NovelToon NovelToon
Jodoh Untuk Abang

Jodoh Untuk Abang

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintamanis / Tamat
Popularitas:4.9M
Nilai: 5
Nama Author: fitTri

Warning!!
Membaca novel ini bisa menyebabkan diabetes akut saking manisnya, juga penuh kebaperan dan ke uwuwan yang hakiki. Jadi disarankan untuk nggak terlalu menghayati.

Arya dan ketiga adik perempuannya menjadi yatim piyatu di usia mereka yang sangat muda. Pria itu bahkan harus menjadi tulang punggung sekaligus orang tua bagi mereka bahkan ketika dirinyapun masih membutuhkan perlindungan.

Namun waktu dan pengalaman membuatnya kuat dan terbiasa mandiri. Menjadi pelindung bagi ketika adik perempuan, menjaga mereka dari apapun yang terjadi.
Dia selalu mengutamakan kepentingan keluarganya, mendorong adik-adiknya untuk menggapai cita-cita dan kehidupan yang lebih baik. Hingga Arya melupakan dirinya sendiri, bahkan di usianya yang semakin matang dia enggan untuk memikirkan kehidupan pribadinya.

Keberadaan Vania yang selalu terlibat dalam segala urusan keluarga membuatnya terbiasa. Walaupun perselisihan sering terjadi diantara mereka berdua, karena perbedaan usia dan kepribadian, namun nyatanya malah semakin menumbuhkan benih-benih cinta dihati keduanya.

Tapi apakah perbedaan usia itu akan menghalangi mereka untuk bersatu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fitTri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dua Hati

🌺

🌺

Arya turun dari ruangannya dilantai atas, bersamaan dengan tibanya Vania di dalam gedung itu untuk mengantar makan siangnya, seperti biasa.

"Udah turun?" gadis itu melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan Arya, yang belum menunjukan jam istirahat.

"Hmm ... lumayan santai, sebelum nanti dikejar deadline lagi." jawab Arya ketika jarak mereka hanya beberapa langkah.

"Makanannya mau dibawa sekarang?" Vania mengangkat totebag dalam genggamannya.

"Apaan nih?" Raja muncul entah dari mana, dan langsung menyambar benda tersebut dari tangan Vania, kemudian melihat isinya.

"Eh, ...

"Wah, ... makan siang? kamu tahu aja kalau aku udah lapar. Makasih." katanya, yang kemudian pergi.

"Eh, ... itu makan siangnya abang!" Vania berteriak, dan hampir mengejar pria muda itu jika saja Arya tak menahannya.

"Sudah, tidak apa-apa."

"Tapi kan itu buat abang?"

"Biarkan saja." ucap Arya.

"Eh, ... kenapa Kak Raja ada disini?" Vania mengerutkan dahi.

"Memang dia disini sekarang."

"Maksudnya?"

"Sekarang Raja bekerja disini."

"Pindah?"

"Sebut saja begitu." Arya mengangguk.

"Kenapa?"

"Tidak tahu."

"Apa ada hubungannya sama kejadian di kafe ibu?"

"Kurang tahu."

"Dih, cari tahu kek!"

"Bukan urusan abang."

"Hmm ... terus, itu makan siangnya gimana? mana aku nggak lebihin jatah karyawan lagi?"

"Abang bisa beli lagi."

"Eh, jangan beli. Sayang duitnya, aku suruh Mimi anter lagi kesini."

"Tidak usah, ..."

"Udah, ..." Vania menunjukan layar ponselnya. "Sebentar lagi Mimi antar makan buat abang." gadis itu tersenyum lebar.

***

Sebuah kotak makanan berisi nasi, ayam goreng dan sayuran hijau di terima Vania dari pegawainya, yang segera pamit untuk kembali ke kedainya.

"Kamu tidak kembai ke kedai? biasanya jam segini rame?" Arya menatap jam tangannya, dan bersiap untuk makan.

"Sebentar lagi." Vania membuka kotak makan, kemudian menghidangkannya di depan Arya. Mereka kini berada di taman di sebearang kantor yang tidak terlalu jauh juga dari kedai miliknya.

"Ayo dimakan?" ucapnya, dan dia menggeser makanan tersebut agar lebih dekat.

"Kamu ... sudah makan?" Arya meraih sendok, kemudian meraup makanan.

"Nanti aja, balik dari sini."

Arya terdiam sebentar.

"Ayo kita makan sama-sama?" ucap pria itu kemudian.

"Abang aja, aku nanti." tolak Vania.

"Sekarang saja. Lagi pula, ini nasinya terlalu banyak." Arya menatap kotak makan, yamg mrang dia rasa ukuran porsinya terlalu besar baginya.

"Ini porsi standar lho, kan biasanya juga segini kalau aku antar makan siang buat abang?"

Pria itu menggelengkan kepala.

"Abang jarang menghabiskan makanannya. Atau kalau tidak, abang lanjutkan memakan sisanya nanti sore sebelum pulag." dia tertawa.

"Masa? kan makanannya udah dingin? udah nggak enak kali?"

"Abang kan tidak bisa makan banyak sekaligus."

"Oh ya?"

"Hmm ..." Arya memulai kegiatan makannya.

"Kenapa?"

"Kebiasaan." dia mengunyah dengan tenang.

"Kebiasaan apanya?"

"Dulu, sebelum keadaan sebaik sekarang, ... abang sering membagi makanan dengan adik-adik." Arya kembali mengingat masa-masa sulit itu.

"Dulu kerja di bengkel dibayarnya harian, dapat duapuluh ribu. Sore nya pas pulang, sepuluh ribu dibelikan dua bungkus nasi dan sedikit lauk. Sampai rumah masing-masing satu bungkus nasi dibagi dua, dimakan berempat. Sisa uang abang berikan kepala Alya, untuk dibagi dua. Buat bekal sekolah mereka besoknya. Mungkin dari sana, abang jadi terbiasa maka sedikit-sedikit." dia tertawa lagi, namun hal tersebut membuat Vania merasakan tenggorokannya seperti tercekat.

"Alena?"

"Alena kan abang bawa kerja, dia tidak mau abang tinggal, sekalipun Alya dan Anna menjemput dia sepulang sekolah. Tapi di tempat kerja suka ada yang memberi dia makanan, atau uang."

"Bersyukur, saat itu ketemu Pak Harlan. Dan setelah beberapa bulan kenal, dia mengajak abang kerja di kantornya yang waktu itu masih merintis. Awalnya jadi OB, dan setahun setelah itu, dia menyarankan abang untuk ikut persamaan SMA, sampai dapat beasiswa juga untuk kuliah. Makanya bisa seperti sekarang ini."

Dia menggeser kotak makan ke hadapan Vania.

"Jadi abang kenal Om Harlan sebelum kerja?"

"Iya, dulu dia penlanggan bengkelnya si Koko juga."

"Terus?"

"Ya, ... sampai sekarang ini."

"Abang udah ngobrol sama Om Harlan?" Vania kemudian bertanya, disela kegiatan makan mereka yang saling bergantian.

"Soal apa?"

"Sola kita."

"Kita?" pria itu terkekeh.

"Iya, soal kita. Masa soal aku sama kak Raja?"

Arya terdiam sebentar.

"Bang?"

"Hum?"

"Udah bilang sama Om Harlan kalau kita pacaran?"

Arya tak menjawab.

"Karena aku udah bilang sama ibu, dan minta ijin untuk membatalkan perjodohan itu."

"Ibu kamu jawab apa?"

"Ibu bilang, mungkin aku harus bicara sendiri sama Om Harlan. Makanya aku nanya sama abang, udah ngobrol belum sama om Harlan?"

"Sudah." Arya menjawab.

"Om Harlan jawab apa?" gadis itu mencondongkan tubuhnya ke arah Arya.

"Dia bilang ...

"Nyuruh abang mundur?"

"Tidak."

"Terus?"

"Dia, ... hanya menyerahkan keputusan kepada kita."

"Oh ya?"

Arya menganggukan kepala.

"Om Harlan nggak apa-apa?"

"Tidak."

"Serius?" Vania semakin mencondongkan tubuhnya kepada pria itu.

"Iya, ..." Arya bergerak mundur.

"Berarti nggak apa-apa kalau aku membatalkan perjodohan itu?"

"Soal itu ...

"Ah, ... satu masalah selesai." Vania menepukan kedua tangannya di depan wajah dengan riang.

"Masalahnya cuma satu." lanjut Arya.

"Apa?"

"Raja."

"Kak Raja?" Vania membeo.

"Dia tidak mungkin menyerah semudah itu."

"Kenapa?"

"Karena sepertinya dia juga punya perasaan kepada kamu."

Vania menggigit bibirnya dengan keras.

"Dulu memang Kak Raja pernah bilang begitu." akhirnya dia mrengatakannya juga.

"Apa?" tubuh Arya menegang.

"Sebelum kita jadian, Kak Raja bilang kalau dia suka aku."

"Terus?"

"Nggak ada terusnya. Karena memang nggak ada kelanjutannya."

"Kenapa?"

"Ngga kenapa-kenapa, karena memang aku nggak punya perasaan yang sama dengan dia."

"Masa?"

"Hu'um, ...

"Dia kan baik, juga ganteng?"

"Dih ...

"Mungkin kamu sebaiknya memilih Raja, ketimbang abang yang ...

"Stop!" Vania menutup mulut pria itu dengan tangannya untuk menghentikan dia berbicara.

"Jangan mulai ya, aku nggak kepikiran ke arah sana, dan nggak ada niat juga untuk gitu. Jadi ... nggak mungkin."

Arya mencoba melepaskan tangan Vania dari mulutnya.

"Tapi kan ...

"Nggak mungkin! dan aku nggak mau bicara soal itu lagi. Udah, nanti kita berantem." dia tetap menempelkan tangannya di mulut Arya.

Pria itu menariknya dengan perlahan.

"Jangan ngomong soal itu lagi!" Vania memperingatkan.

"Tidak akan."

"Awas aja!" ancamnya.

"Tidak." Arya tergelak, seraya menggenggam tangan Vania begitu erat.

"Ng ...

"Apa?" dia menatap wajah Vania yang mulai memerah. "Padahal disini sejuk lho, tapi kenapa wajahmu memerah seperti itu? kamu kegerahan?" dia menatap sekeliling taman yang dinaungi pohon besar yang lumayan rindang.

"Aku ... kalau lagi sama abang kaya gini, ... suka deg-degan." Vania terkekeh sambil menutup mulutnya.

"Jelas deg-degan, kamu kan masih hidup? kalau nggak deg-degan ya sudah mati." pria itu menjawab, yang seketika melenyapkan senyuman di bibir Vania.

"Abang konyol, dan nggak romantis." ucapnya, dengan nada kesal.

"Apa hubungannya dengan deg-degannya kamu?"

"Abang kalau lagi sama aku suka deg-degan nggak?" Vania malah bertanya.

Arya mengerutkan dahi.

"Suka. Sekarang deg-degan." dia menarik lengan Vania untuk kemudian dia tempelkan di dadanya. "Kan abang masih hidup. Tapi yang parah itu disini." dia menurunkan lengan gadis itu ke area sedikit di bawah dada yang selalu terasa ngilu setiap kali mengingatnya.

"Disini suka ngilu, tapi ... menyenangkan." Arya tergelak lagi. "Aneh, karena tiba-tiba saja abang merasa bahagia."

"Astaga! abang ini berasal dari planet mana sih?" Vania menggerutu.

"Memangnya kenapa?"

"Entah, aku harus seneng atau bingung kalau denger abang ngomong gitu?"

"Maksudnya?"

"Nggak tahu lah, itu abang sendiri yang ngerti." dia mendelik.

"Iya, abang ngerti."

"Apaan?" Vania cemberut.

"Abang sayang sama kamu." ucap Arya, membuat Vania mendongak kemudian kembali menerbitkan senyuman di bibirnya.

"Ish, ... abang bikin aku ke geeran! aku jadi semakin deg-degan kalau abang bilang gitu?" sekarang dia menarik lengannya yang bertautan dengan lengan milim Arya.

"Mau rasain nggak? nih ..." dia menempelkan tangan Arya di dadanya.

"Eee ..." pria itu mencoba menarik tangannya, namun telambat, debaran dada gadis itu jelas terasa di punggung tangannya, dan rasa hangat seketika menjalar ke segala arah. Terutama di area lembut itu, yang seketika membuat pikirannya berhamburan.

"Sama nggak?" Vania menatap wajah Arya yang juga mulai memerah. "Deg-degannya abang kaya gini nggak?" lanjutnya, dengan tatapan lugu namun berbinar dan penuh kebahagiaan. Yang tanpa dia sadari membuat perasaan pria di hadapannya yang meletup-letup.

"Ng ... sa-sama, iya sama." Arya terbata, karena ini adalah interaksi paling intens dintara mereka. Padahal keduanya bahkan sudah pernah beberapa kali berciuman, namun hal yang terjadi saat ini merupakan hal paling jauh yang dia alami bersama gadis itu.

"Ya udah kalau sama." Vania menurunkan tangannya dari dada, namun mereka masih tetap saling berpegangan dengan erat.

"Abang harus janji, kalau kita akan tetep sama-sama apapun yang terjadi. Karena aku janji, akan terus bertahan sama abang apapun yang terjadi."

"Mm ... iya." jawab Arya, pendek dengan tatapan yang tak dia lepaskan dari wajah gadis itu, sama seperti Raja yang memperhatikan jauh dari ruangannya sejak beberapa saat yang lalu.

🌺

🌺

🌺

Bersambung ...

bener ya bang, awas kalo bohong!

jangan lupa like komen sama hadiahnya 😘😘

1
NeNaNa Zeyeng
keren seperti buku2 yg lainnya /Smile/
Nova Yuliati
keren ceritanya
Nayy
halalin adek baaaaaangggg 😍
Nayy
laaah aku kan juga ikut senyum bang😍
Ruwi Yah
luar biasa
Ulil Baba
kok ngono bentuk e,,Iyo Van 🤣🤣🤣
Bastian Sipahutar
keren ceritanya
makasih thor
Bastian Sipahutar
tegang aku
Bastian Sipahutar
thor..ah
kenapa
Bastian Sipahutar
luar biasa/Drool/
Bastian Sipahutar
pas lg di kasur..ikut guling guling jg bacanya sambil senymum senyum
keren thor
May Keisya
Vania nurut aja ma suami😂
May Keisya
tau aja🤣
aroem
bagus
Laili Dwi Agustina
semua poin cerita bagus realed Ama kehidupan sehari-hari /Smile/
Laili Dwi Agustina
ada sekuel untuk novelnya abidzar gak??
Dwisur
Alena g pengertian ya drmu
Dwisur
selamat sukses buang bang Arya kamandanu
Dwisur
semangat ya bang Arya , orang baik akan sll mendapatkan kemudahan dari Allah
Dwisur
raja sok banget kamu yaa, jelas cakepan babang Arya lah, Vania lanjut perjuangan kan bang Arya kamandanu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!