Rara Raina Sunjaya. seorang Nona besar di keluarga Sunjaya.
Rara tidak menyangka akan nasib hidup nya yang berakhir di sebuah pulau yang usia nya lebih dari ratusan tahun. pulau itu di kenal sebagai pulau vampier pada masa nya nanun setelahnya pulau itu di kenal sebagai pulau rindang dan sudah berabad-abad semua yang melewati pulau itu di larang mendekat atau memasuki pulau tersebut di karnakan setiap orang yang mendekati atau memasuki pulau, maka tidak akan bisa kembali lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shkira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
eps 31
Rara, terpaku saat Aidan, mencium dan menikmati bibirnya. ia tidak melawan atau pun menolak saat pria yang berda di atas tubuhnya itu menikmati bibirnya. perlahan ia membalas ciuman darinya juga semakin terhanyut dalam kenikmatan.
melihat ada balasan dari Rara.
Aidan, semakin bergairah. ia mulai meraba bagian-bagian sensitiv milik Rara, mereka berdua terus hanyut dalam kenikmatan berdua.
sampai tiba saat Aidan ingin menyatukan diri dengan Rara, ia tersadar kalau ada serangga mata-mata yang memperhatikan mereka. di langit- langit kamar.
Ia, menghentikan niatnya, beranjak dari ranjang lalu menutupi tubuh Rara, dengan kain.
"Sangat lancang dan berani, mengirim serangga untuk memata-mataiku," dengan satu jentikan tangan, serangga di langit-langit kamar, terjatuh mati.
Aidan, mengambil serangga lalat, untuk mendaktesi asal serangga itu. ia sangat terkejut saat mengetahui kalau serangga itu, milik pelayan setia Zura.
Aidan, membakar habis serangga itu. dengan senyum pahitnya.
"Sayang, aku akan ke istana, ada serangga kecil yang harus di bereskan! maaf jika membuatmu ke cewa, secepatnya aku akan kembali," Aidan, kembali mengecup bibir Rara, yang saat itu terpaku diam dengan wajah merah mengingat baru saja apa yang akan ia lakukan dengan Aidan.
kembali memerima kecupan bibir dari. Aidan, wajahnya semakin memerah dengan tatapan bengongnya. melihat Aidan berjalan pergi meninggalkan kamarnya.
untuk beberapa saat Rara, masih terpaku diam, malu untuk menyadarkan diri jika mengingat semuanya.
"A-apa.. yang aku lakukan dengannya tadi ? aaaa.. memalukan aku bahkan tidak menolaknya! apa maksudnya tadi membuatku kecewa? dasar mesum sialan! apanya yang kecewa, huh." Rara, terus mendumal sendiri, menutupi wajah malunya dengan tangan.
ia terkejut saat mendengar suara ketukan pintu. ia bergegas merapihkan pakaiannya yang sedikit lagi hampir terlepas semua.
dengan panik ia beranjak dari ranjangnya, berlari kecil untuk membuka pintu besar dengan ukiran kuno itu, untuk melihat siapa yang mengetuk pintu.
ia sedikit terkejut melihat Afkar, berada di depan pintu.
"A-afkar!"
"Rara! kenapa kau sangat pucat? apa kau sakit?" tanya Afkar, kahwatir dengan kondisi, Rara. yang terlihat pucat.
"Ah, aku!" ia tersadar, kalau ia sedang anemia dan tiba-tiba sakit kepalanya menyerang lagi, membuat tubuhnya tidak seimbang.
Dengan cepat Afkar, menopong Rara, untuk kembali ke ranjang.
" Ada apa, denganmu Rara? tadi kau baik-baik saja, kenapa sekarang kau sangat pucat?" ke khawatiran nya semakin membuat Afkar, tidak tenang.
"Aku, tidak apa-apa, Afkar. terimaksih sudah membantuku, sebenarnya ini semua karena, Aidan sialan. sudah membuatku sakit, tidak membawakan aku obat, tapi malah membawakanku darah ayam!" Rara, memaki Aidan, namun wajahnya memerah setiap menyebut nama Aidan.
Afkar, sedikit mengerutkan kening, melihat reaksi Rara.
"Apa, yang mulia menyakitimu? apa kau menjadi pucat seperti ini Karena.." Afkar, menyeka rambut Rara, yang menutupi lehernya, utuk memastikan apa yang ia pikirkan benar.
melihat bekas taring.
Afkar, mengepal erat tangannya menahan ke marahan.
apa kaka, menyakiti Rara, jika ia benar mencintai Rara, ia tidak akan pernah mnyakitinya, awalnya aku sedikit memdengarkan ancamanmu tadi, tapi kali ini, aku akan menentang semua perintahmu kak. jika itu menyakut Rara!
Afkar, tenggelam dalam pikirannya yang berkobar, tanpa sadar mata birunya menyala. menahan kemarahan.
"A-afkar! apa yang terjadi? k-kenapa matamu bercahaya?" tanya Rara, sedikit panik, melihat reaksi dingin Afkar, yang selama ini tidak pernah ia lihat.
tersadar dari lamunannya, dengan cepat Afkar seketika merubah expresinya seperti biasa.
ia memberikan sebuah obat yang ia keluarkan dari cahaya sihir di tangannya, lalu di oleskan di leher Rara. hingga perlahan bekas taring di lehernya, perlahan menghilang.
setaminanya, juga kembali, sakit kepala dan pucatnya perlahan menghilang, ia kembali segar seperti semula.
BERSAMBUNG..
be like gw yang udah baca ni novel 3× 🗿