Becoming A Princess In Ancient Times

Becoming A Princess In Ancient Times

Prolog: Akhir yang Menjadi Awal

...✾ Happy Reading Readers ✾...

Dulunya, namaku adalah Ariana.

Aku bukan siapa-siapa, hanya seorang perempuan biasa yang nekat mendaftar ke militer, lalu berakhir masuk ke unit paling berbahaya, Pasukan Elit Khusus.

Ya, hidupku penuh dengan misi rahasia, operasi senyap, dan baku tembak. Kalau ada film action di bioskop, percayalah, kadang aku merasa sedang nonton trailer kehidupanku sendiri. Bedanya, di film para tokoh utama bisa muncul lagi di sekuel. Aku? Yah… tunggu sebentar, nanti kalian akan tahu.

Sejak awal aku percaya, sahabat yang paling bisa kuandalkan hanyalah Rendra. Dia bukan hanya rekan satu tim, tapi juga orang yang paling sering menutup punggungku saat hujan peluru. Kami berdua sering bercanda, “Kalau bukan kamu yang mati duluan, ya aku.”

Cuma… ternyata itu bukan sekadar bercanda.

---

Malam itu hujan turun deras, seperti sengaja dipasang efek dramatis dari sutradara langit. Aku dan pasukanku berlari di bawah guyuran air, menembus jalanan licin yang penuh genangan. Sepatu tempurku sudah becek, seragamku basah kuyup, dan rambutku menempel di dahi.

“Target di depan, bangunan kosong tiga lantai. Tim depan, siaga. Tim kanan, ikuti komando!” Suara komandan menggema lewat radio.

Kami menerima perintah langsung dari Markas Besar untuk menangkap buronan berbahaya yang sudah bertahun-tahun lolos dari kejaran. Katanya sih orang ini jenius licik. Yah, kalau benar, seharusnya aku lebih curiga saat mendengar kata “Licik”.

Rendra menepuk bahuku. “Ria, hati-hati. Jangan gegabah.”

Aku menoleh, sedikit tersenyum. “Santai aja. Kalau aku mati duluan, tolong jaga tanaman kaktusku di kosan, ya.”

Dia terkekeh kecil. “Dasar kamu.”

Humor tipis di tengah hujan peluru. Lumayan untuk mengurangi tegang.

---

Begitu pintu belakang bangunan itu dibuka, hawa dingin langsung menyergap. Koridor panjang menyambut kami, lampunya mati, hanya senter yang jadi penerang. Suasananya benar-benar kayak film horror kelas B: sepi, basah, bau apek.

Kami menyusuri lorong sampai akhirnya ada persimpangan. Kiri dan kanan. Nah, inilah titik awal masalah.

“Tim kanan ikut Ariana, tim kiri ikut aku,” kata Rendra.

Aku sempat mengangguk tanpa curiga. Itu prosedur biasa. Tapi aku tidak tahu, di balik helm dan sorot matanya, dia sudah menyimpan niat busuk.

---

Aku memimpin tim kanan. Jantungku berdegup lebih kencang daripada bunyi tetesan air dari atap bocor. Perasaan tidak enak mulai merayapi dadaku, tapi aku menepisnya. Aku terlalu percaya dengan timku, terutama Rendra.

Sampai akhirnya… DOR!

Sebuah peluru menembus bahuku. Rasa panas menjalar, tubuhku limbung. Aku menahan teriakan sambil berjongkok, darah merembes membasahi seragam.

“Cepat mundur! Panggil bala bantuan!” seruku.

Anak-anak timku ragu, tapi aku paksa mereka pergi. Aku tidak mau mereka jadi korban.

Saat lorong itu kembali sepi, langkah kaki terdengar mendekat. Aku mendongak, dan di sanalah wajah itu muncul. Wajah yang paling kupercaya. Rendra.

Aku terbelalak. “Kamu…?”

Dia tersenyum tipis. Bukan senyum sahabat, tapi senyum dingin yang membuatku merinding.

“Bagaimana rasanya ditembak oleh rekanmu sendiri?” tanyanya santai, seakan kami sedang main kartu.

Aku mencoba menahan darah yang terus keluar. “Jangan bercanda, Ren. Kau… kau kerja sama dengan buronan itu?”

Dia mengangkat pistol, ujungnya tepat mengarah ke dadaku. “Memangnya kenapa? Dari awal aku cuma butuh kamu sebagai batu loncatan.”

BRAK. Rasanya seperti seluruh dunia runtuh. Bukan karena peluru yang baru saja menembus dadaku, tapi karena kalimatnya.

Aku mati-matian menahan pandangan agar tidak kabur. “Kau… brengsek…”

Rendra jongkok di sampingku. “Kau terlalu naif, Ria. Percaya pada orang lain di dunia sekejam ini? Itu kesalahan terbesarmu.”

Aku terbatuk, darah mengalir dari sudut bibirku. Entah kenapa di momen paling tragis pun aku masih bisa berpikir: Yah, hidupku lebih dramatis daripada sinetron jam prime time.

---

Pelan-pelan pandanganku menggelap. Nafasku tersengal. Aku sempat berpikir tentang keluargaku, tentang misi-misi yang belum kuselesaikan, dan tentang Rendra… sahabat yang kini jadi pengkhianat.

Dalam detik terakhir, aku berdoa, “Tuhan… setidaknya biarkan aku mati dengan tenang.”

Gelap.

---

Tapi tunggu dulu.

Seharusnya kalau orang mati itu kan gelap total ya?

Lha ini kenapa aku mendengar suara tangisan bayi?

Jangan-jangan… itu aku?

Mataku membuka perlahan. Pandanganku buram, tubuhku kecil. Aku diselimuti kain lembut, dan di sekelilingku ada orang-orang berwajah asing dengan pakaian ala kerajaan kuno.

“Namamu adalah Ariana Calista Castello, Putri dari Kekaisaran Castello,” kata seorang pria berwibawa yang menatapku tajam.

“APA?!” teriak batinku.

“Jadi aku lahir lagi? Jadi putri?!”

Aku ingin bilang, ‘Pak, saya ini tentara elit. Bukan bayi mungil imut-imut yang harus minum susu tiap tiga jam sekali.’ Tapi yang keluar dari mulutku cuma… waaaa!

Astaga. Jadi benar, aku reinkarnasi jadi bayi.

---

Hari-hari berikutnya, aku mencoba menerima kenyataan. Susah, sumpah.

Kalian tahu peribahasa manusia kan? Istirahat adalah kunci kehidupan.

Nah, aku pengen banget istirahat.

Tapi kenapa ada dua bocah yang selalu nempel kayak permen karet?!

Aku cuma bisa nangis, rengek, merenung dalam hati. “Duh gusti, kenapa Engkau mengirim cobaan begini? Hambamu ini sabarnya cuma setipis tisu, lho.”

Awalnya aku pikir dua anak kecil itu sudah cukup bikin pusing. Eh ternyata ada satu lagi. Total tiga!

APA?! TIGA??!!

Tolong ya, aku ini bukan babysitter, aku tentara elit yang kebetulan reinkarnasi. Aku butuh waktu buat mikir, bukan jadi mainan bocah.

---

Ya ampun, hidupku benar-benar kayak roller coaster. Dari tentara elit yang dikhianati sahabat, lalu mati, kemudian lahir kembali menjadi putri bayi suatu Kekaisaran, dapat tiga kakak lengket lagi.

Kalau ini bukan plot twist, aku nggak tahu lagi apa namanya.

...✾ B E R S A M B U N G ✾...

Terima kasih sudah membaca sampai akhir Prolog ini 💕

Kalau kalian suka dengan kisah Ariana, jangan lupa tinggalkan komentar, vote, atau favoritkan novel ini supaya aku makin semangat menulis lanjutannya!

Aku janji di episode berikutnya bakal ada lebih banyak kejutan, petualangan, dan tentu saja humor receh khas Ariana 🤭.

Oh iya, kalau nemu typo atau kalimat yang agak aneh, langsung kasih tahu di kolom komentar ya. Dukungan kecil dari kalian itu bener-bener berarti besar buat author.

Follow juga IG-ku kalau mau lihat sneak peek gambar karakter atau fanart yang sedang aku kerjakan:

📖 @rajengtia [Novel]

🎨 @chizy.draw [Draw]

✨ @epeolatry_lady [Manhwa]

Project On Going:

🎬 “Drawing A Character of This Novel” — tungguin update-nya, siapa tahu karakter favorit kalian muncul lebih dulu!

Terpopuler

Comments

✧ ƒℓყเɳɠ ɳเɱɓµร ✧

✧ ƒℓყเɳɠ ɳเɱɓµร ✧

Revisi ya? 👀
Jadi bagus, Good Job 👍🏻/Coffee/

2025-10-09

7

fairy tale 🕊️

fairy tale 🕊️

Nanti aku tagih ngingetin buat hasil gambaran charanya ya kak /Joyful/

2025-10-07

8

Ukek

Ukek

sayah mampir ya thor

2025-06-30

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!