Satu lembar uang sepuluh ribu rupiah terakhir di dompet Satria sudah berubah bentuk menjadi gumpalan lecek.
Di depannya, layar mesin ATM berkedip-kedip, menampilkan menu penarikan tunai yang terasa mengejek.
Satria menghela napas berat. Ia menekan tombol "Informasi Saldo". Dia sudah tahu angkanya akan mengenaskan, tapi dia tetap perlu melihatnya untuk memastikan seberapa jauh dia harus menahan lapar minggu ini.
Layar berganti. Angka yang muncul membuat jantungnya seolah berhenti berdetak.
SALDO REKENING ANDA:
Rp 270
Bukan 270 ribu. Bukan pula 270 juta. Hanya dua ratus tujuh puluh rupiah.
[SISTEM TOTAL KEKAYAAN]
Sisa Waktu: 00:58:42
Target Pengeluaran: Rp 50.000.000,00
Status Saat Ini: Rp 0 / Rp 50.000.000,00
Peringatan: Kegagalan akan mengakibatkan sanksi 'Kemiskinan Absolut' (Saldo dipotong menjadi Rp 27).
“Lima puluh juta. Satu jam."
"Kepala bapak kau ambyar!” umpat Satria,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode: 18
Pagi hari di kawasan SCBD Jakarta Selatan selalu dipenuhi oleh derap langkah terburu-buru para pekerja kantoran dengan pakaian necis.
Namun, di basement mansion Pondok Indah, sebuah mesin monster baru saja terbangun.
Porsche Phantom Limited Edition berwarna hitam pekat pemberian sistem telah dipanaskan.
Satria duduk di kursi belakang, masih setia dengan sarung kotak-kotak dan sandal jepit karetnya.
Namun di sampingnya, Gege duduk dengan setelan jas three-piece hitamnya yang necis, memancarkan aura sebagai tangan kanan miliarder yang sangat intimidatif.
Di kursi depan, Nisa yang telah menjelma menjadi sekretaris super cantik dengan kemeja sutra putih dan rok pensil, dengan sigap memeriksa tablet digitalnya.
"Bos," panggil Nisa,
suaranya terdengar sangat profesional lewat spion tengah.
"Apa rencana kita selanjutnya"
Bip! Ponsel di saku Satria menyala.
[SISTEM TOTAL KEKAYAAN]
Misi Utama Bagian 1: 'Penyelamatan Sang Genius'.
Target: Wahyu, seorang pemuda berbakat di bidang analisis saham makro yang sedang difitnah oleh atasannya sendiri karena menolak memanipulasi laporan keuangan.
Tugas: Tunggu di lobi utama Gedung Artha Kencana sampai Wahyu diusir secara memalukan di depan publik. Rekrut dia detik itu juga sebagai karyawan pertama Anda.
Anggaran Operasional: Ditanggung penuh oleh sistem.
Sisa Waktu Penjemputan: 00:25:00
"Nis,kita pergi ke Gedung Artha kencana sekarang."
"Jalan, Supir," perintah Gege dengan nada berwibawa, benar-benar menjiwai perannya sebagai tangan kanan orang kaya.
"Jangan sampai kita telat melihat drama kelas kakap ini."
Tepat pukul satu siang, Porsche Phantom hitam itu berhenti di depan lobi utama Gedung Artha Kencana yang megah.
Satria, Gege, dan Nisa turun dari mobil, langsung menjadi pusat perhatian.
Kombinasi bos bersarung, tangan kanan necis, dan sekretaris super model adalah pemandangan paling absurd di SCBD.
Baru saja mereka melangkah masuk ke lobi yang dilapisi marmer mengkilap, suara keributan langsung terdengar dari arah lift eksekutif.
"Pergi kamu dari sini, Wahyu!"
"Dasar karyawan tidak tahu diri! Sudah salah cetak laporan, masih berani menuduh saya?!"
teriak seorang pria paruh baya bertubuh tambun dengan tanda pengenal bertuliskan 'Manajer Investasi'.
Di depannya, seorang pemuda berkacamata dengan kemeja yang agak kusut sedang memegangi sebuah kardus berisi barang-barang pribadinya.
Wajahnya merah padam menahan amarah dan air mata.
"Anda yang memfitnah saya, Pak! Anda yang memaksa saya memasukkan data palsu ke saham PT Bumi Hijau agar investor tertipu!"
"Halah, bacot!"
"Satpam! Seret dia keluar dari gedung ini! Jangan biarkan tikus sampah ini menginjakkan kaki di sini lagi!"
perintah sang manajer kejam.
Dua satpam berbadan tegap langsung memegangi lengan Wahyu dan mendorongnya kasar hingga pemuda itu tersungkur di lantai lobi, tepat di depan sandal jepit Satria.
Barang-barang di dalam kardusnya berserakan di atas marmer.
Seluruh orang di lobi berbisik-bisik, memandang Wahyu dengan tatapan mencemooh.
Wahyu menunduk, meratapi nasibnya yang hancur dalam sekejap akibat kejujurannya.
Tiba-tiba, sebuah tangan kokoh yang dibalut jas mewah terjulur di depannya.
Itu Gege.
Dengan wajah dingin dan berwibawa, Gege membantu Wahyu berdiri, sementara Nisa dengan anggun berlutut untuk merapikan berkas-berkas Wahyu yang berserakan.
"Lu Wahyu, kan?"
tanya Satria sambil melangkah maju, sarungnya berkibar pelan terkena embusan AC lobi.
Wahyu mendongak, bingung menatap pria bersarung yang dikawal oleh dua orang super elit di belakangnya.
"I-iya, saya Wahyu. Siapa Anda?"
Satria tersenyum lebar.
"Gua Satria. Mulai detik ini, lu gak usah sedih karena diusir dari perusahaan busuk ini."
"Lu resmi gua rekrut jadi karyawan pertama di perusahaan baru gua."
Sang manajer investasi yang melihat hal itu langsung tertawa mengejek.
"Hahaha! Siapa kamu? Orang gila bersarung mau bikin perusahaan?"
"Heh, pemuda miskin, Wahyu itu sudah saya blacklist di seluruh asosiasi sekuritas Jakarta! Tidak akan ada yang mau memakai jasanya!"
Gege maju satu langkah, menatap sang manajer dengan tatapan mata yang sangat tajam dan mengintimidasi, membuat manajer itu langsung terdiam ketakutan.
"Jaga ucapanmu, kawan."
"Di depanmu ini adalah pemilik masa depan bursa saham Indonesia."
"Bersiaplah melihat perusahaanmu bangkrut dalam hitungan bulan."
Satria merangkul pundak Wahyu yang masih syok.
"Ayo, Wahyu. Ikut gua, kita bangun kerajaan saham kita sendiri."
"S-Sat... Bos, kita beneran mau ke kantor?"
tanya Wahyu ragu saat mereka berada di dalam lift Menara Cakrawala, gedung pencakar langit tempat Satria sebelumnya menguasai lantai tertinggi.
"Iya, tapi kantor gua agak unik. Agak tinggi dan udaranya segar," jawab Satria santai.
Begitu pintu lift terbuka di lantai paling atas, mata Wahyu hampir melompat keluar.
Alih-alih melihat kubikel kantor atau meja resepsionis mewah, dia justru melihat hamparan lantai beton terbuka yang sangat luas dengan pemandangan 360 derajat kota Jakarta dari ketinggian ratusan meter.
Dan yang paling ekstrem, di tengah-tengah lantai itu terdapat puluhan tali tambang yang membentang penuh dengan jemuran daster, sarung, dan kaus kaki yang sedang melambai-lambai ditiup angin kencang.
"I-ini... ini tempat jemuran, Bos?!" pekik Wahyu tidak percaya.
Nisa maju, membetulkan letak kacamata barunya dengan elegan.
"Sebelumnya memang iya, Wahyu. Tapi mulai detik ini, tempat ini adalah markas kita."
Bip! Ponsel Satria kembali memancarkan teks emas.
[SISTEM TOTAL KEKAYAAN]
Misi Utama Bagian 2: 'Konstruksi Langit'.
Tugas: Sulap lantai jemuran Menara Cakrawala menjadi area kantor berkelas internasional khusus di bidang investasi dan saham dalam waktu 10 menit.
Aturan Khusus: Harus menggunakan arsitektur kaca penuh, meja perdagangan saham kuantum, dan layar monitor raksasa yang menampilkan pergerakan bursa dunia secara langsung.
Anggaran Disediakan: Rp 50.000.000.000,00 (Lima Puluh Miliar Rupiah).
Sisa Waktu: 00:09:59
"Nisa, eksekusi!" perintah Satria singkat.
Nisa menekan satu tombol khusus di tablet digitalnya yang terhubung langsung dengan sistem konstruksi modular otomatis dari satelit sistem.
Wuuushhh!
Dalam hitungan detik, suara gemuruh angin malam berpadu dengan dentingan logam yang sangat canggih.
Dari balik lantai beton, struktur baja hitam futuristik muncul dengan kecepatan luar biasa.
Dinding-dinding kaca anti-peluru setinggi lima meter melesat ke atas, mengurung seluruh lantai jemuran menjadi sebuah ruangan penthouse kantor yang luar biasa megah.
Tali-tali jemuran milik Satria melesat masuk ke dalam kompartemen tersembunyi di bawah lantai, digantikan oleh jajaran meja kerja berbahan marmer hitam cair yang dilengkapi dengan masing-masing Include enam monitor lengkung berteknologi kuantum.
Di dinding utama, sebuah layar LED raksasa sepanjang tiga puluh meter menyala, menampilkan grafik pergerakan saham dari New York, London, hingga Bursa Efek Indonesia secara real-time dengan warna-warna neon yang memukau.
Wahyu jatuh terduduk di atas lantai marmer yang baru saja terbentuk.
Tubuhnya gemetar melihat teknologi yang bahkan tidak dimiliki oleh perusahaan investasi terbesar di Amerika sekalipun.
"Ini... ini gila... Ini Trading Room tercanggih di dunia!"
bisik Wahyu dengan mata berbinar-binar penuh gairah sebagai seorang analis genius.
Gege berjalan mendekati salah satu kursi kerja kulit premium, mendudukinya dengan gaya bos besar, lalu menatap Wahyu.
"Wahyu, selamat datang di tempat kerja barumu."
"Tugas lu cuma satu: hancurkan bursa saham yang pernah membuang lu."