NovelToon NovelToon
Anak Tersembunyi Sang Pewaris

Anak Tersembunyi Sang Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Lari Saat Hamil / Menikah Karena Anak
Popularitas:31.6k
Nilai: 5
Nama Author: IAS

Kaelus Danurwenda terkejut ketika mendapati dirinya di pagi hari tanpa mengenakan pakaian. Dia mengumpat marah ketika mengingat kejadian tadi malam.

Kaelus mencari jejak si wanita namun nihil. Pencarian Kael berlangsung selama 4 tahun lamanya, tapi tak menghasilkan apapun.

Ketika harapannya pupus, dan hendak menerima perjodohan yang diatur orang tuanya, tiba-tiba seorang bocah dengan mata coklat kekuningan menabrak tubuhnya.

"Maap Om, Al nda senaja."

Debaran aneh memenuhi hati Kaelus Wajah bocah itu sangat tidak asing di matanya.

"Kamu ... ."

"Maaf Tuan, anak saya berlari tanpa arah. Permisi."

Melihat ibu dari anak itu, Kaelus samar-samar mengingat tentang wanita di malam yang salah itu.

Apa yang akan dilakukan Kaelus? Apa dia akan melanjutkan perjodohan yang diatur, atau malah mencari ibu dan anak tersebut?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ATSP 28

Sarapan pagi hari ini ada yang sedikit berbeda, Rosa berkali-kali melihat ke sekeliling rumah. Ia berkali-kali juga menggeser tubuhnya, dan hanya memainkan garpu juga sendoknya, tak segera menyuap.

Griz mengerutkan alisnya ketika menyadari tindakan Rosa yang tak seperti biasanya. Tapi ia memilih diam, tak bertanya.

"Oma, dimana Ayah?" tanya Al. Bocah itu meletakkan sendoknya. Matanya berkedip beberapa kali dan pipinya menggembung.

"Ayah? Ayah kerja, tadi berangkat pagi-pagi sekali. Al masih tidur tadi, jadi Ayah nggak bisa pemitan ke Al," jawab Griz dengan senyum tipis nan lembut.

Oh

Bukan Al yang berkata demikian tapi Rosa.

Ben dan Griz saling pandang. Dalam hati mereka memiliki sebuah tebakan dan hanya melalui pandangan mata, keduanya sudah saling memahami.

"Apa Al mau ketemu saya Ayah? Kita bisa menemuinya di kantor?"

Ben mengedipkan satu matanya. Ide tersebut didukung oleh Griz.

"Apa boleh?" tanya Al. Dia mengalihkan pandangannya kepada Rosa.

Rosa reflek terbatuk. Dia tersedak air yang baru saja diminumnya.

"Ibu, Ibu nda apa-apa? Ibu cakit?" Wajah Al panik, dia bahkan turun dari kursinya dan menepuk paha Rosa.

"Nggak sayang, ini cuma tersedak aja," Rosa mengusap kepala putranya. Dia juga tersenyum lembut sambil mengusap bibirnya.

"Rosa, apa kamu bersedia untuk kembali ke kediaman utama?"

"Ya tidak masalah."

Griz melebarkan matanya, senyum juga langsung mengembang dari bibir wanita patuh baya itu.

Meski dia tidak tahu mengapa Rosa setuju untuk kembali, tapi dia bersyukur Rosa tidak menolak.

"Bagus, kalau begitu mari kita bersiap setelah ini. Kita akan pulang ke rumah," sahut Ben.

Sarapan pagi itu terasa lebih menyenangkan. Tak ada banyak hal yang dikatakan namun masing-masing dari mereka memiliki perasaan dalam hatinya.

Rosa juga nampak tenang. Dia kembali ke kamar lebih dulu karena ingin membereskan barang miliknya dan milik Al. Meski Griz berkata tidak perlu karena ada asisten rumah tangga yang akan melakukannya, namun Rosa tetap ingin melakukannya sendiri.

Sati per satu Rosa memasukkan baju ke dalam tas. Setelah selesai, wanita itu duduk di tepi ranjang sambil mengamati bunga yang waktu itu diberikan oleh Kael.

Ya bunga itu masih ada. Karena buket yang diberikan Kael adalah bunga segar, Rosa membongkar buket tersebut dan meletakkannya ke dalam vas.

"Kenapa aku mencari pria itu?"

Rosa berjalan mendekat ke arah bunga. Dia menghirup aroma mawar yang masih tercium dari sana.

Pikrannya tertuju kepada Kael, semua yang Kael katakan tadi malam teringiang jelas di kepalanya.

"Apa aku sungguh ingin bertemu dengan dia? Tapi kalau aku pingsan lagi pas berhadapan dengan dia, gimana?"

Rosa ragu dengan perasaannya sendiri. Dia ingin melihat dan bertemu dengan Kael, tapi ketakutan dalam dirinya juga tak kalah besarnya. Ada hal yang ingin ditanyakan terkait ucapan Kael semalam.

Hembusan nafas panjang meluncur dari mulut dan bibir Rosa. Dia meninggalkan kamar tersebut sambil mengangkat tas nya dan sekali lagi matanya tertuju kepada bunga-bunga mawar ity.

Klak

Pintu ditutup dengan rapat. Hatinya memiliki sedikit tekad yakni untuk lebih berani.

Jika Kael memang tidak melakukannya atas nafsuu pribadi maka dugaan Rosa selama ini salah total. Dimana ia ingin bertanya langsung atas kebenaran yang terjadi pada empat tahun yang lalu.

"Sudah siap semua?" tanya Ben kepada seluruh anggota keluargany. "Tak ada yang ketinggalan kan?" tanyanya lagi.

Semua orang memastikan bahwa tidak ada barang yang tertinggal termasuk Al.

Bocah itu melihat ke belakang, dimana mainannya berada. Satu, dua, tiga, Al mencoba menghitung yang mana membuat semua orang tertawa kecil melihatnya.

"Udah semua, Nak," dengan senyumnya Rosa berkata demikian.

Al mengangguk, dia lalu kembali duduk dengan tenang di sisi Rosa.

"Tapi kalau nanti ada yang ketindalan badaimana?" Mata Al berkedip berkali-kali. Wajahnya sedikit cemas.

"Nggak apa-apa sayang, nanti Opa belikan lagi oke," sahut Ben yang berada di kursi kemudi. Ben menoleh ke belakang lalu berkedip ke arah cucunya.

"Nda boleh beditu, Opa. Mainan-mainan ini kan Ayah yan kasih, jadi nda boleh ketindalan dan nda boleh hilang."

Wajah Al langsung bekerut. Kedua tangannya langsung dilipat ke depan dada.

Ben dan Griz langsung tertawa mendengar tanggapan Al. Mereka senang pasalnya jawaban itu cukup membuat mereka paham bahwa Al sudah menerima Kael dengan baik.

Sedangkan Rosa, dadanya berdegup dengan begitu cepat. Dia menatap ke arah putranya dengan dalam.

Dari ucapan Al bisa dia ketahui bahwa Kael adalah sosok yang baik dan lembut. Pasalnya Al lumayan sulit dengan orang lain terutama sosok pria. Namun dari waktu Rosa melihat kedekatan Al dan Kael, lalu reaksi Al sekarang, membuat Rosa semakin paham bahwa Al menerima Kael sepenuhnya.

"Apa aku harus sudah mulai menerimanya? Demi Al?"

Rosa berbicara dalam hatinya. Kepalanya sibuk berpikir tentang banyak hal yang berkaitan dengan Kael dan sikapnya nanti.

Dalam benak Rosa kali ini seperti ada pertentangan. Satu sisi dia ingin menerima Kael dan memaafkan segala hal yang telah terjadi karena Kael melakukan bukan karena sengaja. Namun di sisi lain, Rosa masih merasa sangat sakit hati karena selama ini dirinya cukup tersiksa dan kesulitan setelah kejadian malam itu.

Rosa mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Pikirannya begitu kalut sehingga dia tak bisa memutuskan sikap apa yang harus diambilnya nanti ketika bertemu dengan Kael.

Sedangkan di perusahaan Kael sudah kembali berkutat dengan pekerjaan. Rasa enggannya kembali pada rutinitas pekerjaan karena harus meninggalkan Al dan Rosa perlahan hilang karena banyaknya pekerjaan yang harus diselesaikan.

Tidak hadirnya dirinya selama beberapa waktu di perusahaan tetap membuat kondisi tidak stabil. Meski Rowan melakukannya dengan sangat baik, akan tetapi ada pekerjaan dimana Kael harus turun langsung untuk menanganinya.

"Ughhh."

Kael menggeliat setelah dia berhasil menyelesaikan separuh dari pekerjaannya. Dia melepas kaca mata yang bertengger di hidungnya dan memijit pangkal hidungnya dengan sedikit lebih keras.

"Capek banget ya Bos?" tanya Rowan yang duduk di depan Kael. Ia beranjak dari duduknya, berjalan menuju ke sebuah meja kecil dimana ada perlengkapan membuat kopi.

Dengan tangkas, Rowan meracik kopi.

"Hot or ice?"

"Ice."

Rowan mengangguk, meracik kopi sesuai keinginan sang tuan dan tak lama kopi yang dibuatnya pun jadi.

"Minum dulu," ucap Rowan sambil mengulurkan gelas.

"Thanks Wan."

Gluk

Rasa segar langsung bisa dirasakan ketika kopi yang bertemu dengan es itu melewati tenggorokan. Mata seolah menjadi lebih jernih, dan lelah di tubuh seolah ikut luruh.

"Jadi gimana perkembangannya. Dari tadi pengen nanya, tapi nggak ada kesempatan."

Kael menggelengkan kepalanya. Rowan langsung tersenyum simpul, semua jawaban sudah langsung diketahui hanya dengan satu gerakan.

"Yang sabar ya. Pelan-pelan Bos. Butuh proses yang nggak sebentar menghadapi trauma."

"Iya aku paham kok. Dan aku akan selalu menunggu sampai Rosa mau melihat dan mendengarkan ku."

Rowan tersenyum simpul. Kael yang ada di depannya sungguh sangat berbeda dari yang biasa ia hadapi. Dan Rowan senang bahwasannya Kael lebih terlihat selayaknya manusia.

"Kak! Akhirnya kamu bisa kutemui."

Suara yang melengking sambil membuka pintu itu membuat Rowan dan Kael mengerutkan kening mereka. Tatapan Kael langsung menajam, lalu Rowan, dia berdecak.

"Dasar ulet gatel."

TBC

1
Mariee__shiitie___🍒🍒🍒🍒
g mungkin kael nikah m orang lain dia juga g mau pisahkan km m al
Mariee__shiitie___🍒🍒🍒🍒
sempull emng doanya g bener
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
Kael dan Rosa galau nih 🤦😅
Dew666
Iya Rose harus nikah
Novita Sari
tapi ceritanya masih bagus.gak muter muter kok,kan nyeritain traumanya rosa sama kael n juga ada sangkut pautnya..
Esther
Galau nih Rosa dan Kael perkara menikah atau tidak🤭.
爾妮
😍😍mantap ahh
Rohmi Yatun
enggak kok Thor.. Q suka cerita nya..
爾妮
semangat tor,, lanjut 💪💪
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
bagus Griz lngsng ultimatum Kael dan Rosa biar cepat nikah agar Al punya status jls jd gak usah nunggu lama" lg 😉👍
ind@h
dulu waktu kecil aq jg pernah hanyut di sungai kak..kata orang² ini nyawa kedua..bener kata kakak..trauma itu masih ada di alam bawah sadar kita bahkan sampai skr...memang trauma itu susah bgt ilangnya kak..mungkin bagi mereka yg tdk mengalami menganggap enteng..tp jujur bgt bagi kita itu sangat berat..
Ayudya
lanjut kak😍😍😍😍
Dozky 2 Crazy
gak ko author aku sukaaa
n faham
semangat n sehat sehat author🩷🩷
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
Eeh dikiiit naa /Proud/
Novita Sari
😭😭😭😭
Keysha Aurelie
Kael pria yang baik ,gak egois, gak kejam, gak dingin, beda banget sama pemeran utama yang lain 🤭 langsung suka aku, pria idaman ini
💕𝘛𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘒𝘪𝘵𝘢𝘯𝘢💕
kapan nih Kael dan Rosa nikah 😏🤔
爾妮
😭😭😭

teman nya si kael gk d kasih pelajaran,,karna dia mereka jd sengsara
ind@h
pagi² udah ada yg naruh bawang...
Sastri Dalila
/Whimper/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!