Saat pernikahan sudah di ambang kehancuran, saat itu kita menyadari jika kita sudah gagal membinanya.
Ingin mempertahankan demi putri tercinta, tapi semua sia-sia saja.
Perceraian yang sangat menyakitkan, karena sebenarnya kita tidak ingin mengorbankan buah hati kita.
Dia, anak kecil yang tidak berdosa, yang akhirnya harus merasakan sakit hati karena perpisahan antara ayah dan ibunya.
Mampukah Shofia melewati semua ujian itu? di hianati oleh sang suami, yang sudah diam-diam mempunyai istri simpanan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syarifatul hidayah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31. Korban Cinta
Karin pun ikut terkejut, bagai bermimpi saja. Kini Shofia dan Karin sama-sama terperangah melihat sosok laki-laki yang berdiri dihadapannya.
"Fattah,,," Ucap Shofia dan Karin bersamaan.
"Shofia, Karin!"
Mereka berdua masih bengong. Hingga di kaget kan suara pelayan.
"Mau minum Apa Nyonya?" Tanya seorang pelayan itu.
Masih dalam mode diam. Tidak pernah di sangka Fattah seorang laki-laki biasa, bahkan anak dari tukang kuli di pasar, berdiri gagah bagai seorang pangeran.
Fattah anak paling pintar di antara teman-teman Shofia dan karin. setelah Fattah, Shofialah yang menduduki urutan kedua. kulitnya yang hitam bahkan bisa di bilang sering bau ketek. siapa menyangka kehidupan Fattah berubah begitu drastis sehingga membuat Shofia dan Karin terkejut.
"Kenapa kalian bengong seperti melihat hantu saja."
"Benarkah ini kamu Fatah? atau kau hanya mirip saja? Sungguh kamu benar-benar berubah dari ujung kaki sampai ujung rambut." ujar Karin tersenyum.
"jika kita baik pada seseorang, jika kita ikhlas menjalani apa yang terjadi terhadap kita, pasti akan mendapatkan jalan terbaik juga untuk masa depan kita. Bukankah begitu Shofia?"
Sophia tetap diam Dia teringat betapa jahatnya waktu masih sekolah. Memperlakukan Fattah dengan tidak adil. Saat Fattah mengungkap cintanya kepada Shofia, Shofia Dengan bangganya mengatakan" Kamu tidak pantas denganku Fattah, kamu bau, kamu tidak gaul, kamu kumuh, jika kamu bisa berubah aku mau menjadi pasangan kamu." itulah yang dikatakan Shofia, dan saat bertemu saat ini, Shofia begitu malu, dia masih seperti bermimpi saja. Teringat akan semua kata-katanya.
"Maaf, dulu aku masih arogan, dulu aku masih tidak punya tata krama dan sopan santun. Saat ini aku hanya bisa mengucapkan maaf sekali lagi maaf." Ujar Shofia menunduk.
"Aku juga minta maaf Fattah, selama sekolah aku tidak pernah baik kepadamu, aku dan Shofia selalu jahil kepadamu, Sekali lagi maafkan kita ya. Aku harap kamu mau memaafkan kita dan menjadi teman kita."
"Aku tidak pernah dendam, bahkan mengingat masa-masa itu, aku tidak pernah mengingatnya. lagian aku memang berharap bertemu kalian. Karena kalian pernah membantuku dulu, meski kalian pernah jahat tapi kalian pernah meminjamkan buku padaku, saat ujian. Dan buku itu aku simpan sampai saat ini, terimakasih kalian datang ke tempatku."
" Oh Tuhan ternyata kamu masih menyimpan buku itu. Padahal waktu itu aku berniat ingin minta maaf karena terus mengejek kamu."
" Ya sudah sekarang kalian duduk, dan mau minum apa? kasihan pelayanku menunggu kalian untuk membuatkan minum."
"Teh panas saja. Maaf sebelumnya." Ucap karin.
Pelayan itupun pergi. mengambil minuman untuk Shofia dan karin.
"Selamat ya, ternyata pemilik PT. trisakti itu kamu, Tapi namanya kenapa Bapak Ilyas?" Shofia masih heran.
"Iya, di ambil nama belakang nya. Muhammad Fattah Al-Ilyas."
"Kamu gak lagi menang lautre kan? mendadak jadi bos gitu," Tanya Karin pelan
"Hahahaha," Fattah tertawa mendengar pertanyaan Karin.
"Yang pasti, jika kita tidak banyak menuntut dan ikhlas menjalani hidup yang serba kekurangan dan mau menerima semua dengan sabar, Insyaallah semua pasti akan mendapatkan kebaikan."
"Salut sama kamu, kita tidak akan tahu hidup kita seperti apa di masa depan, bahkan seorang yang di anggap baikpun belum tentu terus baik."
Karin menoleh kearah Shofia dan tersenyum. Karin tahu apa yang di rasakan Shofia jika harus bercerita tentang perjalanan hidupnya.
"Kamu tidak lagi ada masalah, kenapa karin melirik kamu seperti itu." Ujar Fattah curiga.
"Ah gak ada apa-apa, yang pasti semua perjalan manusia berbeda-beda."
Tak lama pelayan datang membawa Teh panas, menyuguhkan untuk Shofia dan Karin dan satu cangkir kopi hitam untuk Fattah.
"Makasih Bik," Ucap Shofia dan Karin.
"Sama-sama Nyonya." Lalu masuk kembali
"Ayo diminum," Ujar Fattah
Mereka pun meminum teh panas tersebut. Begitu juga Fattah.
"Ngomong-ngomong, apa kalian bekerja di perusahaan Bapak Fakhri sudah lama?"
"Aku masih beberapa bulan. Kalau Karin luamyan lama,"
"Aku senang berbisnis dengan Bapak Fakhri, dia disiplin sangat baik dan tidak pernah mengecewakan kliennya. Makanya aku tidak pernah mau pindah ke lainnya, karena Bapak Fakhri yang terbaik."
"Iya kamu benar, dia sangat disiplin sekali. bahkan untuk urusan bekerja dia jagonya." Jawab Karin yang sudah sangat mengenal Bapak Fakhri.
"Aku belajar banyak dari Bapak Fakhri, dia memberikan aku ilmu berbisnis yang sangat bermanfaat sekali. Sampai aku menjadi seperti sekarang ini."
"Sukses terus ya," ucap Shofia.
"Amin,"
"Ini berkasnya, kamu cek takunya masih ada yang belum di tanda tangani. Jadi kamu bisa kembalikan untuk aku perbaiki."
Sambil melihat berkas itu, Fattah terlihat serius, dan setelah selesai di cek Fattah meletakkan di meja.
"Semua sudah benar, terimakasih tepat waktu."
"Sebisa mungkin aku tidak akan mengecewakan kamu." Jawab Shofia.
"Kita mulai tadi disini ngobrol, apa istrimu tidak marah?" Ujar Karin yang penasaran dengan istri Fattah.
"Aku korban cinta. Jadi untuk menikah sangat sulit. Mungkin lebih baik sendiri saja."
"Maksudnya?" Tanya Shofia.
"Aku terlalu mencintai seseorang sehingga aku lupa untuk mencintai yang lain. kecuali wanita yang aku cintai itu. Rasanya sulit mendapatkan dia, Tapi aku tetap bertahan pada sebuah janji, Aku akan mencintai wanita itu, meski dia sudah menikah sekali pun. Karena bagiku dia yang memberikan motivasi kepadaku, sampai aku seperti ini."
"Siapa?" Tanya Karin sangat ingin tahu, melihat kearah Shofia sambil mengernyitkan dahinya.
"Dia adalah..." Fattah diam, seakam mulutnya di kunci. membuat Shofia dan Karin semakin penasaran saja.
Di gerebek, bukan gerbek..
perhatikan atuh thor..apalagi kalimat manggil Bapak...
Terima kasih pak Fakhri..