Cerita pengabdian untuk negeri tercinta
Kisah perjalanan hidup Panji Watugunung sang Pendekar Pedang Naga Api membaktikan diri untuk negeri tercinta yang berada diambang kehancuran karna perebutan kekuasaan antara putra putra raja
Di balik perjalanan hidup, ada kisah cinta yang melibatkan Dewi Anggarawati putri Kadipaten Seloageng dan dua adik seperguruannya
Kepada siapakah cinta Panji Watugunung akan berlabuh?? Bagaimana perjalanan nya sebagai pendekar muda jagoan dunia persilatan?
Simak kisah selengkapnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ebez, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perampok Perbatasan
"Silahkan duduk pendekar muda", ujar Ajar Panitih seraya duduk serambi kediamannya.
"Terimakasih Ki", sambut Panji Watugunung
Suasana kediaman Ki Ajar Panitih memang asri
Dilihat dari sekeliling halaman, tampak beberapa tumbuhan empon-empon dan beberapa tanaman obat
"Tampak nya Ki Ajar adalah seorang tabib" ,ucap Panji Watugunung seraya terus memperhatikan setiap sudut halaman.
"Hehehehe, pandangan pendekar muda sungguh tajam. Kalau boleh tau, pendekar muda ini namanya siapa? Dan mau kemana?"
tanya Ki Ajar sambil tersenyum.
"Kami pengelana Ki,
Nama ku Watugunung dan ini Anggarawati.
Kami ingin berkunjung ke Gelang-gelang Ki", jawab Watugunung sopan
Tak berapa lama kemudian gadis berbaju biru keluar, tampak dia selesai mengobati luka luka akibat pertarungan tadi.
"Nah ini murid ku, Namanya Nawangsari .
Kalau yang baju putih tadi Taradipa"
Nawangsari mengangguk tanda hormat kepada Panji Watugunung dan Dewi Anggarawati.
"Nawangsari, ambilkan gentong kecil di samping tempat tidur ku"
Nawangsari mengangguk dan bergegas melakukan perintah guru nya.
Setelah menyerahkan gentong kecil, Nawangsari kembali duduk di sebelah guru nya.
Lalu Ki Ajar Panitih mengambil sesuatu dari gentong kecil, lalu menyerahkan nya pada Panji Watugunung.
"Pendekar muda, kakek tua ini hanya punya ini untuk membalas kebaikan mu menolong nyawa kami. Ambilah"
"Apa ini Ki?",
Sebuah potongan bambu berwarna hitam sebesar gagang pedang dengan tutup di balut kain merah. Ketika di buka, ada puluhan butir pil kecil berwarna hitam.
"Namanya Obat Segala Racun. Dengan Obat ini, pendekar muda tidak perlu takut menghadapi racun. Apapun racun nya, akan luntur saat pendekar muda meminumnya"
"Terimakasih Ki, ini sangat berguna" Panji Watugunung tersenyum.
"Ki Ajar Panitih, maaf kami tidak bisa berlama-lama di sini. Jika kita berjodoh, tentu masih ada waktu untuk bertemu kembali.
Kami mohon undur diri"
"Iya pendekar muda, jika ada kesempatan mampir lah kemari", jawab Ki Ajar Panitih.
Panji Watugunung dan Dewi Anggarawati segera melangkah keluar. Usai menoleh kepada Ki Ajar Panitih dan Nawangsari, Panji Watugunung memegang pinggang Dewi Anggarawati dan melesat ke atas pepohonan lalu menghilang seperti angin.
"Benar benar pendekar muda yang hebat, aku yakin suatu saat kita akan bertemu kembali", ujar Ki Ajar Panitih.
Panji Watugunung dan Dewi Anggarawati segera turun begitu melihat kuda mereka masih tertambat di pepohonan.
Mereka berdua lalu melompat ke atas kuda, dan memacu hewan pelari itu menuju perbatasan Kabupaten Gelang-gelang.
Saat senja mulai turun, mereka sudah tiba di Wanua kecil di dekat perbatasan Kadipaten Seloageng dan Kabupaten Gelang-gelang.
Lampu pelita mulai menyala di setiap sudut rumah penduduk.
Cahaya matahari memerah di ufuk barat.
Dengan pelan, Panji Watugunung dan Dewi Anggarawati memasuki wanua kecil.
Sepi
Tidak ada penjaga gapura terlihat.
Kalau tidak ada lampu pelita menyala, mungkin orang mengira wanua kecil itu adalah desa hantu.
Panji Watugunung dan Dewi Anggarawati kemudian menuju rumah paling ujung, dan mengetuk pintu
"Permisi Ki, ada orang di dalam?
Tak berapa lama kemudian
Kriettttt..
Pintu rumah itu terbuka sedikit,
"Siapa kalian? Mau apa kemari?", tanya seorang lelaki tua berjenggot.
"Kami pengelana Ki,
Kalau boleh kami ingin menginap di sini.
Kami akan bayar Ki", jawab Anggarawati sopan
Pintu terbuka lebar.
"Cepat masuk, kuda kalian tambatkan saja di serambi. Cepat", suruh kakek tua itu seperti ketakutan.
Begitu Panji Watugunung dan Dewi Anggarawati masuk, kakek tua itu segera menutup pintu rumah rapat rapat.
"Duduklah, akan ku ambilkan air minum untuk kalian", kakek tua itu bergegas menuju dapur dan kembali membawa kendi air minum dan beberapa potong singkong rebus.
"Maaf hanya ini yang aku punya"
"Ah merepotkan kakek saja, ini sudah lebih dari cukup kek", jawab Anggarawati
"Kek, kalau boleh tau, kenapa wanua ini sepi sekali kek?, bahkan penjaga gapura pun tidak ada", tanya Watugunung penasaran
Huhhh
Kakek tua berjenggot itu mendengus lalu bercerita bahwa beberapa purnama terakhir desa itu diteror oleh hantu.
"Hantu?!!!..." ucap Panji Watugunung dan Dewi bersamaan.
"Menurut cerita orang yang sudah pernah melihat, hantu itu berpakaian hitam dan tidak memiliki muka. Setiap malam hantu itu gentayangan, hingga tidak ada penduduk berani keluar rumah di malam hari.
Jika kalian tidak celaka, maka jangan coba-coba mengintip hantu itu, kalau tidak wajah kalian akan diambil hantu itu".
Wajah cantik Anggarawati mengkerut takut mendengar kata kakek tua itu, namun Panji Watugunung menilai ada sesuatu yang aneh.
"Sudah larut, beristirahat lah kalian. Kalau kalian belum tidur, tapi mendengar suara-suara aneh, lebih baik kalian diam saja", ujar kakek tua yang langsung menuju ke tempat tidur nya.
"Kang,
Aku takut....." , bisik Anggarawati seraya memeluk erat tubuh Watugunung sambil menyembunyikan wajahnya di bawah ketiak Watugunung.
"Sudah tidur saja, ada Kakang yang menjaga mu", mendengar itu Anggarawati merasa lega dan segera memejamkan matanya.
Tak berapa lama, gadis itu sudah terbang ke alam mimpi.
Begitu melihat Anggarawati tertidur, Watugunung segera melepaskan tangan yang memeluk nya.
Watugunung kemudian duduk bersila bersemedi. Mengolah nafas dan melatih tenaga dalam nya.
Menjelang tengah malam, diawali suara burung hantu, ada suara aneh datang dari ujung jalan wanua.
Panji Watugunung membuka matanya, kemudian pelan dia mengintip keluar lewat lobang dinding kayu.
Sekelompok orang berpakaian hitam dan memakai topeng tanpa hiasan masuk ke wanua. Mereka mendorong gerobak kayu sehingga keluar bunyi aneh.
'Hemmmm rupanya sekelompok manusia laknat yang menakuti. Akan ku ikuti mereka'
Panji Watugunung lalu membuka pintu rumah pelan sekali, lalu menutup nya setelah keluar. Kemudian melompat ke atas atap dengan menggunakan ajian Sepi Angin.
Rombongan manusia bertopeng misterius lalu menuju satu rumah. Mereka lalu masuk ke dalam.
Panji Watugunung melompat ke atas atap rumah tempat masuk.
"Hahahaha, kita sukses besar Ki..
Kalau begini terus kita cepat kaya".
"Benar kakang, dengan merampok di Gelang-gelang dan membawa hasilnya kemari, kita bisa menghindari kejaran prajurit".
'Hemmm, rupanya sekelompok perampok busuk' , gumam Panji Watugunung.
Panji Watugunung mengambil tangkai alang alang yang menjadi atap, perlahan membuka sedikit atap..
Lalu melemparnya ke arah salah seorang pria bertopeng misterius.
Whutt..
Creeepp !!
Aahhh...
Seorang yang berjaga di pintu tewas seketika saat alang alang menancap di jantung nya.
"Adik, adik.."
"Kakang, adik tewas"
Hemmm
"Siapa yang berani main petak umpet?,
Keluar!! Jangan jadi pengecut! " teriak seorang lelaki bertubuh kurus begitu melihat anak buahnya tewas.
Terdengar suara tawa yang membelah sunyi malam.
Hahahaha
Kelompok pria bertopeng misterius itu terkejut melihat seseorang sedang berada diatas atap rumah.
Bisa bisanya mereka tidak tau ada seseorang mengintai tanpa mereka sadari..
"Keparat!!
Siapa kau? Mengapa kau mencampuri urusan kami?", teriak lelaki kurus
"Apa perlu aku menjelaskan tujuan ku membasmi kelompok perampok seperti kalian?"
"Membasmi kami? Coba saja kalau bisa!",
Lelaki kurus yang di kenal sebagai Siluman Tanpa Muka itu menantang
"Akan ku lakukan"
.
.
.
.
.
.
.
.
*bersambung*