Sudah tiga tahun Dianawati tinggal bersama mertuanya di Tanjungpinang. Kepindahan itu terjadi setelah suaminya, Andi Pratama, memutuskan meninggalkan Kalimantan—tempat mereka dulu bekerja dan membangun kehidupan—demi kembali ke kota kelahirannya. Alasannya sederhana namun tak bisa ditolak: ibunya tinggal seorang diri, sementara adik bungsunya bekerja di Batam dan hanya bisa pulang sesekali.
Di rumah mertua, Dianawati menjalani hari-harinya sebagai istri dan menantu yang bertanggung jawab: merawat ibu mertua yang mulai menua, mengurus anak, serta mempertahankan usaha kecil-kecilan yang sudah ia rintis sejak masih di Kalimantan. Dalam rutinitas yang tampak sederhana itulah, ia perlahan menyadari bahwa kehidupan baru ini tidak semudah yang dibayangkan.
Antara tanggung jawab, kesabaran yang terus diuji, dan kerinduan pada masa lalu yang lebih bebas, Dianawati berusaha tetap kuat—bahkan ketika ia mulai merasa dirinya adalah satu-satunya yang berjuang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thida_Rak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Sudah lima hari ibu mertuanya berada di Batam. Lima hari pula Andi jarang mengabarinya. Dian berusaha tetap berpikir positif — mungkin Andi memang sibuk, mungkin banyak pekerjaan, mungkin ada hal penting yang harus diurus.
Pagi itu, Dian sedang menyiram bunga di halaman kecil rumahnya. Air dari selang jatuh lembut ke daun-daun hijau, namun pikiran Dian jauh melayang. Ia mencoba mengusir perasaan aneh yang semakin sering muncul.
Tiba-tiba terdengar suara seseorang dari luar pagar.
“Belum pulang Bu Minah, Ian?” tanya Bu Sari, tetangga sebelah, sambil membawa tas belanja.
Dian tersenyum kecil, menata raut wajahnya agar tampak biasa.
“Belum, Bu. Mungkin besok,” jawab Dian sopan.
Bu Sari mengangguk-angguk, lalu mendekat sedikit.
“Wah lama juga ya. Ya sudah, semoga cepet balik ya, Ian. Biar ada yang bantu-bantu kamu.”
“Aamiin, Bu,” ucap Dian sambil membalas senyumnya.
Ketika Bu Sari berlalu, senyum Dian perlahan memudar.
Ia kembali menyiram bunga, tapi gerakannya melambat.
“Besok…” gumamnya pelan.
Ia menatap jauh ke jalanan sepi di depan rumahnya.
Entah kenapa, hari ini rasa rindunya pada Andi jauh lebih berat dari biasanya — bercampur dengan kecemasan yang tak mampu ia jelaskan.
Siang itu, ketika Dian sedang melipat baju, ponselnya tiba-tiba berdering. Ia cepat-cepat mengambilnya, dan begitu melihat nama Andi di layar, hatinya langsung berdebar.
“Halo, Ayah?”
Suara Andi terdengar di seberang.
“Ian, sore ini aku pulang ya. Tolong buatkan asam pedas patin, aku kangen masakanmu.”
Wajah Dian langsung berubah cerah. Senyum lebar muncul begitu saja, seolah lima hari perasaannya yang mengganjal langsung luruh semua.
“Iya, Yah! Nanti Aku beli ikan patin dulu. Alhamdulillah, akhirnya Ayah pulang…”
Andi hanya membalas dengan gumaman singkat sebelum menutup telepon, tapi Dian tak ambil pusing. Ia terlalu senang mendengar kabar suaminya akan segera kembali.
Dengan langkah ringan, Dian mengambil tas kecil.
“Naya, ayo sayang… kita belanja. Ayah pulang sore ini!”
Naya yang sedang bermain boneka kelincinya langsung menoleh.
“Ayah? Pulang?” matanya berbinar.
“Iya, ayah pulang. Kita mau buat masakan kesukaan ayah.”
“Ikut!” seru Naya sambil meraih tangan ibunya.
Dian menggendong Naya, lalu mengunci rumah. Sepanjang jalan menuju kedai, ia tak berhenti tersenyum. Ada rasa semangat, ada rindu yang akhirnya terbalas, dan ada harapan besar untuk menyambut Andi dengan hangat.
Namun tanpa Dian tahu… kepulangan kali ini tidak sesederhana itu.
Dian pulang dari kedai dengan dua kantong belanjaan. Ia segera menaruh semuanya di dapur, lalu mulai menyiapkan bahan-bahan. Aroma serai dan daun jeruk mulai memenuhi rumah, membuat suasana terasa lebih hidup dibanding beberapa hari terakhir.
Naya sudah tertidur siang di kamar, memeluk boneka kelincinya, sehingga Dian bisa memasak dengan lebih tenang.
Ia membersihkan ikan patin, memotongnya hati-hati sambil bersenandung kecil.
“Alhamdulillah… akhirnya pulang juga ayahnya Naya,” gumamnya sambil tersenyum sendiri.
Panci besar di atas kompor mulai mendidih. Ia memasukkan bumbu halus, tomat, cabai, dan terakhir potongan ikan patin. Aroma asam pedas perlahan naik ke udara — wangi khas yang Andi paling suka.
Sesekali Dian mencicipi kuahnya, mengatur rasa dengan penuh perhatian.
“Hmm… pas. Ayah pasti suka,” katanya pelan, bangga.
Setelah masakan selesai, ia mematikan kompor dan membersihkan meja dapur. Rumah harus rapi saat Andi pulang. Dian memeriksa ruang tamu, melipat selimut kecil yang tadi digunakan Naya, lalu menyapu cepat.
Ia kemudian melihat jam di dinding.
Pukul 16.45.
Andi biasanya tiba sekitar pukul 17.30 jika pulang dari kota.
Dian duduk sebentar di sofa, mengelus perutnya yang terasa capek seharian mondar-mandir. Tapi hatinya penuh harapan. Tidak sabar rasanya melihat pintu itu terbuka dan suaminya melangkah masuk.
Ia tak tahu… bahwa kepulangan kali ini membawa sesuatu yang berbeda.
Dian berdiri di depan cermin kamar, memastikan wajahnya tidak terlihat pucat setelah seharian berkegiatan. Ia merapikan hijabnya, memilih warna lembut yang disukai Andi — warna salem yang membuat wajahnya tampak lebih cerah.
Tangannya sedikit gemetar saat mengoleskan lip balm dan bedak tipis.
“Udah cantik, ya… cuma suami sendiri,” katanya pada diri sendiri sambil tersenyum malu.
Ia mengganti bajunya dengan atasan bersih dan harum, lalu menyemprotkan sedikit parfum ringan yang biasanya hanya ia pakai saat keluar rumah. Hari ini terasa istimewa; ia ingin Andi pulang dengan suasana hangat, bukan rumah yang muram seperti beberapa hari terakhir.
Naya masih tertidur, jadi Dian sempat merapikan rambut kecil di kening putrinya.
“Cantik kayak ibu ya, Nak…” bisiknya.
Setelah semuanya rapi, Dian berjalan ke dapur untuk memeriksa masakan sekali lagi. Kuah asam pedas sudah mengental dengan sempurna. Meja makan pun ia tata sederhana—piring bersih, gelas, dan sendok yang disusun rapi.
Ia duduk di ruang tamu, menunggu.
Sesekali matanya melirik ponsel — tidak ada pesan baru dari Andi.
Pukul 17.20.
Dian merapikan ujung hijabnya lagi, seolah memastikan semuanya sempurna.
Dalam hati ia berbisik,
“Semoga dia senang lihat aku. Semoga dia kangen.”
Tak lama kemudian…
Terdengar suara motor berhenti di depan rumah.
Jantung Dian berdetak sedikit lebih cepat.
“Kayanya ayah pulang,” gumamnya, berdiri perlahan agar tidak membuat Naya bangun.
Pintu pagar terbuka.
Pintu rumah terbuka perlahan. Suara langkah Andi terdengar pelan, seperti biasa ketika ia pulang dan tak ingin membuat Naya terbangun.
Dian berdiri di ruang tamu, tersenyum menyambut suaminya.
“Assalamu’alaikum, Yah…” ucapnya lembut.
Andi berhenti di ambang pintu ruang tamu.
Pandangan Dian langsung mencari wajah Andi, berharap melihat raut rindu yang biasanya muncul kalau mereka lama tak bertemu.
Namun kali ini…
Andi hanya menatap singkat, lalu mengangguk kecil.
“Wa’alaikumussalam.”
Dian mencoba tetap tersenyum.
“Kamu capek ya? Ayah mau mandi dulu atau makan dulu? Ikan patin asam pedasnya udah siap.”
Andi meletakkan tasnya tanpa banyak bicara.
“Hmm… nanti aja. Aku mandi dulu.”
Dian mengangguk. “Iya, Yah.”
Saat Andi berjalan melewatinya menuju kamar mandi, Dian merasakan sesuatu yang berbeda — dingin, jauh, dan tidak seperti biasanya. Tapi ia menahan diri untuk tidak berpikir macam-macam.
Ia mengikuti Andi dengan mata, lalu berkata pelan,
“Naya tidur. Nanti kalau bangun pasti senang ayahnya pulang.”
Andi tidak menjawab.
Hanya suara pintu kamar mandi yang menutup.
Dian menarik napas panjang, mencoba menenangkan hatinya.
Mungkin dia memang sangat capek… mungkin begitu…
Ia menuju dapur, memanaskan sedikit kuah asam pedas, berharap setelah makan nanti suasana akan kembali hangat.
Lima menit kemudian Andi keluar dari kamar mandi. Tubuhnya segar, tetapi wajahnya tetap muram.
“Yah… makan dulu ya?” tanya Dian hati-hati.
Andi duduk tanpa menatapnya.
“Ya.”
Dian dengan cepat menata mangkuk dan menuang kuah asam pedas. Aroma rempah memenuhi ruangan. Ia menaruh mangkuk di depan Andi.
“Coba ya, semoga enak.”
Andi mengambil sendok, mencicipi sekilas.
“Hmm.”
Tanpa pujian. Tanpa komentar.
Dian duduk di seberangnya dengan senyum tipis.
“Kamu kenapa, Yah? Ada apa? Kerjaannya berat ya akhir-akhir ini?”
Andi berhenti makan sejenak.
Menatap piring.
“Aku capek. Udah itu aja.”
“Tetap semangat ya… aku selalu ada buat kamu,” ujar Dian lirih.
Andi hanya mendengus pendek.
Tidak menatapnya.
Dian menunduk, hatinya terasa berat. Ada perasaan tak nyaman, tapi ia menelan semuanya sambil berusaha tetap terlihat kuat.
Tiba-tiba terdengar suara pintu kamar.
Naya bangun, memanggil pelan,
“Ibuu…”
Dian segera berdiri.
“Sebentar ya, Yah. Naya bangun.”
Ia menuju kamar dengan hati yang sedikit lega — setidaknya dengan Naya, semuanya terasa hangat.
Begitu Dian menghilang di balik pintu kamar, Andi menatap ke arah meja makan, menarik napas panjang.
Wajahnya kosong.
Jauh.
Dan seolah penuh sesuatu yang tidak ia katakan.
Dian keluar dari kamar sambil menggendong Naya yang masih mengucek mata, rambutnya sedikit berantakan tapi wajahnya langsung cerah begitu melihat ayahnya di meja makan.
“Ayah… ayah… ayah…” seru Naya sambil merentangkan tangan ke arah Andi.
Dian tersenyum kecil melihat semangat putrinya.
“Nih, Yah… anakmu nyariin.”
Andi mendongak.
Untuk pertama kalinya sejak tiba, raut wajahnya sedikit berubah — ada senyum tipis yang muncul.
Namun hanya sekejap.
“ sini…” ujarnya pelan.
Dian mendekat, menyerahkan Naya ke pelukan Andi.
Begitu berada di dekapan ayahnya, Naya memeluk Andi erat-erat sambil berkata,
“Ayah… Naya kangen…”
Dian yang melihat itu merasakan hatinya menghangat.
Momen seperti inilah yang selalu membuatnya kuat.
Andi mengusap kepala Naya.
“Iya… ayah juga kangen.”
Namun meski memeluk, tatapan Andi masih terasa jauh.
Tidak selembut biasanya.
Dian menyadarinya.
Ia berdiri di samping meja, mengamati suaminya dan putrinya.
“Sini Yah, kuambilin tisu ya. Mulut Naya masih belepotan susu habis bangun.”
Andi mengangguk tanpa menatapnya.
Dian mengambil tisu, kembali ke meja, mengusap lembut mulut Naya.
“Cantik ibu… udah segar? Kemarin kita jalan sore kan, ingat?”
Naya mengangguk, lalu menunjuk piring Andi.
“Ayah mam?”
Andi tersenyum kecil. “Iya, ayah makan.”
Dian ikut tersenyum — semoga suasana bisa mencair.
Namun saat Dian mau duduk kembali, Naya tiba-tiba berkata,
“Ayah peluk ibu…”
Dian tertegun.
Andi diam.
Udara mendadak kaku.
Naya yang biasanya polos, tampak bingung melihat dua orang dewasa tidak bergerak.
Dian mencoba mencairkan suasana.
“Hehe… Naya ini, ayah capek sayang. Nanti ya.”
Tapi mata Dian sekilas memandang Andi — berharap, walau hanya sedikit, suaminya merespon lebih hangat.
Andi menunduk lagi ke piring, mengambil sendok.
“Ya… nanti,” jawabnya datar.
Naya memiringkan kepala, tidak mengerti.
“Ibu… sedih?”
Dian terdiam.
Hatinya tercekat.
“No… ibu nggak sedih,” katanya akhirnya sambil tersenyum tipis, mengusap punggung Naya.
Tapi Andi…
menahan napas sejenak, seperti merasa terusik — atau merasa bersalah — namun tetap memilih diam.
Dian akhirnya duduk kembali, memeluk Naya dari samping.
Sambil menguatkan diri.
Ada apa sebenarnya, Yah… ada apa?
Dian menarik napas pelan. Jawaban singkat itu… terlalu singkat.
Ia menoleh, memperhatikan wajah Andi yang tidak lepas dari layar ponsel.
“Ayah… kalau cuma capek, nggak apa-apa. Tapi… lima hari ini ayah jarang banget kabar. Biasanya ayah sempat kirim pesan, walau cuma ‘udah makan’ atau ‘udah pulang kerja’.”
Andi tetap menatap layar.
Hanya menggumam pendek, “Iya…”
Dian menunduk.
Tangannya meremas ujung selimut.
“Aku ngerasa ayah jauh… aku takut ada yang salah. Kalau aku ada salah, bilang sama aku. Aku bisa perbaiki…”
Kali ini Andi berhenti scrolling.
Tapi ia tidak menatap Dian.
Hanya mendesah.
“Dian… jangan terlalu dipikirin. Kerjaan aja bikin pusing.”
Dian tersenyum tipis, tapi matanya memerah sedikit.
“Aku ngerti ayah sibuk… tapi sikap ayah beda. Ayah pulang aja kayak… nggak kangen.”
Andi memejamkan mata sesaat, lalu membuka kembali dan berkata datar:
“Udah, jangan bahas yang nggak penting. Nanti ribut. Aku cuma pingin istirahat.”
Dian membeku.
Kalimat itu seperti menutup pintu.
Sunyi mengambang di antara mereka.
Dengan suara hampir berbisik, Dian berkata:
“Aku cuma ingin ayah jujur sama aku…”
Andi memalingkan wajah ke samping, membelakangi Dian di ranjang.
“Tidur aja, besok masih banyak kerjaan.”
Dian menatap punggung Andi lama.
Matanya berkaca, tapi ia cepat-cepat menghapusnya.
Ia tidak ingin Andi mendengar isaknya.
Ia tidak ingin Naya terbangun dan melihat ibunya menangis.
Pelan-pelan ia berbaring di samping suaminya, tapi tidak saling bersentuhan.
Untuk pertama kalinya sejak menikah…
jarak antara mereka terasa begitu dingin.
Pagi itu rumah terasa lebih sunyi dari biasanya.
Dian bangun lebih cepat, jauh sebelum Andi terjaga.
Ia merapikan selimut Naya yang masih pulas, lalu berdiri perlahan, memastikan tidak menimbulkan suara. Dia sempat melirik Andi—masih tidur membelakangi, sama seperti semalam.
Dengan hati yang sedikit berat, Dian keluar kamar.
Di dapur Dian mulai menanak nasi, menyiapkan telur, memotong bawang. Tangannya cekatan, tetapi pikirannya melayang-layang.
“Ibu pulang hari ini… harusnya aku siap-siap.”
Ia menggigit bibir.
Setengah waspada, setengah pasrah pada apa pun yang menantinya hari ini.
Ia menumis bumbu, aroma harum menyebar.
Setelah sarapan selesai, ia beralih menyapu ruang tengah, merapikan bantal sofa, mengelap meja.
Tidak ada satu pun sudut rumah yang ia lewatkan.
Di halaman Dengan selendang tipis menggendong Naya yang baru terbangun dan masih rewel kecil, Dian keluar menyiram bunga-bunga ibu mertuanya.
Ia menunduk, memeriksa daun, memastikan air merata.
Tiba-tiba matanya menangkap satu bunga mawar yang mulai layu.
“Aduh… jangan sampai ibu lihat ini.”
Dian jongkok dan memetik daun-daun keringnya, berusaha membuatnya tampak lebih segar.
Hatinya gelisah.
Bukan hanya karena bunga itu.
Tapi karena perasaan yang dia bawa sejak semalam—tentang Andi, tentang sikapnya yang berubah, tentang sesuatu yang sepertinya disembunyikan.
Ia menatap bunga yang baru saja disiram, lalu menghela napas panjang.
“Semoga semua baik-baik aja hari ini…” gumamnya lirih.