IG: ana_miauw
Bisa menikah dengan Yudha adalah bukan dari rencana Vita saat itu. Karena Yudha sudah memiliki hati yang lain sebelumnya. Dan atas nama pernikahan yang suci, dia mencoba untuk menerima takdirnya menjadi nomor dua meski dia adalah istri pertama.
Tetapi apa yang Vita rasakan semenjak pernikahan hingga saat ini?
Vita tidak sepakat dengan ketidakadilan yag dibebankan kepadanya karena tak pernah merasa dicintai sedikitpun oleh Yudha. Bahkan Yudha mengatakannya secara terus terang bahwa Vita hanyalah sebuah pelampiasan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedua Manusia Terkutuk
“Kak, sudah pulang?” tanya Rahma ketika Yudha memasuki pintu utama. “Tumben sudah sampai. Biasanya kamu pulangnya agak malam.”
Yudha hanya mengangguk dan menatapnya sekilas. Meskipun Yudha melewatinya begitu saja, namun wanita itu tetap mengikuti di belakangnya sampai ke kamar atas.
“Kak, sudah makan siang apa belum? Aku ambilkan ya, aku bawakan ke sini,” ucap Rahma memberondong. Karena tak kunjung mendapat tanggapan, Rahma kembali menuntut, “Kak ... jawab ....”
Yudha berhenti. Pria itu memejamkan matanya sekilas. Yang tampak di matanya, Rahma seperti tengah menghiba-hiba, namun tidak ia pedulikan tanpa kesalahan yang pasti.
“Tidak usah. Kamu tidak perlu bolak-balik. Aku bisa mengambilnya sendiri,” jawab Yudha akhirnya. Rupanya dia tidak tega memperlakukan Rahma lebih buruk lagi.
Rahma tersenyum dan berkaca-kaca. “Terima kasih karena sudah mau berbicara denganku.” Tak lama kemudian, wanita itu menghamburkan diri ke dalam pelukan suaminya. “Aku merindukanmu yang dulu, tolong jangan berubah.”
Yudha tak membalas peluknya namun juga tak bisa menolak. Justru matanya kini menerawang, penyesalan lagi-lagi hadir membayang menghantuinya. Rahma adalah istrinya yang selalu ada di dekapannya setiap saat. Dia berkecukupan dan di kelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya. Sedangkan Vita—wanita itu yatim piatu, selalu sendirian, kebingungan, dan mungkin saja kedinginan di tempat yang kurang memadai.
‘Apa kamu merindukanku? Sama seperti aku merindukanmu?’ batin Yudha dengan mata berkilauan. ‘Bolehkah aku membayangkan diri, berjalan di sisimu? Aku ingin duduk mendengarkan segala keluh kesahmu. Hal yang tidak pernah aku lakukan sebelumnya.’
Denyar di hatinya meruap ke seluruh pori wajah, seperti sengatan halus, membuat dadanya sesak, lalu tersadar bahwa dia telah lalu dari kesempatan yang langka itu.
“Siapkan bajuku. Aku mau mandi,” kata Yudha setelah Rahma merenggangkan pelukan.
“Baik, Mas Yudha.”
Ucapan Rahma barusan membuat Yudha terhenti seketika. “Jangan pernah panggil aku seperti itu lagi.”
“Kenapa?” tanya Rahma menyentak.
Yudha meninggi. “Aku bilang jangan, ya jangan!”
“Hanya Vita saja yang boleh memanggilmu, begitu? Sementara aku tidak?”
Yudha memilih diam.
“Kamu tega,” kata Rahma lagi.
“Tidak usah membantah.” Yudha berlalu masuk ke dalam kamar mandi meninggalkan wanita yang kini sedang sangat kecewa karena sentakannya.
‘Sentakan dari seorang suami adalah cambuk yang menyakitkan bagi setiap perempuan. Tapi kenapa aku mengalaminya? Bahkan berkali-kali. Sadarkah apa yang kamu lakukan ini adalah sebuah kezaliman, Kak?’
***
Sembari berkemas memasukkan barang-barangnya ke dalam koper, Dara menceritakan kedatangan seorang pria yang mencarinya. Tetapi karena tetangga sebelah memang tidak tahu nama lengkapnya, membuat pria itu pergi tanpa mengantongi hasil penelusuran.
“Ciri-ciri orangnya seperti apa?” tanya Vita.
“Orangnya jelek katanya, perutnya agak buncit. Apa suamimu begitu?”
“Izh!” Vita bergidik. “Masa aku mau menikah sama Kang buncit.”
“Hehehe ... bercanda!” Dara meringis.
Tak berapa lama, setelah selesai berkemas, Dara terlebih dahulu menyingkap penutup makanan. Keduanya melakukan makan siang terakhir sama-sama.
“Aku pulangnya agak lama,” kata Dara memberitahu. “Sampai keadaan adikku membaik.”
“Santai saja, Dar. Keluargamu lebih penting.”
“Kamu mau oleh-oleh apa dari sana?”
“Makanan saja yang enak-enak.”
“Siap.” Dara memaklumi, Vita memang sedang suka sekali makan camilan.
Beberapa menit berlalu.
“Aku pergi dulu ya, Ta, kamu hati-hati di sini. Kalau ada apa-apa, jangan sungkan-sungkan calling, biar nanti aku carikan bantuan temanku yang lain,” ucap Dara setelah mengeluarkan kopernya keluar.
“Iya, kamu jangan khawatir.” Vita tersenyum dan memeluknya dengan tulus. “Salam untuk keluargamu. Semoga adikmu cepat sembuh.”
“Semoga harapan kita semua dikabulkan.”
“Aku titip ini untuk ibumu.” Vita menyodorkan amplop coklat dengan ketebalan sedang.
“Eh, apa ini, Ta?” Dara mengerut menerima benda yang diterimanya, “Ini tidak perlu. Kamu simpan saja, kamu pasti lebih membutuhkannya.”
“Aku tidak memberikannya untukmu, tapi untuk ibumu. Jadi hanya beliau yang boleh menolak.”
“Vita ....” Dara merasa sangat keberatan. “Aku tidak mau.”
“Dar, ini amanah dariku. Kau harus menyampaikannya ke ibumu.” Vita tetap menyelipkan amplop itu ke dalam tas Dara sehingga gadis itu sulit menolak.
“Kau ini benar-benar!”
“Bilang ke beliau, ini dari baby aku.”
Dara tersenyum. “Baiklah kalau kamu memaksa.”
Kini fokusnya teralihkan. “Aku gemas melihatmu. Baby bump!” ujarnya lagi sambil mengusap-usap perut Vita. “Sebenarnya menurut penglihatanku, tidak ada yang kurang darimu loh, Ta. Kamu itu baik, mandiri, pintar, plus cantik juga. Tapi kenapa tega-teganya suamimu itu ....” Dara membiarkan Vita meneruskan sendiri ucapannya.
“Dara, meskipun suamiku itu ringan tangan, suka bimbang, tapi sebenarnya dia itu baik.”
“Halah, aku tidak percaya ada buaya baik. Yang ada bikin naik darah setiap hari,” kata Dara menyanggah pujian wanita yang sedang dimabuk cinta tersebut. Tidak salah apa kata pepatah, cinta memang membuat siapa pun menjadi buta. Padahal sudah terlihat jelas seberapa besar kesalahan yang diperbuat oleh pasangannya.
“Ya, sudah. Aku berangkat sekarang. Takut telat,” ujar Dara lagi.
Vita mengangguk, “Oke, Dar. Hati-hati.”
Tak lama setelah itu, Dara berjalan keluar gerbang. Jemputan telah menunggu gadis itu di sana.
“Tenang Vita, tenang. Kalau orang itu tidak ke sini lagi, kamu akan aman,” gumamnya menyemangati diri.
Hari-hari dilaluinya sendiri di dalam kontrakan enam kali sembilan meter tersebut. Sesekali dia keluar untuk membeli kebutuhan dapur seperti makanan matang atau sayuran mentah. Dia benar-benar menikmati hari-harinya sendiri di sana tanpa ada gangguan-gangguan penyakit hati mana pun.
Terkadang jika ia menginginkan, dia akan berjalan-jalan pagi untuk menikmati udara segar di sekitar. Malamnya, ia akan mencari warung makanan di pinggir jalan sekadar mencari angin agar tidak terlalu suntuk.
Perkembangan bayinya sangat baik setelah beberapa kali ia periksakan ke klinik terdekat. Berat badannya juga naik beberapa kilo.
Ya, untuk beberapa saat, dia memang menjadi wanita yang bahagia dengan kesendiriannya. Namun kesenangan itu tak berlangsung lama, sebab saat ia iseng untuk melihat akun lovagram milik istri kedua suaminya, dia langsung terjatuh lagi.
Vita sangat menyesal karena telah memberanikan diri membuka akun profil Rahma. Di sana, ada beberapa postingan yang menunjukkan bahwa wanita itu baru saja melakukan tasyakuran empat bulanan bayi mereka.
‘Bangga kalian. Bangga kalian memamerkan kebahagiaan kalian setelah berhasil menyingkirkan aku. Bangga kalian hidup bahagia di atas luka wanita lain yang sudah tak memiliki siapa-siapa.’
Kedua manusia itu tersenyum menatap kamera serupa orang yang tak pernah mempunyai noda.
‘Kamu memang wanita tidak tahu diri, Rahma. Dan kamu Yudha, aku heran denganmu. Kenapa tidak ada pengaruh apa pun bagimu setelah aku pergi? Kalian berdua memang sama-sama manusia terkutuk.’
Setelah berkata demikian, tekadnya menjadi semakin kuat, bahwa Yudha memang tidak pantas menjadi apa-apa atas dirinya. ‘Kita lihat saja nanti. Jangan lupakan, karma akan tetap berjalan, dan kalian akan menyesal. Menyesal!’
***
To Be Continued.
bhkn km tak punya hati.... dlu sll membandingkn vita dgn rahma...
km sll memuji rahma... bhkn km bilang hnya rahma yg bisa mmberimu kdamaian.... dan km mngtakn hnya rahma istri terbaikmu....
mkanya yud.... jgn trtipu dgn anggunnya cover luaran.... tpi nyatanya busuk dalamnya...