"Saya bayar Anda mahal bukan cuma untuk mengobati fisik saya, Dok. Tapi juga untuk tanggung jawab karena sudah membuat jantung saya berdegup tidak karuan."
Menjadi dokter pribadi seorang Arkananta Pradipta—CEO arogan yang hobi mengatur—adalah bencana terbesar dalam hidup Ayana. Alih-alih fokus menyembuhkan trauma masa lalu Arka, Ayana malah terjebak dalam pusaran kontrak profesional yang fana, komedi situasi di luar nalar, dan perasaan terlarang yang perlahan mengoyak hatinya.
Saat rahasia kelam masa lalu Arka mulai terkuak, sanggupkah jas putih Ayana bertahan menghadapi dosis cinta yang terlalu mematikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neyrfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. Eksekusi Sang Naga
Hening yang tercipta di dalam ruang rapat pleno Pradipta Tower terasa begitu pekat, begitu menekan, hingga suara detak jarum jam dinding mewah di sudut ruangan terdengar seperti dentang lonceng kematian bagi karier korporat Elena Pradipta. Semua mata, mulai dari para dewan komisaris senior hingga dua perwakilan komite etik kedokteran, kini tertuju pada layar proyektor raksasa yang menampilkan visualisasi bagan siber pelacakan IP dan aliran dana luar negeri.
Elena Pradipta mematung di tempatnya berdiri. Jari telunjuknya yang tadinya menunjuk Ayana dengan penuh keangkuhan kini perlahan-lahan turun, gemetar hebat. Warna merah merun dari gaun mahalnya mendadak terasa kontras dengan wajahnya yang kini kehilangan seluruh rona darah.
"Ini... ini rekayasa! Ini fitnah yang sengaja dibuat oleh keponakan saya dan dokter gadungan ini untuk mengalihkan isu gangguan jiwanya!" jerit Elena, suaranya melengking tinggi, mencoba memecah keheningan dengan kepanikan yang teramat kentara. "Kakek! Jangan percaya pada data digital yang bisa dimanipulasi dengan mudah oleh tim IT kantor Arka!"
Hermawan Pradipta, sang naga tua yang memegang kendali tertinggi atas dinasti ini, tidak langsung merespons. Pria sepuh itu perlahan-lahan mengangkat kepalanya. Pandangan matanya yang tajam dan dingin dari balik kelopak mata yang mulai berkerut itu mengunci sosok anak perempuannya. Kehadiran Hermawan di kursi roda elektriknya tidak mengurangi sedikit pun aura intimidasi yang telah ia bangun selama setengah abad memimpin pasar makro Asia.
"Diam, Elena," suara Hermawan tidak keras, bahkan cenderung serak dan rendah, namun memiliki bobot kekuatan yang sanggup membuat Elena seketika bungkam seolah tenggorokannya tersumbat.
Hermawan mengalihkan pandangannya ke arah tim hukum senior yang berdiri di belakang kursi rodanya. Sang pengacara utama, seorang pria paruh baya berkacamata perak, langsung melangkah maju, membuka sebuah map dokumen berstempel resmi dari firma hukum internasional di Singapura.
"Berdasarkan verifikasi silang yang dilakukan oleh otoritas moneter Singapura dan tim forensik siber independen yang ditunjuk langsung oleh Tuan Besar Hermawan subuh tadi," pengacara itu membacakan dengan nada suara yang monoton namun mematikan, "nomor rekening offshore di Kepulauan Cayman yang digunakan untuk membiayai publikasi artikel tersebut terbukti secara hukum valid atas nama yayasan cangkang milik Ibu Elena Pradipta. Transaksi tersebut dilakukan dua hari yang lalu, tepat setelah kepulangan Dokter Ayana Sheenaz dari kediaman Megamendung."
DEB!
Beberapa komisaris senior langsung menggeleng-gelengkan kepala, memandang Elena dengan tatapan jijik dan tidak percaya. Sabotase internal yang berujung pada penurunan nilai saham perusahaan sebesar delapan persen dalam waktu semalam adalah bentuk pengkhianatan tertinggi dalam dunia bisnis.
Arkananta melangkah satu kali ke depan, memosisikan dirinya tepat di samping Ayana. Jas hitam pekatnya tampak tegak tanpa cela. Pria itu menatap tantenya dengan pandangan meremehkan yang teramat dingin.
"Tante Elena ingin membuktikan kepada dunia bahwa saya tidak stabil secara mental," suara berat Arka bergema tenang, menguasai ruangan sepenuhnya. "Namun, tindakan Tante yang sengaja memicu kepanikan pasar demi ambisi pribadi justru membuktikan siapa yang sebenarnya tidak memiliki kapasitas waras untuk memegang kendali keuangan di perusahaan ini. Tindakan Tante adalah murni kejahatan korporasi."
Arka kemudian menoleh ke arah Hermawan. "Kakek, sebagai CEO Pradipta Group, saya mengajukan mosi tidak percaya dan meminta pencabutan seluruh hak suara serta posisi eksekutif Elena Pradipta dari seluruh anak perusahaan efektif mulai detik ini."
Elena melangkah mundur, tubuhnya lemas hingga ia terpaksa bertumpu pada sandaran kursinya agar tidak jatuh ke lantai. "Kakek... saya melakukan ini demi menyelamatkan perusahaan... Arka menyembunyikan penyakitnya! Dia menderita PTSD! Dia tidak bisa mendengar suara sirine!" jerit Elena dalam upaya terakhirnya untuk menyeret Arka jatuh bersamanya.
Mendengar kata 'PTSD' diucapkan dengan begitu vulgar di depan dewan komisaris, Ayana langsung mengambil alih kendali argumen medis. Ia melangkah maju dengan kepala tegak, membuka berkas laporan klinis tebalnya.
"Mohon izin, Tuan Besar Hermawan dan para anggota dewan komite," suara Ayana yang jernih memotong histeria Elena. "Karena Ibu Elena terus menyinggung masalah PTSD, mari kita luruskan fakta medisnya di sini. Pasien Arkananta Pradipta tidak menderita gangguan jiwa yang mengurangi kapasitas kognitifnya sebagai pemimpin. Beliau adalah seorang penyintas trauma masa lalu yang sedang menjalani terapi paparan audio terkontrol (controlled audio exposure therapy) di bawah pengawasan medis ketat saya."
Ayana menekan tombol pada papan kendalinya, mengaktifkan panggilan video langsung pada layar proyektor. Dalam hitungan detik, wajah seorang pria paruh baya berwajah kaukasia dengan jas laboratorium putih muncul di layar—Profesor Robert Vance, kepala neuropsikiatri senior dari National University Hospital Singapura.
"Selamat pagi, Tuan Pradipta," sapa Profesor Vance melalui sambungan video beresolusi tinggi. "Saya berada di sini untuk memverifikasi secara penuh bahwa metode terapi yang diterapkan oleh Dokter Ayana Sheenaz terhadap Arkananta Pradipta adalah metode mutakhir yang sepenuhnya legal, etis, dan memiliki tingkat keberhasilan hingga sembilan puluh dua persen pada kasus trauma akustik akut. Data grafik yang dikirimkan Dokter Ayana kepada saya menunjukkan bahwa fungsi kognitif, pengambilan keputusan, dan stabilitas emosional Arkananta justru berada di titik optimalnya saat ini, jauh lebih baik dibanding saat ia masih bergantung pada obat-obatan kimia dosis tinggi."
Profesor Vance menatap ke arah dewan komisaris melalui kamera. "Sebagai ahli medis, saya menyatakan bahwa Arkananta Pradipta seratus persen cakap, sehat, dan sangat layak untuk terus memimpin jalannya korporasi besar ini tanpa ada halangan klinis apa pun."
Penjelasan dari otoritas medis kelas dunia itu bertindak seperti palu hakim yang mengetuk keputusan akhir. Dua perwakilan dari komite etik kedokteran nasional yang sengaja dibawa oleh faksi Elena saling berpandangan, lalu mengangguk hormat ke arah Ayana, mengakui profesionalitas mutlak dari dokter muda tersebut.
Hermawan Pradipta perlahan mengangkat tangan kanannya yang memegang tongkat naga emas, lalu mengetukkannya ke lantai lantai marmer sebanyak dua kali.
TOK! TOK!
Suara ketukan itu seketika menghentikan seluruh aktivitas di dalam ruangan. Hermawan menatap Elena dengan pandangan mata yang dipenuhi oleh kekecewaan seorang ayah sekaligus ketegasan seorang pemimpin dinasti.
"Elena," ucap Hermawan, suaranya terdengar sangat lambat namun sarat akan keputusan yang tidak bisa diganggu gugat. "Kamu telah melanggar batas terdalam dari keluarga ini. Kamu mengorbankan darah dagingmu sendiri dan merusak nama baik Pradipta Group demi keserakahanmu. Mulai hari ini... kamu resmi diberhentikan secara tidak hormat dari jabatan Direktur Keuangan. Seluruh aset, saham operasional, dan hak protokoler milikmu di dalam grup ini akan dibekukan dan dialihkan di bawah pengawasan langsung Arkananta."
Hermawan melirik ke arah petugas keamanan yang berjaga di pintu. "Keluarkan dia dari gedung ini. Dan pastikan tim hukum kita memproses laporan pidananya ke markas besar kepolisian sebelum matahari terbenam."
"Kakek! Tidak! Kakek tidak bisa melakukan ini pada saya! Arka! Dokter sialan, kalian akan membayar ini semua!" jerit Elena histeris saat dua pengawal bertubuh kekar langsung mencengkeram kedua lengannya, menyeret wanita yang tadinya begitu berkuasa itu keluar dari ruang rapat pleno dengan cara yang teramat memalukan.
Pintu kayu jati raksasa itu kembali tertutup rapat, menyisakan keheningan yang kini dipenuhi oleh rasa hormat dan ketakutan baru dari para dewan komisaris terhadap kekuatan aliansi antara Arkananta dan Dokter Ayana.
Hermawan memutar kursi roda elektriknya menghadap ke arah Arka dan Ayana. Seulas senyuman tipis, yang teramat jarang terlihat, muncul di wajah keriput sang naga tua.
"Kerja bagus, Dokter Ayana Sheenaz," ujar Hermawan dengan nada suara yang melunak. "Kamu telah membuktikan bahwa surat hak veto medis yang saya berikan di Megamendung tidak jatuh ke tangan orang yang salah. Kamu telah melindungi cucu saya dengan sangat baik hari ini."
Ayana membungkuk hormat dengan anggun. "Terima kasih, Tuan Besar Hermawan. Saya hanya melakukan tugas saya sebagai dokter pribadinya."
Hermawan kemudian menatap Arka. "Selesaikan kekacauan di luar sana, Arka. Media sedang menunggu jawabanmu. Tunjukkan pada dunia siapa pemimpin sejati dari Pradipta Group."
Arka memberikan anggukan mantap. "Baik, Kakek."
Satu jam kemudian, aula konferensi pers di lantai dasar Pradipta Tower telah dipenuhi oleh ratusan jurnalis dari berbagai media nasional dan internasional. Kilatan lampu kamera tak henti-hentinya menerangi panggung utama saat Arkananta melangkah masuk, didampingi oleh Ayana yang berdiri dengan tenang di barisan belakang tim manajemen.
Arka berdiri di balik podium berlapis logo emas perusahaan. Pria itu menatap kerumunan jurnalis dengan pandangan mata yang dipenuhi oleh kepercayaan diri yang mutlak.
"Selamat siang semuanya," suara berat Arka menggelegar melalui pelantang suara, seketika membuat seluruh ruangan riuh menjadi tenang. "Saya berdiri di sini hari ini untuk mengklarifikasi secara langsung terkait rumor tidak berdasar yang beredar sejak kemarin malam. Saya, Arkananta Pradipta, berada dalam kondisi kesehatan fisik dan mental yang prima secara seratus persen."
Arka mengangkat tangan kanannya, menunjuk ke arah draf laporan kinerja kuartal terbaru yang ditampilkan di layar besar di belakangnya. "Penurunan saham pagi ini adalah akibat dari manipulasi pasar ilegal yang dilakukan oleh oknum internal yang saat ini sudah resmi diberhentikan dan sedang menjalani proses hukum pidana. Pradipta Group tetap berdiri kokoh, dan proyeksi akuisisi medis kami di Singapura akan tetap berjalan sesuai jadwal."
Arka terdiam sejenak, lalu pandangan matanya beralih ke arah samping panggung, menatap tepat ke arah Ayana yang sedang tersenyum bangga ke arahnya.
"Dan terkait metode terapi medis yang diberitakan..." lanjut Arka, suaranya melembut dalam frekuensi yang hanya bisa dirasakan maknanya oleh orang-orang terdekat, "itu bukan sebuah kelemahan. Itu adalah proses pemulihan yang dipimpin oleh tim medis terbaik saya untuk memastikan bahwa pemimpin perusahaan ini akan selalu memberikan performa terbaiknya demi para investor dan seluruh karyawan. Pertempuran kami melawan spekulasi hari ini telah selesai, dan Pradipta Group akan kembali bangkit lebih kuat dari sebelumnya."
Gemuruh tepuk tangan dari ratusan jurnalis seketika memenuhi aula besar tersebut seiring dengan grafik nilai saham Pradipta Group di bursa efek yang mulai merangkak naik kembali dengan kecepatan yang luar biasa, memulihkan seluruh kerugian dalam hitungan jam.
Ayana mengembuskan napas panjang, melonggarkan pegangannya pada papan jalannya sembari menatap punggung tegap Arka di atas podium. “Kita berhasil melewati babak paling kritis, Pak Kapitalis,” batin Ayana dengan hati yang dipenuhi oleh kebahagiaan yang murni. “Tapi ingat... volume lima belas persen kita belum selesai, dan jalan menuju penyembuhan total Anda masih sangat panjang di depan kita.”
Bersambung.
good job Thor..up yg banyak LG ya Thor...👍👍🙂🙂👏👏
btw terima kasih thor upnya🤭
💪💪