Jiang Yuan—18 tahun, hidup terasing di Desa Daun Hijau. Ketika desanya dihancurkan oleh kelompok misterius dari Aula Jiwa, ia terpaksa melarikan diri demi menyelamatkan nyawanya.
Di ambang kematian, Jiang Yuan diselamatkan oleh Wang Ning, seorang tetua kuat dari Sekte Bulan Kabut. Melihat bakat dalam dirinya, Wang Ning menjadikan Jiang Yuan sebagai murid dan membawanya memasuki dunia kultivasi.
Kini, Jiang Yuan harus bertahan di dunia yang kejam dan penuh bahaya, menempuh jalan menuju puncak kekuatan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chizella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32: Jiang Yuan vs Ling Xi II
Di arena yang luas, suasana semakin memanas. Ribuan pasang mata tertuju pada dua sosok yang saling berhadapan di tengah lapangan, masing-masing memancarkan aura Dou Qi yang berbeda namun sama-sama kuat.
Ling Xi melesat sangat cepat. Aura Dou Qi di tubuhnya menyebar seperti angin puyuh yang tak terlihat, membuat hembusan angin kencang bertiup di sekitarnya. Debu-debu beterbangan, rambut dan pakaiannya berkibar liar, namun matanya tetap fokus pada targetnya.
"Haa!"
Ia melayangkan tinjunya ke arah Jiang Yuan dengan kecepatan yang sulit diikuti. Pukulannya meninggalkan jejak angin berwarna hijau kebiruan di udara, menciptakan suara siulan yang tajam.
Jiang Yuan berhasil menghindari pukulan pertama dengan memiringkan tubuhnya ke samping. Namun serangan selanjutnya datang bertubi-tubi tanpa jeda. Tinju Ling Xi bergerak seperti angin, cepat, tidak terduga, dan mematikan.
Bugh! Bugh!
Dua pukulan berhasil mengenai lengan Jiang Yuan, membuatnya terhuyung ke belakang. Rasa sakit menjalar dari titik benturan, namun ia tidak punya waktu untuk mengeluh.
"Haa!"
Serangan lain melesat, kali ini mengarah ke dadanya. Jiang Yuan menahan pukulan Ling Xi dengan kedua lengannya yang disilangkan di depan dada. Benturan itu menciptakan gelombang energi kecil yang menyebar ke sekitarnya.
Dengan satu tumpuan kakinya, Jiang Yuan mendorong Ling Xi mundur dengan kekuatan penuh. Wanita itu terpaksa melangkah mundur beberapa langkah untuk menjaga keseimbangannya.
Namun saat kakinya menyentuh tanah kembali, Ling Xi tidak berhenti. Ia langsung menghilang dari tempatnya, cepat, sangat cepat. Bahkan Jiang Yuan yang sudah terbiasa dengan kecepatan tinggi kesulitan melacak pergerakannya.
'Di mana dia?' pikir Jiang Yuan, matanya bergerak cepat mencari.
Saat ia akhirnya menangkap posisi Ling Xi, wanita itu sudah berada di atasnya. Tangannya terangkat tinggi, Dou Qi hijau kebiruan berkumpul di telapaknya dengan intensitas yang luar biasa. Angin berhembus kencang di sekitarnya, menciptakan pusaran kecil yang mematikan.
"Pukulan Angin Pemecah Gunung!"
Wush!
Serangan itu melesat dengan kecepatan kilat. Jiang Yuan hendak menghindar, namun ia terlambat.
Pukulan itu mendarat tepat di perutnya, kekuatan angin yang terkonsentrasi menembus pertahanan Dou Qi-nya dengan mudah.
Tubuh Jiang Yuan terpental jauh seperti boneka kain, menghantam dinding arena dengan keras. Benturan itu menciptakan retakan di permukaan batu, serpihan-serpihan kecil beterbangan ke udara.
"Uhuk!"
Darah segar menyembur dari mulut Jiang Yuan, menodai jubah hitamnya yang rapi.
Efek pukulan itu sangat dahsyat, kekuatan angin di sana menciptakan luka dalam meski hanya satu pukulan. Ia bisa merasakan Dou Qi-nya bergejolak kacau di dalam tubuhnya, meridiannya terasa panas dan sakit.
Di tribun, para penonton menarik napas tajam. Beberapa dari mereka sudah menggelengkan kepala, yakin bahwa pertarungan sudah berakhir.
"Kenapa? Sudah menyerah?" ucap Ling Xi, kedua tangannya masih menggenggam di depan dada. Ekspresinya tenang, seolah ia baru saja melakukan pemanasan ringan. "Kau tahu, tidak ada yang akan menyalahkanmu jika kau menyerah sekarang."
Namun Jiang Yuan tidak menjawab. Perlahan, ia mendorong tubuhnya untuk bangkit. Tangannya menahan dinding arena sebagai penopang, lalu ia berdiri tegak kembali. Darah masih mengalir dari sudut bibirnya, namun matanya tetap tajam dan penuh tekad.
Dengan gerakan lambat, ia menyapu darah di sudut bibirnya dengan punggung tangan.
"Kak Ling Xi sungguh kuat," ucapnya, suaranya sedikit serak namun tetap tenang. "Pantaslah banyak orang yang kesulitan melawanmu. Aku bisa merasakan mengapa Kak Chu sampai terluka parah."
Ekspresi Ling Xi berubah seketika. Matanya yang hijau membelalak, dan untuk pertama kalinya, ekspresi tenangnya retak oleh keterkejutan dan kemarahan.
"Kau! Kau memanggilku apa?!" serunya, suaranya meninggi.
"Kak Ling Xi? Ada yang salah?" balas Jiang Yuan dengan nada polos, seolah tidak mengerti mengapa wanita itu marah.
Namun di balik kepolosannya, Jiang Yuan sudah bergerak. Dengan satu dorongan kaki yang kuat, ia melesat maju dengan kecepatan yang sama sekali tidak terduga untuk seseorang yang baru saja menerima pukulan dahsyat.
Ling Xi terkejut oleh serangan mendadak itu. Ia tidak sempat menghindar, tangan Jiang Yuan sudah menangkap pergelangan tangannya, lalu dengan gerakan memutar, ia membanting wanita itu jauh ke belakang.
Ling Xi berputar di udara beberapa saat, tubuhnya berputar seperti daun yang tertiup angin.
Namun dengan refleks yang luar biasa, ia berhasil mendarat dengan posisi seimbang, kakinya menapak tanah dengan stabil.
"Dasar licik," ucapnya, matanya menyala karena amarah dan sedikit kekaguman.
Jiang Yuan tidak memberikan jeda. Tangannya terangkat ke depan, Dou Qi keperakan berkumpul di telapaknya.
"Tangan Penangkap Naga!"
Sebuah tangan Dou Qi besar terbentuk di atas Ling Xi, jari-jarinya yang terbuat dari energi murni siap mencengkeram.
Tangan itu langsung turun ke bawah dengan kecepatan tinggi, niatnya jelas, menangkap Ling Xi dan menghentikan pergerakannya.
Namun Ling Xi tidak tinggal diam. Dengan gerakan cepat, ia menyatukan kedua tangannya di depan dada. Dou Qi hijaunya menyala terang, menciptakan pusaran angin yang berputar di sekelilingnya.
"Pelindung Angin Abadi!"
Angin berhembus di sekitar Ling Xi dengan kekuatan yang luar biasa, membentuk dinding pelindung yang berputar cepat. Pusaran angin itu membesar dalam sekejap, lalu meledak ke segala arah.
Ledakan!
Tangan Dou Qi Jiang Yuan hancur seketika, pecah menjadi serpihan-serpihan energi yang berkilauan seperti kaca yang jatuh ke tanah.
Gelombang angin dari ledakan itu menyebar ke seluruh arena, membuat para penonton di tribun terpaksa menutup mata mereka.
Namun saat debu dan kabut energi menghalangi pandangan Ling Xi, Jiang Yuan sudah bergerak.
Ia mengambil langkah cepat, meluncur ke belakang wanita itu tanpa suara. Langkah Ledakan yang ia pelajari dari teknik Ruan Mei membuatnya bergerak dengan keheningan yang hampir sempurna.
"Apa—" Ling Xi berbalik, menyadari apa yang terjadi. Namun terlambat.
Satu kaki Jiang Yuan tertanam kuat di tanah, lalu satu kakinya lagi menendang horizontal dengan kekuatan penuh.
Bugh!
Tendangan itu tepat mengenai pinggang Ling Xi. Kekuatan dari serangan itu cukup untuk membuat wanita itu terpental ke samping, tubuhnya bergulung di tanah beberapa kali sebelum akhirnya berhasil menghentikan gerakannya.
"Uhuk!"
Ling Xi mendorong tubuhnya untuk berdiri, namun kali ini, darah merah segar menyembur dari mulutnya.
Ia mengusap sudut bibirnya dengan punggung tangan, matanya yang hijau menatap Jiang Yuan dengan ekspresi yang tidak bisa diartikan.
Di tribun, semua orang terkejut. Bisik-bisik heboh menyebar di antara para penonton.
"Bagaimana bisa dia bertarung seperti itu!"
"Jiang Yuan yang hanya Ranah Dou Shi ternyata mengimbangi Ling Xi?!"
"Ini tidak mungkin! Ling Xi sudah di puncak Ranah Da Dou Shi!"
"Tendangan itu... dia bergerak begitu cepat meski baru saja menerima pukulan keras!"
Sementara itu, di tribun yang lebih tinggi, Ciya Liu sedikit terkejut dengan apa yang terjadi. Untuk pertama kalinya, murid terbaiknya itu berhasil dibuat kuwalahan. Hanya dalam pertarungan singkat, Jiang Yuan telah menunjukkan bahwa ia bukanlah lawan yang bisa diremehkan.
Wanita itu menoleh ke arah Wang Ning dengan tatapan baru, penuh rasa ingin tahu dan sedikit kekaguman.
"Muridmu ini... menarik juga, Tetua Ning," ucapnya, suaranya rendah namun jelas terdengar. "Aku tidak menyangka Puncak Teratai memiliki permata tersembunyi seperti dia."
Wang Ning hanya tersenyum sambil menyombongkan dirinya. Gaun merahnya berkibar pelan saat ia menyandarkan tubuhnya ke kursi dengan anggun.
"Tetua Liu bercanda," ucapnya dengan nada merendah namun penuh kebanggaan tersembunyi. "Ling Xi itu juga menarik. Pertarungan ini masih panjang."
Sementara itu, Zhang Gong hanya bisa diam. Matanya yang tajam mengamati Jiang Yuan di arena dengan ekspresi heran dan sedikit iri.
'Puncak Teratai... beruntung sekali,' pikirnya dalam hati.
Di arena, Ling Xi akhirnya berdiri tegak. Ia menatap Jiang Yuan dengan tatapan yang berubah, bukan lagi meremehkan, melainkan penuh kewaspadaan dan rasa ingin tahu.
"Kau..." ucapnya perlahan, "bukanlah murid biasa, bukan?"
Jiang Yuan hanya tersenyum tipis. "Aku hanya murid baru Puncak Teratai. Tidak lebih."
Ling Xi tertawa kecil, tawa yang dingin namun penuh minat. Ia meraih gagang pedang di punggungnya, jari-jarinya menyentuh sarungnya dengan lembut.
"Kalau begitu... mari kita lihat seberapa jauh kau bisa bertahan melawanku dengan serius."
Ia menarik pedangnya.
Siiing!
Bilah pedang berkilauan di bawah sinar matahari, memancarkan cahaya hijau kebiruan yang menyilaukan. Untuk pertama kalinya, Ling Xi mencabut pedangnya di arena pertarungan.
Jiang Yuan menarik napas dalam-dalam.
'Ini baru permulaan,' pikirnya.
Di tribun, Wang Ning tersenyum lebar. Matanya yang emas berkilauan penuh kepuasan.
'Tunjukkan padaku, Xiao Yuan,' bisiknya dalam hati. 'Tunjukkan pada mereka semua.'