Melati gadis yatim piatu yang harus mencari nafkah buat diri sendiri dan untuk membayar hutang yang ditinggalkan ayahnya.
Setiap hari ada saja yang datang buat menagih hutang orang tuanya.
Rasa putus asa karena tak pernah dapat melunasi hutang peninggalan ayahnya membuat Melati menerima pernikahan kontrak, yang memintanya mengandung anak seorang pria yang arogan dan dingin.
Melati selalu menerima apapun yang dilakukan Jino pada dirinya. Ia berusaha menjadi istri yang baik walau Jino selalu berlaku kasar.
Tapi Jino sang suami masih saja tak pernah menganggap kehadirannya.
Hingga suatu hari Melati merasa lelah atas pernikahannya. Ia pergi meninggalkan suaminya ketika ia sedang mengandung anak keduanya.
Ketika Melati telah pergi, Jino baru mengetahui Nia istri pertama yang sangat dicintainya ternyata menipu dirinya dan telah berselingkuh.
Saat semuanya telah terungkap , Melati telah pergi jauh dari kehidupannya. Jino pada akhirnya sadar jika ia telah jatuh cinta pada Melati. Akankah cinta sang suami membawa Melati kembali...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Tiga puluh Dua
Sudah satu bulan ini Jino sering menginap di rumah Melati walau tidak setiap malam. Sikapnya pada Melati juga sudah banyak berubah. Bicaranya tidak lagi kasar.
Jino mulai perhatian dengan Melati sejak ia tau alasan Melati mau menerima nikah kontrak ini. Setiap akhir pekan, Melati akan kerumahnya buat bertemu Rendra. Jino selalu menemaninya.
Nia semakin curiga atas perubahan sikap Jino. Ia mencoba mencari tau apa yang terjadi tapi tak ada petunjuk.
"Apa sebenarnya yang disembunyikan Jino. Kenapa sikapnya berubah. Ia juga tak sehangat dulu lagi. Aku tak peduli atas sikapnya, tapi yang menjadi masalah...ia selalu bertanya setiap aku meminta uang yang cukup banyak, jika dulu ia tak pernah begitu. Ia akan memberikan apapun yang aku mau"
Raka yang semakin sulit bertemu Melati karena ia mendengar dari Melati jika Jino lebih sering di rumah. Melati meminta Raka untuk berhati hati jika ingin bertamu.
Siang ini Raka datang mengunjungi .Sebelum datang ke rumah Melati, Raka menghubunginya. Tadi ia bertanya pada Melati, apa yang ingin wanita itu makan dan ia akan membelinya. Melati dengan malu, mengatakan jika ia pengin rujak. Raka sempat kaget mendengar permintaan Melati.
Raka mengetuk pintu rumah Melati. Ia mendengar suara langkah kaki yang mendekat dan membuka pintu.
"Masuklah, Raka...."
"Nggak apa nih. Nanti jika tiba tiba Jino datang bagaimana"
"Kamu nggak akan menginapkan" ucap Melati becanda sambil tertawa
"Jika diizinkan maunya menginap sih"
"Kamu tuh, aku ini bukan istri kamu Raka. Mau minum apa..."
"Terserah, tapi kalau ada es sirup"
"Oke bos...akan aku siapkan" ujar Melati. Ia beranjak ke dapur dan kembali dengan segelas sirup dan sepiring kue.
"Tumben Mel kamu pengin rujak"
"Nggak tau, tiba tiba aku pengin aja"
"Kamu ngidam ya...."
"Emang kalau pengin rujak itu hanya wanita hamil"
"Nggak juga sih. Mel...aku nggak bisa lama lama. Aku takut Jino nanti pulang. Aku hanya ingin tau keadaanmu. Melihatmu sehat dan baik baik aja, aku udah senang. Aku hanya takut Jino menyakitimu.
"Terima kasih Raka karena selalu mengkuatirkan aku. Kamu teman terbaikku saat ini. Tapi kamu nggak perlu sekuatir itu, saat ini sikap mas Jino sudah lebih baik. Ia tak pernah menyakitiku lagi"
"Syukurlah, Mel. Aku pamit dulu"
"Tapi aku mau kamu anggap aku lebih dari teman , Melati. Aku tau ini salah, aku menyukai dan mencintai istri sepupuku sendiri. Tapi bukankah cinta itu tentang rasa. Aku tak bisa menepis semuanya"
"Hati hati Raka, terima kasih rujaknya"
"Sama sama...kamu juga hati hati. Jika ada apa apa cepat hubungi aku"
"Oke, aku akan selalu merepotkanmu. Sampai kamu bosan"
"Aku tak akan bosan...." ucap Raka sambil berjalan ke luar rumah.
Melati mengantar Raka hingga masuk ke mobil. Dan setelah mobilnya menghilang dari pandangan barulah Melati masuk.
Ia mengambil gelas sisa minuman Raka dan memcucinya. Melati mengambil bungkusan rujak dan menyalinnya ke piring. Ia membawa ke ruang keluarga.
Melati baru aja beberapa kali memakannya ketika terdengar suara pintu di buka. Melati tau itu pastilah Jino.
"Ya Tuhan, untung saja Raka udah pergi. Jika tidak pastilah terjadi kesalahpahaman"
Jino mendekati Melati dan melihatnya sedang memakan rujak.
"Aku boleh minta rujaknya, Mel"
"Mas suka rujak"
"Nggak sih baisanya. Tapi dari kemarin aku memang ingin makan rujak. Tadi aku udah membelinya , tapi melihatmu makan jadi pengin lagi"
"Ini makanlah, mas. Aku buatkan es sirup ya. Mas mau..."
"Boleh, Mel"
Melati membuat es sirup dan membawanya untuk Jino.
"Kamu dapat beli dimana rujak, Mel"
"Oh...itu, aku pesan melalui online mas"
"Baguslah, Mel. Jika ada yang kamu inginkan pesan aja. Jangan di tahan. Mel...besok aku bawa Rendra ke sini ya..."
"Apa...mas mau bawa Rendra ke sini. Betul mas"
"Iya , sesekali biar Rendra yang ke sini. Masa kamu terus yang kerumahku"
"Terima kasih ,mas..." ucap Melati dengan senyuman manisnya.
"Kamu sangat cantik Melati, aku tak ingin melepasmu. Aku mencintai Nia tapi aku juga menyayangimu. Aku nyaman jika berada didekatmu"
...............
Sudah satu minggu ini Jino selalu merasa kepalanya pusing. Tiap pagi ia selalu muntah. Makannya jadi tak berselera. Ia hanya mau makan masakan Melati.
"Jino, kamu nggak sarapan dulu" ucap Nia.
"Aku nggak lapar. Nggak ada selera makan"
"Kamu kenapa Jino. Apa aku ada salah, sudah satu minggu kamu nggak mau aku sentuh dan kamu nggak pernah makan dirumah lagi. Apa kamu udah nggak mencintaiku lagi. Aku tau Jino, aku ini wanita cacat...aku tak bisa memberimu keturunan. Aku hanya punya cinta yang tulus untukmu" ucap Nia terisak.
Melihat Nia menangis, Jino merasa bersalah. Ia mendekati Nia dan memeluknya.
"Aku masih mencintaimu. Aku tak mungkin berpaling darimu. Bagiku kamu wanita yang sempurna. Aku tak tau apa yang salah pada tubuhku, Nia. Aku merasa mual dan muntah tiap pagi. Aku tak ada selera makan. Jangan merasa bersalah, ini bukan salahmu"
"Maaf Nia, aku saat ini memang tak bisa mempercayaimu lagi sepenuhnya. Tapi mengenai sarapan, jujur sudah satu minggu ini sebenarnya aku tak ada selera makan kecuali masakan Melati"
"Kamu sakit...kamu udah ke rumah sakit"
"Aku sudah periksa dengan dokter di klinik perusahaan. Tak ada yang salah pada tubuhku. Semuanya sehat, kata dokter. Aku juga tak mengerti ada apa ini...."
"Apa kamu sedang banyak pikiran"
"Mungkin saja...."
"Kamu harus jaga kesehatan, ingat aku dan Rendra selalu membutuhkanmu"
"Iya, sayang. Aku pamit dulu ya. Kamu juga jaga kesehatan. Jangan lupa makan"
"Iya, Jino. Hati hati...."
Jino mengendarai mobilnya menuju rumah Melati. Ia melihat Melati yang sedang makan nasi goreng buatannya. Jino tanpa permisi mengambil piring Melati dan melahapnya. Melati memandangi Jino dengan heran.
"Enak...besok aku mau kamu buatkan ini untukku sarapan"
"Mas belum sarapan"
"Belum, udah satu minggu ini aku malas sarapan di rumah"
"Kenapa..."
"Aku nggak tau. Kepalaku juga sering pusing, tiap pagi terasa mual dan muntah. Kerja juga malas"
"Kok kayak wanita yang sedang hamil muda"
"Apa kamu dulu waktu hamil Rendra begini. Mela"
"Ya...."
"Apa jangan jangan kamu saat ini sedang hamil...."
"Aku juga curiganya begitu mas. Karena bulan ini aku belum datang bulan" gumam Melati
"Kalau begitu, kamu ganti pakaian. Kita periksa sekarang"
"Aku pakai tespek aja mas..."
"Ke dokter aja biar pasti. Aku tunggu kamu, cepat ganti bajunya"
Melati masuk ke kamar dan berganti pakaian. Ia sangat heran dengan reaksi Jino.
"Ada apa ya dengan mas Jino. Kenapa akhir akhir ini sikapnya berubah. Aku tak ingin terjebak dengan sikapnya, siapa tau ia hanya berpura pura baik. Aku harus tetap menjaga hatiku agar tak pernah terjebak dengan permainannya"
Setelah berganti pakaian Melati keluar dari kamar menemui Jino yang menunggunya di ruang tamu.
"Mari ,mas..."
"Kamu sudah siap...." ucap Jino dengan tersenyum.
Jino mengendarai mobilnya dengan senyum yang selalu mengukir di bibir. Sesekali ia memandangi Melati yang duduk disampingnya.
"Terima kasih, Melati. Aku bahagia banget, karenamu aku bisa merasakan jadi seorang papi. Dan jika kamu benar saat ini sedang hamil, aku pasti akan lebih bahagia lagi. Aku janji akan berubah, aku akan lebih menghargaimu sebagai ibu dari anak anakku"
*****************
Terima kasih
walopun belum sepenuhnya buat Kimberley, but it's okay..
seiring berjalannya waktu, semoga Raka benar2 bisa mencintai Bee sepenuhnya seperti dulu lg..
selalu suka sama semua cerita novelmu mam..
walopun banyak komen pro dan kontra, hal itu sudah wajar dan lumrah..
mau seperti apapun bagusnya kita, pasti ada aja yg gak sepaham..
sabar dan tetap semangat ya mam..
para reader setia tetap mendukung kok, termasuk aku, hehe..
oke deh, cus lanjut novel berikutnya..
semoga sehat terus ya mam..
tetap semangat berkarya meski beragam komen yg berdatangan..
semoga sukses selalu dimanapun mama berkarya..
💪🏻🙏🏻😘🥰😍🤩💕💕💕