Harap bijak memilih bacaan.
riview bintang ⭐ - ⭐⭐⭐ = langsung BLOK.!
Barra D. Bagaskara, laki-laki berusia 31 tahun itu terpaksa menikah lagi untuk kedua kalinya.
Karena ingin mempertahankan istri pertamanya yang tidak bisa memliki seorang anak, Barra membuat kontrak pernikahan dengan Yuna.
Barra menjadikan Yuna sebagai istri kedua untuk mengandung darah dagingnya.
Akibat kecerobohan Yuna yang tidak membaca keseluruhan poin perjanjian itu, Yuna tidak tau bahwa tujuan Barra menikahinya hanya untuk mendapatkan anak, setelah itu akan menceraikannya dan membawa pergi anak mereka.
Namun karena hadirnya baby twins di dalam rahim Yuna, Barra terjebak dengan permainannya sendiri. Dia mengurungkan niatnya untuk menceraikan Yuna. Tapi disisi lain Yuna yang telah mengetahui niat jahat Barra, bersikeras untuk bercerai setelah melahirkan dan masing-masing akan membawa 1 anak untuk dirawat.
Mampukah Barra menyakinkan Yuna untuk tetap berada di sampingnya.?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Clarissa icha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Rona bahagia semakin terpancar dari wajah Yuna ketika keluar dari ruang teater. Ternyata menonton film romantis bersama Barra membuat suasana hatinya membaik dan kembali memancarkan energi positif seperti sebelumnya. Wajahnya tak lagi murung, tatapan matanya tak lagi sendu.
Ternyata Barra tidak sia-sia menemani Yuna pergi menonton. Bukan hanya Yuna saja yang merasa bahagia, dia juga ikut bahagia lantaran kondisi Yuna sudah stabil.
"Mau kemana lagi.?" Tawar Barra lembut. Dia menatap dari samping wajah Yuna yang tengah tersenyum lebar.
"Apa ada barang yang mau kamu beli.?"
Yuna menggelengkan kepala, dia sedang tidak membutuhkan barang apapun saat ini. Dia hanya butuh refreshing untuk menyegarkan kembali pikirannya yang sedang kacau.
"Yakin.?" Tanya Barra memastikan. Yuna kembali menganggukan kepala.
"Aku ngajak Mas Barra cuma buat nemenin nonton aja, selama ini nggak pernah pergi kemana-mana, jadi bosan di rumah terus." Terang Yuna.
Sepertinya memang Yuna benar-benar butuh waktu untuk sering pergi keluar untuk menghilangkan stress. Terbukti keceriaan dan semangatnya kembali terpancar setelah keinginannya terpenuhi. Padahal sangat sederhana, hanya ingin pergi menonton berdua.
"Ayo pulang." Yuna mengajak Barra pulang dengan energi yang sudah penuh 100 persen. Senyumnya tak kunjung pudar, menghiasi wajah polosnya yang manis.
"Sudah waktunya makan siang, kamu nggak mau makan disini.?" Barra kembali memberikan tawaran pada Yuna.
Sejak tadi Barra seperti ingin menahan Yuna lebih lama lagi di dalam mall. Mungkin karna melihat hal positif yang di rasakan oleh Yuna, Barra jadi ingin membuat Yuna lebih ceria lagi dari ini. Semakin Yuna terlihat ceria, akan semakin baik pula untuk kehamilan dan perkembangan anak-anaknya.
"Beli makanan saja boleh.? Aku mau makan di rumah sama Mama dan Nitha." Ujar Yuna meminta ijin. Barra langsung menyanggupi dengan menganggukan kepala. Kali ini Barra tidak berusaha lagi untuk membuat Yuna lebih lama di dalam mall karna Yuna sudah terlihat ingin pulang.
Keduanya langsung beranjak menuju restoran untuk membeli makan siang. Namun baru beberapa langkah, Yuna menghentikan Barra.
"Ada es krim." Yuna menunjuk kedai es krim Singapura dengan gambar es krim yang begitu menggoda. Sekilas Yuna sampai menelan ludah.
"Mas Barra tunggu disini ya, aku mau beli." Yuna begitu antusias untuk menghampiri kedai es krim itu. Namun Barra bergegas menahan langkah Yuna.
"Biar aku saja, mau rasa apa.?" Tanya Barra.
"Kamu tunggu dulu di sana." Barra menunjuk kursi kosong yang tidak jauh dari tempatnya berdiri.
Dia tidak mau membuat Yuna mengantri untuk membeli es krim.
"Ya sudah."
"Vanila sama coklat." Yuna tersenyum lebar. Dia seperti sedang membayangkan es krim itu masuk kedalam mulutnya.
"Oke. Tunggu di sana, jangan kemana-mana." Pinta Barra. Yuna mengangguk dan bergegas menuju kursi yang di tunjuk oleh Barra setelah Barra pergi ke kedai es krim itu.
Belum sempat sampai di kursi, seorang wanita hamil lebih dulu duduk di sana. Yuna sempat berhenti sejenak, bingung mau ikut duduk di sana atau tidak. Tapi kemudian memutuskan untuk bergabung setelah ingat dengan pesan Barra.
Barra menggelengkan kepala menatap antrian yang lumayan panjang di depannya. Karna malas untuk mengantri, Barra memutuskan untuk menyerobot antrian dengan menawarkan es krim gratis pada orang-orang yang mengantri di depannya.
Ternyata tawarannya berhasil membuat Barra langsung berada di posisi paling depan.
Tidak masalah meski harus membayarkan es krim yang mereka beli.
"Kak.!" Seseorang menepuk pundak Barra. Suaranya yang tidak asing membuat Barra sedikit tersentak kaget. Dan raut wajah Barra semakin kaget saat menoleh.
"Nik.!" Seru Barra. Dia kaget melihat adik iparnya ada di sana.
"Sedang apa disini.?" Barra celingukan, entah kenapa terlihat takut. Takut adiknya juga berada di tempat yang sama dengannya.
"Sedang memanjakan adik kak Barra yang mudah mengambek." Jawab Nicho.
"Sisil minta es krim, kebetulan sekali kak Barra juga sedang beli."
"Boleh nitip untuk Sisil.? Aku malas mengantri." Nicho menyengir kuda. Barra langsung mengangguk. Dia memesan 2 es krim untuk Yuna dan Sisil.
Barra menyodorkan es krim milik Sisil pada Nicho.
"Tidak usah." Ujar Barra saat Nicho akan memberikan uang.
"Dimana Sisil.?" Tanya Barra.
"Menunggu di sana." Nicho menunjuk kursi yang tadi di tempati oleh Sisil.
Barra terkejut melihatnya. Ternyata apa ada dia bayangkan, jauh lebih menakutkan kenyataannya.
Sisil dan Yuna sedang duduk bersama, bahkan terlihat sedang mengobrol.
"Siapa dia." Ujar Nicho dengan dahi berkerut. Dia terlihat bingung dengan sosok wanita yang tengah duduk bersama istrinya.
"Aku duluan, ada klien yang harus aku temui."
"Salam untuk Sisil." Barra menepuk pundak Nicho dan beranjak pergi begitu saja dengan buru-buru.
Akan panjang urusannya kalau Sisil sampai melihat keberadaannya.
Turun ke lantai bawah, Barra segera menghubungi Yuna agar cepat-cepat turun ke lantai bawah.
Barra menunggu di depan lift dengan raut wajah cemas, takut terjadi sesuatu dengan Yuna karna harus turun sendirian.
Barra langsung menghampiri Yuna begitu Yuna keluar dari lift.
Berbeda dengan Barra yang terlihat cemas, Yuna justru memasang wajah bingung. Sejak di telfon oleh Barra untuk turun ke bawah, Yuna jadi bertanya-tanya sendiri.
Dia merasa aneh karna tiba-tiba Barra meninggalkannya padahal Barra sendiri yang menyuruhnya untuk menunggu di sana dan tidak boleh kemana-mana.
"Ini es krimnya." Barra menyodorkan es krim milik Yuna.
"Makasih." Ucap Yuna sembari mengambil es krimnya.
"Ayo pulang." Barra menggandeng sebelah tangan Yuna setelah Yuna menerima es krim itu.
"Pulang.?" Tanya Yuna. Dia semakin heran melihat sikap Barra yang menurutnya aneh. Tiba-tiba turun dan mengajaknya pulang.
"Tapi kita belum beli makan siang Mas." Yuna mengingatkan.
"Ah iya, aku lupa." Barra menggaruk tengkuknya sembari tersenyum kikuk pada Yuna.
"Makan dulu es krimnya." Barra mengajak Yuna duduk di kursi. Yuna menurut dan mulai memakan es krim yang sejak tadi membuatnya menelan ludah.
Meski sikap Barra tiba-tiba mencurigakan, namun Yuna menahan diri untuk tidak menanyakan apapun pada Barra. Dia cukup menyimpannya sendiri dalam hati dan berusaha untuk tidak menunjukkan kecurigaannya di depan Barra.
Yuna memakan es krim dengan lahap sampai membuat Barra terus memperhatikan. Laki-laki yang sudah membuat Yuna hamil itu, menggeleng heran.
Dia tidak pernah melihat Yuna makan es krim selahap itu seolah takut akan ada yang memintanya.
Sadar sejak tadi hanya fokus melahap es krim, Yuna langsung menoleh. Dia tersenyum kikuk melihat Barra yang tengah menatapnya heran.
"Mas Barra mau.?" Tawar Yuna sembari menyodorkan es krim pada Barra. Dia sampai lupa tidak menawari Barra lebih dulu.
Barra menggelengkan kepala.
"Habiskan saja." Barra menolak halus, lagipula dia tidak terlalu suka es krim. Melihat Yuna melahap es krim saja sudah membuat perutnya terasa kenyang.
Selesai menunggu Yuna dan membeli makanan untuk makan siang bersama di rumah, mereka bergegas pulang.
Yuna langsung turun dari mobil begitu sampai. Terlihat tidak sabar untuk masuk ke dalam dan bertemu Mama Rena
Benar saja, Yuna langsung memeluk Mama Rena. Yuna memeluknya seolah sudah lama tidak bertemu padahal hanya sehari tidak pulang ke rumah.
"Kenapa Yun.?" Mama Rena menatap putrinya dengan dahi berkerut.
"Nggak kenapa-napa Mah, seneng aja bisa pergi sama Mas Barra." Tutur Yuna dengan senyum lebar.
Sebenarnya bukan karna itu saja, namun Yuna merasa belum waktunya untuk menceritakan pada Mama Rena.
Mama Rena ikut tersenyum bahagia melihat kebahagiaan di wajah putrinya.
"Semoga kalian selalu bahagia." Ucapnya sembari mengusap kepala Yuna.
Barra yang baru datang hanya mengulas senyum tipis sembari berjalan ke arah dapur dengan membawa makanan yang dia beli.
...****...
Mon maap kalau waktunya gak sama di novel Nicholas🤣 othornya keder.
Anggap aja waktunya sama😁