Warning!! 21+
Jangan tanyakan tentang etika, norma dan agama. Karena ini pure hanya sebuah cerita halusinasi yang bertujuan untuk menghibur. Harap bijaklah dalam membaca!
❣️❣️❣️❣️❣️❣️
Bagaimana perasaanmu? Jika kamu diculik dan disekap oleh pria yang tak di kenal? Menyeramkan bukan?
Tapi bagaimana, jika orang yang menculikmu adalah seorang pria muda, tampan dan kaya? Bahkan, memperlakukanmu seperti ratu. Karena dia telah jatuh cinta pada gadis yang diculiknya dan telah direnggut kehormatannya.
Hal itulah yang terjadi pada seorang gadis yang bernama Rhibie Amoura. Gadis sebatang kara yang menjalani hidup bersama sahabat-sahabatnya.
Bagaimana pula perjuangan sahabat-sahabat Rhibie untuk mencari keberadaan gadis itu, setelah sang Maha Dewi menghilang secara tiba-tiba?
Please, dukungannya ya!...🙏😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oryn HR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelatih Yang Tak Bermain
"El... Aku bagus gak, pake baju ini?" Tanya Rhibie seraya berputar di depan cermin.
"Bukan bagus, tapi kamu tuh cantik! Memangnya mau kemana Bie, kayaknya harus perfect banget?"
"Kan aku mau ketemu Papa kamu. Harus berkesan dong!" Ucap Rhibie tanpa sadar.
"Cie... Yang mau cari muka di depan Papa mertua!" Goda Eldanno. Demi Tuhan, hati Eldanno sangat berbunga dengan sikap Rhibie.
Oh iya, ya! Kenapa aku harus sempurna di depan Papanya El? Apa hubungannya kalau beliau suka sama aku atau enggak....
Batin Rhibie yang bergelut dengan pikirannya.
"Bie, dengarkan aku! Aku gak masalah jika kamu ingin cari muka di depan Papa aku. Tapi jika Retha gak suka sama kamu, aku mohon kamu jangan tersinggung apalagi harus minder!"
"Kenapa? Tapi dia 'kan Mama kamu. Ya... Meskipun Mama sambung!"
"Pokoknya, kamu jangan hiraukan dia! Udah, titik! Gak ada kata tapi atau kenapa!!" Seru Eldanno, garang.
"Iya, aku faham. Jangan ngambek dong, entar gantengnya ilang!" Goda Rhibie, tersipu. Membuat Eldanno greget dan menghajarnya seketika dengan cumbuan mesra.
Mereka pun turun ke bawah untuk sarapan bersama. Seperti biasa, Rhibie hanya bisa makan dari tangan Baghal. Mungkin karena sudah kebal, kali ini Eldanno nampak begitu santai menanggapinya. Yang terpenting baginya, Rhibie dan bayinya sehat dan baik-baik saja.
"Kalian mau kemana?" Tanya Rhibie pada dua sahabatnya. Usai sarapan, dia langsung menyambangi kamar mereka yang sedikit terbuka. Tanpa permisi, dia masuk ke kamar itu. Dan bergabung bersama Joanna yang rebahan di kasurnya.
"Gue mau jenguk Karmen, sekalian ngasih uang buat bekalnya dia. Joanna gak ikut, dia nemenin lo disini!" Sahut Jessie seraya mengaplikasikan lipbalm di bibirnya.
"Gue ikut dong, Jess! Gue udah kangeeeen... banget sama Karmen dan Sandra" Pinta Rhibie membuat Jessie dan Joanna tersentak. Namun dengan cepat mereka berusaha menetralkan kembali shock-nya, sebelum Rhibie mencurigainya.
"Lo izin dulu sana, sama Pak Eldanno!" Saran Jessie.
"Cih, manggil Pak?! Lo tau gak, gue manggil Eldanno apa?" Kata Rhibie yang merasa geli dengan panggilan Jessie untuk pria itu.
"Lo manggil apa?" Tanya Jessie dan Joanna, kompak.
"Gue manggilnya bajingan! Haha..."
Sontak Jessie dan Joanna pun terbahak-bahak mendengarnya.
"Bie...!!" Hardik Eldanno yang mendengar celotehannya dari ruang tengah.
"Hehe... Maaf El! El, aku boleh gak..."
"Gak boleh!!!"
"El, aku 'kan belum selesai ngomong!"
"Tapi kamu mau minta izin 'kan, ikut sama Jessie?" Tebak Eldanno. Membuat Rhibie mengerucutkan bibirnya, seketika.
"Lagian lo Jess, coba kalau perginya kemarin waktu Pak Eldanno gak ada. Pasti Rhibie bisa ikut!" Celoteh Joanna dengan suara yang berbisik.
"Tapi tetep aja, El pasti tau aku pergi kemana!" Keluh Rhibie seraya mengacungkan tangan kirinya, dimana pada jari manisnya terdapat sebuah cincin pemberian Eldanno.
"Oh My God! Lo di lamar Pak Eldanno?" Teriak Joanna seraya menutup mulut dengan kedua tangannya, shock.
"Kok cincin lamaran, sih? Ini tuh GPS, tau gak?!" Bantah Rhibie, tak suka.
"Tapi ini cincin tunangan, Rhibie! Iya 'kan, Jess?" Ujar Joanna seraya meraih tangan Rhibie. Lalu menatap Jessie.
"Ish, di bilangin malah gak percaya!" Maki Rhibie, kesal.
"Eh Jess, tunggu bentar! Gue mau nitip sesuatu buat Karmen dan Sandra!" Pinta Rhibie. Lalu keluar untuk menemui Eldanno di sofa, di ruang tengah.
"Jess, cincin yang di pake Rhibie cincin tunangan 'kan?" Bisik Joanna.
"Shsst, mereka udah nikah!" Sahut Jessie. Lalu menceritakan fakta tentang Rhibie dan Eldanno. Membuat Joanna terperangah, tak percaya.
"Kok Rhibie goblok, ya? Mau aja di bohongin!" Sindir Joanna seraya menggeleng miris.
"Udah lah, biarin aja! Yang penting Rhibie baik-baik aja" Ceramah Jessie, lalu memakai tas selempangnya.
"Gue sebel aja, dia tuh paling pinter ngebacot! Katanya, kita jadi cewek jangan goblok! Jangan mau di bodohi sama cowok! Lha, itu dia sendiri...?? Dia tuh, guru macam apa? Bisanya ngomong doang. Giliran praktek, gak becus!" Ledek Joanna yang merasa miris dengan sikap Rhibie.
"Ingat, Jo! Dimana-mana pelatih itu gak bermain!" Ucap Jessie sambil tertawa kecil, membela Rhibie. Dan dia pun keluar dari kamarnya. Meninggalkan Joanna yang tersenyum geli akan sikap Rhibie.
"El..." Sapa Rhibie pada Eldanno yang sedang sibuk dengan laptopnya.
"Hem"
"Aku boleh minta uang, gak?" Rengek Rhibie.
Eldanno mengalihkan perhatiannya pada Rhibie.
"Maksudku, Aku pinjem uang!" Dengan cepat, Rhibie mengubah kata-katanya.
"Butuh uang berapa, Sayang?"
"Tiga juta! Eh, enggak! Maksudku lima juta!" Seru Rhibie seraya menyerahkan kelima jarinya pada Eldanno.
"Lo buat apa, minta uang banyak banget? 'Kan kebutuhan lo udah di tanggung Pak Eldanno?" Komentar Jessie yang baru keluar dari kamarnya.
"Buat Karmen sama Sandra. Yang tiga juta, buat bekal mereka berdua. Yang dua juta lagi, bilangin sama Sandra kado dari gue buat bayinya dia!" Ucap Rhibie antusias. Padahal Eldanno belum memberikan uangnya. PD aja di duluin!
Seketika Jessie memalingkan wajahnya dari Rhibie. Mengedipkan matanya beberapa kali, berusaha meredam tangisannya.
"Tapi itu kebanyakan, Rhibie! Belum lagi uang dari gue" Ucap Jessie menahan tangis, seraya berpura-pura memainkan ponselnya. Karena tak ingin menampakkan wajah sedihnya pada Rhibie.
"Tapi, Jess..."
"Ya, udah! Aku ambil uangnya dulu!" Potong Eldanno, mengalihkan pembicaraan. Dia pun bergegas pergi menuju kamarnya.
Selang beberapa saat, Eldanno sudah kembali dengan uang cash sebesar lima juta dalam amplop coklat. Sesuai permintaan istrinya.
"Lima juta 'kan?!" Ucap Eldanno, meyakinkan. Lalu menyerahkannya pada Rhibie.
Dengan cepat, Rhibie mengangguk.
"Makasih, El" Sahut Rhibie. Dan menyerahkan uang itu pada Jessie.
Eldanno hanya mengangguk sambil tersenyum. Lalu mengecup rambut Rhibie.
"Lo baliknya naik apa, Jess?" Tanya Rhibie.
"Mmm... Gak tau, sih! Tapi... Kalau boleh, aku boleh 'kan pinjem motornya Rhibie?" Sahut Jessie dan mengalihkan permintaannya pada Eldanno.
"Tentu!" Sahut Eldanno mengangguk.
"Kuncinya mana?" Tanya Jessie.
"El, kuncinya dimana?"
"Kuncinya... Coba tanyain Axelle! Soalnya dia yang suka ngurusin motor kamu, sampai di modif segala!" Sahut Eldanno.
"Apa?? Kak Axelle-nya mana? Ngerubah motor orang kok, gak bilang-bilang?" Sewot Rhibie.
"Paling di garasi! Biasanya pagi-pagi gini ngelapin motor kamu"
Rhibie pun bangkit dari samping Eldanno. Berjalan tergesa dengan langkah Jessie mengekor di belakangnya.
"Sayang, kamu mau kemana??" Teriak Eldanno yang merasa was-was saat Rhibie berjalan menuju pintu keluar. Dengan cepat Eldanno mengejarnya, khawatir Rhibie kabur meninggalkan dirinya.
Padahal jelas sekali, Rhibie tak mungkin melakukan hal itu. Karena pagar betis yang di pasang Eldanno lebih dari sepuluh orang, dengan postur tubuh mereka yang tinggi besar. Mana mungkin bagi mereka, harus kecolongan gadis yang berpostur kecil seperti Rhibie.
"Aku mau liat motor aku!" Sahut Rhibie yang terus berjalan.
Namun belum sempat bagi Rhibie mencapai pintu keluar, dengan cepat Eldanno menahannya.
"Sayang, kamu gak boleh keluar!"
"Tapi aku mau nganter Jessie sampe depan, sekalian liat motor aku!" Rengek Rhibie.
"Bie..."
"Kalau kamu gak percaya. Ayo, gendong aku ke garasi!" Kata Rhibie seraya mengangkat kedua tangannya, minta di gendong.
"Dasar manja, kamu!" Protes Eldanno seraya menyentuh ujung hidung Rhibie, gemas. Dan menggendongnya seperti anak koala.
"Biar kamu yakin aja! 'Kan kalau di gendong kayak gini, aku gak bakalan bisa kabur" Ucap Rhibie membela diri seraya mengalungkan kedua tangannya, memeluk pundak Eldanno.
Sesampainya di garasi, apa yang di ramalkan Eldanno benar adanya. Axelle sedang asyik sendiri mengelapi motor Rhibie yang sudah di modifikasi, sesuai seleranya. Hingga membuat motor itu nampak lain dari sebelumnya.
"Kak Axelle, kenapa motor aku di macem-macemin?" Protes Rhibie dalam pangkuan Eldanno.
Hardikan dari Rhibie, membuat Axelle tersentak dari kesibukannya. Dan menoleh ke arah tiga manusia yang kini mengerumuninya.
"Eh, kalian! Ngapain rame-rame kesini? Mau ngantri sembako, ya?" Ujar Axelle sembrono.
"Tapi gue lebih suka motor lo dengan tampilan yang sekarang. Lebih kece!" Ujar Jessie seraya memandang kagum pada motor Rhibie.
"Ish, lo sama Kak Axelle sama aja! Lama-lama gue kawinin juga lo sama dia!" Gerutu Rhibie, sebal.
"Gue sih, gak masalah di kawinin sama Kak Axelle. Secara 'kan, Kak Axelle ganteng!" Balas Jessie. Membuat senyuman Axelle mengembang sempurna. Dan menatap Jessie dengan tatapan seperti matahari pagi, bikin meleleh.
"Aah... Kak Axelle, senyumanmu itu lho! Seperti menantangku untuk berumah tangga!" Gombal Jessie, konyol.
Tak ayal, satu jitakan dari Rhibie mendarat di kepala gadis itu.