"Terimakasih sayang." Vano mencium singkat bibir Ella dan bergegas pergi ke kamar mandi untuk membersihkan badannya.
"Kapan kau akan menikahiku?" Ella masih berada di bawah selimut tanpa memakai pakaian.
ELLA, seorang model cantik dan seksi. Putri tunggal seorang pengusaha terkenal di kota tempat tinggalnya. Yang membuat kaum adam rela melakukan apa saja asal bisa bersama dirinya.
Menjalin hubungan dengan pengusaha tampan dan sukses. Yang di gilai oleh kaum hawa. VANO. Yang juga merupakan putra tunggal pengusaha sukses di kota tersebut
Meski mereka masih berpacaran, hubungan mereka layaknya pasangan suami istri. Seluruh orangpun tahu jika mereka memiliki hubungan spesial.
Jangan lupa meninggalkan jejak setiap membaca. Terimakasih atas waktu dan dukungan untuk author.
Akan ada 226 eps untuk DUNIA MELLANIE.
Dan,,,, akan dilanjutkan kisah cinta antara HANA & DENIS untuk bab selanjutnya.
Terimakasih, semoga suka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ara cahya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DM eps 32
"Selamat datang Tuan Vano." ucap seorang kru pemotretan saat melihat Vano berada di tengah-tengah mereka.
Tidak biasanya Vano melihat pemotretan untuk produk perusahaan. Biasanya Reza lah yang menghandle semuanya. Dan Vano hanya terima beres.
Entah apa yang ada di benak Vano saat ini. Jangan-jangan Vano sudah mulai ada rasa dengan Vera, karena kepiawaian Vera di atas ranjang.
Aduhhh,,,, Apa iya seorang pengusaha punya pikiran semesum itu. 😏😏
Vera meninggalkan tempatnya berdiri dan segera menghampiri Vano.
"Hei." teriak fotographer saat Vera dengan seenak jidatnya turun dari tempat pemotretan, saat sang fotographer sudah siap membidikkan kameranya.
Vera tidak menghiraukan teriakan fotographer dan tetap menghampiri Vano. Seluruh orang yang berada di ruangan tersebut tak kalah kesal akan tingkah Vera yang dengan seenaknya bertingkah.
"Maaf." ucap asisten Vera merasa tidak enak hati akan tindakan dari sang model.
"Ini alasannya, kenapa gue enggan bekerja sama dengan model seperti dia. Jika bukan karena Egi. Gue pasti nggak akan mau." ucapnya kesal.
"Kenapa tidak menggunakan Ella saja. Yang jelas-jelas pasti hasilnya. Lagi pula diakan kekasih Tuan Vano." fotographer tersebut memandang ke arah Vera berjalan.
"Ckk,,," Denis, nama fotographer tersebut. Dengan raut wajah kesal ia ambil semua peralatan pemotretan miliknya dan ia masukkan ke dalam wadahnya.
Denis yang merupakan teman SMA Ella, baru beberapa bulan menetap di Indonesia. Sebelumnya dia menjadi fotographer di luar negeri. Karena mamanya sedang dalam keadaan sakit, dia memutuskan kembali ke tempat kelahirannya dan memulai bekerja di sini.
"Terimakasih sudah datang." Vera langsung menghambur dalam pelukan Vano.
Kedekatan Vano dan Vera tidak di sia-siakan oleh beberapa awak media untuk mengambil gambar mereka dan menjadikan bahan berita mereka.
Vano mendorong pelan tubuh Vera. "Jaga sikapmu." ucap Vano lirih.
Vano tidak ingin berhembus kabar tentang kedekatannya dengan Vera, apalagi dia masih berstatus sebagai kekasih dari Ella. Tapi semua terlambat Vano. Foto kalian sudah tersebar... 😏😏
Di tempat lain, Ella kembali mengunjungi taman milik Egi. Kali ini Ella datang tidak seorang diri. Ada seseorang yang menemaninya.
"Bagus kan Han." pamer Ella pada Hana.
"Top markotop." Hana mengangkat kedua jempol tangannya di depan Ella.
Ella mengambil ponselnya dari dalam tas saat sebuah pesan masuk kedalam ponsel miliknya.
Mata Ella memicing dengan tersenyum miring saat seseorang mengirimi dirinya, foto Vera dan Vano yang sedang berpelukan di lokasi pemotretan.
"Ada apa Ell?" tanya Hana saat melihat raut wajah Ella berubah.
Bukannya menjawab pertanyaan dari Hana, Ella malah menyerahkan ponselnya pada Hana. "Foto gue." pinta Ella.
Hana hanya diam dan menuruti perkataan Ella. "Oke."
Ella mengambil kembali ponselnya dan mengunggah foto dirinya di sosmed. Tidak lupa Ella juga menambahkan caption pada foto tersebut.
TANPAMU AKU BISA BAHAGIA.
Hana sedikit mengintip apa yang di lakukan oleh Ella. Hana hanya diam melihat Ella memposting fotonya yang baru saja ia ambil.
"Jam berapa kita ke perusahaan Tuan Malik?"
"Sekarang bisa. Aku akan menghubungi sekertaris Tuan Malik." ujar Hana.
"Oke. Yuk."
Hana sedikit terkejut saat membuka ponselnya. "Ell, elo baik-baik saja kan?" Hana melihat foto Vano dan Vera tersebar di sosmed.
"Sangat baik. Makasih selama ini selalu berada di samping gue. Dan nggak lelah ngingetin gue." Ella memeluk Hana.
"Santuy Neng." Hana membalas pelukan Ella.
Ella dan Hana berangkat ke perusahaan Tuan Malik. Untuk membicarakan tetang kerjasama mereka. Setelah menandatangani kontrak kerja, Ella dan Hana meninggalkan perusahaan tersebut.
"Elo yakin, mau ambil job itu." tanya Hana memastikan.
"Pasti. Nggak ada alasan gue buat nolak." jawab Ella dengan tenang.
"Kita ke tempat Vano berada sekarang."
Hana melirik ke arah Ella di balik kemudinya. Karena saat ini Ella duduk di sebelah Hana yang sedang mengemudikan mobil.
"Oke Tuan Putri." Hana dengan senang hati membawa Ella ke sana.
Ella keluar dari dalam mobil dan melangkah ke tempat di mana Vano berada. "Pertunjukan di mulai."
Ella dan Hana selalu menunjukkan senyum mereka di setiap kesempatan dan langkah mereka.
"Itukan Ella." seru seseorang kru di sekitar Vano.
Vano langsung menoleh ke arah di mana Ella berada. "Ella. Sedang apa dia di sini?" batinnya.
Kedatangan Ella membuat seisi studio pemotretan mengalihkan perhatian mereka pada sosok yang baru saja datang.
Ella menghampiri Vano dan mencium pipinya. "Sayang, kenapa kamu di sini." Ella tersenyum pada Vera yang berdiri di samping Vano.
Belum sempat Vano menjawab pertanyaan dari Ella, seorang lelaki terlebih dulu datang dan menyapa Ella. "Ell, ada apa?" tanya Egi.
"Hai Eg." Ella dan Egi saling cipika cipiki.
Hana tersenyum melihat perubahan raut wajah Vano saat melihat Ella dan Egi saling sapa dengan menempelkan pipi mereka. Karena ini pertama kali Ella berani mencium pipi lelaki lain. Dan yang lebih hebat, saat ini Ella melakukannya tepat di hadapan Vano.
"Mau ketemu Denis." Ella mencoba mencari sang fotographer berada.
"Tuan Denis sedang berada di belakang." ucap salah satu kru pemotretan. Karena terlihat Ella dan Egi mencari keberadaan Denis.
Vano menarik tubuh Ella untuk lebih dekat dengan dirinya. Tangannya melingkar di pinggang ramping Ella dengan posesif. "Kalian saling kenal?" tanyanya.
Ella meletakkan tangan kirinya di depan dada Vano sambil memperbaiki jas yang sedang melekat pada tubuh Vano. "Siapa yang tidak kenal dengan pengusaha muda dan sukses seperti Tuan Egi." ucap Ella.
"Terimakasih." Egi sedikit menundukkan kepalanya atas pujian yang di lontarkan dari mulut Ella.
"Apalagi ada nilai tambahnya. Plus ganteng." ucap Ella dengan mengerlingkan sebelah matanya dengan centil.
Vano sedikit melonggarkan dasi yang terpasang di lehernya. "Khemm." Vano berdehem mendengar Ella memuji lelaki lain di hadapannya.
"Rupanya aku terlalu sabar padamu Ella. Kamu menjadi melunjak. Lihat saja nanti." batin Vano.
Egi tertawa renyah mendengar perkataan Ella. Meski dalam hatinya ada sedikit rasa tidak rela. Karena tangan kekar Vano masih berada di pinggang ramping Ella. Seakan pemilik tangan tidak akan pernah melepaskan pinggang tersebut.
Berbeda halnya dengan Hana. Sedari tadi Hana selalu memperhatikan raut wajah dan gestur dari Vano. Hana sadar saat ini Vano sedang menahan amarahnya. Dan itu yang membuat Hana menjadi takut dan khawatir.
"Tumben, Ella seberani itu." batin Hana merasa cemas dengan tindakan Ella.
Hana tidak ingin Ella menjadi pelampiasan kemarahan dari Vano. Karena selama ini Ella selalu menuruti perkataan Vano.
Ella tersenyum miring melihat Vano. "Gue juga bisa seperti elo." batin Ella.
Ella juga mengetahui jika Vano sedang dalam keadaan bad mood. Dan itu karena dirinya. "Tenang saja Hana, gue udah punya rencana lain." batin Ella melirik pada Hana yang menampilkan raut wajah cemas.
"Ternyata kekasih dari Tuan Vano juga sangat baik hati. Sudi memuji orang seperti saya." ujar Egi.
Merasa dirinya di abaikan, Vera masuk dalam percakapan mereka. "Apa kabar Ell." ucapnya berpura-pura akrab.
"Baik Nona. Maaf, anda model untuk produk perusahaan Vano dan Egi ya." tanya Ella seperti tidak mengerti apapun di sini.
"Iya." jawab Vera sombong.
"Maaf jika boleh tahu, nama anda siapa?"
Jlebb.... Harga diri Vera merasa di injak oleh pertanyaan dari Ella. Mana mungkin Ella tidak mengenal siapa dirinya. Mustahil. Bukankah mereka bekerja di bidang yang sama.
"Maafkan model saya Nona, dia tidak terlalu suka membaca majalah. Jadi tidak mengenal anda. Apalagi anda juga belum pernah terlibat kerja sama dengan model saya. Jadi wajar saja, dia tidak tahu." jelas Hana.
"Brengsek." batin Vera mengumpat.
"Maaf, aku tidak mengenal modelmu." Ella memandang Vano dengan tatapan lucu.
Vano tersenyum samar dan menganggukkan kepalanya.
Dari arah lain, Dimas berjalan dengan beberapa asisten di belakangnya. "Dim." teriak Ella.
vano dan ella berakhir bgni ceritanya..
padahal berharap vano kembali