**Buat pecinta novel romantis, belum lengkap rasanya kalau belum membaca novel yang satu ini.**
Rianty adalah kembang desa di kampungnya. Oleh karena suatu hal, Rianty harus meninggalkan kampung halamannya dan pergi ke kota.
Dia dibantu pamannya untuk berangkat ke kota, tapi tidak disangka pamannya juga mempunyai niat yang tidak baik.
Seperti lepas dari mulut harimau masuk ke dalam mulut buaya, itulah perumpamaan yang cocok untuk Rianty.
Rianty akhirnya harus kehilangan kesuciannya yang sudah dijaga selama ini. Pria yang merenggut kesucian Rianty juga tidak pernah mengenal Rianty. Bahkan Rianty akhirnya harus mengandung dan membesarkan anaknya seorang diri.Dalam penderitaan Rianty, untungnya Rianty mempunyai seorang anak genius, yang bertekad akan menemukan ayahnya.
Akankah anak genius ini menjembatani hubungan ayah dan ibunya?
Buat yang penasaran, ayo ikuti lebih lanjut ceritanya
Jangan lupa like, comment dan vote untuk author ya🙏🙏🙏 Semoga terhibur selalu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anny Djumadi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wanita polos lebih diminati
Gerald akhirnya melepaskan pelukannya pada Rianty, ketika mendengar ketukan pintu.
Sedangkan Rianty masih menunduk dan tidak berani menatap ke arah Gerald karena malu telah membiarkan dirinya dipeluk Gerald tanpa melakukan perlawanan, hanya karena demi satu tujuan, yaitu agar Gerald mengembalikan Al padanya.
"Masuk!", ujar Gerald yang masih menatap ke arah Rianty, karena masih merasa takjub dengan kejadian tadi.
Begitu pintu terbuka, Al langsung berlari mendekati ibunya.
"Mi, mami sudah sembuh kan? Sudah bisa pulang hari ini kan?"
Rianty tertegun ketika sadar yang muncul adalah Aldi, dia akhirnya menyesal karena tadi tidak mendorong Gerald, saat Gerald memeluknya, bahkan dia juga membiarkan Gerald mengelusnya dengan pasrah.
Tentu Gerald akan berpikir dia perempuan murahan, pikir Rianty.
Karena dengan begitu mudah menyerah pada lelaki yang baru dikenal.
Tadi dia membiarkannya karena dia berpikir Aldi ditahan dan tidak dikembalikan padanya. Kalau saja dia tahu itu hanya ketakutannya saja, tentu tadi dia sudah mendorong Gerald, saat Gerald memeluknya.
Ketakutan yang hanya disebabkan karena sudah siang Al belum muncul juga!
"Ah, ternyata aku ketakutan sendiri. Berpikir Tuan Aldo menahan Al, karena sudah tahu Al adalah anaknya", keluh Rianty dalam hati menyesali kebodohan dan rasa ketakutannya yang berlebihan itu, hingga begitu menurut pada Gerald.
"Mami masih sakit ya? Kog muka mami merah?", tanya Aldi dengan polos dan menyentuh dahi Rianty dengan telapak tangannya, Aldi tidak tahu kalau wajah Rianty merona karena rasa malu.
Sedangkan Gerald yang tadi memperhatikan wajah Aldi saat Aldi masuk, akhirnya mengalihkan pandangannya lagi pada Rianty dengan penuh selidik, dan tanpa sadar mendekati Rianty dan meletakkan telapak tangannya di dahi Rianty untuk mengecek suhu badan Rianty, seperti yang dilakukan Aldi tadi.
Kali ini refleks Rianty cepat, Rianty langsung menghindari dengan memundurkan kepalanya.
"Mami tidak apa-apa Al", sahut Rianty hanya memandang ke Aldi, sama sekali tidak berani memandang ke Gerald.
"Sifatnya cepat sekali berubah! Tadi begitu pasrah dan menurut padaku, sekarang begitu anaknya muncul langsung bersikap dingin. Memang wanita semakin cantik semakin berbahaya, tidak bisa diketahui isi hatinya. Jangan-jangan tadi hanya menipuku dan bersandiwara!", gerutu Gerald dalam hati, dan menatap tajam ke Rianty dengan tidak puas, karena merasa tersinggung ditolak.
Selama ini tidak pernah ada yang berani menolaknya.
Sedangkan sekretaris Kim yang berdiri agak belakang, terperangah melihat tingkah tuan mudanya tadi, sampai terdiam dan tidak bisa berkata apa-apa.
Otaknya yang pintar langsung membaca situasi yang aneh di kamar itu.
"Apa yang sudah dilakukan tuan Gerald sampai Rianty malu begitu?
Koq sikap tuan Gerald jadi aneh dan tidak biasanya?", pikir sekretaris Kim dalam hati, hanya bisa menebak-nebak, tidak berani menanyakan pada tuan nya itu.
"Kim! Ngapain kamu bengong pagi-pagi? Kangen Korea?
Ayo keluar! katamu ada yang mau kau laporkan padaku", ujar Gerald melampiaskan kekesalannya.
"Baik, Tuan Gerald", sahut sekretaris Kim sabar, dan mengikuti langkah lebar Gerald yang keluar dari ruangan itu.
Sekretaris Kim sudah hafal dengan tabiat tuan mudanya itu.
Rianty menarik nafas lega setelah kedua pria itu sudah keluar dari ruangannya.
Rianty tahu dari suara pintu yang ditutup, karena dari tadi dia hanya menunduk karena merasa malu.
Setelah itu Rianty yang masih terbawa suasana karena sempat berpikir kalau Aldi ditahan Gerald, langsung memeluk Aldi erat-erat, karena takut kehilangan Aldi.
"Mami kangen banget sama Al", ujar Rianty.
"Aduh mi, kalau kencang gini Al susah nafas mi. kangennya koq sampai lebay gitu sih?", protes Aldi, yang akhirnya membuat Rianty sadar dan merenggangkan pelukannya.
********
"Bu Rini, orang kita sudah menyelidiki latar belakang perempuan itu. Perempuan itu bernama Rianty, punya toko roti, sudah memiliki anak laki-laki berusia 6 tahun yang kelihatannya pintar, karena bisa masuk di sekolah BTS.
Anaknya satu sekolah dengan Angel, keponakan nyonya Gerald.
Tuan Gerald sudah beberapa kali ke toko roti itu, padahal toko rotinya bukanlah level tuan Gerald", ujar Lena menceritakan penemuannya pada ibu Gerald.
"Hah, Gerald koq bisa tertarik dengan wanita yang sudah punya anak. Kamu yakin? gak salah?", tanya ibu Gerald tidak percaya dengan selera anaknya itu
"Benar bu Rini, sudah diselidiki dengan benar. Bu Rini kan suka gak percaya dengan hal mistis, bisa saja perempuan itu pasang susuk, apalagi asalnya dari desa.
Biasanya perempuan yang sudah pernah punya suami juga lebih berpengalaman dalam menarik perhatian laki-laki.
Tentu dia ke kota punya tujuan, dengan rupanya yang kebetulan cantik, tentu dia mencari kemudahan hidup.
Bahkan Tuan Devan, kakaknya Monica sering memesan roti dan kue di toko perempuan itu untuk acara tertentu.
Kalau bukan tertarik dengan pemiliknya, buat apa Tuan Devan pesan di toko dengan level begitu?
Padahal tuan Devan sudah menduda 3 tahun, dan tidak pernah terlihat dekat dengan wanita manapun.
Nyonya bayangkan, bagaimana hebatnya wanita ini bisa sampai menggoda pria seperti Tuan Gerald dan tuan Devan.
Saya juga bingung pakai ilmu apa wanita siluman ini", ujar Lena mempengaruhi Rini, yang memang sangat membenci perempuan pelakor.
"Tapi harus diakui, kalau wajahnya rupawan!", ujar Lena sambil memperlihatkan foto Rianty ke Rini.
"Perempuan inikah?", tanya Rini tidak yakin.
"Iya bu", sahut Lena meyakinkan.
"Padahal mukanya polos dan tidak kelihatan jahat", ujar Rini masih ragu setelah melihat foto Rianty.
"Nyonya jangan percaya wajah polos begini, sekarang sudah bukan jamannya pelakor dengan dandanan menor, justru wajah polos begitu yang banyak diminati laki-laki!", ujar Lena yang sok tahu isi hati laki-laki, padahal dia saja tidak pernah menikah sejak patah hati.
"Lalu bagaimana caranya kita hadapi siluman perempuan ini?", tanya Rini yang akhirnya terpengaruh dengan asistennya itu, dan secara tidak sadar dia juga ikut memanggil Rianty dengan sebutan siluman.
"Lihat nanti saja Nyonya, kalau Gerald cuman sekedar iseng dan buat main-main saja, biarkan saja.
Bagaimanapun Nyonya harus menjaga hubungan yang baik dengan tuan Gerald, karena tuan Gerald yang berkuasa dan juga menangani semua perusahaan dan keuangan Anggara group.
Tapi kalau Gerald serius, baru kita pikirkan bagaimana caranya menghadapi wanita siluman itu", ujar Lena puas karena sudah berhasil mempengaruhi Rini.
"Ah kasihan Monica, dia sering minta maaf padaku belum bisa memberikan keturunan pada keluarga Anggara.
Padahal aku sudah melihat sendiri hasilnya dari rumah sakit, kalau tidak ada masalah pada kandungannya.
Gerald juga gak masalah, kenapa keduanya belum bisa punya anak?
Padahal sudah berapa banyak vitamin dan obat kesuburan yang kuberikan pada keduanya" ujar Rini membayangkan menantu kesayangannya itu.
Rini tentu tidak tahu kalau usahanya sia-sia saja, bahkan vitamin dan obat mahal yang dia beli untuk keduanya hanya dibuang.
Rini juga tidak tahu saat ini menantu kesayangannya sedang kalang kabut dengan penemuan barunya, saat melihat sekretaris Kim dan Aldi keluar dari kamar Gerald.
Bersambung........
🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉
Dear pembaca tersayang,
Author minta maaf hanya bisa up 1 hari sekali, bahkan kadang gak up sama sekali, karena author masih menulis novel yang lain juga yang masih ongoing.
Mohon sabar menunggu kelanjutan ceritanya, karena slow up.
Tidak lupa author ucapkan terima kasih atas dukungan pembaca semua yang sudah mendukung dengan like, vote, hadiah dan comment.
jangan lupa tekan favoritnya.❤️
Terimakasih buat komentarnya yang bagus-bagus semua, maaf author tidak bisa balas semua.
Akhir kata author tidak berarti tanpa adanya dukungan pembaca setia, jadi jangan bosan mendukung karyaku ini. terimakasih🙏🙏
Salam sehat selalu💪💪
Aku sekalian ijin promosi novel ku yang berjudul PEREBUTAN KEKUASAAN by Ira. Yuk mampir kakak di jamin seru jangan lupa like dan commen
Menjadi sosok yang berbeda bukanlah hal yang baik namun tidak juga buruk. namun apa jadinya jika seorang gadis tiba-tiba bertemu dengan keluarga yang terpandang dan kaya. Namun dia harus merelakan identitas aslinya menghilang begitu saja? Aira adalah gadis yang kehilangan namanya semua orang memanggilnya dengan Aurelia sejak hari itu semua berubah, namun itu juga awal pertemuannya dengan Dekarsa bersaudara.
Zidan memiliki cacat di wajahnya hingga membuat orang-orang membencinya dan menyebutnya monster, dia di asingkan oleh orang tuanya sendiri dan karena itu ia memiliki dendam terhadap ibunya. Dia selalu kesepian sampai dia bertemu dengan sosok Aurelia yang selalu menyemangati dan mendukungnya, dia juga yang membatunya untuk tampil Tampa sebuah topeng mengerikan itu lagi.