"Kau siapa?" Charlotte tak menemukan jejak ingatan siapa laki-laki yang berdiri didepannya dengan hanya handuk dan rambut basah di kamar hotel itu.
"Kau tak tahu aku siapa? Kau tidur di ranjangku..." Bahkan bajunya sudah berganti dengan baju kebesaran dari pria itu.
Sial! Bahkan namanya pun tak bisa diingatnya. Nasib sial apa yang menimpanya sekarang.
Dari kecil dia tak pernah percaya cinta, tak percaya pangeran berkuda putih, Charlotte Blaine adalah pengacara perceraian paling dicari di London, melihat begitu banyak perceraian dalam hidupnya dan tidak mempercayai cinta, tapi sekarang dia jatuh ke pelukan pria asing karena minum di Monaco.
Apapun yang terjadi semalam tetap tinggal di Monaco. Begitu batinnya.
Benarkah kisahnya begitu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Margaret R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31. I Can't Josh!
"Charlotte, kau punya pertemuan dengan Vivienne Chai jam 11." Elly langsung masuk ke ruanganku begitu aku tiba. Aku cuma duduk dikursiku dan termenung. Pikiranku terbang kemana-mana.
"Charlotte, kau mendengarku?"
"Elly, bisa kau tinggalkan aku sendiri 30 menit. Tolong..."
"Kau baik-baik saja? Perlu kubatalkan pertemuannya?" Elly mungkin tak pernah melihatku begini.
"Aku baik, tak usah batalkan. Hanya tinggalkan aku sendiri 30 menit. Jangan ada yang masuk. Aku akan memanggilmu." Mataku sudah panas.
"Oke, ..." Dia dengan cepat pergi, dan begitu dia menutup pintu aku membenamkan wajahku ke meja, dan mulai menangis dengan keras. Aku tak bisa menggambarkan perasaanku sekarang, aku sudah hancur, aku merasa tak berdaya. Aku dan Josh adalah hal yang mustahil dan semua perasaanku yang berkembang harus kukubur dan bagaimana aku bisa membunuh itu seketika, karena itu begitu menyakitkan bagiku.
Aku baru saja menemukan cintaku, menemukan orang yang membuatku bisa tertidur dengan aman dipelukannya, bisa saling memandang tanpa merasa bosan, Josh adalah duniaku, cinta dan cahaya setelah sekian lama aku menghindari kata cinta. Dan itu harus kubuang. Karena aku mencintai orang yang salah. Sangat salah! Kenapa ini harus terjadi padaku.
Aku menangis sepuasnya untuk melampiaskan perasaanku. Tak bisa selamanya aku bersembunyi dan menagisi nasibku. Setelah beberapa saat aku harus bangkit. Mataku merah dan sembab, aku pergi ke ruang kecil di kantorku. Mencuci mukaku, menyudahi tangisku.
Sebuah suara dihatiku berkata. Ibumu menanggung kesedihannya ditinggalkan dengan tidak bertanggung jawab seumur hidupnya, demi kebahagiaanmu. Kau tidak akan membiarkannya mengingat rasa sakit itu lagi. Kau harus kuat, ini hanya salah satu episode cinta yang bodoh!
Dengan kata-kata itu aku memoles makeup ku kembali. Merapikan mata sembabku, memakai kacamata untuk menyembunyikannya. Berusaha terlihat aku adalah seorang profesional bertangan dingin kembali. Aku berhasil, setidaknya cermin didepanku mengatakan begitu, walaupun aku masih hancur didalam sana.
"Elly bawakan aku dokumen Mrs. Chai, kau dan Edward kita briefing singkat sebelum tamu kita datang." Elly dan Edwards dengan cepat datang dan aku memaksa diriku untuk berkonsentrasi dengan semua materi didepanku.
Vivienne Chai dengan datang dan membawa perkembangan baru kasusnya. Kami baru menyetujui besar pembayaran fee beberapa hari yang lalu. Dan dia memberikan update perkembangan awal kasusnya di Malaysia. Aku sadar aku harus membereskan pertarungan di Malaysia terlebih dahulu, sebelum mengurus perebutan asset di UK.
"Aku akan ke Malaysia bersamamu Mrs . Vivienne banyak hal yang kami harus diskusikan dengan pengacaramu disana untuk menjaga semuanya berjalan seperti yang kita inginkan. Kapan kau kembali?"
"Minggu depan hari Kamis."
"Aku akan kesana dan bicara dengan kolega kami yang mengurus kasusmu Rabu. Kita bertemu disana untuk pembahasan lebih dalam." Aku berencana melarikan diri dari Josh untuk sementara waktu. Membuat diriku tenang untuk bisa berpikir jernih. Dia akan kembali Sabtu malam dua hari lagi dan aku harus bicara padanya tentang kami.
Pertemuan itu berakhir dan aku tidak punya kekuatan lagi untuk meneruskan hariku. Aku pulang dan meneruskan tangisku di kamarku sampai aku lelah. Aku merasa seperti orang paling malang di dunia dan dalam sekejab duniaku yang berwarna menjadi kelabu.
Sekarang aku tahu rasanya putus cinta.
----------
"Charlotte sayang..." aku mengerjab saat merasa seseorang memelukku dalam tidurku. Aku tak bisa tidur semalaman kemarin, dan bahkan aku perlu obat tidur untuk memaksa pikiranku berhenti bekerja malam ini.
Aku pikir selama ini aku adalah wanita yang kuat dan tidak gampang menangis, tapi sekarang mataku sudah bengkak karena terus menangis.
"Josh... " aku memejamkan mataku, takut dia melihat mataku sembab. Hanya sesaat kupikir kami masih baik-baik saja, sebelum kusadari dimana aku sekarang.
"Tidurlah, kau pasti lelah. Besok kita bisa bicara. Love you..." Seperti biasa dia memelukku dari belakang. Kupikir dia kembali ke apartmentnya sendiri malam ini. Penerbangannya tiba hampir jam delapan malam dan dia bilang harus langsung bertemu klien dibandara.
Mataku kembali memanas. Dengan cepat air mataku mengalir di sela mataku yang tertutup. Dan aku tak bisa menahan isakanku walaupun aku sudah berusaha.
KEREN
setuju pakai banget...
klo indo ?? Whatever