Hawa Hasnawi gadis penjual kripik singkong, yang dipaksa menikah dengan pemuda sombong, dingin dan angkuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon harsupi fakihudin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menginap Diapartemen
Malam ini, Hawa sedikit memikirkan undangan dan masalah kehamilan. Tiba tiba ditengah tengah ia memasukkan buku, seseorang mendekatinya
"Hawa, hari ini kau pulang sendiri atau dijemput?" Suara seorang pria, yang tidak asing bagi Hawa
"Eh bapak. Dijemput pak" Hawa menjawab, iapun langsung beranjak dan berjalan keluar
"Kamu panggilnya kok tua amat sih. Kita kan sudah diluar belajar mengajar. Lagipun, usia kita nggak beda jauh tau" Ucap Hadi yang terus mensejajari Hawa berjalan
"Nggak beda jauhpun. Mister tetep dosennya Hawa. Saya harus menghormati"
Sejak pertama Hawa masuk kuliah dulu, Hadi memang menaruh perhatian pada Hawa. Hawa yang ceplas ceplos, membuat Hadi ingin mengejarnya. Tapi Hawa seakan sulit ditaklukkan Hadi. Hadi yang belum pernah pacaran, mendekati Hawa saja, membuat dia berkeringat dingin, seperti sekarang.
"Hawa, mas ingin ngomong dong sama kamu" Hadi berusaha menghangatkan suasana. Iapun mulai berani menyebutkan kata mas, untuk memanggil dirinya
"Hah? mas. Masnya mahal mister"
"Iya mas tau, itu emas yang bisa dijualkan?"
"Sudahlah pak, saya buru buru" Hawa berlari
"Hawa tunggu" Hadi terus mengejar
"Mister, Hawa sudah ditunggu"
"Ditunggu siapa?"
"Abang"
"Abang?? abang siapa? bukannya kau anak tunggal ya?" Hawa tidak menjawab, ia terus berjalan cepat, meskipun Hadi terus terusan membuntutinya
"Hawa tunggu"
Hawapun berhenti dari jalannya
Hadi mendekati "Minggu depan, jika kuajak menghadiri undangan resepsi pernikahan ketempat sahabatku, Hawa mau nggak?" Hadi menyodorkan undangan pada Hawa, yang masih utuh, belum dilepas sampulnya
Hawa menyingkirkan undangannya "Oh, tapi sekarang aku tu sibuk pak. Pagi bekerja, sorenya kuliah " Hawa memanggil Hadi seenak wudel ya sob. Kadang pak, mister terserah Hawa.
"Memangnya, kamu sekarang bekerja dimana Hawa?"
"Ada lah pak, pokoknya, kerjanya dijakarta" Hawa berjalan cepat
"Baiklah, aku tau lho, dimana tempat tinggalmu sekarang" Teriak Hadi
Hawa langsung berhenti, dan berbelok "Darimana bapak tau? apa bapak membuntutiku?"
"Hawa jangan begitu. Aku suka sama kamu, sejak dulu. Makanya, bisa ya, kuajak kamu menghadiri undangan ini, please" Hadi masih mode merayu
Hawa tidak mendengarkan ocehan Hadi. Ia sudah berlari menuju gerbang, sejurus itu, mobil Fariz berhenti pas dipintu gerbang.
Fariz membuka kaca jendela. Hawa mendekati, lalu menunduk "Abang, sudah menungguku lama atau baru datang?"
"Barusan. Ayo masuk" Fariz membukakan pintu dari dalam. Memasangkan seatbelt untuk Hawa, lalu Fariz menatap Hawa lekat
"Ada apa?" Hawa bertanya
Fariz mengusap perut Hawa yang masih rata "Kau takut jika ini ada isinya?"
"Abang, Hawa belum siap" Ucapnya sendu
"Kenapa belum siap" Fariz bingung
"Status kita saja nggak jelas"
Fariz mengerlingkan mata.
"Abang belum pernah mengungkapkan cinta pada Hawa. Hawa takut ditinggal oleh abang"
Fariz diam, ia melepas tangannya dari perut Hawa, lalu ia mulai mengemudikan mobilnya.
Bersamaan itu, Hadi memotret plat mobil dari belakang. Ia ingin tau, mobil itu milik siapa? dan apanya Hawa.
Tangan kiri Fariz memegang tangan kanan Hawa "Apa pernyataan cinta harus diucapkan dengan kata kata Hawa?" Tanyanya
"Hmm. Abangkan tau, kita menikah gara gara grebekan"
"Ya sudah, nanti abang ungkapkan ya, setelah kita makan malam"
"Ah abang kebiasaan. Nggak ada romantis romantisnya kayak ditipi tipi" Rajuknya
Fariz tersenyum,
Beberapa menit kemudian, mobil Fariz berhenti. Didepan tenda biru, kuning, hitam, yang berjajar disepanjang jalan ini.
Fariz melepas seatbelt miliknya, dan juga Hawa "Ayo kita keluar sayang, laparkan?"
"Ih abang gombal" Hawa seketika tersenyum, ada rasa senang, ketika Fariz berucap sayang.
Fariz membukakan pintu untuk Hawa. Mereka berdua berdiri didepan warung warung yang bertenda ini "Sayang ingin apa? makan diwarung Lamongan, nasi goreng, atau bakso malang?"
"Hawa ingin bebek goreng bang"
"Oh oke, ayo kita masuk sini" Fariz mengandengi Hawa menuju warung tenda Lamongan
-
Beberapa puluh menit kemudian, mereka sudah makan dengan puas dan kenyang
"Malam ini kita nginap diapartemen saja ya?"
"Terus papi bagaimana bang?"
"Sudah abang telpon tadi"
"Perasaan Hawa nggak dengar, kalau abang telpon" Hawa ragu, takut Fariz bohong
"Kau ini. Sebelum abang jemput kamulah, abang sudah ngobrol sama papi"
"Yah, papi sendirian dong bang, kasihan"
"Kalau abang sendirian, sayang kasihan nggak?" Tanya Fariz
"Kasihan bang, tapi dikit"
Fariz langsung menjewer telinga Hawa
"Aduh bang sakit malu bang" Hawa menarik tangan Fariz
Fariz melepas jewerannya pada Hawa "Heran abang sama kamu. Sama papi begitu takluk. Tapi sama abang, kamu sukanya ngeyel mulu"
"Ehehe, papikan orang tua bang, udah gitu nggak ada temen lagi, kasihan. Ah, Hawa jadi kangen sama mami" Ucapnya sendu
Fariz mengusap pucuk kepala Hawa "Udah ayo kita pulang. Mas berapa semua?" Fariz mengajak Hawa untuk pulang, sekaligus minta dihitung tagihannya
Pelayanpun, memberikan nota pada Fariz "Ini pak"
Setelah membayar, Fariz dan Hawa naik kemobil lagi, lalu jalan.
"Bang, mampir kewarung 24 jam yuk" Tunjuknya pada toko yang sudah menjamur dimana mana
Farizpun menuruti
Mereka berdua belanja sesuai kebutuhan mereka, selama diapartemen.
Mereka sudah keluar dari toko tersebut. Tak sengaja, Hawa melihat pria rentah, jualan mainan tradisional dari bekicot yang dicat berwarna warni
"Bang" Panggilnya pada Fariz
"Hmm"
"Lihat bapak bapak itu, jam segini kok masih jualan" Tunjuk Hawa pada pria tua dipojokan dengan sepeda tuanya "Samperin yuk bang"
"Ayok"
"Bapak, bapak jualan apa?" Tanya Hawa sambil jongkok, karena bapaknya duduk diatas sandalnya
"Eh neng ini neng. Mainan buat anaknya" Tunjuknya pada gambar dibawah
Hawa tersenyum "Berapa harganya ini pak?"
" Goceng ( 5.000 ) neng"
Hawa menarik celana Fariz, agar ikut jongkok "Beli ini ya bang"
"Buat mainan siapa?" Bisik Fariz
"Buat mainan abang" Ledeknya
"Hus, kalau mau ngasih, ngasih aja. Nggak usah ngerjain bapaknya" Fariz masih berbisik
"Nggak bang, mana berani Hawa berbuat begitu"
Hawa mulai bertanya pada bapak penjual mainan tersebut "Eng, bapak... Kok jam segini bapak belum pulang?"
"Bapak masih menjual sebiji neng. Nantilah, biar laku empat atau dua"
Hawa dan Fariz saling pandang
Fariz akan mengambil dompet, tapi Hawa mencegahnya.
"Bapak, jam segini, orang orang pada istirahat. Mendingan bapak pulang istirahat ya?" Hawa menyalami bapak tersebut, dengan memberinya uang, sisa pemberian Anand "Ini ada sedikit rezeki buat bapak. Sekarang bapak pulang ya, sudah malam"
"Iya neng. Terimakasih neng, den. Semoga rejekinya eneng dan aden, selalu berlimpah dan diberkahi"
"Aamiin" Ucap Hawa dan juga Fariz
Setelah berpisah, Fariz dan Hawa masuk kemobil kembali, menuju keapartemen
-
Mereka berdua sudah masuk kedalam apartemennya.
Hawa mau nyelonong masuk kekamar tamu, yang dulu Hawa tempati
"Eh, kenapa mau masuk kesitu" Fariz menyeret krah baju Hawa dari belakang
"Mau naruh tas bang"
"Taruh tasnya dikamar utama saja. Ayo"
Fariz melepas jaznya, dan duduk disofa. Hawapun mengikuti untuk duduk disampingnya
"Tadi bapak bapak itu dikasih uang berapa?" Tanya Fariz
"Tiga ratus ribu"
"Duitmu habis dong, tinggal sejuta"
"Nggak papa, nantikan dapat ganti dari abang" Hawa tersenyum lebar "Ya bang, Hawa diganti ya bang" Hawa terus merayu
Fariz tersenyum "Tadi, abang mau ngasih aja distop. Kirain si ikhlas ngasihnya. Eh, taunya dibelakang begini"
Maaf telat.... Semoga suka ceritanya
BERSAMBUNG...
trenyuh aku..... banyu moto gak bisa mandek....
trenyuh aku..... banyu moto gak bisa mandek....