NovelToon NovelToon
Malam Pertama Dengan CEO

Malam Pertama Dengan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikah Kontrak
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: santi damayanti

Kayla hancur saat tunangannya, Damar, ketahuan selingkuh dan menghina dirinya sebagai wanita “mandul”. Dikhianati keluarga sendiri, ia kabur dalam keadaan terluka hingga tanpa sadar menghabiskan malam dengan seorang pria asing di hotel. Tanpa ia ketahui, pria itu adalah Adrian, CEO dingin dan berkuasa yang kemudian menjadi atasan barunya di hotel

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 17

Kayla duduk di dalam mobil dengan perasaan yang masih sulit ia percaya. Ia mengenakan pakaian berwarna coklat tulang dengan kerah putih yang sederhana namun elegan. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai, membuat wajahnya terlihat semakin lembut dan cantik di bawah cahaya sore yang masuk dari kaca mobil.

Di tangannya, ia terus memandangi buku nikah yang baru saja ia pegang sejak beberapa menit lalu. Jari-jarinya sesekali menyentuh halaman itu seolah ingin memastikan bahwa semua ini benar-benar nyata, bukan sekadar mimpi yang terlalu indah untuk dipercaya.

"Benar-benar sudah menikah dengan Pak Adrian..."gumamnya dalam hati dengan perasaan campur aduk.

"AKu mimpi ga sih."pikirannya masih ragu

Sementara itu, Adrian yang duduk di sebelahnya tampak jauh lebih tenang, namun sesekali tersenyum kecil tanpa alasan yang jelas. Tatapannya beberapa kali mengarah ke Kayla, seolah pria itu masih tidak percaya bahwa wanita di sampingnya kini benar-benar menjadi istrinya.

Kehangatan aneh mulai memenuhi ruang kecil di dalam mobil itu. Namun, di sisi lain, suasana juga terasa canggung karena keduanya masih belum terbiasa dengan status baru mereka.

Untuk menghilangkan ketegangan yang terasa semakin menekan, Kayla akhirnya membuka suara.

"Pak Adrian... kita sekarang mau ke mana?"

Adrian menoleh perlahan. Senyum kecil masih terukir di wajahnya. Ia ingin sekali menggenggam tangan Kayla, merasakan kehangatan sebagai suami yang sah, tetapi ia menahan diri karena tidak ingin membuat Kayla merasa tidak nyaman.

"Kita sudah menikah," ucap Adrian pelan namun jelas. "Kenapa masih memanggilku Pak Adrian?"

Ucapan itu membuat jantung Kayla langsung berdetak lebih cepat. Wajahnya sedikit memerah tanpa bisa ia kendalikan.

Di dalam pikirannya, berbagai kata muncul bersamaan, membuatnya semakin gugup.

"Harusnya aku memanggilnya apa?"

"Sayang? Suami? Atau nama saja?"

Namun semua itu tidak berani ia ucapkan.

"Aku... kalau tidak panggil Pak Adrian, aku harus panggil apa?" jawab Kayla akhirnya dengan suara pelan. "Masa panggil Rian begitu saja?"

Adrian tersenyum lebih lebar mendengar jawaban itu. Ia mengangguk pelan seolah menyetujui sesuatu yang sejak tadi ia tunggu.

"Nah, itu lebih bagus," ucapnya lembut. "Mulai sekarang panggil saja Rian. Biar lebih dekat."

Kayla menunduk sedikit, pipinya langsung terasa hangat karena rasa malu yang tiba-tiba muncul tanpa bisa ia hentikan.

"I-iya... baik, Pak... eh, Rian," ucapnya gugup sambil menunduk semakin dalam.

Senyum Adrian semakin sulit disembunyikan. Di dalam hatinya, ia merasa perjalanan baru mereka baru saja dimulai, dan ia tidak ingin lagi menjaga jarak dengan wanita yang kini resmi menjadi istrinya.

Mobil Adrian akhirnya tiba di sebuah mansion mewah yang berdiri megah di tengah area elit. Begitu mobil berhenti, Adrian masuk bersama Kayla yang masih terlihat gugup. Pintu utama terbuka, dan hampir sepuluh orang pelayan telah berbaris rapi menyambut kedatangan mereka.

"Selamat datang, Tuan Adrian," ucap seorang pria paruh baya yang merupakan kepala pelayan keluarga Wijaya.

Adrian kemudian meletakkan tangannya di pundak Kayla. "Perkenalkan, semuanya. Ini istri saya sekarang, namanya Kayla Permana."

"Selamat datang, Nyonya Kayla," ucap para pelayan serempak sambil membungkukkan badan dengan sopan.

Kayla yang tidak terbiasa diperlakukan seperti itu langsung merasa gugup. Dengan cepat ia berkata, "Panggil Kayla saja, tidak usah pakai Nyonya."

Namun, tidak ada satu pun pelayan yang berani mengikuti permintaannya. Bagi mereka, penggunaan sebutan tersebut adalah bagian dari etika dan penghormatan.

"Sudahlah, Kayla," bisik Adrian pelan. "Biarkan mereka menyebutmu Nyonya. Itu bentuk penghargaan untukmu."

Kayla menelan ludah. Ia terbiasa melayani orang lain, bukan dilayani seperti ini. Situasi itu membuatnya merasa asing di tubuhnya sendiri.

"Kamu pasti lelah. Istirahat dulu di kamar, ya," kata Adrian kemudian. Ia menoleh ke arah seorang perempuan paruh baya. "Bi, Ilia, tolong antarkan Nyonya ke kamarnya."

Kayla hanya tersenyum canggung. Bersama Bi Ilia, ia kemudian diantar menuju lantai dua mansion tersebut. Di sana terdapat sebuah kamar yang sangat luas dan mewah, jauh melampaui apa pun yang pernah ia bayangkan sebelumnya.

Adrian duduk di sofa, masih dengan senyum tipis yang tidak benar-benar hilang dari wajahnya. Entah kenapa, pikirannya seperti sedang berada di tempat lain, jauh lebih tenang dibanding biasanya.

“Mana-mana cucu menantuku?” suara Maharani terdengar dari ambang pintu, matanya menyapu ruangan mencari sosok yang ia maksud.

Adrian baru saja hendak menjawab, namun Maharani sudah lebih dulu melangkah masuk dengan wajah penuh penilaian dan kekecewaan.

“Mana cucu menantuku, ha? Kamu ini benar-benar tidak berguna,” ucap Maharani dengan nada masam. “Kamu gagal membawa cucu menantu kesayangan nenek.”

Adrian hanya tersenyum kecil, lalu perlahan mengeluarkan buku nikah berwarna merah dari sakunya.

“Aku sudah menikah dengannya, Nek,” kata Adrian tenang.

Maharani langsung meraih buku itu dengan cepat, membukanya dan membaca setiap detailnya dengan saksama. Semakin lama ia menatap, wajahnya berubah menjadi lebih lembut, bahkan sedikit berbinar.

“Benar-benar cantik…” gumamnya pelan. Lalu ia menatap Adrian tajam namun penuh pesan. “Keluarganya memperlakukannya dengan buruk. Kamu sebagai suami harus melindunginya. Jangan sampai kamu berbuat kasar padanya. Kalau kamu menyakitinya, nenek tidak akan rela.”

Adrian mengangguk pelan sambil tersenyum. “Tenang saja, Nek. Aku akan menjadi suami yang baik. Aku akan melindunginya sepenuh hati.”

“Bagus. Itu baru cucuku,” ucap Maharani sambil menepuk pundak Adrian dengan bangga.

Adrian hanya tersenyum tipis tanpa banyak kata.

“Dia sedang hamil anakmu, dan sekarang masih bekerja. Apa kamu tidak menyuruhnya berhenti dan tinggal di rumah ini saja?” tanya Maharani dengan raut khawatir.

“Masalah pekerjaan,” jawab Adrian datar. “Biarkan Kayla yang menentukan. Dia masih ingin bekerja. Aku ingin membangun hubungan yang baik dengannya, Nek.”

“Baik, baik,” ucap Maharani akhirnya mengalah. “Tapi kamu harus menempatkan orang untuk menjaganya dari jauh.”

“Baik, Nek,” jawab Adrian singkat.

“Sekarang dia di mana?” tanya Maharani lagi.

“Di atas, Nek,” jawab Adrian santai.

Mendengar itu, Maharani langsung bergegas naik ke lantai atas dengan langkah cepat.

“Pelan-pelan, Nek!” seru Adrian, namun ia kembali duduk dan membuka tabletnya, melanjutkan pekerjaan seolah tidak ada hal besar yang terjadi.

Di lantai atas, Kayla berada di dalam kamar. Lila baru saja menuntunnya masuk dan menunjukkan ruangan yang begitu mewah, rapi, dan terasa seperti dunia yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

“Ini kamar nyonya dan Tuan Adrian,” kata Lila dengan sopan.

Kayla mengedarkan pandangannya perlahan. Lemari pakaian sudah terisi penuh dengan baju-baju perempuan yang cantik, warna dan motifnya bahkan terasa sangat cocok dengannya, seolah seseorang sudah mengetahui dirinya jauh sebelum ia datang.

“Lila permisi dulu, saya masih ada pekerjaan,” ucap Lila kemudian.

Kayla mengangguk pelan. Setelah pelayan itu pergi, ia duduk di atas kasur empuk itu, lalu menatap langit-langit kamar.

Ia menyentuh pipinya pelan, lalu memejamkan mata.

“Astaga… aku jadi istri Pak Adrian… sudah hamil pula,” ucapnya pelan sambil tangan refleks menyentuh perutnya.

Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama. Ponselnya berdering. Nama Lisa muncul di layar.

“Kayla, cepat ke asrama… barang-barang kamu akan dikeluarkan oleh Rina dan teman-temannya,” suara Lisa terdengar panik dari seberang.

“Apa?” Kayla langsung bangkit, wajahnya berubah kesal. “Rina lagi… dia selalu saja mengganggu.”

1
Ariany Sudjana
Linda juga sama, apa ga ada niat untuk mencari kebenaran dulu? malah mau saja percaya dengan omongan pelacur murahan
Ariany Sudjana
dasar pelacur murahan kamu itu Lina, dan mau saja dibodohi sama perempuan sampah seperti Rina... katanya orang kaya, tapi bodohnya kebangetan
Ariany Sudjana
berarti Kayla anak kandungnya Linda yang hilang itu ya? semoga Adrian bisa menemukan siapa orang tua kandungnya Kayla, dan membungkam mulut si pelacur murahan Rina, juga Lina itu
Ariany Sudjana
kenapa bab 28 dan 29 isinya sama?
Adi Sudiro
wanita 2 menjijik kan apak mereka anak kandung..?
Ariany Sudjana
dasar pelacur murahan yang ga tahu diri kalian itu, Rina, Mila, sama saja, sama-sama pelacur dan kalian harusnya dibunuh saja, karena sudah mengusir istri bos. mampus kalian🤣🤣😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!