[WARNING! DISARANKAN UNTUK MEMBACA BRITTLE TERLEBIH DAHULU]
Keep reading🖤
Kata orang karma itu nyata, karma itu benar adanya. Dan kata orang apa yang sudah menimpanya adalah sebuah karma dari kedua orang tuanya.
Namun Rea tidak pernah memusingkan hal tersebut. Baginya semua yang terjadi padanya adalah kehendak takdir.
Kehadiran malaikat kecil dalam hidupnya, juga adalah sebuah takdir. Anugerah terindah dari Tuhan yang dihadiahkan padanya. Tapi sayang, hadiah itu datang di waktu yang kurang tepat.
Bisakah Rea selalu menerima semua takdir itu?.
Apakah ia akan bosan di tengah perjalanan yang sangat rumit tersebut?.
Yang sangat penting, mampukah Rea mempertahankan hubungan yang tidak berpondasi itu?
17+
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rilansun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mudah marah
...°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°...
...Enggak semua masalah bisa diselesaikan dengan kekerasan, kalau gitu apa gunanya Tuhan menciptakan mulut......
...###...
Levi melamun menatap vas bunga yang ada di atas meja sofa ruang tamu yang berada dihadapannya. Sangat sepi. Tidak ada satu pun orang yang bersedia duduk untuk menemaninya di ruangan yang sangat luas itu.
"Silakan di minum, Mas."
Levi tersentak dan kontan mengangkat pandangannya. Melihat seorang wanita paruh baya yang menyajikan secangkir teh dan beberapa camilan.
"Makasih", ujar Levi singkat namun sopan.
Wanita paruh baya itu tersenyum seraya mengangguk ramah. Lalu ia kembali pergi melanjutkan pekerjaannya. Meninggalkan Levi yang kembali sendirian di dalam kesepian yang berlarut.
Bahkan helaan nafas pendek nya saja terdengar kontras di tengah keheningan yang ada. Miris.
Seusai dari rumah Kakek nya Rea beberapa hari yang lalu. Levi kembali menghampiri kediaman Allandra dengan tekadnya yang tak pernah pudar. Untuk beberapa hari ini Levi memang menghilang. Cowok itu sibuk mengurus urusan kantor dan pendaftaran kuliahnya. Ya, Levi memang memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi setelah mengetahui kalau Rea tidak lagi bersekolah di Angkasa. Untuk apa ia tetap bertahan di sana jika orang yang menjadi alasannya bertahan sudah pergi.
Levi memang memanipulasi kelulusannya. Sebenarnya nilainya bagus, malahan diatas rata-rata. Tapi Levi menyuruh Paman nya selaku kepala sekolah Angkasa untuk membuat sebuah nilai baru dan menyembunyikan nilai aslinya itu. Bahkan dari Papa nya pun sekalipun. Dan sekarang Levi memilih untuk berkuliah agar ia bisa dengan cepat mendapatkan jabatan di perusahaan. Lalu menikahi Rea setelah itu.
"Mbok, nanti kalau ada guru Rea yang datang, suruh langsung ke kamarnya aja ya. Saya mau ke toko sebentar."
Levi mendongak dan mendapati Arinta yang tengah berbicara dengan asisten rumah tangganya.
"Iya, Nya."
Levi refleks berdiri ketika Arinta tiba-tiba menoleh ke arahnya. Cowok itu sedikit menundukkan kepalanya dan menyapa Ibu dari wanita pujaannya itu dengan sopan.
"Pagi, Tan."
Arinta hanya menganggukkan kepalanya singkat lalu membalikkan badannya dan berjalan pergi ke arah pintu utama. Tanpa berkata apa-apa dengan ekspresi yang tak dapat diartikan.
Membuat Levi kembali duduk sembari menghela nafas panjang.
"You make me want to laugh, God", gumam Levi seraya terkekeh pelan. Biasanya ia yang men-cueki orang, dan sekarang gilirannya yang dicuekin oleh satu keluarga. Benar-benar lucu.
Tadi Levi sempat terkejut saat ia diberikan kemudahan untuk masuk ke dalam kediaman Allandra tanpa embel-embel menyogok lagi. Apa yang sudah merasuki Reagan hingga membuatnya mengizinkan Levi untuk keluar-masuk. Awalnya Levi mengira jika itu adalah lampu hijau untuknya. Pertanda jika Reagan memberikannya kesempatan untuk mengejar Rea.
Namun setelah masuk ke dalam, Levi benar-benar merasa dianggap sebagai angin lalu. Tidak ada yang menyapanya dan bersedia mengobrol bersamanya.
Lalu apa gunanya mengizinkan Levi masuk. Sementara objek yang ingin dilihatnya saja sama sekali tidak menunjukkan batang hidungnya barang sedetik pun.
Apakah semua ini adalah ulah dari Deri, Kakek nya Rea.
Cling
Levi mengalihkan perhatiannya saat mendengar suara ponselnya yang berbunyi. Lalu cowok itu membuka nya dan melihat email yang dikirim oleh Papa nya. Lagi-lagi kerjaan.
Namun tak urung Levi membalasnya. Jika tidak, ia tak akan tau apa yang bakal dilakukan oleh David kepada dia. Untuk saat ini Levi belum punya kekuatan apapun untuk melawan. Jadi ia hanya bisa menuruti untuk sementara.
Saat Levi tengah mengetikkan sebuah balasan, suara seseorang menginterupsi kegiatannya. Lalu cowok itu menoleh sekilas ke arah seorang pria berpakaian formal yang masuk ke dalam rumah.
Levi tak menghiraukan, mungkin saja itu adalah salah satu pegawainya Reagan. Kemudian ia kembali melihat ke layar ponselnya.
"Permisi, saya-"
"Oh, Mas pasti orang yang disebut Nyonya tadi kan. Mari-mari saya antar ke atas."
Setelah selesai membalas email Papa nya. Levi kembali mendongak, menatap pria tadi yang sudah naik ke lantai atas bersama wanita paruh baya yang tadi memberikannya camilan.
Tapi tunggu dulu, apa yang dikatakan oleh asisten rumah tangga itu tadi. Orang yang disebut Nyonya?, berarti orang yang dikatakan oleh Arinta sebagai guru nya Rea.
"Oh ****!", umpat Levi pelan seraya bangkit dari duduknya dan berjalan dengan cepat ke arah tangga.
Levi mengira jika guru yang dimaksud oleh Arinta adalah seorang wanita paruh baya dengan usia yang sudah mulai lanjut. Tapi kira nya, Arinta mengirim seorang guru pria dengan tubuh yang bugar dan terlihat tampan dengan usianya yang masih muda. Bahkan pria itu tak cocok untuk menjadi seorang guru privat. Lebih cocok untuk menjadi seorang personal trainer.
"Eh, eh, Mas mau kemana?", Mbok Narti menghadang Levi yang ingin menaiki anak tangga menuju lantai atas.
"Tadi itu siapa?", bukannya menjawab, cowok itu malah bertanya balik.
"Itu tadi guru nya Mbak Rea", jawab Mbok Narti.
Levi terdiam sejenak. Jika ia memaksa untuk naik ke lantai atas, maka kesempatannya untuk masuk lagi ke dalam rumah tersebut pasti akan hilang. Bahkan dirinya akan di blacklist oleh Reagan.
Dan Levi tak mau menghancurkan segalanya.
Lalu dengan hati-hati Levi mencoba untuk bertanya, "Saya boleh naik?."
"Enggak. Kata Tuan, Mas ini enggak boleh dekat-dekat sama Mbak Rea", sahut wanita paruh baya itu yang membuat Levi kembali mengumpat di dalam hatinya.
Lantas untuk apa mengizinkannya masuk kalau begitu.
"Sekali aja."
Mbok Narti menggelengkan kepalanya, "Saya mah bukannya enggak mau, tapi disini saya kerja, Mas. Apa yang dibilang majikan itu harga mati buat saya. Saya tau masalahnya, tapi saya yakin Mas pasti bisa ngelewatin nya."
Levi hanya bisa menghela nafas frustasi.
Melihat itu Mbok Narti yang kasihan pun lantas membisikkan sesuatu yang membuat Levi dengan cepat berlari keluar dari dalam rumah. Membuat wanita paruh baya itu menggeleng-gelengkan kepalanya.
...###...
Rea menatap tak fokus ke arah seorang pria yang mondar-mandir di depannya seraya membacakan sebuah soal. Tiga hari yang lalu Rea dengan keberaniannya yang se-upil itu memberanikan diri untuk mengatakan kepada orang tuanya jika ia sudah di drop out dari sekolah.
Rea bisa melihat kekecewaan yang jelas di mata Papi dan Bunda nya kala itu. Namun seolah mereka paham apa penyebabnya. Arinta langsung memeluknya dan mengatakan jika itu semua tidak apa-apa. Serta Reagan yang langsung memilihkan untuknya seorang guru privat.
Membuat Rea merasa benar-benar beruntung memiliki orang tua seperti mereka.
"Maka energi listrik yang terpakai dalam satu jam adalah?."
Darka, guru privat itu menoleh ke arah muridnya setelah selesai mengucapkan salah satu soal yang ada di buku. Namun sepertinya, murid barunya itu terlihat tidak konsentrasi dalam pembelajarannya. Terbukti dengan Rea yang entah menatap ke arah mana.
Lantas pria itu berjalan menghampiri Rea yang berada di meja belajarnya. Berulang kali Darka melambaikan tangannya di depan wajah Rea. Namun cewek itu tetap tidak tersadar dari lamunannya. Membuat Darka tersenyum simpul. Kemudian guru tersebut memukul pelan kening Rea menggunakan pena yang ada ditangannya.
"Auh", ringis Rea dan tanpa sadar membuat gelas berisi air yang ada di sampingnya terjatuh ke lantai karena senggolan lengannya.
"Eh, sorry, sakit banget ya?", Darka mencoba melihat kening Rea yang sedikit memerah karena tindakannya tadi.
"Duh maaf, saya enggak tau kalau kulit kamu ternyata soft banget", ujar Darka sambil meniup pelan kening Rea. Membuat cewek itu terkesiap. Apa yang dilakukan oleh guru tersebut.
"Enggak apa-apa, Pak", Rea sedikit memundurkan kepalanya ke belakang.
Sementara Levi yang berdiri di balkon kamar Rea yang terbuka. Langung mematung. Ia melihat dengan jelas apa yang barusan terjadi di depan matanya. Guru itu, berani-beraninya mencoba mendekati mawar nya.
Lalu dengan langkah lebarnya Levi berjalan masuk dan menghampiri kedua orang itu. Tanpa aba-aba, dengan gelap mata Levi langsung melayangkan satu pukulannya ke arah pria itu. Membuat guru privat Rea tersebut terjungkal.
"Levi!", Rea melototkan matanya tak percaya melihat cowok itu yang berdiri dengan wajah yang merah padam. Dari mana Levi bisa masuk ke dalam rumah dan kamarnya. Jelas-jelas Reagan sudah melarang keras cowok itu untuk masuk.
"Berani nya modusin cewek gue lo, dasar bangsatria", ketus Levi ke arah Darka yang berdiri seraya menyeka darah di bibirnya. Kening pria matang itu lantas berlipat tak paham dengan kondisi yang ada. Siapa cowok yang menerobos masuk dan memukulnya dengan tiba-tiba itu.
"Levi, udah!", tanpa sadar Rea memeluk tubuh bagian depan cowok itu saat Levi hendak kembali menyerang guru nya.
"Asal lo sentuh dia seujung jari aja, gue pastiin hidup lo gak bakal lama", ancam Levi dengan pandangan yang mengarah ke Darka yang menatapnya bingung.
"Udah", gumam Rea pelan. Sudah Rea katakan bukan, jika saja ia melihat lagi sebuah adu jotos seperti ini. Maka Rea tak yakin jika tubuhnya tak akan jatuh.
Entah mengapa pula, semenjak ia hamil ini, Rea merasa akan sangat takut apabila melihat darah. Padahal dari kecil Rea tidak memiliki phobia seperti itu.
Mendengar lirihan serta pelukan Rea yang mengerat di tubuhnya, membuat amarah Levi perlahan-lahan mulai reda.
Cowok itu lantas memegang kedua pundak Rea dan melepaskan pelukannya. Menatap Rea lalu meniup pelan keningnya yang masih sedikit merah. Sial, bila mengingat jika guru itu melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan saat ini. Insting ingin memukulnya muncul seketika.
"Sorry", gumam Levi.
Rea hanya menatap datar Levi sebentar. Sebelum berujar, "Tempramen kamu itu yang membuat Saya gak yakin untuk bisa bersama dengan kamu", lirihnya yang membuat Levi menegang.
...~Rilansun🖤....
😶
selamat datang kembali di dunia perketikan ka author 😘
kangen dengan kata"mutiaranya ka author 😉😘👍
aku juga nunggu Alsyia lho ka othor😘
" ARGAN" Bukan " MORGAN"..