Aku tak ingin seperti ibuku. Mencintai tanpa batas dan diluar logika bahkan rela mati demi cinta. Tapi nasib yang membawaku menjalani hidup bahkan lebih parah dari Ibuku.
~Tiara Purnama ~
Gadis sederhana yang kuliah sambil bekerja membantu Ibunya membesarkan dan menyekolahkan adik - adiknya dan hidup dengan Bapak Tiri yang pemalas, suka mabuk-mabukan dan suka memukuli ibunya.
Melihat Ibunya yang begitu tersiksa dibuat suaminya membuat Tiara bertekad tidak ingin sepertinya Ibunya.
Tapi alangkah malang nasibnya, disuatu acara kampus Tiara di jebak oleh temannya. Mereka mengajak Tiara ke sebuah club malam, memberi Tiara minuman beralkohol dan malam itu Tiara berakhir di sebuah kamar hotel dengan seorang pria.
Bagaimana kelanjutan kisah hidup Tiara??
Lanjutkan kisahnya...
Selamat membaca.. semoga kalian suka 😍😍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon winda siregar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meeting
Di kamar Hotel Bintang kembali mengingat wanita yang telah dia nodai lima tahun silam.
Bintang akui karena wanita itu juga bisa mengalihkan fikirannya dari Siska. Selama ini Bintang mengira dia tidak akan bisa melupakan Siksa karena rasa cintanya yang sangat dalam.
Tapi ternyata rasa kecewanya pada Siska ditambah rasa bersalahnya pada wanita itu membuatnya selalu mencari - cari wanita itu setiap ada kesempatan setelah dia pulang dari kantor.
Itu membuat Bintang bisa mengalihkan luka hatinya akibat pengkhianatan Siska.
"Dimana kamu? Bagaimana hidupmu setelah malam itu. Apakah aku sudah merusak hidupmu. Akh.... " Bintang menarik rambutnya kasar.
Sudah lima tahun mengapa aku masih merasa bersalah padanya? Ku harap kita bisa bertemu lagi kelak dan aku akan menebus serta membayar semua kesalahanku padamu. Ucap Bintang dalam hati.
Bintang membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Dia tidur sendiri malam ini karena Bagas dan Roy tidak menduga kalau Bintang akan datang sehingga mereka tidak tidur dalam satu kamar.
******
Ke esokan harinya di Cafe.
Dian dan kawan - kawannya datang lebih cepat ke Cafe. Karena Tiara mengundang mereka untuk menikmati hidangan makan siang di Cafe mereka.
Tiara tidak menyangka kalau Bintang akan datang lagi karena tadi malam Dian hanya menyebutkan Roy dan dia saja yang akan datang.
Mengapa dua pria ini ikut lagi datang ke sini? Tanya batin Tiara.
Kali ini mereka makan siang di meja yang sama tetapi selama makan Tiara hanya diam saja dan terus menundukkan wajahnya.
"Tegar sama siapa Ra?" pancing Dian sengaja bertanya tentang putranya.
"Sama Papanya Mbak" jawab Tiara.
"Lho mereka belum pulang?" tanya Dian lagi.
"Nanti sore" jawab Tiara singkat.
"Trus Tegar siapa yang jaga?" tanya Dian lagi.
"Mmm... nanti mungkin di antar ke sini" jawab Tiara.
"Oh iya kamu sudah menikah?" tanya Bagas.
"Su.. sudah" jawab Tiara ragu.
"Santai aja Ra, Dian sudah cerita semuanya kok pada kami" ujar Roy.
Tiara sangat terkejut dan menatap Dian.
"Aku cuma cerita kalau kamu sudah punya anak" tegas Dian.
Tiara tesenyum tipis.
"Gimana rumahnya, nyaman tidak?" tanya Roy.
"Nya.. nyaman Pak. Terimakasih" jawab Tiara.
"Gak usah panggil Bapak. Kami semua masih muda kok. Umur juga sama dengan Dian" ujar Bagas.
"Ja.. jadi?" tanya Tiara.
"Panggil Mas saja. Kesannya kan jadi lebih santai dan akrab. Daripada Bapak, rasanya tua banget" jawab Roy.
"Ba.. Baik.. Pak.. eh Maaas" jawab Tiara ragu - ragu.
Setelah selesai makan siang Dian melanjutkan dengan meeting mereka mengenai pengembangan Cafe ini.
"Baik, kita mulai meetingnya ya. Gas kamu diam dan dengar aja ya. Jangan ikut - ikutan" ancam Dian.
"Oke Bos" jawab Bagas santai.
"Lho kok.. " Tiara menatap wajah Dian seakan bertanya.
"Kenalkan Ra, Bintang ini salah satu pemilik Cafe di Jakarta sedangkan Roy pemilik Cafe di sini. Kami bekerjasama untuk membangun dan mengembangkan Cafe ini sampai luar Kota. Mudah - mudahan Cafe ini semakin besar karena ada satu orang lagi yang bersedia menanam sahamnya di Cafe kita ini" ungkap Dian.
Tiara sangat terkejut tenyata pria yang selama ini ingin dia hindari adalah salah satu pemilik Cafe di Jakarta tempat dia bekerja selama ini. Dan Dian merahasiakannya selama bertahun - tahun.
Apakah Mbak Dian sengaja? Atau apakah Mbak Dian selama ini bekerjasama dengan pria ini untuk menjebakku agar lebih dekat dengan pria ini? Jangan - jangan Mbak Dian sudah cerita semuanya pada pria ini tentang Tegar. Batin Tiara
"Ra... kamu dengar?" tanya Dian..
"I.. iya Mbak" jawab Tiara
"Jadi begini Ra, aku mempercayakan Cafe ini kepada kamu seperti Dian juga percaya kepada Kamu. Bedanya di Jakarta Dian dan Bintang bagi hasil. Kalau kamu di sini aku gaji dan kasih fasilitas rumah, kendaraan dan juga jaminan kesehatan" ungkap Roy.
"I.. Iya Pak eh Mass" jawab Tiara.
"Itu artinya kamu yang menjalankan usaha ini dengan baik dan buat menjadi berkembang" sambung Roy.
"Ba.. baik Mas" jawab Tiara.
"Konsepnya disamakan aja Ra dengan Cafe yang di Jakarta karena pada dasarnya cafe di sini sama dengan di Jakarta. Kita buat seperti cabang. Biar kamu gak susah. Kalau kamu butuh sesuatu kamu bisa hubungi aku di Jakarta" ungkap Dian.
"Menurut aku kalau Tiara mau mengembangkan Cafe ini dengan menu makan tambahan aku rasa tidak ada masalah Yan. Karena di sini Bandung. Aku rasa pengunjungnya lebih banyak anak muda. Jadi lidah dan harga di sesuaikan dengan selera anak muda" ucap Bintang serius.
"Betul juga usul kamu Bin" sambut Roy.
"Baik, aku setuju. Malah kalau menu kamu di sini jadi terkenal tidak ada salahnya Cafe di Jakarta juga akan menyediakan menu yang sama" ujar Dian.
"Nah bagus itu" sambut Bintang.
"Ra kalau kita harus meeting lagi dan tidak bisa dilakukan di Bandung kamu bersediakan ke Jakarta? " tanya Roy
Tiara melirik ke Dian dan Dian menganggukkan wajah memberi kode agar Tiara bersedia.
"Jangan takut Ra, semua fasilitas dan biaya pasti ditanggung" sambung Roy.
"Bersedia Mas" jawab Tiara.
"Kamu ada pertanyaan Ra? Mumpung kita masih di sini?" pancing Dian.
"Maaf Mas Roy, hari libur saya kapan ya?" tanya Tiara.
"Hahaha.... kan di awal tadi aku sudah katakan kamu yang kelola Cafe ini jadi sekalian saja kamu atur hari libur kamu Ra" jawab Roy.
"Anggap saja Cafe ini milik kamu sendiri Tiara, dengan begitu kamu akan lebih enjoy bekerja. Tidak ada keterpaksaan atau pun beban" sambung Bintang.
Pertama kalinya kamu menyebut namaku. Batin Tiara.
"Iya Mas Bintang" Tiara tersenyum malu karena sudah bertanya hal yang memalukan seperti itu. Dia merasa seperti orang bodoh jadinya.
Duh senyumnya.... Kenapa aku merasa nyaman dengan senyumannya. Rasanya seperti melihat senyuman orang yang sudah lama tidak aku temui. Mengapa aku jadi kangen pengen lihat senyumnya lagi ya. Batin Bintang
Mereka melanjutkan meeting dengan serius tapi santai bahkan terkadang Roy, Dian dan Bintang saling sindir dan bercanda terkadang Bagas ikut nimbrung dan tertawa.
Tiara hanya bisa tersenyum malu - malu karena dia tidak tau harus berkata apa pada ke empat sahabat yang ada di depannya.
Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Mereka harus segara meninggalkan Bandung dan kembali ke Jakarta.
"Guys sudah sore, kita balik yuk. Besok pagi aku ada meeting penting" ajak Bintang.
"Kuy lah... Ra kami pamit pulang dulu ya" sambut Dian.
"Ingat Ra kalau butuh sesuatu jangan ragu untuk menghubungiku. Kamu sudah punya nomor hpku kan?" tanya Roy.
"Sudah Mas, dari Mbak Dian" jawab Tiara.
"Pulang dulu ya Nona manis, senang bertemu dengan kamu. Kalau aku ke Bandung lagi boleh mampir kan?" goda Bagas.
"Boleh Mas, silahkan saja" jawab Tiara.
"Jangan Ra bahaya mereka ini play boy cap kapak terbang" sambut Dian.
"Hahaha.... " Roy dan Bagas tertawa.
"Kami pulang dulu ya Tiara, terimakasih atas sambutan kamu pada kami" ucap Bintang hormat.
"Sama - sama Mas, hati - hati di jalan" jawab Tiara sopan.
Tiara merasa Bintang sangat sopan dan selalu menghormatinya. Bintang tidak pernah menggodanya seperti Roy dan Bagas. Dan Bintang juga selalu tersenyum tulus tidak ada senyuman ingin merayu.
Seandainya kamu... Akh... tidaaaak. Tegar hanya milikku. Teriak hari Tiara.
Dian dan tiga sahabatnya masuk ke dalam mobil dan pulang ke Jakarta. Tepat saat mereka berlalu mobil Ridho memasuki area Cafe.
Bintang memperhatikan dari kaca spionnya.
Anak kecil yang mirip aku kemarin datang lagi bersama Papa dan Mamanya. Tapi mengapa anak itu berlari dan memeluk Tiara? Apa hubungannya dengan Tiara? Akh.. di lain kesempatan kalau aku bertemu Tiara lagi aku akan bertanya padanya. Batin Bintang.
.
.
BERSAMBUNG
Pagi semuaaaa.... Semoga hari libur ini menyenangkan untuk kalian semua ya..
Selamat berakhir pekan. Walau masih PPKM tetap semangat. Di rumah saja baca novel aku ya.
Semoga bisa membuat kalian semua terhibur dan jangan lupa like, koment, vote dan hadiahnya doonk..
Biar aku lebih semangat lagi nulis ceritanya.
Terimakasih 🙏🙏
🤣🤣
top bgt si roy
tunjukan siapa dirimu.