NovelToon NovelToon
BOBON PENDEKAR TERKUAT

BOBON PENDEKAR TERKUAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Mengubah Takdir / Action
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: GEELANG

Di Desa Angin Tenang, Bobon hanya dikenal sebagai bocah gendut yang pelupa, suka makan, dan dianggap kurang cerdas. Tak ada yang tahu bahwa di dalam tubuhnya tersimpan segel kuno yang menahan kekuatan terhebat di seluruh Benua Tengah.

Saat penagih pajak kejam melukai Nenek Sumi yang merawatnya, Bobon hanya menepuk seperti mengusir lalat. Satu pukulan itu menghancurkan pedang pendekar ahli dan melemparkan musuhnya hingga puluhan meter jauhnya. Namun sesaat kemudian ia kembali bingung, dan malah menangis sedih karena tahu kesayangannya tertutup debu.

Kini kekuatan dahsyatnya terbongkar, dan ancaman gelap mulai bergerak mendekat. Bobon tak peduli jadi pahlawan atau penguasa dunia persilatan. Ia hanya ingin melindungi neneknya dan memastikan mangkuk makannya tak pernah kosong. Siapa pun yang berani mengganggu dua hal itu, harus berhadapan dengan kekuatan yang tak bisa dibayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GEELANG, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27 - Kedai Sederhana dan Aroma Domba Bakar

Dua murid Sekte Pedang Ganda yang pingsan itu terkapar diam di pinggir jalan batu hitam. Sisa-sisa patahan bilah pedang mereka berkilau menyedihkan di bawah terik matahari, menjadi bukti bisu bahwa keangkuhan ilmu dua pedang tidak berarti apa-apa di hadapan amukan perut kosong.

Waja Lin melangkah maju, melewati serpihan baja dengan langkah yang kembali tenang. Dia menatap tajam ke arah ujung jalan berbatu yang mulai menurun menuju sebuah lembah kering. Di sana, di dekat sebuah pos pengawasan yang dindingnya terbuat dari tumpukan batu granit, terlihat kepulan asap putih tipis yang membawa aroma sangat gurih.

"Bobon, lihat di sana. Aroma itu pasti berasal dari kedai domba bakar," kata Waja Lin, menunjuk ke arah pos pengawasan dengan ujung jari lentiknya.

Mendengar kata domba bakar, Bobon yang semula sibuk menimang-nimang baskom kayunya langsung mendongak. Hidung peseknya mengendus udara dengan cepat, dan sepasang mata bulatnya seketika melebar penuh binar kebahagiaan. Bau lemak domba yang terpanggang di atas bara api arang benar-benar meruntuhkan sisa-sisa kejengkelannya.

"Wah! Bau daging! Kakak Ayam Goreng, ayo cepat! Bobon tidak mau kehabisan!" teriak Bobon dengan gembira.

Tanpa menunggu Waja Lin atau Bambu Jaya, tubuh bulat Bobon langsung melesat lari menuruni lereng batu. Gerakannya sangat cepat, meninggalkan kepulan debu hitam di sepanjang jalur yang dilewatinya. Langkah kakinya yang gempal menghantam ubin batu dengan suara debam-debum berat yang berirama.

Bambu Jaya yang baru saja selesai mengumpulkan sisa patahan pedang untuk diperiksa, hanya bisa melongo melihat kecepatan lari Bobon.

"Nona Muda Lin, apakah pengawal kecilmu itu sebenarnya memiliki darah klan Dirgantara? Kecepatan dan bobot tubuhnya saat melihat makanan benar-benar mirip dengan amukan harimau putih kuno!" cetus Bambu Jaya sambil menggelengkan kepala, lalu bergegas berlari menyusul di samping Waja Lin.

Hanya dalam hitungan menit, rombongan itu tiba di depan sebuah kedai kayu terbuka yang berdiri tepat di samping pos pengawasan batu. Kedai itu sangat sederhana, hanya memiliki empat meja kayu panjang dan sebuah tungku pemanggangan besar di bagian depan. Di atas bara api, beberapa tusuk daging domba berukuran besar sedang dibolak-balik oleh seorang pria paruh baya bertubuh kekar yang mengenakan apron kulit berlumuran minyak.

Bobon sudah duduk manis di atas salah satu bangku kayu panjang yang paling dekat dengan tungku. Kedua tangan gempalnya memeluk baskom kayu kosongnya di atas meja, sementara matanya menatap lekat-lekat ke arah tetesan lemak daging yang jatuh ke atas bara api, mengeluarkan suara desis yang menggugah selera.

"Paman! Bobon mau daging domba! Mau yang banyak, setinggi gunung ini!" seru Bobon dengan suara parau khas anak-anak yang tidak sabaran, menunjuk ke arah daging di atas tungku dengan jarinya yang berminyak.

Pria pemanggang daging itu terkejut melihat kedatangan seorang bocah gendut yang tiba-tiba muncul tanpa suara derap langkah pendekar biasa. Namun, melihat pakaian Bobon yang lusuh dan rompi raminya yang kekecilan, pria itu justru tertawa ramah.

"Hahaha! Tenang, adik kecil yang gempal. Daging domba di lereng ini tidak akan lari ke mana-mana. Tapi apakah kamu membawa uang perunggu untuk membayarnya? Satu tusuk besar ini harganya lima koin perunggu," ujar pria itu dengan nada bercanda.

Waja Lin masuk ke dalam kedai, langsung duduk di seberang meja Bobon dan meletakkan tas kain kecilnya. Dia melepaskan caping bambunya, menampilkan wajah jelitanya yang memancarkan aura wibawa bangsawan klan saudagar.

"Paman, berikan bocah ini tiga puluh tusuk daging domba bakar terbesar yang Anda miliki, ditambah tiga mangkuk besar nasi gandum hangat. Potong seluruh biayanya dari keping perak ini," kata Waja Lin dengan tenang, menjatuhkan sebuah koin perak tebal berkilau di atas meja kayu.

Melihat koin perak dari Klan Waja, mata pria pemanggang daging itu langsung berbinar hormat. Dia segera membungkuk dalam.

"Baik, Nona Muda! Pesanan akan segera siap dalam hitungan menit!" jawabnya dengan penuh semangat, langsung mengipas bara api dengan lebih cepat.

Bambu Jaya duduk di samping Bobon, mengendus aroma daging dengan perut yang sebenarnya juga mulai lapar setelah lelah memandu jalan melewati labirin. "Nona Lin memang saudagar yang sangat bermurah hati. Sifat perhitungan Anda tampaknya melunak jika menyangkut urusan perut Bobon."

"Ini bukan kemurahan hati, Tuan Muda Bambu Jaya. Ini adalah investasi modal kerja agar pengawal kecilku tidak meruntuhkan bangunan pos di samping kita hanya karena kelaparan," balas Waja Lin dengan senyum tipis yang sarat akan makna dagang.

Tidak butuh waktu lama, piring-piring kayu besar berisi tumpukan daging domba bakar yang kecokelatan dan mengepulkan asap harum disajikan di depan Bobon. Tanpa menggunakan sumpit, tangan gempal Bobon langsung menyambar tiga tusuk daging sekaligus dan memasukkannya ke dalam mulut bulatnya.

Nyam! Nyam! Glek!

"Enak sekali! Dagingnya sangat empuk!" seru Bobon dengan tawa polosnya yang jenaka, pipi tembemnya menggembung besar dipenuhi daging gurih.

Namun, di tengah pesta makan Bobon yang sangat berantakan, suasana di dalam kedai mendadak berubah dingin. Dari arah dalam pos pengawasan batu, berjalan keluar seorang pria tua berpakaian jubah abu-abu panjang dengan sulaman sepasang pedang emas di bagian dadanya. Dia adalah seorang Tetua Luar dari Sekte Pedang Ganda yang bertugas menjaga perbatasan barat.

Mata tua yang tajam milik tetua itu tidak melihat ke arah Waja Lin atau Bambu Jaya, melainkan terkunci sepenuhnya pada sisa hawa murni tak berwarna yang masih samar-samar menempel di sekitar permukaan kayu baskom milik Bobon. Kedatangan tokoh tingkat tinggi ini menandai bahwa ketenangan makan siang Bobon tidak akan bertahan lama.

1
꧁𖣔⃟⃝⃞𒈙᭄404᭄𒈙⃞⃝𖣔꧂
Tak kira judulnya Babon, jebule Bobon🗿👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!