NovelToon NovelToon
Rumah Di Samping Kuburan

Rumah Di Samping Kuburan

Status: tamat
Genre:Horor / Tamat
Popularitas:275.2k
Nilai: 5
Nama Author: Rosa_Nanda

Semalaman suara gaduh di atas genteng itu membuat bulu kuduk merinding.
Entah apa yang tengah ribut di atas genteng sana. Karena, tak terlihat wujudnya.

Karena gangguan itu, akhirnya yang punya rumah membiarkan rumahnya kosong. Namun, Bu Heni tidak membiarkannya kosong begitu saja. Dia menawarkan rumah itu untuk di kontrakan dengan harga yang sangat murah.

Setiap Orang yang menempati rumah itu selalu merasakan hal-hal yang aneh dan tidak masuk akal. Seperti munculnya bayangan hitam yang tinggi besar di ujung teras.

Terror bercak darah di sekeliling rumah membuat bulu kuduk merinding. Apalagi tengah malamnya muncul Makhluk aneh yang menyeramkan. Pundak terasa di tindih balok es yang super dinginpun di rasakan oleh Bunga, orang yang kesekian yang menempati rumah itu.

Bunga dan Angga tetap mencoba untuk bertahan, hingga akhirnya mereka kalah dan mundur dari rumah itu. Setelah Bunga melihat Makhluk aneh yang berwujud ular berkepala manusia yang berambut panjang serta memakai mahkota.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosa_Nanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mengundang makhluk halus.

Matahari telah masuk ke peraduannya.

Lembayung senja pun telah menampakkan dirinya, nampak merah kekuningan sungguh indah dipandang mata.

Semilir angin senja pun menerpa jiwa, membuat tentram suasana.

Gema Adzan Maghrib pun terdengar berkumandang...

Menyerukan Ummat islam untuk segera bersiap-siap menunaikan ibadah shalat Maghrib.

Keluarga bu Henipun segera bersiap-siap untuk menunaikan ibadah shalat Maghrib berjamaah, seperti yang biasa di lakukannya.

" Mawar... Ayo matikan dulu TV nya, kita shalat Maghrib dulu." Bu Heni mengingatkan anak bungsunya, yang masih duduk di bangku kelas satu SMA itu.

" Baik bu..." Sahutnya tanpa membangkang. Mawar memang anak yang patuh dan penurut.

Bunga sudah siap-siap di musholla Keluarga. Dia menggelarkan beberapa lembar sajadah di sana.

Sementara itu, Ani dan Hendra tengah sibuk untuk menyalakan perapian sebagai media pembakar kemenyan.

" Jangan terlalu banyak pakai minyak tanah, nanti bau aromanya. Cari arang nya yang kering." Hendra mengingatkan kepada Isterinya.

" Ini juga kering... Sebentar, aku kipasin dulu sampai arang nya menjadi bara." Jawab Ani, sambil terus mengibas-ngibaskan kipas bambunya itu.

Asap putih pun bergulung-gulung memutar-mutar di seluruh ruangan yang ada di rumah itu.

Hingga menyesakkan dada.

" Uhuk... Uhuk...Uhuk..." Anida terbatuk-batuk karena asap dari pembakaran arang itu.

" Maah... Mataku sangat pedih!..."

Ucap Anida sambil menggosok-gosokkan punggung tangannya ke matanya yang terasa sangat pedih itu.

" Kamu masuk ke kamar saja. Biar matamu tidak pedih lagi." Ujar Ani, sambil mengipasi arang yang sedang di bakar itu.

" Arangnya Sudah menjadi bara, mana kemenyannya?... " Ujar Ani kepada suaminya.

Hendra segera menghampiri Isterinya, diapun lalu duduk bersila di depan perapian yang telah membara.

Entah apa yang di ucapkan oleh kedua Suami-istri itu, yang pasti

mulut keduanya nampak komat-kamit mengatakan sesuatu yang tidak jelas.

Setelah komat-kamit, Hendra mengambil sedikit kemenyan, lalu menaburkannya ke atas bara api itu, suara gemeretak kemenyan terbakarpun terdengar nyaring.

Seluruh ruangan di rumah itupun kini, semerbak bau kemenyan yang di bakar.

" Sepertinya sudah cukup, simpan perapiannya di sudut sana, sekalian dengan bunga rampai dan kopi pahitnya. Di tempat seperti ini, harus selalu kita sediakan sesajen dan bakar kemenyan biar para penunggu di sini tidak akan mengganggu kita, dan... Semoga saja makhluk tak kasat mata itu, mau menurut dan patuh kepada kita." Tutur Hendra, dia begitu hapal dengan masalah magis seperti itu.

Pantas saja dia kegirangan menemukan rumah kontrakan yang angker begitu... Aneh.

Ani lalu menyimpan perapiannya di sudut ruangan depan rumah itu, berikut dengan sesajennya.

"Sini sayang, kita nonton TV yo!" Ani mengajak Anida untuk keluar dari dalam Kamarnya. Diapun menuntunnya.

"Sudah tidak pedih lagi, mah?" Dia bertanya polos.

" Tidak... Asapnya kan sudah tidak ada, jadi tidak pedih lagi. Coba lihat, mamah punya apa ini?... Suka tidak?..." Ani memperlihatkan Bungkusan makanan, kue kesukaan anaknya.

" Aaay... Bolu pisang, aku suka... Aku suka..." Anida kegirangan.

Ani memberikan bolu pisang itu kepada anaknya.

Merekapun nonton TV bersama.

" Sekarang malam Jum'at, sebaiknya kita jangan tidur awal, dan kalau tidurpun jangan terlalu lelap. Kita ingin bertemu dengan penunggu di sini. Rasanya aku sangat penasaran." Ucap Hendra perlahan, dia harap ucapannya tidak di dengar oleh putri kecilnya.

" Tentu saja pah, aku juga sama merasa penasaran, tapi yang pasti, aku menginginkan mustika merah delimanya itu. Aku dengar ajimat itu bisa buat melancarkan usaha juga." Ani juga berkata perlahan. Seakan takut ada yang mendengarnya.

" Huuaaah... " Anida menguap, dia sudah mengantuk.

" Ayo gosok Gigi dulu... " Ani mengajak putrinya untuk menggosok giginya dulu sebelum tidur.

Setelah menidurkan anaknya, dia segera menghampiri suaminya lagi.

" Baru jam delapan... " Katanya sambil duduk di atas karpet. Dia senderkan tubuhnya ke dinding.

Belum ada sepuluh menit dia duduk. Tiba-tiba... Matanya menangkap sesuatu yang berkelebat lari ke ruang tamu.

" Apa itu?... Sepertinya... Aku... Melihat sesuatu... yang berlari ke ruang tamu." Ani berteriak, sambil menunjuk-nunjukan tangannya ke ruang tamu.

"Ada apa?... Kamu... Melihat apa?.. " Hendra jadi panik. Segera dia menuju ke ruang tamu, dia nyalakan lampunya, dia lihat sekeliling ruangan itu, tidak ada yang mencurigakan di sana. Semuanya nampak seperti biasanya. Barang-barang masih tetap pada tempatnya.

Ani segera menghampiri Suaminya.

Baru saja dia melangkahkan kakinya mau menuju ke ruang tamu, tiba-tiba...

Matanya melihat ada nenek-nenek pakai kebaya, dan membawa gendongan warna coklat. Dia menggendong sebuah bakul yang berwarna coklat pula, senada dengan gendongannya.

"Itu... Itu... " Telunjuknya menuding ke arah pintu rumah itu.

" Ada apa?... Kamu melihat apa lagi?..." Hendra sepertinya senang, karena yang di tunggu sudah mulai menampakkan diri.

" Ituu... Ada... Nenek-nenek... Menggendong bakul dengan kain jarit warna coklat. Itu... Dia berdiri di dekat jen... De... La..." Gedubrak...

Setelah berkata dengan terbata- bata, dengan mata yang melotot dan mulut yang terbuka lebar menganga.

Tubuh Anipun lalu terjatuh ke lantai dengan lemas, dia tidak sadarkan diri.

Hendra panik di buatnya, dia tidak pernah menyangka kalau Isterinya itu akan pingsan.

"Maah... Bangun maah!..." Ujarnya.

Segera di ambilnya minyak angin,

untuk segera di oleskan nya ke pelipis dan di bawah hidung Isterinya itu.

Tak berapa lama, Ani membuka matanya dan dia berteriak lagi sambil menunjuk ke arah jendela.

" Aaaah... Ituu... Nenek-nenek berdiri di dekat jendela..." Ucapnya dengan peluh yang luruh membasahi seluruh tubuhnya.

" Mana?... Enggak ada... Aku tidak melihat apa-apa. " Ujar Hendra sambil mengikuti arah telunjuk Isterinya, dia berusaha membuka matanya lebar-lebar.

Dia merasa penasaran dengan apa yang di katakan oleh Isterinya itu.

" Ayo!... Tanya dia, jangan di biarkan pergi, bukannya kamu ingin tahu tentang mustika merah delima itu?... Siapa tahu dia penunggunya." Hendra malah menyuruh Ani untuk menanyakan

mustika merah delima itu.

Ani yang melihat penampakkan itu, hanya melotot ketakutan. Mulutnya menganga lebar dengan rahang yang terasa mengeras susah untuk dipakai berkata-kata, jangankan untuk menanyakan mustika merah delima.

Sejurus kemudian... Wajah Ani perlahan-lahan kembali seperti biasanya, matanya tidak melotot seperti tadi lagi. Begitu juga dengan mulutnya, kini tertutup normal tidak menganga lagi.

Matanya melirik ke arah suaminya, dan menatapnya dengan tatapan mata yang tajam.

Hendra merasa kaget mendapat tatapan Isterinya yang tajam dan menurutnya sangat aneh itu.

" Kenapa?... Kamu... Menatapku seperti itu?..." Hendra bertanya heran.

Keheranan Hendra bertambah, setelahnya dia mengetahui bahwa Isterinya jadi begitu susah untuk berbicara.

" Ne... Nek... Nya... Su... Su... dah... Per... Gii... " Katanya tergagap.

" Kenapa bicaramu jadi begitu

tergagap?..." Tanyanya heran.

" Hu... Haah... " Ani menjawabnya dengan ucapan yang tidak di mengerti.

Tangannya menunjuk ke mulutnya.

Hendra terperanjat sangat kaget setelah melihat mulut Isterinya dengan seksama.

Ternyata...

Mulut Isterinya itu... Tidaklah normal seperti biasanya.

Nampak seperti yang setengah tertarik ke samping.

" Haaah!... Bibir kamu... Kenapa jadi begitu?..." Hendra terkejut, dia mengerutkan keningnya.

Ani menggeleng-gelengkan kepalanya, dia menunjuk kembali bibirnya. Tidak berbicara sedikitpun.

Hanya air mata yang menetes satu persatu di sudut matanya.

Ani... Menangis...

"Mah?..." Hendra segera menghampirinya, lebih dekat lagi. Di rabanya kening Isterinya.

" Ya Allah... Apa dia?..." Hendra tidak melanjutkan perkataannya.

Dia segera menelepon saudaranya yang mengontrak rumah di kampung sebelah.

Tak berapa lama, saudaranya sudah berada di depan pintu.

" Tok... Tok... " Ketukkan pintu menyiratkan sedikit ketenangan di hatinya Hendra.

Dia segera membukakan pintu, dengan tak sabar di tariknya lengan kakaknya itu untuk segera masuk ke dalam rumahnya.

" Ada apa ?..." Dia bertanya tak mengerti dengan sikap adiknya.

" Itu... Adik iparmu!..." Hendra kebingungan.

"Ya Allah... Ini sepertinya stroke...

Harus segera di bawa ke Rumah Sakit." Kakaknya ikut panik.

Dia dan Isterinya tidak menanyakan dulu kenapa begini, kenapa begitu? Kepada adiknya itu. Tetapi, dengan sigapnya dia memerintahkan adiknya untuk segera membawanya ke Rumah Sakit.

"Segera siapkan semua keperluannya! Ini jangan di biarkan. Biarin Anida dengan uanya. Bu, kamu di sini temenin

Anida, aku mau nganter dulu Ani

ke Rumah Sakit." Ujar Kakaknya Hendra, dengan sigap dia segera memerintahkan Isterinya untuk menemani keponakannya.

" Baik pak, saya di sini nemenin Anida, kasihan dia sudah terlelap

jangan di bangunin." Sahut Isterinya.

"Kalian hati-hati ya! "Ucapnya lagi

mengiringi kepergian suami dan adik iparnya ke Rumah Sakit.

" Kamu juga baik-baik di sini ya."

Ucap suaminya.

Kedua saudaranya Hendra dan Ani itu, tidak mengetahui bahwa sebenarnya di rumah itu banyak sekali makhluk halus yang tak kasat mata, yang kadang suka menampakkan wujudnya.

Akhirnya malam itu, Ani segera di larikan ke Rumah Sakit terdekat,

agar segera mendapatkan pertolongan pertama.

Dan malam itu Siti, kakak iparnya Ani menginap di rumah kontrakannya Ani, untuk menemani Anida keponakannya.

Sedangkan Ani yang terkena serangan stroke, segera di larikan ke Rumah Sakit yang terdekat, oleh suami dan kakak iparnya, supaya segera mendapatkan pertolongan.

Ani terkena serangan stroke, mungkin karena dia merasa kaget yang berlebihan, setelahnya dia melihat penampakkan sesosok makhluk yang tak kasat mata, yang berwujud nenek-nenek itu.

kira-kira lima belas menit di perjalanan, akhirnya merekapun tiba di depan Rumah Sakit yang di tuju.

Dengan blankar, Ani segera di bawa ke ruangan UGD.

Karena keadaannya yang nampak gawat dan mengkhawatirkan.

Setelah selesai mendaftarkan Ani sebagai pasien.

Hendra pun duduk sambil menunggu Isterinya di periksa oleh dokter.

Kakaknya juga segera mengikutinya, kemudian diapun duduk di sampingnya.

" Semoga saja isterimu itu tidak kenapa-kenapa." Haris mencoba membuka percakapan. Dia ingin mengetahui bagaimana kejadian yang sebenarnya.

" Iya kak, akupun berharap begitu." Sahut Hendra. Dia belum mengatakan kronologi kejadiannya. Entah takut di salahkan oleh kakaknya, entah kenapa.

" Apa isterimu itu mengidap penyakit darah tinggi?... " Haris bertanya dengan hati-hati.

" Iya... Tapi itu dulu, Setelah melahirkan Anida." Ujarnya.

Sepertinya Hendra belum berani mengatakan kejadian yang sebenarnya.

Dan Harispun tidak mau memaksa adiknya itu, biarlah... Mungkin sa'at ini adiknya masih merasa kaget.

Dia yakin, besok atau lusa adiknya itu pasti akan mengatakannya.

1
Ira Noviana
ada bagian yg typo
Rosananda: iya, kak ma'af🙏 maklum baru belajar hehe.
Makasih kak sudah mampir, dan makasih pula komennya.
Salam kenal
total 1 replies
Siti Arbainah
trus si Bu Mar jdi bikin usahanya Bunga dan Angga bermasalah gak thor
Siti Arbainah: iya kak😊
total 5 replies
Siti Arbainah
boleh gak sih curiga sama si Eyang Kurdi itu kan dia pernah bilang klo penghuni pohon beringin itu minta tumbal jangan" itu cma rencana dia aja dan skarang rumah itu bnyak teror jga gara" dia lgi
Irka NaArra
nurustunjung aki aki teh,,
Irka NaArra
semangat,,next bikin cerita horror lgi y,
Rosananda: InsyaAllah, terimakasih sudah mampir... dan makasih juga jejaknya.
total 1 replies
Rosananda
makasih sudah mampir
Kak Ya
sukurin kurdi
Kak Ya
jgn d ksh bu 🤭😁
Kak Ya
hindun nya cengeng bgt thorr .. takut dikit nangis. balapan nangis ma anak nya kalo lg ketakutan.
Alief As Syaikh
kok namanya ganti ganti lurr
Jhulie
wah suka nih ma novel horor, aq masukin rak dulu
Rosananda: makasih sudah mampir.
total 1 replies
Bayu Ridwan
mudah"an si kurdi kecebur got kepalanya dulu
Putri Handayani
aku mampir di sini ya kak, semangat upnya 💪💪💪
Edi yuzzardy
action nya kurang...jdi bnyak d skip n males baca lagi,banyak obrolan2 yg gk ke inti cerita...
Rosananda: ma'af kak 🙏 bukannya nyeleweng ke cerita majalah hidayah, tapi itu kan salah satu tokoh yang pernah menempati rumah di samping kuburan itu, dan meninggalnya dengan cara seperti itu. Begitu ceritanya kaka... Terimakasih sudah mampir.
total 2 replies
Edi yuzzardy
jadi nyeleweng ke cerita majalah hidayah ya wkwkwkw..pdhal tema rmh smping kuburan..apa hubungannya...ni jdul nya jgn rmh samping kuburan tp yg lain aza seauai cerita di mjlh hidayah,eyang kurdi susah di kubut hahahahaa....anehhh....jdi gk penting ke isi cerita
Nova Marlina
maaf thor nma ustadz ny soleh apa sulaiman ?
Rosananda: ma'af salah nulis.
total 1 replies
Yuzu💕
semangat thor..

salam dari "Ternyata aku keturunan RPD" mampir kak
Rosananda: makasih sudah mampir.
Salam kembali 🙏
total 1 replies
Dhina ♑
maaf 🙏🙏

"Tak mungkin... Semua rompi kan di jepit, Enggak mungkin fi terbangkan angin.

itu ☝️☝️ ga mungkin di terbangkan angin 🤔🤔
Dhina ♑: semangat berkarya, pantang menyerah
total 2 replies
Nova Marlina
ini nama suaminya anjar ap angga sih ?☺️
Rosananda: terimakasih koreksinya 🙏
total 2 replies
Nova Marlina
suka deh ceritanya..😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!