Al tak pernah mengira pertemuan nya dengan Chelsea, gadis kecil yang duduk di sebelahnya saat di pesawat berbuntut panjang. Gadis kecil itu sepertinya hantu yang terus saja mengikutinya.
Chelsea jatuh cinta pada pandangan pertama pada pria kaku, dingin dan dewasa. Entahlah daya tarik apa yang dia miliki, yang pasti Chelsea menyukainya.
Pertemuan demi pertemuan tak sengaja terjadi, namun Al justru menuduhnya sengaja membuntuti pria itu, hingga sebuah insiden yang mengharuskan mereka menikah.
Penasaran? ikutin kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mamie kembar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panggil aku Mas
"Mas duluan aja. Aku nanti pulang bareng Ririn." jawab Caca santai.
"Tidak bisa kamu harus pulang dengan aku, Ingat ca kamu masih istri aku." tegas Al
"Dan kamu jangan dekati istri ku lagi," ucap Al pada Rafa.
Chaca tersenyum remeh pada Al, "Oh ya? apa Aku nggak salah dengar? Sejak kapan Om ingat bahwa aku ini istri Om, atau Om amnesia ya?"
"Cha!" bentak Al dia menatap sengit Caca
"Apa?" Caca tak mau kalah dia juga menatap Al sengit.
Caca memilih mengalah dan membuang napas kasar, "Ririn, aku duluan ya. Fa, nanti aku hubungi lagi."
Caca mengalah dan pulang bersama dengan suaminya yang terus menarik tangannya dengan kasar hingga mereka keluar kafe, beberapa orang melirik dan berbisik melihat mereka berdua.
"Om lepas Om, sakit, lepas Om, kau menyakitiku." Caca terus berusaha berontak
Langkah Al yang cepat membuatnya terseok Seok.
Al tersadar akan apa yang dia lakukan, 'maafkan aku tapi kau juga harus tahu kamu telah membuat aku kecewa.'
"Masuk" bentak Al
Caca masuk dan membantingkan tubuhnya di kursi sebagai bentuk protes kepada Al. Al ikut masuk dan duduk di belakang kursi kemudi, kemudian dia mengunci pintu mobil dan mulai melajukan mobilnya meninggalkan kafe tersebut.
Tidak ada pembicaraan di antara keduanya, mereka saling diam dan larut dengan pemikirannya masing masing.
di dalam hatinya Caca memaki dan mengutuk perbuatan Al yang selalu seenaknya. 'Dia anggap aku apa? datang sesuka hati, membuat keributan lagi.'
"Katakan siapa pria itu? dan Sejak kapan kalian berhubungan?" tanya Al yang masih mengemudikan mobilnya.
Caca tak menjawab, dia memilih menatap keluar jendela.
"Jawab aku ca!" lagi Al yang masih diliputi emosi bicara dengan nada tinggi.
"wah wah Om sudah seperti seorang polisi saja, Om nggak salah tanya kayak gitu?
Om lupa
bukankah om dulu kamu yang bilang aku bebas berhubungan dengan siapapun, aku boleh punya pacar karena om juga punya pacar. Diantara kita tidak boleh saling mencampuri urusan masing-masing, Om lupa?" bentak Caca balik
"Itu dulu!"
"Apa bedanya dengan sekarang? nggak ada, semua tetap sama."
"Ingat, kamu masih istri aku, dan kamu tidak boleh dekat dengan siapapun sebelum kita resmi bercerai."
"What!!!
Apa aku tidak salah dengar? bukannya ada ya kemaren yang pamitan mau menemui pacarnya? kenapa pacar kamu selingkuh?" ejek caca.
"hahahaha kasihan..."
Chiiit...Al mengerem mendadak mobilnya, hingga Caca hampir menabrak dasboard mobil.
"Om gila, aku belum mau mati," maki Caca
"Argh...." Al memukul stir mobilnya.
Caca tersemyum lagi, "Oh jadi benar dia selingkuh. Baguslah om sadar...."
"Apa maksudmu?"
Tin...tin terdengar suara klakson dari belakang, Al memaki tapi dia kembali melajukan mobilnya.
"Aku sudah tahu jika selama ini om cuma dibodohi olehnya, tapi tenang om, aku tidak bilang pada siapapun kok, rahasia aman."
"Kenapa kau tidak memberitahuku?"
"Apa Om akan percaya? tidak, om pasti tidak akan mempercayai ku. Udah om, sekarang yang penting itu, kapan kita akan bercerai?"
"Bercerai?" ulang Al kaget
"Enggak usah kaget gitu om, santai aja. Bukankah itu sesuai dengan kesepakatan kita, aku rasa nggak usah menunggu hingga satu tahun, toh aku juga nggak hamil, jadi nggak ada yang menghalangi perceraian ini, om jangan takut aku yang akan bicara dengan Papa."
"Tidak aku tidak akan pernah menceraikanmu selamanya kamu akan tetap menjadi istriku Bukankah selama ini kamu selalu mencari perhatian ku, jadi kini aku kabulkan."
Nisa tertawa remeh, "sorry ya Om, itu Caca yang dulu. Saat aku saat aku masih polos dan bodoh, memang aku akui dulu aku menyukai om, tapi sekarang aku sadar dan aku sudah memiliki pacar yang baik, perhatian dan selalu ada buatku."
"kubur jauh mimpimu itu, karena aku tidak akan memberi mu waktu, walau untuk bermimpi."
"Kau!" bentak Caca
"Aku suami mu ca, bersikap lah sopan."
"Jangan harap, aku bukan gadis bodoh, lagipula dia masih muda dan tak kalah tampan."
"Lihat penampilan mu, kau sudah seperti.."
"Apa? bukankah kekasihmu juga sama?"
"Aku cantik kan? atau om baru sadar aku kalau aku cantik? telat om."
"Berhenti panggil aku Om, panggil aku mas."
"No!"
Al memilih diam dan terus melajukan mobilnya, begitu juga Caca dia memilih menatap keluar jendela dengan perasaan kesal di hati masing-masing.
Caca memang keras kepala.
sesampainya di rumah, Al langsung memarkirkan mobilnya di garasi. Caca hendak turun namun Al masih mengunci pintunya, Caca menatap tajam,
"Ingat di depan orangtua kota harus tetap mesra," ucap Al.
"Aku tahu, cepat buka pintunya,"
Al membuka pintu dan turun, Caca sudah keluar lebih dulu, dia berjalan mendahului Al, namun langkah Al yang cepat dan panjang, membuatnya mudah untuk mengejar Caca, tangannya langsung menggenggam tangan sang istri yang masih kesal.
"Ingat kita harus bersikap mesra." bisik Al
Caca tak menolak tapi dia merasa kesal, Al tersemyum tipis. Setidaknya saat ini Caca patuh dan tunduk pada perintah nya.
"Assalamualaikum,"
"Waalaikum salam loh kalian, sudah pulang." jawab mama Caca.
mau tau gimana rasa nya,,sini Aq bisikin ca😅