjalan melewati ke lima Inti Avegas di ambang pintu.
Samuel tak melirik sedikitpun, lain halnya dengan Keenan yang kini mantap kepergian Salsa dengan perasaan berkecamuk, benarkah Salsa dan Azka pacaran?
...****************...
Aduh kayaknya ada yang mulai bucin nih, yuk beri semangat sama babang Azka dengan memberi like dan menaburkan bunga.
makasih kak othor semoga makin sukses dengan semua karyamu/Good//Heart//Rose/