Dulu ia hanyalah seorang tentara elit yang dikhianati sahabatnya sendiri dan mati di tengah misi berbahaya. Namun takdir justru membawanya terlahir kembali sebagai seorang Putri Kekaisaran.
Sayangnya, status putri bukan berarti hidupnya aman. Intrik istana, bayangan pengkhianatan, hingga malapetaka yang mengintai, semua sudah menunggu.
Tapi Ariana Calista Castello bukan putri biasa. Di balik wajah manisnya, ia menyimpan jiwa seorang prajurit yang terbiasa menghadapi hujan peluru.
Akankah pengalaman hidupnya di masa lalu menjadi senjata terkuat untuk bertahan di dunia baru ini? Atau justru menjadi kelemahan yang menyeretnya ke jurang yang sama?
Mari temani perjalanan sang Putri Reinkarnasi dalam menghadapi dunia penuh sihir, intrik, dan rahasia kelam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rajeng Tia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehadiran Yang Tak Terduga
...✾ Happy Reading Readers ✾...
Silvia mulai berjalan mengelilingi ruangan pakaian itu.
"Tuan Putri, jika ada gaun yang ingin anda kenakan, anda bisa langsung menunjuknya ya" Ucap Silvia.
Gaun untuk pesta ulang tahun ya?
Warna apa yang sekiranya pas ya?
Haruskah warna putih saja?
Ariana dengan bingung melihat seisi ruangan pakaian dengan matanya yang jeli.
Ini gak salah kan?
Masa gaun buat bayi ada sebanyak ini?!
Duh... jadi galau kan.
Apa sebaiknya pilih satu warna baru liat model gaun nya ya...
Ariana mulai melirik gaun yang berwarna putih, setelah sekian melihat gaun berwarna putih, akhirnya Ariana menemukan apa yang ia cari sedari tadi.
Ketemu!
Sekarang, tinggal bilang ke Silvia.
Sudah lama aku tidak mengeluarkan suaraku ini.
"Uuu.... iiiaaa... " Ucap Ariana dengan susah payah.
Padahal ingin memanggil nama Silvia, kenapa yang terucap malah kata Ia?
"Ada apa Tuan Putri?" Ucap Silvia melihat ke arah Ariana.
Ah untung saja direspon balik sama Silvia.
Emang Silvia, kesayanganku banget.
Ariana pun mulai menunjuk salah satu gaun berwarna putih dengan sulaman emas. Silvia dan Elena yang melihat hal itu segera menghampiri gaun yang ditunjuk oleh Ariana. Elena langsung mengambil gaun putih bersulam emas itu dari lemari.
"Yang ini, Tuan Putri?" Tanya Elena ke Putri Ariana sembari menunjukkan gaun yang dimaksud.
Uwahh... emang gak salah lagi.
Mataku jeli banget ya~~
Ariana membuat ekspresi senyum dan mengeluarkan tawanya yang lucu.
"Iiiaaa, iaaa" Ucap Ariana dengan senang.
Silvia dan Elena saling memandang, terpesona dengan gaun yang dipilih Putri Ariana. Mereka tak menyangka bahwa gaun itu sebenarnya merupakan gaun yang pernah dipakai oleh Permaisuri Diane saat masih kecil. Gaun itu disimpan sebagai kenang-kenangan dan juga sebagai cadangan jika dibutuhkan.
"Ah, Tuan Putri memang mempunyai selera yang luar biasa" Ucap Silvia kagum.
"Iya, gaun ini dulunya dipakai oleh Yang Mulia Permaisuri saat merayakan ulang tahun pertamanya" Tambah Elena.
"Benar-benar kebetulan" Gumam Elena, lalu ia terdiam mendadak.
"Elena!" Tegur Silvia dengan nada tinggi.
"Apa yang baru saja aku katakan?"
"Aku pasti sedang melantur!" Ucap Elena panik.
Ibu ya?
Ariana merenung dalam hati. Sudah lama sekali sejak ia melihat ibunya.
Apakah ibu masih sakit?
Tanya Ariana dalam hatinya.
"Tidak apa-apa, kita harus segera mengenakan gaun ini pada Tuan Putri" Kata Silvia.
"Waktu semakin terbatas, kita harus bergegas" Elena diingatkan oleh Silvia.
"Oh ya, tunggu sebentar. Aku akan memanggil pelayan untuk membantu" Kata Elena sambil bergegas keluar dari ruangan.
Begitulah pagi hari yang sudah diwarnai dengan kesibukan di kamar Putri Ariana. Para pelayan dengan senang hati membantu Putri Ariana mengenakan gaun beserta aksesori yang sesuai dengan warna gaun tersebut.
Setelah beberapa saat, Putri Ariana telah siap dengan gaunnya yang memukau.
"Nah, selesai!" Ucap Elena sembari menyeka keringatnya.
"Biar saya bantu melihat ke cermin, Putri" Ucap Silvia membantu Putri Ariana dengan berdiri di depan cermin.
Ah... ini aku?
Batin Ariana tak percaya.
Seketika, Ariana menunjukkan senyum bahagia di wajahnya.
"Uwaahhh... Tuan Putri sungguh cantik dan imut!" Ucap Pelayan bernama Ivy.
"Gaun ini benar-benar memperlihatkan betapa istimewanya Tuan Putri. Sulaman emasnya menambah kilau yang memikat." Tambah Ivy.
Ah... benarkah?
"Astaga .... memangnya boleh secantik ini? Rasanya saya ingin pingsan melihat kecantikan yang terpancar dari dalam diri Tuan Putri" Ucap pelayan bernama Fina dengan matanya yang berbinar-binar.
Ukhh, Fina, pujianmu itu membuatku merinding.
"Saya tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum melihat Putri Ariana dalam gaun putih bersulam emas ini. Tuan Putri benar-benar seperti malaikat kecil!" Ucap pelayan bernama Olivia.
Terima kasih atas pujianmu, Olivia.
"Setuju sekali! Kombinasi warna putih dan emas membuat Tuan Putri terlihat begitu suci dan anggun." Jawab pelayan bernama Fina.
"Bagaimana Sir Lucius? Penampilan Tuan Putri sangat cantik kan?" Tanya Olivia ke Sir Lucius.
Sir Lucius menganggukkan kepalanya, sembari memalingkan wajahnya ke samping. Sepertinya ia tersipu akan sesuatu.
"Gaun yang di pakai oleh Putri benar-benar memperlihatkan betapa istimewanya Tuan Putri, sulaman emasnya menambah kilau yang memikat." Ucap Sir Lucius.
Are?
Bahkan Sir Lucius pun ikut memujiku sampai seperti itu?
Kalau begitu, terima ini sebagai hadiah balasan karena sudah membantu dan memujiku dengan setulus hati.
Batin Ariana yang kini mulai menunjukkan ekspresi imutnya saat sedang tertawa.
Hal ini membuat seisi ruangan meleleh karena keimutan dan kecantikan yang terpancar langsung di hadapan mereka.
"Astaga... jika Anda seperti ini, rasanya saya bisa langsung pingsan di tempat" Ucap Fina.
"Imutnya... bagaimana bisa ada Tuan Putri yang memiliki paras seperti anda?" Ucap Olivia.
"Tentu saja ada, Tuan Putri Ariana lah bukti nyatanya" Jawab Ivy.
Lalu, seisi ruangan pun tertawa bahagia. Sementara Silvia dan Elena sedang memandangi Putri Ariana dengan rasa kasih sayang, di mata mereka sekarang, Putri Ariana sangatlah mirip dengan Yang Mulia Permaisuri saat kecil dulu.
...Tok Tok Tok...
Tiba-tiba terdengar suara ketukan dari pintu.
"Siapa?" Batin Sir Lucius
"Kehadirannya begitu tiba-tiba, bahkan auranya tidak bisa aku deteksi"
"Haruskah aku buka pintu ini?"
Begitulah isi pikiran Sir Lucius saat ini, tetapi karena ia merasa keamanan di istana sudah begitu kuat, akhirnya ia memutuskan untuk membukakan pintu tersebut.
Ketika pintu kamar terbuka lebar, muncul seorang wanita yang memancarkan kecantikan dan kemuliaan masuk ke dalam kamar Putri Ariana. Ternyata wanita itu adalah Permaisuri Diane, Ibu Ariana yang selama ini diketahui sedang koma.
Semua orang terdiam, terkejut dan tak percaya melihat Permaisuri Diane yang berdiri di hadapan mereka dengan senyuman hangat.
Ariana yang masih belum bisa mengenal siapa ibunya, menatap Permaisuri Diane dengan rasa heran. Tapi kemudian, wajah Ariana memancarkan kegembiraan. Ariana merasa ada ikatan istimewa antara mereka berdua.
Permaisuri Diane melangkah perlahan ke arah Ariana, dengan langkah yang penuh kasih sayang.
"Ariana, putriku yang tercinta. Ibumu telah pulih sepenuhnya dan kembali untuk merayakan ulang tahun pertamamu" Kata Permaisuri Diane dengan suara lembut.
Ariana, dengan mata berbinar-binar, meraih tangan ibunya yang hangat. Mereka berdua saling tersenyum, seolah-olah mereka telah menunggu momen ini sejak lama.
Kehadiran Permaisuri Diane mengguncang hati semua orang di ruangan itu. Mereka tidak bisa menahan kebahagiaan dan tangis haru mereka melihat keajaiban ini terjadi di hadapan mereka.
Silvia dan Elena, merasa terharu melihat momen yang begitu indah ini. Mereka tahu betapa besar keinginan Putri Ariana untuk bertemu dengan ibunya, dan sekarang impian itu menjadi kenyataan.
"Selamat datang kembali, Yang Mulia" Ucap Silvia dengan suara gemetar, penuh hormat.
Elena juga bergabung dalam ucapan selamat tersebut, "Kami sangat bahagia melihat Anda kembali, Yang Mulia Permaisuri."
Permaisuri Diane tersenyum lembut kepada mereka berdua.
"Terima kasih, Silvia dan Elena. Kalian berdua adalah pendamping yang luar biasa bagi Putri Ariana. Aku sangat berterima kasih atas kerja keras dan perhatian kalian selama ini."
Ariana, yang masih terpesona dengan kehadiran ibunya, akhirnya mengucapkan kata-kata yang selama ini ia simpan dalam hatinya.
"Iii... bu?" Ucap Ariana yang berusaha memanggil Ibunya.
Permaisuri Diane terkejut mendengar kata yang keluar dari mulut Putrinya. Ia tak menyangka jika Putrinya akan memanggilnya dengan sebutan Ibu untuk pertama kalinya.
Seketika Permaisuri Diane memeluk lembut Ariana seraya berkata,
"Putriku, terima kasih sudah berjuang untuk hidup meski dalam keadaan yang sulit. Sekarang, kita akan bersama dan merayakan ulang tahun pertamamu dengan penuh kebahagiaan."
Momen itu dipenuhi oleh kehangatan dan kegembiraan. Semua orang di ruangan merasa beruntung bisa menyaksikan keajaiban ini. Mereka tahu bahwa kehadiran Permaisuri Diane akan membawa kebahagiaan dan keharmonisan kembali ke istana.
...✾ B E R S A M B U N G ✾...
Jadi bagus, Good Job 👍🏻/Coffee/
Halo, Readers yang luar biasa! 🙌🏻
Terima kasih sebesar-besarnya atas dukungan, waktu, serta apresiasi yang telah kalian berikan untuk karya Becoming A Princess in Ancient Times.
Dengan ini, saya ingin menyampaikan bahwa seluruh chapter (episode) dalam novel ini sedang mengalami proses revisi dan perombakan cerita secara menyeluruh. Langkah ini saya ambil agar alur kisah, karakter, serta latar dunia dalam novel ini dapat tersusun dengan lebih matang, konsisten, dan memikat.
Selama proses revisi berlangsung, beberapa bagian mungkin akan diubah, diperbaiki, atau disesuaikan agar lebih selaras dengan arah cerita yang baru. Mohon pengertiannya apabila terdapat perbedaan antara versi sebelumnya dan versi yang akan datang.
Saya sangat menghargai setiap pembaca yang setia mengikuti perjalanan Ariana. Dukungan dan masukan dari kalian adalah motivasi terbesar bagi saya untuk terus berkarya dengan sepenuh hati.
Terima kasih telah menjadi bagian dari perjalanan cerita ini.
Mari nantikan versi terbaru Becoming A Princess in Ancient Times dengan semangat baru dan petualangan yang lebih menakjubkan! ✨
Salam hangat,
Rajeng Tia
Penulis
Ah, sebentar lagi air mataku akan menitik deras TwT