NovelToon NovelToon
Second Chance

Second Chance

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Misteri
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: QueenBwi

Aruna Cheryl Adijaya adalah anak perempuan yang diadopsi oleh keluarga konglomerat Adijaya yang tersohor. Ia diambil sebagai pengganti Aaira Beril Adijaya- si bungsu yang meninggal karena sakit.
Namun kisahnya tidak seindah yang dibayangkan, kehadirannya tidak dianggap oleh ketiga saudaranya yang lain.

Tidak sampai disitu, nasib buruk masih mengikutinya saat ia dipaksa oleh Ayana- ibu tiri ketiga saudara angkatnya itu untuk menikahi seorang pria yang berusia 15 tahun lebih tua darinya. Dalam pernikahan itu ia disiksa hingga akhirnya dibunuh oleh suaminya sendiri.

Tapi saat Aruna membuka matanya, ia kembali ke usia saat masih berusia 10 tahun, 2 tahun setelah diadopsi.
Apakah Aruna akan kembali mengalami takdir yang sama? Atau Aruna akan berjuang untuk merubah takdir hidupnya yang mengenaskan?

Di saat Aruna sudah bertekad dengan keputusannya, takdir kembali mempermainkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon QueenBwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dua Puluh Enam

Pintu ruangan terbuka dan menampakkan sosok Abimanyu dengan pakaian kasualnya. Pria itu terengah-engah dan tersenyum ketika melihat Aruna, berjalan mendekat dan duduk disebelah gadis kecil itu cepat.

"Apa aku terlambat?" tanyanya.

Aruna menggeleng, "Tidak kok, kak."

"Syukurlah. Aku langsung bergegas pulang setelah menyelesaikan urusanku di kampus. Oh, bagaimana keadaanmu sekarang? Kau baik?"

"Ya, aku baik-baik saja. Terima kasih sudah bertanya," kata Aruna.

Abi tersenyum senang, "Tentu saja aku akan bertanya. Kau adikku, Aruna," ucapnya kemudian menatap anggota keluarga lainnya dengan penasaran, "Ngomong-ngomong sedang membicarakan apa? Terlihat seru sekali."

"Jangan beritahu!" Antares memekik cepat. Ia tak mau acaranya di ganggu juga oleh Abi, sudah cukup ayahnya saja.

Abi mendesis kesal dan menatap Elvio meminta jawaban tapi pria itu diam saja mengabaikannya. Ternyata Elvio pun sama seperti Antares yang tak ingin diganggu juga.

"Aruna?"

Aruna mengerjap sejenak, "Um ... Itu—"

"Aruna jangan beritahu!" kata Antares lagi.

"Aiish anak ini!" Abimanyu menatap Antares tajam sementara anak itu hanya menjulurkan lidahnya saja.

"Mereka berencana menghabiskan waktu bersama hari minggu besok," ucap Alvaro tiba-tiba. Membuat anggota keluarga lainnya terkejut dan kompak menatap ke arah Alvaro. Bahkan Aruna tak percaya dengan yang ia dengar saat ini.

"Kak Al!" protes Antares kesal. Sementara Alvaro bersikap tidak perduli dan hanya melanjutkan makannya saja.

"Oho! Kalian berencana menghabiskan waktu tanpaku? Wah, kejam sekali! Aruna bisa-bisanya kau meninggalkan aku~" ucap Abi yang terdengar seperti merengek. Antares sampai melihat jijik ke arahnya dan Elvio yang tak tahu sejak kapan anak keduanya bisa bersikap seperti itu.

"Kalau kak Abi mau ikut juga tak masalah," ungkap Aruna akhirnya.

"Oh! Tentu saja aku ikut! Yes!" pekik Abimanyu semangat.

"Aruna!" Antares berseru protes tak terima tapi ia tak bisa melakukan apa pun jika mereka mau ikut dan mengganggu waktunya bersama dengan Aruna. Tapi ia tetap melayangkan protes keras pada Abimanyu dan hanya ditanggapi santai oleh pria itu.

Aruna sendiri tidak bereaksi banyak, ia memilih diam dan mendengarkan perdebatan antara Antares dan Abimanyu bahkan sesekali Elvio akan ikutan dengan argumennya sendiri. Hal itu membuat suasana di ruang makan begitu riuh dan gaduh seperti ada puluhan orang di sana. Anak itu menyadarinya dan tanpa sadar tersenyum tipis.

Tak pernah seramai ini ketika waktunya makan, malahan terkesan begitu sepi seperti tak ada kehidupan. Aruna bahkan sempat lupa jika ada orang lain juga di rumah ini saking ia selalu makan sendirian dan tidak bertemu dengan salah satu dari mereka. Tapi sekarang nampak berbeda dan jujur Aruna menyukai perubahan ini.

Apa ia boleh berharap agar hal ini tidak berubah lagi suatu saat nanti?

Itu tidak serakah, kan?

***

Esok harinya..

Aruna baru saja akan keluar kamar ketika ia di kejutkan dengan kehadiran Abimanyu dan Antares yang berdiri di depan pintu kamarnya dengan pakaian berbeda. Antares menggunakan seragam sekolah sedangkan Abimanyu menggunakan pakaian kasual khas anak kampus.

"Pagi Aruna, kami datang menjemputmu," ucap Abi dan diangguki setuju oleh Ares.

"A-ah, iya pagi juga kak Abi, kak Ares," balas Aruna kagok.

Kemudian mereka berjalan bersisian menuju ruang makan untuk sarapan dengan posisi Aruna berada di tengah-tengah keduanya. Mereka sedikit berbasa-basi menanyakan beberapa hal biasa pada Aruna seperti apakah tidurnya nyenyak atau apakah ia tak masalah masuk sekolah lagi. Begitu banyak pertanyaan dan Aruna bisa menjawabnya dengan mudah. Ketika tiba di depan ruang makan, kedua pria berbeda usia itu dengan kompakkan membuka pintu dan mempersilahkan Aruna masuk duluan.

"Terima kasih Kak Abi, terima kasih kak Ares," ucap Aruna.

Di dalam sudah ada Elvio yang menunggu tapi tak ada Alvaro, mungkin ia ada rapat jadi harus pergi lebih dulu. Tidak masalah sih karena Aruna tidak perduli si sulung mau pergi kemana pun.

Seperti biasa ruang makan menjadi begitu ricuh saat ketiga orang pria berbeda usia dengan jarak yang lumayan mulai berdebat tentang sesuatu yang menurut Aruna tidak begitu penting. Namun, anak itu hanya diam dan membiarkan mereka terus berargumen begitu.

Ini lebih baik ketimbang mereka hanya saling diam seolah tak mengenal satu sama lain.

***

Aruna tak mengerti kenapa mereka semua menempel padanya bahkan hingga didalam mobil juga. Anak itu tak bisa melakukan apa-apa ketika Abi dan Elvio ikut masuk kedalam mobilnya dan mengapitnya di bagian tengah. Sedangkan Antares duduk di bagian depan dengan wajah cemberut karena ia yang harus duduk di depan bersama Marco—supir Aruna.

Bukankah mereka punya mobil masing-masing?

Bahkan Marco yang biasanya banyak bicara ketika mengantarnya sekarang hanya diam sembari sesekali melirik ke arah Aruna dengan pikiran bingung.

"Tidakkah disini terasa sesak? Ada apa dengan mobil kalian?' tanya Aruna.

"Mogok/ban pecah/bensin habis!" Ucap Elvio, Abimanyu dan Antares bersamaan dengan jawaban mereka masing-masing.

Aruna sampai melongo dibuatnya dengan alasan tak masuk akal mereka. Haruskah ia ingatkan siapa mereka sebenarnya? Masa iya keluarga Adijaya mengalami semua hal itu secara bersamaan?

Bukankah seharusnya mobil-mobil mereka rajin di service agar tidak terjadi masalah apa pun seperti yang di sebut mereka?

Lalu apa ini?

Bahkan Aruna sempat melewati mobil-mobil mereka yang nampak baik-baik saja.

Perubahan mereka tidakkah terlalu ekstrem?

***

Tiba disekolahnya, Elvio dan Abimanyu turun untuk mengantarkannya lagi kedalam. Untungnya Aruna dapat mencegah hal itu karena ia tak mau membut kehebohan lainnya lagi. Dengan kedua pria berbeda generasi itu saja turun dari mobil sudah membuat kegemparan di sekolahnya, tak perlu ada hal lainnya lagi. Aruna hanya ingin sekolah dengan tenang tanpa gangguan.

Setelah berhasil mengusir mereka pergi, Aruna menghela nafas dan berjalan masuk.

"Una!" Ganesha memanggil semangat. Mendekatinya lalu memeluknya seperti biasanya.

"Pagi Ganesh," sapa Aruna.

Ganesha tersenyum lebar, "Kau sudah sehat?"

"Ya, terima kasih."

"Oh, aku tadi melihat ayah dan kakakmu mengantar. Wah! Aku tak menyangka. Ku pikir Tuan Adijaya itu dingin, loh," celetuknya tiba-tiba.

Aruna mengangguk setuju, "Kau benar. Tapi jangan tanyakan padaku ada apa dengan mereka. Aku juga tak tahu," ucapnya cepat.

Ganesha tertawa dan mengiyakan.

"Ngomong-ngomong, apa kau tahu kalau Paula dan Marina di keluarkan?"

Langkah Aruna terhenti, menatap Ganesha yang juga sedang menatapnya.

"Hah?"

1
Heni Setiyaningsih
semoga di kehidupan kedua aruna jd strong woman
Heni Setiyaningsih
cerita ttg reinkarnasi, semoga bagus cerita nya Thor 👍💪💪
QueenBwi
Ayo baca! 💜
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!