Dihianati pacar dan sahabat, membuat Danisa atau yang akrab disapa Nisa enggan menjalin hubungan percintaan dan persahabatan dengan perempuan lagi.
Dari itu dia hanya dekat dengan Senopati, atau yang akrab disapa Seno, hanya dengan Seno dia merasa nyaman.
Saking akrabnya, Seno sudah seperti suami bagi Nisa. Sebelas tahun menjalin persahabatan, rasa cinta mulai tumbuh di hati Seno. Namun, tiba-tiba cinta masa lalu Nisa datang lagi.
Apakah Nisa memilih cinta masa lalunya atau berbalik memilih sahabatnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daffo Azhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 30
Hari ini adalah hari terakhir Nisa libur cuti nikah. Dari itu dia ingin menghabiskannya hanya bersenang-senang dengan jalan-jalan naik MRT, setelah itu ke Dufan dan ke pantai Ancol. Namun, ada kalanya realita tidak seindah ekspektasi. Hujan dari subuh mengguyur kota Jakarta tanpa henti membuat rencana yang sudah Nisa susun dari semalam gagal total. Liburannya sangat membosankan. Semoga nanti ada kesempatan untuk pergi ke negara impiannya yaitu Swiss. Tanpa kendala, tanpa drama.
Nisa berdiri di depan jendela kaca sambil memandang ke luar dengan wajah memberengut.
Seno yang baru saja mandi, menghampiri lalu melingkarkan tangan ke pinggang ramping istrinya.
"Hari ini kita di sini aja, ya?" ujar Seno. Nisa berbalik dan melihat suaminya, masih dengan wajah memberengut.
"Ini hari terakhir aku libur, Sen."
"Aku tau. Tenang aja, nanti kan kita ke Manchester wisuda aku."
"Aku mau ke Swiss!"
"Iya, ke Swiss juga. Udah dong jangan bete-betean lagi. Tibang gagal ke Dufan aja kamu manyunnya ampe lima senti."
"Apaan sih!" Nisa tergelak sambil memukul pelan lengan suaminya.
"Nah gitu dong, senyum. Entar kan bisa ke Dufan sama Ancol kalo libur sabtu minggu, enggak perlu naik pesawat, tinggal naik MRT atau ojol juga bisa."
"Iya, deh."
"Hm__Nis, haid kamu udahan belum?"
Jantung Nisa seperti tersengat aliran listrik ribuan volt mendengar pertanyaan itu, telapak tangannya pun tiba-tiba berkeringat.
"Hah? Mmm, udah. Kan, tadi subuh aku sholat, kamu masih tidur jadi gak tau." Nisa mengusap tangannya yang basah ke piamanya.
Wajah Seno langsung semringah seperti bocah yang dikasih permen cokelat. Nisa tersenyum geli melihat ekspresi suaminya seperti itu.
"Sen, ini masih pagi tau! Kamu gak akan minta 'itu' sekarang, kan?"
"Hah?" Seno mengerjap. "Nis, tau gak? Kata ahli, hubungan di pagi hari itu banyak manfaatnya tau, pagi hari itu tubuh dan pikiran kita berada dalam kondisi sempurna sehingga tubuh lebih berenergi dan bisa fokus."
"Fokus ngapain?" Nisa mencoba menggoda suaminya sambil senyum-senyum.
"Nis!"
"Hehehe iya, deh."
"Iya apa?"
Nisa menatap mata Seno sebentar, lalu membuangnya lagi ke arah lain, dia tidak kuat ditatap seperti itu. Sebuah tatapan maut seorang lelaki yang menginginkan sesuatu. Dadanya sudah berdebar tidak keruan dari tadi.
"Mmm, iya Sen."
Senyum Seno mengembang. Tangannya meraih jemari Nisa dan menggenggamnya erat. "Kamu siap?" tanyanya.
Nisa menelan ludah dengan kesusahan, setelah itu mengangguk. Dia memberanikan diri menatap tatapan itu lagi. Dan dia baru melihat tatapan Seno seperti itu setelah dua belas tahun.
Tatapan penuh cinta yang tulus. Nisa bisa merasakan gelombangnya sampai ke hati terdalamnya.
***
Udara dingin di pagi hari yang hujan di luar sana, berbanding terbalik dengan suasana kamar apartemen yang hangat.
Seno menutup pintu dan menguncinya. Setelah terdengar suara pintu terkunci, jantung Nisa seperti tengah berlari maraton. Dia hanya duduk saja, tapi merasa lelah.
Lelah oleh dada yang tiada henti berdebar hebat.
Nisa melihat Seno berjalan ke arahnya, dia meluncurkan senyum sekilas, sekarang Seno sudah duduk di sebelahnya, menyentuh rambutnya, mengusap-usap pelan pipinya.
May God, aku takuuuut! jerit Nisa dalam hati.
Dia mencoba menenangkan diri. Sebisa mungkin dia tidak akan mengecewakan Seno walaupun rasa takut di hati menyelubunginya bulat-bulat. Apakah semua orang seperti ini saat akan melepas mahkota yang selama hidup dijaga?
Pagi itu keheningan seolah berbahasa. Senyapnya sampai membekukan udara, sehingga Nisa tidak bisa menghirupnya.
Seno mendekatkan wajahnya ke wajah Nisa. Sadar suaminya akan mulai melakukan serangan, Nisa memejamkan matanya kuat-kuat.
Sedetik setelah bibir Seno mendarat di bibir Nisa, Seno kembali menariknya. Dia melihat Nisa tengah terpejam ketakutan, lantas berucap, "Kalau kamu belum siap, gak apa-apa nanti saja." Seno berdiri mundur dua langkah.
Nisa membuka mata kaget. Sadar dirinya sudah mengecewakan Seno, panik. Otaknya berusaha berpikir secepat kilat untuk meredakan kekecewaan suaminya itu.
Nisa berdiri lalu memeluk Seno. "Enggak bukan gitu, Sen, aku siap kok, aku sedikit takut aja."
Seno memandang wajah Nisa yang ketakutan. dia pun mengerti. Semua perempuan yang akan menyerahkan mahkotanya pasti merasa takut, bukan?
"Aku tau. Kamu tenang aja, aku akan melakukannya pelan-pelan, kok."
Nisa mengerjap. Seno melihat sorot itu menanyakan kesungguhannya. "Iya Nis, kamu tenang aja, ya."
Nisa mengangguk. Seno meluncurkan senyum menenangkan sambil mengusap kepala Nisa dengan sayang.
Sekarang Nisa mencoba pasrah. Dia akan menyerahkan semua yang dia punya untuk Seno__sahabat sekaligus suami yang sangat dia sayangi di dunia ini.
Seno pun berhasil membuat ketakutan itu sedikit demi sedikit lenyap dari hati Nisa.
Sentuhan demi sentuhan yang Seno luncurkan penuh cinta dan kasih, membuat Nisa merasa aman dan yakin bahwa dia menyerahkannya pada orang yang tepat.
Peluh membanjir di tubuh keduanya, menikmati suasana pagi, menikmati sesuatu yang paling indah atas nama cinta. Suatu anugerah yang dihalalkan Tuhan untuk sepasang manusia yang telah mengikrarkan diri mengikuti sunah, yaitu pernikahan.
***
"Tadi sakit, ya?" tanya Seno sambil memeluk Nisa dari belakang, di balik selimut.
"Sedikit," jawab Nisa.
"Yakin? Tadi aku udah pelan-pelan, loh."
Nisa berbalik menatap Seno. "Kamu melakukannya dengan baik."
Seno tersenyum senang. "Sekarang kamu udah enggak perawan lagi. Maaf ya, hehehe."
"Kenapa minta maaf? Aku masih perawan dikit kok."
Seno tergelak. "Entar malem kita lanjutin lagi biar gol ya, hehe. Merawanin cewek yang beneran perawan itu susah juga ya, perlu perjuangan ternyata."
"Apaan, sih! Udah ah, aku mau mandi, habis itu mau sarapan, laper."
Nisa beringsut dari tempat tidur, tapi tangannya di tarik oleh Seno. "Nis, kita mandi bareng."
Nisa menoleh. "Ogah, ah."
"Kenapa?"
"Ogah, kalau kamu enggak gosokin punggung aku pake lulur."
"Itu gampang, yuk."
***
"Astaga!" Seno kaget pas keluar dari kamar hanya pake kolor tiba-tiba ada Angga, adik bungsu Nisa.
"Angga? Kamu kok, bisa masuk, sih?" tanya Seno heran.
Pemuda tampan itu tersenyum geli melihat tingkah kakak iparnya.
"Bisalah, aku kan tau kode pintunya. Ngomong-ngomong tadi kalian abis ngapain? Masih jam 8 ini, malem masih lama kali," tutur Angga sambil mesem-mesem.
"Kamu gak perlu tau, ini khusus orang dewasa, anak bau kencur kayak kamu gak boleh tau!"
Nisa keluar kamar sama kagetnya dengan Seno melihat Angga.
Angga menunjuk Nisa dan Seno. "Kalian mencurigakan, rambut sama-sama basah lagi. Tadi terjadi sunami lokal ya?"
"Apaan sih, gak sopan tau! Kamu ngapain ke Jakarta?" tanya Nisa.
Seno kembali ke kamar setelah mengambil sebotol air mineral di kulkas.
"Aku udah dua hari di Jakarta kali, Teh, cuma kemarin aku nginep di kos-kosan temen. Gak enaklah gangguin pengantin baru."
"Ayah sama Ibu emang tau kamu ke sini?"
"Taulah. Aku ke sini mau ngurusin lagu buat aku nyanyiin, Teh. Ih, Teteh mah gak tau aja, aku bentar lagi jadi penyanyi terkenal tau."
"Terus kamu ngapain pagi-pagi ke sini?"
"Mau minta sarapan, hehehe."
"Hadeuh, bentar Teteh mau masak dulu."
"Masak? Emang bisa masak? Masak apaan? Mie instan?"
"Kamu liat aja, Teteh udah pinter masak sekarang."
"Jadi penasaran."
Nisa berlalu ke dapur, setelah itu dia sibuk dengan bahan-bahan masakan dan panduan video masaknya.
Setelah selesai, Seno dan Angga pun memuji masakan Nisa. Kedua laki-laki itu tersenyum puas dengan perut kekenyangan.
***
Danisa Alia
sumpah
lanjutt thorr